Anda di halaman 1dari 31

OBAT TBC

( TUBERKULOSTATIK)
Tuberkulosis
Penyakit menular yg disebabkan oleh
Mycobacterium tuberculosis
Pertumbuhan dimulai di paru-paru dengan
benjolan (tuberkel).
Infeksi pernafasan ini bisa menyebar ke
bronkus dan paru-paru terjadi luka
bernanah
Bila masuk ke sirkulasi dapat menebar ke
organ lain seperti otak, ginjal, tulang dan
kulit.
Penularan dan pencegahan:
Penularan terjadi melalui kontak langsung
dengan pasien melalui batuk& bersin.

Yang belum pernah terkena infeksi basil


TBC lebih mudah diserang tuberculosis
dari pada yang sudah pernah terkena.
Yang sudah pernah terkena sudah
mempunyai antibody yang dapat melawan
infeksi baru.
Untuk mengetahui apakah seseorang
pernah terkena infeksi dilakukan test
Mantoux.

Vaksinasi dengan BCG (Basil Calmette


Guerin) yaitu suatu basil yang dilemahkan
memberikan kekebalan terhadap infeksi
primer selama 3-6 tahun.

Sebaknya di vaksinasi ulang


Pengobatan:
Obat Primer untuk TBC:
- Streptomisin
- Para amino salisilat
- Isoniazida (INH)
- Etambutol
- Rifampisin
Obat kausal pertama yang dapat membasmi
basil TBC adalah:

Streptomisin,
Kemudian ditemukan PAS (para amino
salisilat)
INH (Isoniazida).

Ketika itu Kombinasi ketiga obat ini


merupakan terapi standard untuk TBC.
Semua obat ini bakteriostatik yaitu
menghambat pertumbuhan basil

Sehingga luka-luka di paru-paru dapat


kesempatan untuk sembuh

Akhirnya sistem tangkis tubuh mampu


membasmi basil seluruhnya.
Pengobatan terus dilakukan sekurang-
kurangnya 1 tahun
Ditemukannya obat baru etambutol dan
rifampisin maka sering digunakan
kombinasi keduanya dengan INH.
Standar pengobatan berubah.
Streptomisin ototoksis dan PAS
khasiatnya lemah ,kombinasinya diganti
dengan etambutol, rifampisin dan INH.
Kombinasi ini lebih efektif dan praktis
karena dapat diberikan serentak sekali
sehari.
Obat sekunder untuk TBC:
Thioasetazon
Ethionamida
Pirazinamid
Kanamisin
Sikloserin
Viomisin
Obat sekunder ini khasiatnya lebih lemah.
Hanya digunakan bila telah terjadi resistensi
atau hipersensitisasi untuk obat-obat primer.
Obat-obat TBC:
1. Streptomisin dan Kanamisin
Antibiotika ini toksis untuk organ
pendengaran dan keseimbangan
(ototoksis) dan toksis terhadap ginjal
(nefrotoksis).
Absorpsinya di usus kurang baik sehingga
hanya diberikan injeksi i.m.
2. Isoniazida: INH, Isomex (Dumex)
Termasuk tuberkulostatik paling kuat,
terhadap bakteri yang lain tidak aktif.
Terdapat bakteri yang tumbuh efeknya
tuberkulosid. Mekanisme kerjanya
antagonisme saingan sehingga
metabolisme terganggu.
Absorpsi di usus cepat, T nya 1-3 jam
Metabolismenya di hati
Kombinasi dengan PAS memperlambat
metabolisme shg efeknya jadi lebih
panjang.
Efek samping pada dosis 200-300 mg
rendah dan ringan.
Pada dosis 400 mg dapat menyebabkan
polyneuritis (radang saraf) atas dasar
saingan dengan piridoksin (Vit B6) yang
rumusnya mirip INH dengan gejala kejang
dan gangguan penglihatan, dan anoreksia.
Efek samping ini diatasi dengan
pemberian Vit B6 40-100 mg sehari dan
Vit B1 100 mg.
Kadang-kadang dapat menimbulkan
kerusakan hati dan ikterus.
Resistensi dapat timbul dengan cepat bila
digunakan sendiri.
Dosis: Oral 2 kali sehari 100-200 mg a.c
atau sekali sehari bila bersama rifampisin
pagi a.c.
3. Rifampisin:
Antibiotika ini berasal dari Streptomyces
mediterranei.
Efektif untuk Mycobacterium tuberculose
dan leprae.
Mekanisme kerjanya menghambat sintesis
RNA bakteri.
Absorpsinya di usus sangat baik,
distribusinya baik termasuk pada cairan
serebrospinal.
Efek samping yang penting tapi jarang
terjadi adalah ikterus terutama bila
dikombinasi dengan INH yang juga agak
toksis di hati.
Kadang-kadang juga terjadi gangguan
lambung-usus berupa mual,muntah sakit
ulu hati, kejang perut dan diare, gangguan
SSP dan reaksi hipersensitivitas.
Rifampisin mempercepat perombakan
obat lain dengan cara induksi enzim.
Penggunaannya pada terapi TBC paru
mempunyai keuntungan karena terapi
yang diperpendek dari lebih kurang 2
tahun menjadi 6 bulan.
Selain untuk terapi TBC juga efektif untuk
lepra, mencegah meningitis dan
mengobati gonorrea.
Dosis: oral 400-600 mg sekaligus pagi hari
dengan perut kosong karena absorpsi
diganggu oleh isi perut. Selalu kombinasi
dg INH, etambutol/PAS.
4. Ethambutol: Myambutol (Lederle)
Obat ini berkhasiat spesifik pada
Mycobacterium dan tidak efektif terhadap
bakteri lain.
Kerjanya bakteriostatik berdasarkan
penghambatan sintesis RNA.
Absorpsinya baik dan mudah memasuki
eritrosit.
Waktu paruhnya 8 jam, ekskresi lewat
ginjal.
Efek samping amat sedikit, yang
trepenting adalah neuritis optis (radang
saraf mata), yang mengakibatkan tidak
dapat melihat warna hijau.
Reaksi toksis ini terjadi bila dosis besar
dan bersifat reversible.
Mempertinggi asam urat dalam plasma
maka sebaiknya jangan diberikan pada
pasien encok.
Dosis: Oral sekaligus 15-25 mg/kg BB
sehari selalu dalam kombinasi dengan
streptomisin dan/atau INH, rifampisin.
5. PAS: Nipas (Abadi)
Khasiatnya mirip INH tetapi lebih lemah,
maka dosis harus cukup tinggi.
Mekanisme kerjanya mirip sulfonamid.
Absorpsinya di usus cepat dan lengkap.
Waktu paruhnya 1 jam shg dosis diberikan
4 kali sehari.
Efek samping ringan, muntah, diare,
kristaluria maka dibuat dalam garam Na
nya.
6. Pirazinamid
Pirazinamid dalam tubuh dihidrolisis oleh
enzim pirazinamidase menjadi asam
pirazinoat yang aktif sebagai
tuberkulostatik.
Efek nonterapi:
Yang paling umum adalah kelainan hati.
Bila dosis 3 g sehari muncul kejadian 15%,
ikterus 2-3% dan kematian akibat nekrosis ada
beberapa kasus.
Gejala awal adalah kenaikan SGOT dan SGPT.
Jika terbukti terjadi kelainan hati pirazinamid
harus dihentikan.
Beberapa thn lalu pirazinamid merupakan obat
sekunder.
Sejak pengobatan TBC menggunakan panduan
pengobatan jangka pendek kedudukan
pirazinamid menjadi obat primer.
7. Sikloserin
Berasal dari Streptomyces orchidaseus
Siklosern menghambat pertumbuhan
M.tuberkulosis kadar 5-20 g/ml melalui
penghambatan sintesis dinding sel.
Yang sudah resisten terhadap
tuberkulostatik primer dapat digunakan
sikloserin
Absorpsi baik, distribusi ke seluruh cairan
dan jaringan tubuh
Efek samping yang sering muncul adalah
gangguan SSP
Pengobatan Tuberkulosis mengalami
perubahan cukup besar.

Dulu harus di sanatorium sekarang bisa


dengan terapi obat secara rawat jalan.

Memberi motivasi pada penderita agar


rajin minum obat.
Tujuan pengobatan TBC:
- Memusnahkan basil tuberculosis dengan
cepat
- Mencegah kambuh

Pemilihan obat:
2 prinsip pengobatan TBC yaitu:
- Paling sedikit menggunakan 2 obat
- Pengobatan harus berlangsung setidaknya
3-6 bulan setelah sputum negatif untuk
tujuan sterilisasi dan mencegah kambuh
Pengobatan tuberkulosis paru-paru selalu
menggunakan 3 obat yaitu :
INH, rifampisin, pirazinamid.
Streptomisin bersifat bakterisid tapi jarang
digunakan karena harus diberi i.m dan
efek samping yang berbahaya.
Etambutol 15 mg/kg BB bersifat
tuberkulostatik, 25 mg/kg BB tuberkulosid.
Alasan penggunaan etambutol adalah
mencegah resistensi obat lain.
Panduan Untuk memperpendek
masa pengobatan :
1. 9 HR artinya pengobatan selama 9 bulan
dengan INH 300 mg dan rifampisin 600 mg
setiap hari.

2. HR/8H2R2 artinya: INH dan rifampisin


diberikan setiap hari selama 1 bulan dosis 300
mg dan rifampisin 600 mg/hari .
Disusul pemberian INH 900 mg dan rifampisin
600 mg seminggu dua kali selama 8 bulan.
3. 2HRZ/4HR artinya: 2 bulan pertama NH
5mg/kgBB maksimum 300 mg,rifampisin 20
mg/kg BB maksimum 600 mgpirazinamid 2-5
mg/kg BB maksimum 2 g setiap hari disusul
INH , rifampisin dosis sama selama 4 bulan.

4. 2HRZ/4H2R2 artinya:2 bulan pertama diberi


INH, rifampisin dan pirazinamid dengan dosis
seperti panduan 3, disusul INH 5 mg/kg BB
maks 900 mg, rifampisin 10 mg/kg BB maks
600 mg diberikan 2 kali seminggu selama 4
bulan.
5. 2HRZ/4H3R3 artinya:
2 bulan pertama INH, rifampisin,
pirazinamid setiap hari disusul INH dan
rifampisin 3 kali seminggu selama 4 bulan
Resistensi:

Resistensi kuman merupakan salah satu


masalah penting dalam pengobatan TB.
Pengobatan tunggal akan cepat dan
mudah terjadi resisten.
Kombinasi 2 atau 3 obat tujuannya untuk
memperlambat dan mencegah infeksi.
Efek non terapi:

Reaksi hipersensitif sering terjadi pada


minggu ke 3.
Reaksi hipersensitivitsas awal umumnya :
gejala demam, tahikardia, anoreksia.
Gangguan fungsi ginjal menyebabkan
kadar obat dalam darah meningkat.
Pemberian INH dg rifampisin
meningkatkan timbulnya hepatotoksis
Pengobatan diulang karena:
Pengobatan gagal bila setelah 6 bulan
pengobatan hasil uji BTA tetap positif
Penyakit kambuh setelah pengobatan 6 atau
9 bulan.

Pengobatan Pencegahan:
1. Individu dg kontak +, uji Mantoux neg diberi
INH 300 mg/hari dg Vit B6 15-30mg/hr, 12 bln.
2. Telah terinfeksi tetapi tanpa gejala klinik
obat sama dg di atas.