Anda di halaman 1dari 50

ANTIFUNGI / ANTIJAMUR

Menyebarnya infeksi fungi


disebabkan:

Penggunaan antibiotika spektrum


luas mengganggu keseimbangan
biologi mikroflora normal.

Kortikosteroid yang mengurangi daya


tangkis tubuh terhadap masing-
masing infeksi
Penggunaan hormon kelamin
khususnya kontrasepsi oral
menstimulir infeksi dengan Candida.

Faktor higienis tempat rekreasi

Kontak internasional dalam bidang


turisme dan perdagangan.
Jenis-jenis jamur patogen
Jamur Conidiophore
Blastomices
Candida akbicans dalam aliran
darah
Penetrasi Fungi
Resiko tinggi

Penderita diabetes
Kadar gula menjadi tempat tumbuh
jamur yang baik

Penderita HIV
Defisiensi sistem imun menyebabkan
mudah terserang infeksi jamur
Fungi patogen:
Dermatofit-dermatofit dari keluarga
Trichophyton, Microsporum dan
epidermophyton yang antara lain
mengakibatkan kutu air.

Jamur ini memiliki enzim yang bisa


melarutkan keratin rambut dan kuku.

Candida albicans suatu jenis ragi


yang sering kali hinggap di mulut,
bronchia , paru-paru, usus dan
vagina.
Penggolongan antijamur
Antibiotika
Griseofulvin, amfoterisin B, nistatin dan
natamisin.
Derivat Imidazol:
Mikonazol, ketokonazol, klotrimazol,
bifonazol, ekonazol, isokonazol dan
tiokonazol.
Derivat Triazol:
Flukonazol, itrakonazol dan terkonazol.
Asam Organik:
As. Benzoat, salisilat, propionat, kaprilat
Anti jamur untuk infeksi sistemik
Amfoterisin B:
Berasal dari fermentasi Streptomyces
nodosus

Berbentuk kristal seperti jarum


berwarna kuning jingga.

Merupakan antibiotika polien yang


tidak larut dalam air, tidak tahan
terhadap suhu 37 derajat .
Aktivitas anti jamur:
Amfoterisin B menyerang sel yang
sedang tumbuh dan sel matang.
Aktivitas antijamur pada pH 6-7,5.
Bersifat Fungisida atau Fungistatika
tergantung dari dosis dan sensitivitas
jamur yang dipengaruhi.
Dapat menghambat aktivitas:
- Histoplasma capsulatum,
-Cryptococcus neoformans,
- Candida,
-Trychophyton
Mekanisme kerja:

Berikatan kuat dengan sterol yang


terdapat pada membran sel jamur, ikatan
ini menyebabkan membran sel bocor,
sehingga jamur akan kehilangan sebagian
cairan intraseluler yang mengakibatkan sel
rusak permanen.

Bakteri, virus dan riketsia tidak


dipengaruhi karena tidak memiliki sterol
pada membran selnya.
Resistensi terhadap amfoterisin B
karena terjadi perubahan pada
reseptor sterol di membran sel jamur.

Pengikatan kolesterol pada hewan


dan manusia oleh amfoterisin B
merupakan salah satu efek toksiknya.
Farmakokinetik:
Absorpsinya di saluran cerna sedikit sekali
sehingga sebaiknya diberikan dengan cara
intravena.
Waktu paruh obat kira-kira 24-48 jam pada
dosis awal diikuti dengan eliminasi fase kedua
dengan waktu paruh 15 hari.
Dapat menembus sawar uri, sebagian kecil
menembus SSP dan cairan amnion.
Ekskresi obat ini melalui ginjal berlangsung
lambat.
Efek Nonterapi:
Infus amfoterisin B membuat kulit panas,
keringatan,
sakit kepala,
demam,
menggigil,
lesu,
anoreksia,
nyeri otot, phlebitis, kejang dan
penurunan faal ginjal, keadaan akan
normal setelah obat dihentikan.
Indikasi:

Amfoterisin efektif untuk pengobatan berbagai


penyakit jamur secara parenteral maupun
topikal juga efektif untuk keratitis mikotik pada
kulit dan jamur pada mata.

Pasien yang diobati amfoterisin B harus dirawat


di rumah sakit karena perlu dilakukan
pengamatan yang ketat seperti analisis darah,
pemeriksaan kalium,magnesium, ureum dan
kreatinin.
Amfoterisin B diberikan dengan cara
injeksi yang tersedia dalam vial yang
mengandung 50 mg dilarutkan dalan
10 ml aquades lalu diencerkan
dengan dextrose 5%.

Pemberian selama 6 minggu bila


perlu selama 3-4 bulan.

Bentuk krem, lotion, salep kadar 3%.


Flusitosin:
Aktivitas antijamur:
Spektrum antijamurnya agak sempit,
dapat digunakan untuk pengobatan
-kriptokokosis,
- aspergilosis,
- kandidiasis,
- Criptococus dan Candida dapat
menjadi reisistens selama
pengobatan dengan flusitosin.
Mekanisme kerja:
Flusitosin masuk ke dalam sel jamur
dengan bantuan sitosin desaminase dan
dalam sitoplasma akan bergabung dengan
RNA setelah mengalami deaminasi
menjadi fluorourasil.
Sintesis protein sel jamur terganggu akibat
penghambatan langsung sintesis DNA
oleh metabolit fluorourasil.
Keadaan ini tidak terjadi pada sel mamalia
karena dalam sel mamalia flusitosin tidak
diubah menjadi fluorourasil.
Farmakokinetik:
Absorpsi dalam saluran cerna baik.Pemberian
bersama makanan memperlambat penyerapan
tetapi jumlah yang diserap tidak berkurang.
Kadar puncak dalam darah dicapai 1-2 jam,
kadar ini lebih tinggi pada keadaan insufisiensi
ginjal.
Distribusi luas ke seluruh jaringan. Kadar dalam
cairan otak 60-90% kadar plasma.
Ekskresi melalui ginjal dengan cara filtrasi
glomerulus.
Waktu paruh 2,4-4,8 jam, dapat diperpanjang
pada keadaan insufisiensi ginjal.
Efek nonterapi:
Flusitosin kurang toksik dibandingkan
amfoterisin B, namun dapat menimbulkan
anemia, leukopenia dan trombositopenia
.
Efek samping lainnya : mual, muntah,
diare dan enterokolitis. 5% penderita
timbul peningkatan SGOT, SGPT. Efek
samping ini menghilang bila obat
dihentikan. Sebaiknya tidak diberikan
pada wanita hamil.
Indikasi:
Merupakan obat pilihan disamping amfoterisin B
karena kurang toksik dan dapat diberikan
secara oral.
Untuk mencegah resistensi dapat digunakan
kombinasi dengan amfoterisin B khususnya
meningitis yang disebabkan oleh jamur
Cryptococcus kombinasi 100-150 mg/kg BB/hari
flusitosin dan 0,3 mg/kgBB/hari amfoterisin
merupakan obat terpilih.
Flusitosin tersedia dalam bentuk kapsul 250 dan
500 mg. Pada penderita dengan insufisiensi
ginjal dosis harus dikurangi.
Ketokonazol

Aktivitas antijamur:
Sebagai turunan imidazol,
ketokonazol mempunyai aktivitas
jamur yang luas secara sistemik
maupun non sistemik.
Farmakokinetik:
Absorpsi di saluran cerna baik, absorpsi tidak
berkurang bila bersama makanan tapi berkurang
bila diberikan pada penderita dengan pH
lambung tinggi,sebaiknya diberi antagonis H2
dan antasida.

Distribusi kedalam otak kecil, sebagian besar


mengalami metabolisme lintas pertama.

Ekskresi melalui empedu, dan sedikit melalui


ginjal.
Efek non terapi:
Efek toksiknya lebih ringan dari pada amfoterisin B.
Efek samping yang sering terjadi mual, bisa dihindari
dengan ditelan bersama makanan,sebelum tidur atau
dibagi beberapa dosis.
Efek samping
sakit kepala,
vertigo,
nyeri epigastrik.
Fotopobia,
gusi berdarah,
erupsi kulit dan trombositopenia juga hepatotoksik
tertama pada penderita usia di atas 40 tahun karena
penggunaan lama.
Pada pria dapat menimbulkan
ginekomastia, infertilitas dan
penurunan libido karena pemakaian
600 mg/hari.

Jangan diberikan pada wanita hamil


karena dapat menimbulkan efek
teratogenik.

Indikasi: infeksi jamur di paru, tulang,


sendi dan lemak.
* Itrakonazol:
Turunan ketokonazol dengan efek antijamur yang lebih
besar dengan efek samping yang lebih kecil.
Diserap lebih sempurna bila bersama makanan.
Dosis 100 mg/hari selama 15 hari. Waktu paruh 36 jam
.
* Flukonazol:
Diserap melalui saluran cerna tanpa dipengaruhi
makanan atau asam lambung.
Distribusi ke seluruh cairan tubuh termasuk saliva dan
sputum. Dalam darah otak 50-90%.
Ekskresi melalui urin, waktu paruh 25 jam.
Efek samping yang sering ditemukan berupa gangguan
saluran cerna, reaksi alergi pada kulit, eosinofilia.
Tersedia untuk pemakaian oral dalam kapsul yang
mengandung 50 dan 150 mg. Dosis yang disarankan
100-400 mg/hari. Kandidiasis vaginal diobati dengan
dosis tunggal 150 mg.
Kalium Iodida:
Terpilih untuk infeksi jamur Cutaneous
lymphatic sporotricosis penyebab
sporotricosis.
Efek samping berupa mual, rhinitis, salvasi,
lakrimasi, rasa terbakar pada mulut dan
tenggorokan, iritasi pada mata.

Dosis yang digunakan 3 kali sehari 1 ml


larutan 1 mg/ml, dosis ditingkatkan 1 ml
sehari maksimal 12-15 ml.
Penyembuhan terjadi selama 6-8 minggu.
Pengobatan Infeksi Jamur
Sistemik
Infeksi jamur patogen yang terinhalasi
dapat sembuh spontan seperti infeksi
akut histoplasmosis,
koksidioidomikosis, blastomikosis dan
kriptokokosis paru. Bila pneumonia ini
berat dan cenderung menjadi
kronis,perlu diobati.
Aspergilosis Paru:
Obat pilihannya amfoterisin B secara
i.v dosis 0,5-1 mg/kg BB setiap hari.
Blastomikosis pada tulang:
Obat terpilih adalah ketokonazol per oral 400 mg
sehari selama 6-12 bulan.
Itrakonazol 200-400 mg sekali sehari juga
efektif.
Amfoterisin B 0,4 mg/kg per hari selama 10
minggu untuk infeksi yang progresif.
Kandidiasis saluran kemih:
Bila invasi tidak sampai parenkim ginjal cukup
dengan bilasan amfoterisin B 50 mikro g/ml
dalam air selama 5-7 hari.
Bila mengganggu parenkim ginjal harus
diberikan amfoterisin i.v.
Koksidiodomikosis di paru:
Bila terjadi penyebaran ekstra pulmonary
amfoterisim B bermanfaat , atau dengan
imunosupresi. Ketokonazol bermanfaat untuk
supresi jangka panjang untuk lesi kulit, tulang
dan jaringan lunak.Dapat juga dengan
itrakonazol 200-400 mg sehari.

Kriptokokosis:
Obatnya amfoterisin B 0,4-0,5 mg/hari secara
i.v.
Penambahan flusitosin bermanfaat untuk
mengurangi dosis amfoterisin.
Antijamur untuk Infeksi
Dermatofit dan Mukokutan
Griseofulvin:
Diisolasi dari Penicillium griseofulvum
pada tahun 1948, efektivitasnya
terhadap mikosis tahun 1958.

Serbuk berwarna krem pucat sukar


larut dalam air tetapi sangat stabil
terhadap panas.
Aktivitas antijamur:
Griseofulvin invitro efektif terhadap berbagai
jenis jamur dermatofit seperti Trichophyton,
Ephydermophyton dan Microsporum.
Terhadap sel muda yang sedang berkembang
griseofulvin bersifat fungisidal.
Tidak efektif terhadap Actinomyces dan
Nocardia.
Mekanisme kerjanya
Dengan cara menghambat mitosis jamur
dengan mengikat protein mikrotubuler dalam
sel.
Farmakokinetik:
Absorpsi pada saluran cerna kurang baik.
Penyerapan lebih mudah bila diberikan bersama
dengan makanan berlemak.
Mengalami metabolisme pertama di hati.
Waktu paruhnya 24 jam. 50% dari dosis oral
diekskresi melalui urin dalam bentuk metabolit
selama 5 hari.
Efek non terapi:
Efek samping berat jarang timbul, keluhan
utama sakit kepala, dapat juga timbul neuritis
perifer, demam, pandangan kabur, mulut kering,
mual, muntah, diare dan flatulensi
Indikasi:
Efektif untuk infeksi jamur di kulit, rambut
dan kuku.
Penyembuhan sempurna terjadi setelah
beberapa minggu.
Tersedia bentuk tablet125 mg dan 500
mg, suspensi mengandung 125 mg/ml.
Pada anak diberikan 10 mg/kg BB/hari.
Dewasa 500-1000 mg/hari dalam dosis
tunggal.
Imidazol dan Triazol:

Spektrum antijamurnya luas.

Yang termasuk golongan ini adalah


mikonazol, klotrimazol, ekonazol,
isokonazol, tiokonazol dan bifonazol.
* Mikonazol
Turunan imidazol sintetik yang stabil, spektrum
antijamurnya luas baik jamur sistemik maupun
dermatofit seperti Trichophyton,
Epidermophyton, Microsporum dan Candida.
Mekanisme kerjanya menghambat sintesis
ergosterol yang menyebabkan permeabilitas
membran sel jamur meningkat.
Mikonazol topikal diindikasikan untuk
dermatofitosis dan Kandidiasis mukokutan,
untuk dermatofitosis sedang atau berat yang
mengenai kulit kepala sebaiknya digunakan
griseofulvin.
Efek nonterapi berupa iritasi, rasa
terbakar.

Bentuk krem 2% dan bedak tabur yang


digunakan 2 kali sehari selama 2-4
minggu.
Krem 2% untuk penggunaan intravaginal
diberikan sekali sehari pada malam hari
*Klotrimazol.
Berbentuk bubuk tidak berwarna yang praktis
tidak larut dalam air.
Efek antijamur dan antibakteri dengan
mekanisme kerja seperti imidazol.
Digunakan untuk berbagai infeksi kulit dan
vaginitis.
Obat tersedia dalam bentuk krem larutan
dengan kadar 1%, dioleskan 2 kali sehari. Krem
vaginal 1% atau tablet vaginal digunakan sekali
sehari selama 7 hari. Pada penggunaan topikal
dapat terjadi rasa terbakar, eritema, udema dan
gatal.
Nistatin:
Merupakan antibiotika polien yang dihasilkan dari
Streptomycec noursei.
Berupa bubuk berwarna kuning kemerahan
higroskopis.
Lebih toksik dari pada amfoterisin B sehingga tidak
digunakan secara sistemik.
Tidak diserap melalui saluran cerna, kulit ataupun
vagina.
Menghambat pertumbuhan berbagai jamur dan ragi tapi
tidak aktif terhadap bakteri, protozoa dan virus sehingga
tidak menimbulkan masalah infeksi.
Tidak dapat diberikan secara parenteral.
Ekskresinya melalui feses.
Tersedia dalam bentuk krem, salep dan tablet vagina
yang mengandung 100 000 unit/tablet.
Efek non terapi:
mual, muntah dan diare ringan.

Digunakan untuk infeksi kandida di kulit,


selaput lendir dan saluran cerna.
Asam Benzoat dan Asam
salisilat:
Kombinasi asam benzoat dan as salisilat
2:1 dikenal dengan nama Whitfield.
As. Benzoat bersifat fungistatik, as.
Salisilat memberikan efek keratolitik.
Pengobatan membutuhkan waktu sampai 1
bulan.
Digunakan untuk infeksi kutu air dan infeksi
kutu kepada.
Dapat terjadi iritasi ringan pada tempat
pemakaian
Pemilihan Preparat
Infeksi yang sering ditemukan adalah
infeksi nonsistemik.

Infeksi berat dapat digunakan golongan


imidazol seperti mikonazol dan klotrimazol.

Lesi hiperkeratisis pada kuku dan telapak


memerlukan anti jamur topikal yang poten
dengan zat keratolitik misalnya asam
salisilat.

.
Infeksi di kepala, telapak dan kuku
biasanya memerlukan antijamur
griseofulvin selama beberapa bulan

Asam salisilat hanya mempunyai efek


keratolitik.
Untuk lesi yang sangat superfisial asam
salisilat cukup efektif, tetapi untuk lesi yang
lebih dalam asam salisilat mempermudah
penetrasi antijamur lain yang lebih poten.

Kandida adalah flora normal yang bisa


menjadi patogen karena daya tahan tubuh
yang menurun.

Dapat diobati dengan haloprogin, imidazol,


nistatin, mikonazol, klotrimazol dan
amfoterisin B.
Beberapa dermatomikosis dan
terapinya
Kutu air , krn Tinea pedis
Dapat diobati dg mikonazol, salep whitfield.
Untuk kasus sulit dapat digunakan
griseofulvin atau ketokonazol peroral

Panu, (Pityriasis versicolor)


Penyebabnya Malassezia furfur.
Dapat diobati dg lar salisilat 5-10% dalam
spiritus atau krem mikonazol/ketokonazol
2-3 minggu
Ketombe ( dandruff, Pityriasis capitis)
Penyebabnya Pityrosporum ovale
Pengobatannya dg selensulfida 2,5%,
seng-pirithion 2%, ketokonazol.

Candidiasis
Candidiasis mulut, usus, vagina , kulit
Diobati dg flukonazol, pil kedua
itrakonazol dan ketokonazol, pil ketiga
Nystatin