Anda di halaman 1dari 38

Gangguan

Refraksi
Agung Triatmojo
I11109007
Refraksi
Refraksi (pembiasan cahaya) adalah
peristiwa membeloknya cahaya karena
melalui dua medium yang berbeda
kerapatannya
Mata Normal (Emetropia)
Media Refraksi
Kornea
COA
Pupil
COP
Lensa
Corpus Vitreus
Akomodasi
Kemampuan lensa untuk mencembung
dan terjadi akibat otot silier
Akibat akomodasi daya pembiasan
semakin kuat
Tajam Pengelihatan
Bila tajam penglihatan 6/6 dapat
melihat huruf pada jarak 6 m, yang orang
normal huruf tersebut dapat dilihat pada
jarak 6 m
Bila tajam penglihatan 6/30 pasien
hanya dapat membaca huruf pada baris
yang menunjukkan angka 30 (dapat
membaca huruf pada jarak 6 m yang
oleh orang normal dapat dibaca pada
jarak 30 m
Tajam Pengelihatan
Bila tidak bisa mengenali huruf terbesar
maka dilakukan hitung jari
Misal : Bila pasien dapat menghitung jari
pada jarak 3 m visus 3/60
Bila pasien hanya dapat melihat
lambaian tangan pd jarak 1 m visus
1/300
Bila hanya dapat melihat cahaya visus
1/~
Gangguan Refraksi
Gangguan refraksi terjadi ketika bentuk mata
menghalangi cahaya untuk difokuskan langsung
ke retina

Ametropia
Terdapat kelainan pembiasan sinar oleh karna
kornea atau adanya perubahan panjang bola
mata, sehingga sinar normal tidak dapat terfokus ke
macula

Dapat berupa miopia, hipermetropia, presbiopia,


astigmatisma
Refraksi (2)
Ametropia Aksial
Terjadi akibat sumbu bola mata lebih panjang atau
lebih pendek sehingga bayangan benda difokuskan
didepan atau dibelakang retina

Ametropia Refraktif
Terjadi akibat kelainan sistem pembiasan sinar
dalam mata. Bila daya bias kuat maka bayangan
benda terletak didepan retina (miopia) atau bila
daya bias kurang maka bayangan benda akan
terletak dibelakang retina (hipermetropia refraktif)
Miopia
Kelainan yang terjadi jika kornea (terlalu
cembung) dan lensa (kecembungan
kuat) berkekuatan lebih atau bola mata
terlalu panjang sehingga titik fokus sinar
yang dibiaskan akan terletak didepan
retina
Miopia (2)
Klasifikasi
Menurut derajat beratnya
Mipoia ringan (sampai 3 dioptri)
Miopia sedang (3 - 6 dioptri)
Miopia berat ( lebih dari 6 dioptri)

Menurut perjalanan penyakitnya


Miopia statisioner/simpleks
Miopia progresif
Miopia malignant
Miopia (3)
Miopia Refraktif
Kurvatura kornea atau lensa lebih kuat dari
normal (kornea terlalu cembung atau lensa
mempunyai kecembungan yang lebih
kuat)

Miopia Aksial
Diameter anteroposterior yang lebih
panjang, bola mata yang lebih panjang
Miopia (4)
Miopia Indeks
Indeks bias mata lebih tinggi dari normal,
misalnya pada diabetes mellitus

Miopia karena perubahan posisi


cth: posisi lensa lebih ke anterior, misalnya
pasca operasi glaukoma
Miopia (5)
Manifestasi klinik (subjektif)
Pengelihatan jauh kabur, lebih jelas dan
nyaman apabila melihat dekat karena
membutuhkan akomodasi yang lebih kecil
daripada emetrop
Kadang seakan melihat titik-titik seperti lalat
terbang karenan degenerasi vitreus
Mata lekas lelah, berair, pusing, cepat
mengantuk
Memicingkan mata agar terlihat lebih jelas
agar mendapat efek pin-hole
Miopia (6)
Objektif
Bilik mata depan dalam karena otot
akomodasi tidak dipakai
Pupil lebar (midriasis) karena kurang
berakomodasi
Mata agak menonjol pada miopi tinggi
Pada pemeriksaan oftalmoskopi, retina
dan koroid tipis disebut fundus tigroid
Miopia (7)
Diagnosis
1. Anamnesis

2. Pemeriksaan fisik
Visus dasar untuk melihat jauh
Visus dengan pinhole untuk mengetahui apakah
pengelihatan yang buram disebabkan oleh kelainan refraksi
atau kelainan anatomi
Metode trial and error, snellen chart dan lensa sferis
negatif sampai didapatkan visus 6/6

3. Pemeriksaan penunjang
Funduskopi
Auto refraktometer
Miopia (8)
Koreksi non bedah
Kacamata sferis negatif terkecil yang
memberikan ketajaman pengelihatan
maksimal agar memberikan istirahat mata
dengan baik sesudah dikoreksi
Koreksi bedah
Fotorefraktif Keratektomi (PRK)
Laser in situ Keratomileusis (LASIK)
Keratomi Radikal
Miopia (9)
Komplikasi
Ablasio retina
Strabismus
Hipermetropia
Keadaan mata tak berakomodasi yang
memfokuskan bayangan dibelakang
retina yang dapat disebabkan oleh
berkurangnya panjang sumbu atau
menurunnya indeks refraksi
Hipermetropia (2)
Jenis-jenis
Hipermetropia Laten
Hipermetropia Manifest
Hipermetropia Absolut
Hipermetropia Fakultatif
Hipermetropia Total
Hipermetropia (3)
Gejala subyektif
Pengelihatan kabur bila melihat dekat dan jauh
Astenopia akomodativa : sakit kepala, mata
cepat lelah, cepat mengantuk sesudah
membaca dan menulis

Gejala obyektif
Terjadi strabismus
COA dangkal, karena hipertrofi otot-otot siliaris
Ambliopia pada mata yang tanpa akomodasi,
tidak pernah melihat obyek dengan baik
Hipermetropia (4)
Diagnosis
1. Anamnesis
2. Pemeriksaan fisik
Visus dasar dengan snellen chart, visus dengan
pinhole
Refraksi subyektif dengan cara trial and error
3. Pemeriksaan penunjang
Funduskopi
Refraktometer
Hipermetropia (5)
Tatalaksana
Non bedah
Koreksi dengan lensa sferis terbesar yang
memberikan visus terbaik dan dapat melihat
dekat tanpa kelelahan
Tidak diperlukan lensa sferis positif pada
hipermetropia ringan, tidak ada astenopia
akomodatif, tidak ada strabismus
Bedah
LASIK (Laser in situ Keromileusis)
LASEK (Laser sebepithelial Keratomileusis)
PRK
Hipermetropia (6)
Komplikasi
Strabismus (Esotropia)
Glaukoma sekunder
Astigmatisme
Merupakan kondisi dimana sinar cahaya
tidak direfraksikan dengan sama pada
semua meridian dan berkas cahaya
difokuskan pada 2 garis titik yang saling
tegak lurus akibat kelainan kelengkungan
kornea
Astigmatisme (2)
Astigmatisme dapat terjadi dengan
kombinasi kelainan refraksi yang lain,
termasuk:
Miopia : bila kurvatura kornea selalu
melengkung atau jika aksis mata lebih panjang
dari normal. Bayangan terfokus didepan retina
dan menyebabkan objek jauh terlihat kabur
Hipermetropia : ini terjadi jika kurvatura kornea
terlalu sedikit atau aksis mata lebih pendek dari
normal. Bayangan terfokus dibelakang retina
dan menyebabkan objek dekat terlihat kabur
Astigmatisme(3)
Bentuk Astigmatisme:
Astigmatisme reguler :
Astigmatisme yang memperlihatkan kekuatan
pembiasan bertambah atau berkurang perlahan-
lahan secara teratur dari satu meridian ke
meridian berikutnya.
Dibedakan atas Astigmat with the rule dan
Astigmat against the rule

Astigmatisme irreguler :
Astigmat yang terjadi tidak mempunyai 2 meridian
yang saling tegak lurus
Astigmatisme(4)
Klasifikasi astigmatisme dilihat dari kondisi
optik:
Simple hypermetropia astigmatism
Simple myopia astigmatism
Compound hypermetropia astigmatism
Compound miopic astigmatism
Mixed astigmatism
Astigmatisme(5)
Manifestasi klinik:
Distorsi bagian-bagian lapang pandang
Tampak garis vertikal, horizontal atau
miring yang tidak jelas
Memegang bahan bacaan dari dekat
Sakit kepala, mata berair dan cepat lelah
Memiringkan kepala agar dapat melihat
jelas
Astigmatisme(6)
Diagnosis :
Anamnesa gejala-gejala dan tanda-tanda
astigmatisme
Pemeriksaan Oftalmologi
Visus ( snellen chart)
Refraksi
Motilitas okular, penglihatan binokular, dan
akomodasi
Pemeriksaan umum mata : reflek cahaya pupil, tes
konfrontasi, 27 penglihatan warna, tekanan
intraokular, pemeriksaan segmen anterior dan
posterior
Astigmatisme(7)
Tatalaksana
Penatalaksanaan non bedah: dapat dikoreksi
dengan sferis silindris sesuai aksis yang
didapatkan, untuk astigmatisme yang kecil
tidak perlu dikoreksi. Untuk astigmatisme
miopi, diperlukan lensa silinder negatif, untuk
astigma hipermetropi diguunakan lensa
silinder positif.
Astigma juga dapat dikoreksi dengan
keratektomi, fotorefraktif, dan LASEK
Presbiopia
Presbiopia merupakan gangguan
akomodasi pada usia lanjut yang dapat
terjadi akibat kelemahan otot akomodasi
dan lensa mata tidak kenyal atau
berkurang elastisitasnya akibat sklerosis
lensa
Presbiopia (2)
Presbiopia biasanya terjadi seiring
dengan bertambahnya usia. Mata tidak
dapat memfokuskan cahaya tepat ke
retina karena pengerasan dari lensa
mata
Manifestasi Klinis
Keluhan pasien berupa mata lelah, berair,
dan sering panas atau pedas setelah
membaca
Presbiopia (3)
Pada pasien presbiopi, kacamata atau addisi
diperlukan untuk membaca dekat yang
berkekuatan tertentu, biasanya:
+1,0 D untuk usia 40 tahun
+1,5 D untuk usia 45 tahun
+2,0 D untuk usia 50 tahun
+2,5 D untuk usia 55 tahun
+3,0 D untuk usia 60 tahun

Karena jarak baca biasanya 33cm maka addisi


+3,0 dioptri adalah lensa positif terkuat yang
dapat diberikan pada seseorang, pada
keadaan ini mata tidak melakukan akomodasi
bila membaca pada jarak 33 cm