Anda di halaman 1dari 54

Injeksi Vitamin B

Kompleks
KELOMPOK 6
ANASTASIA 1206249901
EKA LASBOI 1206211146
SANDI SALIM 1206241893
SARLINA JIHAN L. 1206210963
TRYAS YANUARI 1206260186
VERONIKA VIOLETA P. 1206211171
PENDAHULUAN
EKA LASBOI
VITAMIN B COMPLEX

Kegunaannya untuk mengatasi defisiensi vitamin B


Grup 7 vitamin terdiri dari tiamin(B1), riboflavin(B2), nikotinamid(B3),
piridoksin(B6), kobalamin(B12), biotin, dan asam pantotenik(B5).
Dalam bentuk injeksi diberikan secara intramuskular atau infus
Defisiensi vitamin biotin dan asam pantotenik merupakan kasus
yang jarang terjadi
Kobalamin (B12) yg tersedia sianokobalamin dan metilkobalamin.
Metilkobalamin merupakan kobalamin yang aman dan diabsorbsi
baik namun harganya mahal.
Defisiensi Vitamin B
Vitamin B kompleks memiliki manfat yang
sangat besar dalam proses pembentukan
sel sel tubuh, proses pembentukan sel
darah merah, dan sebagai nutrisi bagi sel
saraf. Vitamin B juga membantu dalam
produksi neuro transmiter, yaitu zat yang
menjadi perantara antar sel sel saraf.

Defisiensi vitamin B dapat menyebabkan


beri-beri, pellagra, megaloblastik anemia,
glositis, neuroitis

Gilman, A.G., 2007, Goodman & Gilman Dasar Farmakologi Terapi, diterjemahkan oleh Tim Alih Bahasa Sekolah Farmasi ITB, Edisi X, 877, Penerbit Buku Kedokteran, EGC, Jakarta.
VITAMIN KELARUTAN DOSIS STERILISASI

B1 Tiamin Larut air 1:1 10-100 mg per hari Otoklaf/filtrasi

B2 Riboflavin Praktis tidak 2-10 mg per hari Otoklaf/filtrasi


larut air riboflavin

B3 Nikotinamid Larut air 1:1 Mencapai 250 mg per Otoklaf/filtrasi


hari
B6 Piridoksin Larut air 1:5 4-10 mg per hari Otoklaf/filtrasi
HCl
Martindale 28th ed
VITAMIN Inkompatibilitas dan Kestabilan
B1 Tiamin Inkompatibel dengan riboflavin, agen pengoksidasi pereduksi,
iodida, karbonat, asetat, ferric sulfat

Stabilitas: Natrium sulfit, kalium metabisulfit, natrium hidrosulfit


mempercepat degradasi tiamin. Lindungi dari cahaya.
Tidak stabil pada keadaan netral/alkali terutama kalau kena
udara. Dekstruksi meningkat dengan peningkatan pH. Pada
pH<4 sedikit mengurangi aktivitas

B2 Riboflavin Stabilitas: Lindungi dari cahaya


natrium fosfat
B3 Ink: alkali, asam mineral.
Nikotinamid
B6 Piridoksin Ink: dengan larutan alkali, garam metal, agen pengoksidasi.
HCl Lindungi dari cahaya.
Stabilitas: Cepat rusak oleh radiasi pada keadaan netral dan
alkali, stabil di larutan asam. Dapat rusak jika terkena
langsung sinar matahari dalam larutan asam
The Vitamin B Complex , F.A. Robinson. 1951
Masalah dan penyelesaian

Riboflavin praktis tidak larut air


Diganti dengan bentuk garamnya yg larut air (1:20) riboflavin natrium fosfat

pH stabil vitamin pada keadaan 4


Perlu ditambahkan pH adjustment dan buffer untuk menjaga pH stabil

Zat aktif tidak stabil dengan agen pengoksidasi


Digunakan antioksidan
Sediaan sebagian besar air dan dibuat menggunakan alat
logam
Untuk menjaga kestabilan ditambahkan agen pengkelat

Tiamin berinteraksi dengan Riboflavin membentuk endapan tiokrom

Penambahan asam askorbat dalam campuran menghambat pembentukan


endapan .

Davies, J. Ostine, D. Partridge Vitamin C: chemistry and biochemistry Moscow Mir, 1999.pp.176
SIFAT FISIKOKIMIA BAHAN
TAMBAHAN
SARLINA JIHAN LUSIYANTI
Na2EDTA

Pemerian Fungsi
serbuk kristal berwarna putih, Agen pengkelat (0,005-0,1%)
tidak berbau dengan sedikit
rasa asam Alasan Pemilihan Bahan
Kelarutan dibutuhkan untuk mencegah
Larut dalam air (1:11) oksidasi oleh residu logam dari
pH mesin produksi selama proses
4-6 produksi
Inkompatibilitas efektif digunakan dalam
Agen pengoksidasi kuat, basa konsentrasi kecil, dan dapat
kuat membentuk kompleks dengan
berbagai jenis ion logam
Rowe et al., 2009
PROPILGALAT

Pemerian Inkompatibilitas
Serbuk kristal putih, tidak Logam, agen pengoksidasi
bebau Fungsi
Kelarutan Antioksidan (0.02%)
1:286 Alasan Pemilihan Bahan
pH untuk mencegah teroksidasinya
5.9 (larutan 0.1% b/v) bahan yang mudah teroksidasi
dengan oksidator kuat

Rowe et al., 2009; Pramanick et al., 2013


NATRIUM SITRAT
DIHIDRAT
Pemerian Inkompatibilitas
Kristal tidak berbau, tidak Agen pengoksidasi, basa, agen pereduksi
berwarna atau serbuk kristal Fungsi
putih
Buffering agent (0,3%-2%)
Kelarutan
Alasan Pemilihan Bahan
1:1,5 dalam air
Digunakan untuk menjaga stabilitas
pH pH sediaan
7-9 (larutan 5% b/v)

Rowe et al., 2009


ASAM SITRAT

Pemerian Inkompatibilitas
Kristal hampir tidak berwarana Agen pengoksidasi, basa, agen pereduksi
(translusen) atau berwarna
Fungsi
putih
Buffering agent (0,1%-2,0%)
Tidak berbau khas, berasa
asam kuat Alasan Pemilihan Bahan
Kelarutan Digunakan untuk menjaga stabilitas
Sangat mudah larut dalam air pH sediaan

pH
2,2 (larutan 1% b/v)

Rowe et al., 2009


NAOH

Pemerian Inkompatibilitas
Masa putih atau hampir putih Dalam larutan bereaksi dengan asam,
ester, eter, senyawa yang dapat
Kelarutan terhidrolisis atau teroksidasi
1:0,9 dalam air Fungsi
pH pH adjustmen
12-14 Alasan Pemilihan Bahan
Digunakan untuk mengatur pH
sediaan

Rowe et al., 2009


HCL

Pemerian Inkompatibilitas
Larutan jernih, tidak berwarna, Bereaksi dengan logam
bau tajam Fungsi
Kelarutan pH adjustment
Larut dalam air Alasan Pemilihan Bahan
pH Digunakan untuk mengatur pH
0,1 (larutan 10% v/v) sediaan

Rowe et al., 2009


ASAM ASKORBAT

RM/BM : C6H8O6 / 176,1


Kelarutan : larut dalam air 1:3-3,5
Pemerian : tidak berbau, serbuk putih, rasa asam
Sterilisasi : pemanasan dengan bakteriasida/ filtrasi, udaran dalam
wadah digantikan dengan nitrogren atau gas yang
sesuai.
Inkompatibilitas : garam besi, agen pengoksidasi, garam logam berat.
Simpan pada wadah tertutup bukan logam. Lindungi
dari cahaya
Dosis injeksi : mencapai 1g sehari
AQUA PRO INJEKSI

Pemerian
Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berasa
Fungsi
Pelarut
Alasan Pemilihan Bahan
Aqua pro injection merupakan air yang disterilkan dan
memenuhi syarat untuk penggunaan sebagai pelarut
sediaan injeksi harus bebas dari partikel pengotor dan
mikroba dalam batas yang ditentukan

Rowe et al., 2009


Formulasi & Cara Pembuatan
ANASTASIA
1206249901
Zat Komposisi (b/v)
Formula Thiamin Hydroklorida 1%
Riboflavin Na Fosfat 0,3175 %

Niacinamid 2,5 %
Pyridoxine HCl 0,5 %
Asam Askorbat 0,15 %
Na2EDTA 0,01 %
Propilgalat 0,02 %

NaOH 0,1 M q.s.

HCl 0,1 M q.s.


Larutan Dapar Sitrat pH 4,4 1%

Aqua Pro Injeksi Ad 100%


Perhitungan Bahan
Zat Jumlah dalam 2 mL Jumlah dalam 1 L
Thiamin Hidroklorida 21,5 mg 10.750 mg
Riboflavin Na Fosfat 6,83 mg 3.415 mg
Niacinamid 53,75 mg 26.875 mg
Pyridoxine HCl 10,75 mg 5.375 mg
Asam Askorbat 32,25 mg 16.125 mg
Na2EDTA 0,000215 mg 0,1075 mg
Propilgalat 0,00043 mg 0,215 mg
NaOH 0,1 M q.s. q.s.
HCl 0,1 M q.s. q.s.
Larutan Dapar Sitrat pH 4,4 0,0215 mL 10,75 mL

Aqua Pro Injeksi Ad 2,15 mL Ad 1,075 L


Cara Pembuatan
I. Sterilisasi peralatan
1. Alat yang akan digunakan untuk produksi disterilisasi dengan autoklaf
pada suhu 121oC selama 15 menit.
2. Ampul yang akan digunakan disterilisasi pada suhu 250 oC selama 30
menit.

II. Pencampuran
1. Sterilisasi aqua pro injeksi, dengan autoklaf pada suhu 121oC selama 30
menit, kemudian didinginkan hingga suhu ruangan.
2. Larutkan Riboflavin Na Fosfat dan Thiamine HCl ke dalam 0,3 L aqua
pro injeksi , masukkan ke dalam mixer.
3. Larutkan Pyridoxin HCl, Niacinamide dan asam askorbat ke dalam 0,3 L
aqua pro injeksi, masukkan ke dalam mixer, lakukan pengadukan.
4. Larutkan Na2EDTA dan Propilgalat ke dalam 0,3 L Aqua pro injeksi,
masukkan ke dalam mixer.

5. Masukkan sisa aqua pro injeksi, dan tambahkan NaOH 0,1 M dan HCl
0,1 M untuk mengadjust pH, aduk, kemudian tambahkan larutan buffer.

Pembuatan Larutan Buffer:


Mencampurkan 49,5 mL as.sitrat 0,1M dan 50,5 mL trisodium sitrat 0,1 M
III. Pengisian dan Pengemasan
1. Masukkan larutan ke dalam mesin pengisi melewati membran filter
0,45 m.
2. Larutan diisikan ke dalam ampul sebanyak 2,15 mL dan dialiri
dengan gas Nitrogen .
3. Sterilkan produk pada suhu 121 oC selama 30 menit.
4. Dilakukan evaluasi produk.
5. Produk dikemas ke dalam dus karton.
6. Produk yang telah dikemas diberi label dan diletakkan ke gudang.
EVALUASI
SANDI SALIM
TRYAS YANUARI
In process control
SANDI SALIM
1206241893
IPC adalah pemeriksaan yang dilakukan sebelum proses
manufaktur selesai. Fungsi IPC sebagai monitor. Hal ini dapat
berupa kontrol peralatan dan lingkungan.
Parameter fisik
Temperatur
Waktu
pH

Parameter khusus
Uji partikulat
Kejernihan
Penetapan pH

Menggunakan pH meter yang telah dibakukan.


Syarat pH = 3,8 4,2
Uji Partikulat
Light Obscuration Particle Count Test
25 mL larutan uji
4 bagian larutan uji diambil, masing masing tidak kurang dari
5 mL, lalu dihitung jumlah partikel yang ukurannya sama atau
lebih besar dari 10 m dan 25 m. Hasil dari bagian yang
pertama diabaikan dan dihitung nilai rata-rata jumlah
partikelnya.

Ukuran partikel Jumlah rata-rata partikel yang


disyaratkan
10 m 6000 partikel per wadah sediaan

USP 32
25 m 600 partikel per wadah sediaan
Uji Kejernihan

Pengamatan dilakukan di bawah cahaya yang terdifusi,


tegak lurus ke arah bawah tabung.
Menggunakan tabung reaksi alas datar diameter 15 mm - 25
mm, tidak berwarna, transparan, dan terbuat dari kaca netral
Dimasukkan ke dalam dua tabung reaksi masing-masing
larutan zat uji dan suspensi padanan yang sesuai
secukupnya, dibuat segar sehingga volume larutan dalam
tabung reaksi terisi setinggi tepat 40 mm
Dibandingkan kedua isi tabung setelah 5 menit pembuatan
Suspensi padanan dengan latar belakang yang hitam.

(Farmakope Indonesia Edisi IV, halaman 998)


Pembuatan Suspensi Padanan
Dibuat Suspensi padanan I sampai Suspensi padanan IV
dengan cara seperti yang tertera pada tabel. Masing-masing
suspensi harus tercampur baik dan dikocok sebelum
digunakan.

Suspensi Padanan
I II III IV
Baku 5,0 10,0 30,0 50,0
opalesen (ml)

Air (ml) 95,0 90,0 70,0 50,0

(Farmakope Indonesia Edisi IV, halaman 998)


Pembuatan Baku Opalesen

1,0 g hidrazina sulfat P dilarutkan dalam air secukupnya


hingga 100,0 ml, kemudian dibiarkan selama 4 jam - 6 jam.
Pada 25,0 ml larutan ini ditambahkan larutan 2,5 g heksamina
P dalam 25 ml air, dicampur dan dibiarkan selama 24 jam.
Baku Opalesen : 15,0 ml suspensi diencerkan dengan air
hingga 1000 ml

(Farmakope Indonesia Edisi IV, halaman 998)


Suatu cairan dinyatakan jernih bila kejernihannya sama
dengan air atau pelarut yang digunakan bila diamati di
bawah kondisi seperti tersebut sebelumnya atau jika
opalesensinya tidak lebih nyata dari Suspensi padanan I

(Farmakope Indonesia Edisi IV, halaman 998)


POST PROCESS CONTROL
Evaluasi Sediaan Steril

Uji Organoleptis
Uji pH
Penetapan Volume Injeksi Dalam Wadah
Penetapan Kadar
Uji Partikulat
Uji Sterilitas
Uji Pirogenitas
Uji Organoleptis

Uji Organoleptis Pengujian menggunakan indera, pengamatan


bentuk dan warna sediaan.
Bentuk : Larutan jernih
Warna : Kuning
Uji pH

Cek pH larutan dengan menggunakan pH meter


Syarat : 3,8 4,2
PENETAPAN VOLUME INJEKSI
DALAM WADAH (FI V HAL 1570)

Alat : Spuit
Tujuan : Untuk memastikan bahwa larutan sediaan injeksi
yang dimasukkan ke dalam ampul memiliki volume yang
seragam
Syarat : Volume tidak kurang dari volume yang tertera
pada wadah bila diuji satu per satu, atau bila wadah
volume 1 mL atau 2 mL, tidak kurang dari jumlah volume
wadah yang tertera pada etiket bila isi digabung.
Cara Kerja
Pilih 5 wadah

ambil isi tiap wadah dengan alat suntik hipodermik


kering berukuran tidak lebih dari 3 kali volume yang
akan diukur. keluarkan gelembung udara dari dalam
jarum

pindahkan isi dalam alat suntik ke dalam gelas ukur


kering yang telah dibakukan sehingga volume yang
diukur memenuhi sekuran-kurangnya 40% volume dari
kapasitas tertera
Penetapan kadar injeksi Vitamin B
Kompleks (BP 2013)

Baku Pembanding Fase gerak


Campuran larutan kalium
dihidrogen ortofosfat
Tiamin mononitrat BPCRS (1,36% b/v) dengan
Piridoksin hidroklorida natrium heptansulfonat
BPCRS (0.22% b/v) metanol
Nikotinamid BPCRS (75:25), atur pH larutan
akhir dengan asam
ortofosfat hingga pH 3.
Penetapan kadar injeksi Vitamin B
Kompleks (BP 2013)

Larutan Baku Larutan Uji

Larutan 1: 0,01% b/v tiamin B1, B3, B6: Encerkan larutan


mononitrat BPCRS dan 0,002% injeksi dalam ampul dengan
b/v piridoksin hidroklorida menggunakan air hingga
BPCRS mengandung 0,01% tiamin
Larutan 2: 0,01% b/v tiamin mononitrat.
mononitrat BPCRS dan 0,005% B2: encerkan larutan injeksi
b/v piridoksin hidroklorida dalam ampul yang
BPCRS mengandung setara dengan 4
Larutan 3: 0,016% nikotinamid mg riboflavin menggunakan
BPCRS buffer ftalat pH 4,0 hingga
volume 200 mL.
Sistem kromatografi

Detektor:
Kolom C18 (30 cm
- B1, B3, B6: 280 nm 3.9 mm) Laju alir 1 mL/menit
- B2: 446 nm (octadecylsilyl silica
ge)

Hitung jumlah dalam mg


Hitung kadar C12H17ClN4OS HCl menggunakan kadar C12H17N5O4S
di BPCRS mononitrate tiamin. Setiap mg C12H17N5O4S setara dengan
1.030 mg C12H17ClN4OS, HCl.
Hitung kadar C8H11NO3 HCl menggunakan kadar C8H11NO3, HCl di
BPCRS hidroklorida piridoksin.
Hitung kadar C6H6N2O menggunakan konten dinyatakan C6H6N2O di
BPCRS nicotinamide.
BAHAN PARTIKULAT DALAM INJEKSI (FI V Hal. 1498-1500)

1. Campur dan suspensikan bahan partikulat dalam tiap unit dengan membalikkan 20
kali.
2. Buka dan kumpulkan isi dari tidak kurang 10 unit hingga memperoleh volume tidak
kurang dari 20 ml dalam wadah bersih.
3. Ultrasonikasi selama 30 detik atau diamkan selama 2 menit sampai bebas
gelembung udara.
4. Aduk perlahan-lahan memutar dengan manual atau secara mekanis, hati-hati
jangan sampai masuk gelembung udara atau cemaran lain.
5. Ambil tidak kirang dari 3 alikuot, tiap bagian tidak kurang dari 5 ml. Tuang kedalam
sensor penghitung penghamburan cahaya.
Rumus: PVT
Van
P : Hasil hitung partikel rata-rata yang diperoleh dari bagian yang dianalisis
VT : Volume sampel gabungan (ml)
VA : Volume (ml)
n : Banyaknya wadah yang digabung
Syarat:
Injeksi volume kecil memenuhi syarat uji jika
jumlah rata-rata partikel dengan ukuran 10 m
yang dikandung tidak lebih dari 6000 tiap
wadah dan jumlah partikel dengan ukuran sferik
efektif 25 m yang dikandung tidak lebih dari
600 tiap wadah.
Uji Sterilitas (FI V HAL 1359)

Bertujuan untuk menetapkan apakah bahan farmakope yang harus


steril memenuhi persyaratan yang berhubungan dengan uji sterilisasi
yang tertera pada masing-masing monografi. Cara pengerjaan :
Uji fertilitas. Tetapkan sterilitas setiap lot media dengan mengikubasi
sejumlah wadah yang mewakili, pada suhu dan selama waktu yang
tertera pada uji.
Uji sterilitas. Prosedur pengujian terdiri dari inokulasi langsung ke dalam
media uji dan teknik penyaringan membran.
Uji Sterilisasi Tujuan : Untuk menetapkan apakah
(FI V Hal. 1359) sediaan yang dibuat steril & memenuhi
syarat sesuai dengan uji sterilitas yang
tertera pada masing-masing monografi.

Media
Tioglikolat cair

Soybean-Casein Digest Medium

Syarat:Tidak tumbuh mikroorganisme

Hasil: Pada sediaan injeksi Vitamin B kompleks tidak tumbuh


mikroorganisme
Metode Uji inokulasi langsung ke dalam media uji.

Pindahkan cairan dari wadah uji menggunakan pipet atau jarum suntik
steril. Secara aseptik inokulasikan sejumlah tertentu bahan dari tiap
wadah uji kedalam Media Tioglikolat cair. Campur cairan dengan
media tersebut tanpa aerasi berlebihan.

Inkubasi dalam media tersebut dengan suhu 30-35C selama tidak kurang 14 hari dan
amati pertumbuhan pada media secara visual sesering mungkin sekurangnya pada hari
ke-3 atau ke-4 atau ke-5, pada hari ke-7 atau ke-8 dan pada hari terakhir dari masa uji.

Jika zat uji menyebabkan media menjadi keruh sehingga ada atau tidaknya pertumbuhan
mikroba tidak segera dapat ditentukan secara visual, pindahkan cairan setara jumlah media ke
dalam tabung baru berisi media yang sama, sekurangnya 1 kali antara hari ke-3 dan ke-7 sejak
pengujian dimulai

Lanjutkan inkubasi media awal dan media baru


selama total waktu tidak kurang dari 14 hari
sejak inokulasi awal
KEMASAN
SPESIFIKASI KEMASAN
Kemasan Primer : Ampul bening
Alasan Pemilihan :
Karena dibuat sediaan dosis tunggal
Ampul coklat memiliki resiko mencemari sediaan steril akibat kandungan besi
dalam ampul tersebut
Terdapat kemasan sekunder sediaan tetap terlindungi dari pengaruh
cahaya
Kemasan Sekunder : Kardus
Alasan Pemilihan :
Melindungi kemasan primer dari pengaruh cahaya
Melindungi kemasan primer dari benturan dengan lingkungan luar
Bagian dalam kemasan sekunder diberi sekat-sekat untuk menghindari
benturan antar kemasan primer yang dapat menyebabkan ampul dalam
kemasan sekunder pecah
KEMASAN SEKUNDER
TAMPAK DALAM KEMASAN
LABEL UNTUK AMPUL
(stiker bening)
BROSUR
EVALUASI KEMASAN

Uji Kebocoran (Goeswin Agoes, Larutan Parenteral, 191)


Tujuan : memeriksa keutuhan kemasan untuk menjaga
sterilitas dan volume serta kestabilan sediaan.
Prinsip : Untuk cairan yang berwarna lakukan dengan posisi
terbalik, wadah takaran tunggal ditempatkan diatas kertas
saring atau kapas. Jika terjadi kebocoran, maka kertas saring
atau kapas akan basah.
REFERENSI

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (1995). Farmakope Indonesia Edisi IV


Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2014). Farmakope Indonesia Edisi V
Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Gilman, A.G., 2007, Goodman & Gilman Dasar Farmakologi Terapi, diterjemahkan oleh Tim Alih Bahasa Sekolah
Farmasi ITB, Edisi X, 877, Penerbit Buku Kedokteran, EGC, Jakarta.
Lachman III
Martindale 28th ed
Pramanick, S., Singodia, D., Chandel, V. (2013). Excipient Selection in Parenteral
Formulation Development. Pharma Times, 45 (3).
Rowe, R.C., Sheskey, P.J., & Quinn, M.E. (2009). Handbook of Pharmaceutical Excipients
(6th ed.). Grayslake: Pharmaceutical Press and American Pharmacists Association.
The Vitamin B Complex , F.A. Robinson. 1951
USP 32

Anda mungkin juga menyukai