Anda di halaman 1dari 21

Pengaruh Obat Terhadap Kehamilan

Kelompok 6
M.Iqbal
Nana Chairunnisa
Yohana Simalango
KEHAMILAN
Kehamilan adalah suatu fenomena fisiologis
yang dimulai dengan pembuahan dan
diakhiri dengan proses persalinan.
Lamanya hamil normal adalah 280 hari
(40 minggu atau 9 bulan 7 hari) dihitung
dari hari pertama haid terakhir.
OBAT
Obat merupakan sedian atau paduan
bahan-bahan yang siap digunakan
untukmempengaruhi atau menyelidiki
sistim fisiologi atau keadaan patologi
dalam rangkapenetapan diagnosis,
pencegahan, penyembuhan, pemulihan,
peningkatan, kesehatandan kontrasepsi
(Kebijakan Obat Nasional, 2005).
PENGGOLONGAN OBAT
Berdasarkan Jenis :
1. Obat bebas dan obat bebas terbatas
2. Obat keras
3. Psikotropika dan narkotika
Berdasarkan mekanisme kerja obat
1. Obat yang bekeja terhadap penyebab penyakit
2. Obat yang bekerja mencegah keaadan patologis dari penyakit
3. Obat yang menghilangkan gejala penyakit
4. Obat yang bekerja untuk mengganti atau menambah fungsi-fungsi
zat yang kurang
5. placebo
OBAT DAN KEHAMILAN
Obat berefek samping bagi Ibu
Hamil dan Janin.
Efek samping yang buruk dari obat
cacat bawaan .
Obat atau agen lain yang dapat
mengakibatkan cacat bawaan yang nyata
lazim disebut sebagai obat yang bersifat
teratogenik atau dismorfogenik.
FARMAKOKINETIK
A. IBU HAMIL

Absorpsi :
Pada awal kehamilan akan terjadi penurunan sekresi
asam lambung hingga 30-40%. Hal ini menyebabkan pH
asam lambung sedikit meningkat, sehingga obat-obat yang
bersifat asam lemah akan sedikit mengalami penurunan
absorpsi. Sebaliknya untuk obat yang bersifat basa lemah
absorpsi justru meningkat. Pada fase selanjutnya akan terjadi
penurunan motilitas gastrointestinal sehingga masa transit
obat semakin memanjang yang menyebabkan absopsi obat-
obat yang sukar larut (misalnya digoksin) akan meningkat,
sedang absopsi obat-obat yang mengalami metabolisme di
dinding usus, seperti misalnya klorpromazin akan menurun.
Lanjutan...

- Distribusi
Volume distribusi obat akan mengalami
perubahan selama kehamilan akibat peningkatan
jumlah volume plasma hingga 50%.
Sebagai salah satu akibatnya obat-obat yang
volume distribusinya kecil, misalnya ampisilin akan
ditemukan dalam kadar yang rendah dalam darah,
walaupun diberikan pada dosis lazim.
Lanjutan...

- Metabolisme
Pada kehamilan, meskipun curah jantung meningkat, namun
aliran darah yang menuju ke hepar tidak berubah. Fungsi hati
dalam kehamilan banyak dipengaruhi oleh kadar estrogen
dan progesteron yang tinggi. Pada beberapa obat tertentu
seperti phenytoin, metabolisme hati bertambah, cepat
mungkin akibat rangsangan pada aktivitas enzim mikrosom
hati yang disebabkan oleh hormon progesteron; sebaliknya
pada obat-obatan seperti theofilin dan kafein, eliminasi hati
berkurang sebagai akibat sekunder inhibisi kompetitif dari
enzim oksidase mikrosom oleh estrogen dan progesteron.
Estrogen juga mempunyai efek kolestatik yang
mempengaruhi ekskresi obat-obatan seperti rifampisin ke
sistem empedu.
Lanjutan...

Ekskresi
Pada kehamilan terjadi peningkatan aliran plasma renal 25-
50%, bahkan pada akhir masa kehamilan akan terjadi
peningkatan aliran darah ginjal sampai 2 kali lipat. Obat-obat
yang dikeluarkan dalam bentuk utuh dalam urin seperti penisilin,
digoksin, dan lithium menunjukkan peningkatan eliminasi dan
konsentrasi serum steady state yang lebih rendah. Dengan
meningkatnya aktivitas mixed function oxidase, suatu sistem
enzim yang paling berperan dalam metabolisme hepatal obat,
maka metabolisme obat-obat tertentu yang mengalami olsidasi
dengan cara ini (misalnya fenitoin. fenobarbital, dan
karbamazepin) juga meningkat, sehingga kadar obat tersebut
dalam darah akan menurun lebih cepat, terutama pada trimester
kedua dan ketiga. Untuk itu, pada keadaan tertentu mungkin
diperlukan menaikkan dosis agar diperoleh efek yang diharapkan
B. PENGARUH OBAT PADA JANIN

Pengaruh buruk obat terhadap janin dapat


bersifat toksik, teratogenik maupun letal,
tergantung pada sifat obat dan umur kehamilan
pada saat minum obat.
Secara umum pengaruh buruk obat pada
janin dapat beragam, sesuai dengan fase-fase
berikut:
a. Fase Implantasi
b. Fase Embional (Organogenesis)
c. Fase Fetal
Dua mekanisme yang ikut melindungi janin dari obat di
sirkulasi ibu adalah :

1. Plasenta sebagai sebagai penghalang semipermiabel


dan sebagai tempat metabolisme beberapa obat yang
melewatinya.

Semua jalur utama metabolisme obat ada di plasenta dan


juga terdapat beberapa reaksi oksidasi aromatik yang
berbeda misalnya oksidasi etanol dan fenobarbital.
Sebaliknya , kapasitas metabolisme plasenta ini akan
menyebabkan terbentuknya atau meningkatkan jumlah
metabolit yang toksik, misalnya etanol dan benzopiren. Dari
hasil penelitian, prednisolon, deksametason, azidotimidin
yang struktur molekulnya analog dengan zat-zat endogen di
tubuh mengalami metabolisme yang bermakna di plasenta.
Lanjutan...

2. Obat-obat yang melewati plasenta

memasuki sirkulasi janin


lewat vena umbilikal.

Sekitar 40-60% darah yang masuk tersebut akan


masuk hati janin, sisanya akan langsung masuk ke
sirkulasi umum janin. Obat yang masuk ke hati janin,
mungkin sebagian akan dimetabolisme sebelum
masuk ke sirkulasi umum janin, walaupun dapat
dikatakan metabolisme obat di janin tidak berpengaruh
banyak pada metabolisme obat maternal.
Farmakodinamika
a. Mekanisme kerja obat ibu hamil

Efek obat pada jaringan reproduksi, uterus dan kelenjar


susu, pada kehamilan kadang dipengaruhi oleh hormon-
hormon sesuai dengan fase kehamilan.
Efek obat pada jaringan tidak berubah bermakna karena
kehamilan tidak berubah, walau terjadi perubahan misalnya
curah jantung, aliran darah ke ginjal. Perubahan tersebut
kadang menyebabkan wanita hamil membutuhkan obat yang
tidak dibutuhkan pada saat tidak hamil. Contohnya glikosida
jantung dan diuretik yang dibutuhkan pada kehamilan karena
peningkatan beban jantung pada kehamilan. Atau insulin yang
dibutuhkan untuk mengontrol glukosa darah pada diabetes
yang diinduksi oleh kehamilan.
b. Mekanisme kerja obat pada janin.

Beberapa penelitian untuk mengetahui


kerja obat di janin berkembang dengan
pesat, yang berkaitan dengan pemberian
obat pada wanita hamil yang ditujukan
untuk pengobatan janin walaupun
mekanismenya masih belum diketahui
jelas.
Kerja obat teratogenik.
Penggunaan obat pada saat perkembangan janin dapat
mempengaruhi struktur janin pada saat terpapar. Thalidomid
adalah contoh obat yang besar pengaruhnya pada
perkembangan anggota badan (tangan, kaki) segera sesudah
terjadi pemaparan. Pemaparan ini akan berefek pada saat
waktu kritis pertumbuhan anggota badan yaitu selama minggu
ke empat sampai minggu ke tujuh kehamilan. Mekanisme
berbagai obat yang menghasilkan efek teratogenik belum
diketahui dan mungkin disebabkan oleh multi faktor.
Obat dapat bekerja langsung pada jaringan ibu dan juga
secara tidak langsung mempengaruhi jaringan janin.
Obat mungkin juga menganggu aliran oksigen atau nutrisi
lewat plasenta sehingga mempengaruhi jaringan janin.
Obat juga dapat bekerja langsung pada proses
perkembangan jaringan janin, misalnya vitamin A (retinol)
yang memperlihatkan perubahan pada jaringan normal.
Derivat vitamin A (isotretinoin, etretinat) adalah teratogenik
yang potensial.
Kekurangan substansi yang esensial diperlukan juga akan
berperan pada abnormalitas. Misalnya pemberian asam
folat selama kehamilan dapat menurunkan insiden
kerusakan pada selubung saraf , yang menyebabkan
timbulnya spina bifida
Jenis Pengaruh Obat pada Masa Kehamilan

pengaruh lelat yakni yang terjadinya


kematian embrio dalam kandungan
pengaruh teratogenik terjadi pada dosis
sub-letal yakni tejadinya malformasi
anatomik pada pertumbuhan organ janin
pengaruh toksik yaitu terjadinya kelainan
atau gangguan fisiologik atau biokimiawi
dalam berbagai derajat pada janin tanpa
disertai malformasi anatomik.
Klasifikasi Obat Berdasarkan Resiko
Pemakaian Selama Kehamilan
1. Kategori A : obat dipakai wanita hamil dan wanita mampu hamil tanpa disertai
kenaikan frekuensi malformasi janin atau pengaruh buruk (secara langsg/tidak).
Contoh : antipiretik parasetamol, antibiotika penisilin, isoniazid, glikosida
jantung, eritromisin, bahan-bahan hemopoetik sseperti besi dan asam folat

2. Kategori B : pengalaman pemakaian oleh wanita hamil atau mampu hamil masih
terbatas tetapi tidak ada kenaikan frekuensi malformasi janin atau pengaruh
buruk( scr lgsg/tdk)
a. Kategori B1 : penelitian pada binatang tidak menunjukkan adanya kenaikan
kejadian kerusakan janin (fetal damage). Misalnya obat-obat simetidin,
dipiridamol, spektinomisin
b. Kategori B2 : Penelitian pada binatang tidak memadai dan masih kurang,
tetapi data yang ada juga tidak menunjukkan peningkatan kejadian kerusakan
janin. Sebagai contoh adalah amfoteresin, dopamine, asetil kistein, alkaloid
beladonadan
c. Kategori B3 : Penelitian pada binatang menunjukkan peningkatan kejadian
kerusakan janin, tetapi belum tentu bermakna pada manusia. Contohnya
karbamasepin, primetamin, griseofulvin, trimetoprim dan mebendazol
Lanjutan...

3. Kategori C : karena efek farmakologinya dapat menyebabkan pengaruh buruk


pada janin tanpa disertai malformasi anatomik. Pengaruh ini kemungkinan dapat
membaik kembali (reversible). Misalnya fenotiazin, analgetika, narkotika,
antiinflamasi non steroid, aspirin, rifampisin, aritiaritmia, Ca-Channel blocker,
diuretika

4. Kategori D : telah menyebabkan kenaikan kejadian malformasi janin pada


manusia atau menyebabkan kerusakan pada janin yang tidak dapat membaik
lagi (irreversible). Obat-obat ini juga mempunyai efek farmakologik yang
merugikan terhadap janin. Contoh : Fenitoin, pirimidon, fenobarbiton, valproat,
klonasepam, kinine, kaptopril, obat-obat sitotoksik, antikoagulan , androgen dan
steroid anabolic

5. Kategori X :telah terbukti mempunyai resiko tinggi untuk dipakai pada kehamilan
karena pengaruh yang menetap (ireversible) terhadap janin. Kontraindikasi
mutlak pada kehamilan atau kemungkinan hamil. Contoh obat jenis isotretionin
dan dietilstilbestrol
ANJURAN PENGGUNAAN OBAT PADA
MASA KEHAMILAN
Menurut Manuaba (1998), anjuran penggunaan obat pada masa kehamilan adalah
sebagai berikut:
Obat hanya diresepkan pada ibu hamil bila manfaat yang diperoleh ibu
diharapkan lebih besar dibandingkan resiko pada janin.
Sedapat mungkin segala jenis obat dihindari pemakaiannya selama trimester
pertama kehamilan.
Apabila diperlukan, lebih baik obat-obatan yang telah dipakai secara luasa
pada kehamilan dan biasanya tampak aman diberikan daripada obat baru atau
obat yang belum pernah dicoba secara klinis.
Obat harus digunakan pada dosis efektif terkecil dalam jangka waktu
sesingkat mungkin.
Penggunaan banyak obat tidak boleh diberikan sekaligus (polifarmasi).
Perlu adanya penyesuaian dosis dan pemantauan pengobatan.
Pemakaian obat-obat bebas dan resep perlu diperhatikan sepanjang
kehamilan sampai nifas. Perubahan fisiologik pada ibu yang terjadi selama
masa kehamilan mempengaruhi kerja obat dan pemakaiannya.
TERIMAKASIH ATAS PERHATIANNYA
SEMOGA BERMANFAAT