Anda di halaman 1dari 11

NAMA KELOMPOK

JOANNA ASWITA.SEMBIRING
214420088
SINTIA NATALIA.SIREGAR
214420086
MELVA ARENA.SARAGIH
214420068
1.Apakah kesulitan utama untuk perusahaan dalam menerapkan IAS 41?

Kesulitan yang dialami perusahaan adalah adanya anggapan bahwa pendekatan


yang digunakan IAS 41 fokus pada praktik pelaporan asset biologis. Terdapat
penggunaan model nilai wajar ,beberapa penelitian yang meragukan keunggulan
penggunaan model nilai wajar.penggunaan nilai wajar lemah dari sisi keandalan
informasi dan kemudahan untuk dipahami karena nilai wajar berpihak pada harga
pasar arbitrer yang subjektif.Penggunaa model nilai wajar memakan biaya dalam
mendapatkan informasi harga wajar,terutama untuk entitas entitas pelapor pada
Negara Negara berkembang. Penggunaan nilai wajar menimbullkan volatilitas pada
laba rugi yang dilaporkan entitas dan sering kali gagal dalam menangkap substansi
ekonomi yang sebenarnya terjadi.
Penggunaan model nilai wajar tidak dapat memenuhi karakteristik kualitatif dapat
dibandingkan karena model nilai wajar yang diterapkan dengan berbagai
metode.selain itu,biaya yang dikeluarkan lebih besar dari manfaat yang diperoleh
,terdapat volatilitas earning,data yang kurang dapat diandalkan ,dan
ketidaksepahaman antara penyusun laporan keuangan dan auditor.Alasan lain yaitu
adanya kesulitan dalam mengidentifikasi atribut untuk asset biologis,pertimbangan
biaya penerapan nilai wajar,serta pertimbangan volatilitas dan kurangnnya informasi
yang relevan.perlakuan akuntansi yang disarankan dalam IAS 41 tidak dapat
diterapkan dalam asset biologis berupa tanaman kelapa sawit,karena akan
memberikan laba yang besar pada saat pengakuan awal kemudian nilai asset biologis
akan menurun secara drastis setelah itu stabil.
Kesulitan lainnya perusahaan dalam menerapkan
IAS 41 adalah adanya perubahan pengukuran
dan penilaian serta pelaporan dan penyajian
akuntansi yang pada awalnya berdasarkan pada
biaya historis (Historical Cost) menuju
pengukuran dan pelaporan berdasarkan nilai
wajar (Fair Value).
Kendala lainya seperti :
a.Perbedaan budaya tiap Negara
b.Perbedaan system pemerintah
c.Perbedaan kepentingan antara perusahaan
d.Tingginya biaya yang dibutuhkan untuk
melakukan perubahan prinsip akuntansi
2.Diskusikan bagaimana pencatatan untuk asset biologi untuk jenis bearer
apakah lebih tepat dengan pengukuran harga perolehan kemudian
diamortisasi saat panen ataukah dengan menggunakan nilai wajar seperti
dalam IaS 41?
Aset biologi merupakan hewan yang hidup atau tanaman.aset biologi dibagi yaitu
bearer dan consumables.
Consumables yaitu hewan dan tumbuhan itu sendiri yang dipanen
Bearer /menghasilkan yaitu binatang dan tanaman menghasilkan produksi panen.
Jadi pencatatan asset biologi untuk jenis bearter yang digunakan adalah nilai wajar
seperti IAS 41.

Pada prinsip-prinsip dasar IAS 41 diperlukan penilaian wajar (Fair Value) terhadap
aktivitas agrikultur.
Pengakuan dan pengukuran aset biologis harus dinilai pada saat pengakuan awal dan
pada setiap tanggal neraca dengan menggunakan nilai wajar.Hasil yang diperoleh dari
aset biologis dinilai dengan menggunakan nilai wajar dikurangi dengan estimasi biaya
pada saat penjualan hasil panen.selisih yang berasaldari penilaian hasil aset biologis
diakui sebagai bagian dari laba rugi tahun berjalan.Penilaian aset biologis diakui
dengan mengelompokkan terlebih dahulu berdasarkan umur dan kualitas.selisih yg
berasal dari penilaian aset biologis ini harus diakui sebagai bagian dari laba rugi
tahun berjalan
Untuk mengukur asset biologis menggunakan nilai wajar sebagaimana diatur dalam
IFRS,penilai dapat menerapkan 3 pendekatan,yaitu
Pendekatan Data Pasar (Market Data Approach)
Pendekatan Biaya (Cost Approach)
Pendekatan Pendapatan (Income Approach)
a)Pendekatan Data Pasar (Market data approach)
yaitu penilaian yang mendasarkan pada perbandingan data dari asset
biologis yang sejenis dan dilakukan dengan melakukan penyesuaian atas
faktor-faktor yang berpengarus terhadap nilai pasar biologis yang dinilai
pada saat penilaian.
b)Pendekatan Biaya (cost approach)
yaitu penilaian yang mendasarkan pada besarnya biaya yang
dikeluarkan untuk memperoleh asset biologis seperti pada saat
dilakukan penilaian atrau seperti kondisi dari asset biologis (faktor-
faktor koreksi yang mempengaruhi kondisi asset biologis)
c)Pendekatan Pendapatan (income approach)
Dapat digunakan untuk penilaian asset biologis karena asset biologis
menghasilkan pendapatan (income producing assets).pendekatan
pendapatan terkait erat dengan nilai pasar investasi asset biologis untuk
jangka panjang,sehingga faktor rate of return harus dapat
mengakomodasi unsure resiko dan penghasilan dari investasi asset
biologis tersebut untuk jangka panjang,Pendekatan pendapatan
menggambarkan nilai pasar biologis bila prinsip penilaian yang terkait
dengan pendekatan pendapatan dipenuhi dengan baik.
3.Diskusikan bagaimana pencatatan untuk asset biologi untuk
jenis consumables,apakah perlu dibedakan untuk yang jangka
panjang dan jangka pendek?

Pencatatan untuk asset biologis jenis consumables di dalam posisi


keuangan asset biologis berupa Asset Tanaman semusim (ATS) dan
Persediaan di sajikan sebagai komponen asset lancar .sedangkan asset
biologis berupa Tanaman Belum Menghasilkan (TBM) dan tanaman
menghasilkan (TM) di sajikan sebagai aktiva tidak lancar
Keterangan:
TS: asset diakui sebagai tanaman semusim adalah asset pembibitan
berupa bibit berupa bibit untuk tanaman yang akan datang
TBM: di akui selama masa awal penanaman sampai memenuhi syarat
diakui sebagai TM
TM: diakui TM apabila telah siap panen dan memenuhi syarat yang di
tentukan oleh pertumbuhan vegetatife dan bedasarkan taksiran
manajemen
Persediaan diakui berupa hasil panen dan produk olahan dewasa disajikan
sebagai aktiva lancar dan asset biologis dewasa disajikan sebagai aktiva
tidak lancar.Sedangkan persediaan disajikan pada asset lancar
Aset biologis dapat dikelompokkan berdasarkan jangka
waktu transformasi biologisnya,yaitu asset biologis jangka
pendek (short term biological asset) dan biologis jangka
panjang (long term biological asset).Berdasarkan hal
tersebut maka pengklarifikasian asset biologis dalam
laporan keuangan dapat dimasukan kedalam asset lancar
(current assets) ataupun asset tidak lancar (noncurrent
assets) tergantung dari masa transformasi biologis yang
dimiliki oleh asset biologis atau jangka waktu yg
diperlukan dari asset biologis untuk siap dijual.
Asset biologis yang mempunyai masa transformasi atau
siap untuk dijual dalam waktu kurang dari satu atau
sampai 1 (satu) tahun,maka asset biologis tersebut
diklarifikasikan ke dalam asset lancar,biasanya
digolongkan kedalam perkiraan persediaan atau asset
lancar lainya.Sedangkan,asset biologis yang mempunyai
masa transformasi biologis lebih dari 1(satu)tahun
diklarifikasikan kedalam asset tidak lancar,biasanya
digolongkan kedalam perkiraan asset lain.
4.Hierarki nilai wajar mana yang paling tepat untuk
menilai aset biologi (barer)?
PSAK 68 menetapkan hirarki nilai wajar yang
mengelompokkan input untuk teknik penilaian yang
digunakan dalam pengukuran nilai wajar menjadi 3 level
input
Input level 1 adalah harga kuotasian (tanpa penyesuaian)
dipasar aktif untuk asset atau liabiulitas yang identik yang
dapat diakses entitas pada tanggal pengukuran.
Input level 2 adalah input selain harga kuotasian yang
termasuk dalam level 1 yang dapat diobservasi untuk asset
atau liabilitas,baik secara langsung atau tidak
langsungInput level 3 adalah input yang tidak dapat
diobservasi untuk asset atau liabilitas.
Hirarki nilai wajar yang paling tepat untuk menilai asset
biologi (bearer) adalah Input level 1 adalah harga kuotasian
(tanpa penyesuaian) dipasar aktif untuk asset atau
liabiulitas yang identik yang dapat diakses entitas pada
tanggal pengukuran.Kerena biasanya asset yang
menggunakan hirarki nilai wajar Inpul Level 2 dan 3 aset
non keuangan seperti gedung dan peralatan
lainya.Perusahaan sedapat mungkin harus menggunakan
level 1 untuk mencari nilai wajar asset dan liabilitas.
5.Diskusikan bagaimana persepsi pembaca laporan keuangan
atas laba yang diperoleh,juka pendapatan merupakan hasil
panen dan kenaikan asset bukan nilai penjualan?
Menurut hasil diskusi kami pendapatan memang merupakan hasil
panen atau disebut dengan hasil penjualan dan kenaikan asset
merupakan nilai penjualan karena ada kaitanya antara kenaikan
asset dengan nilai penjualan.
Kenaikan aset menurut Paton dan litleton menyebutkan bahwa aset
dapat bertambah karena berbagai transaksi,kejadian ,atau keadaan
sebagai berikut:
1.transaksi pendanaan yang berasal dari kreditor dan investor
2.laba yang berasal dari kegiatan investasi,misalnya penjualan asset
tetap,surat berharga,sekmen bisnis,dan anak perusahaan.
3.hadiah ,donasi atau temuan
4.revaluasi asset yang telah ada
5.penyediaan dan atau penyerahaan produk(barang dan jasa)
Untuk disebut sebagai pendapatan, aliran aset masuk adalah jumlah rupiah
kotor. FASB mengisyaratkan jumlah kotor dengan menyatakan bahwa
pendapatan adalah jumlah rupiah yang datang dari penyerahan produk atau
pelaksanaan jasa. (IASC) menunjuk jumlah kotor dengan menyebutkan bahwa
jumlah rupiah pendapatan dapat berupa penjualan, imbalan jasa, bunga,
dividen,royalitas,dan sewa.
Pendefinisian pendapatan sebagai kenaikan aset merupakan pendefinisian
dengan konsep aliran masuk. Konsep ini mempunyai kelemahan karena
pendapatan dianggap baru ada setelah transaksi penjualan terjadi.dengan
kata lain pendapatan timbul karena peristiwa atau transaksi pada saat
tertentu dan bukan karena proses selama suatu periode. Kelemahan lain
adalah definisi ini mengacaukan pengukuran dan penentuan saat pengakuan
dengan proses penciptaan pendapatan. IAI harus membatasi bahwa kenaikan
aset tersebut adalah yang menaikkan ekuitas kecuali yang berasal dari
transaksi dengan pemilik.konsep kenaikan aset mengalami masalah dalam hal
aliran masuk yang berupa pembayaran di muka yang berasal dari pelanggan.
Walaupun pembayaran semacam ini merupakan bagian dari operasi utama
perusahaan, pada kenyataannya aliran masuk tersebut tidak atau belum
dianggap pendapatan. Demikian juga, walaupun penjualan kredit
menimbulkan piutang usaha, piutang sering dianggap bukan suatu aliran
masuk aset.