Anda di halaman 1dari 37

PRESENTASI KASUS

Internsip RSUD Sumedang 2017


Carmelia Cantika Maharani
I. KETERANGAN UMUM
Nama pasien : An. G
No medrek : 642692
Jenis kelamin : Laki-laki
Tanggal lahir/Usia : 04 Maret 2013/4 tahun
Alamat : Kb. Pisang RT 06/RW 07
Agama : Islam
Masuk Rumah Sakit : 6 Maret 2017

Nama Ibu : Ny. N


Usia : 34 tahun
Pekerjaan : IRT
Anamnesis
KU: kejang
Kejang dirasakan sejak 3 jam SMRS. Kejang terus
menerus, lebih dari 30 menit. Mata mendelik ke kiri,
kelojotan tubuh sebelah kiri. Kejang terjadi dua kali, yang
pertama >15 menit dibawa ke Puskesmas dan diberikan
diazepam per rektal kemudian kejang hilang. Setelah
kejang pasien mengalami penurunan kesadaran. Pasien
baru pertama kali mengalami kejang. Riwayat batuk pilek
(+), demam (+)
Pemeriksaan Fisik
KU: somnolen
TTV: N: 120 x/menit
R: 30 x/menit
S: 37,8oC
Kepala: KA -/-, SI -/-, pupil bulat isokor
Leher: KGB tidak membesar
Thorax: Bentuk gerak simetris, retraksi(-). Pulmo: VBS
ki=ka, Rh+/+, Wh-/-, cor BJ reguler
Abdomen : datar lembut, BU (N)
Ekstrimitas: akral hangat, CRT<2
Status neurologis:KK (-), RF n/n
Diagnosis
Status epileptikus
Tatalaksana awal
O2 3-5 L/m
IVFD asering 15-20 gtt/menit
Diazepam 5 mg IV bolus pelan2x masih kejang
dalam 5 menit
Parasetamol 3x140 mg IV
Fenitoin 140 mg IV
Observasi kejang
II. ANAMNESIS (10 Maret 2017)
Keluhan Utama : Kejang

Anamnesis Khusus :
Pasien mengalami kejang 3 jam SMRS. Kejang
berupa mata mendelik ke atas, tangan dan tungkai kiri
kelojotan. Kejang terjadi dua kali, kejang pertama terjadi
selama satu jam dan kejang kedua terjadi selama >30
menit dengan jarak antar kejang 1 jam. Diantara kejang
pasien tidak sadar. Sebelum kejang penderita sadar,
selama dan setelah kejang pasien tidak sadar. Saat
kejang pasien dibawa ke klinik lalu diberikan diazepam
per rektal dua kali dan kejang berhenti. Saat kejang
kedua pasien dibawa ke puskesmas lalu dirujuk ke IGD
RSUD Sumedang.
Keluhan kejang didahului keluhan batuk pilek
dan demam sejak 2 hari SMRS. Tidak ada keluhan
sesak napas. Tidak ada riwayat keluar cairan dari
telinga. BAB dan BAK tidak ada keluhan. Tidak ada
keluhan sakit kepala, penurunan kesadaran
sebelumnya. Tidak ada riwayat trauma.
Tidak ada riwayat muntah, diare sebelumnya.
Tidak ada keluhan tangan dan kaki menjadi dingin,
berdebar, berkeringat dingin sebelum kejang. Tidak
ada riwayat penggunaan obat-obatan sebelumnya.
Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien belum pernah mengalami sakit kejang
sebelumnya. Tidak ada riwayat kejang demam
sebelumnya.

Riwayat kesehatan keluarga


Riwayat keluarga dengan kejang tanpa demam tidak
ada. Tidak ada riwayat kejang demam pada keluarga

Riwayat kelahiran
Pasien merupakan anak kedua dari 2 bersaudara.
Pasien lahir cukup bulan, letak kepala, spontan, dibantu
oleh bidan dengan berat lahir 3500 gram, langsung
menangis. Selama hamil ibu mengaku sehat dan tidak
meminum obat selain dari bidan. Tidak ada kebiruan
dan sesak nafas saat lahir.
Riwayat imunisasi
BCG: +
DPT: + + +
Polio: +
Hep B: + +
Morbili: +

Lengkap sesuai jadwal


Riwayat makanan
ASI eksklusif selama dua tahun

Riwayat tumbuh kembang:


Perkembangan pasien sama dengan teman yang
seusianya
III. PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum
Kesan sakit : Sakit sedang, lemah
Kesadaran : CM
Berat badan : 14 kg
Tinggi badan : 100 cm
Status gizi : Malnutrisi ringan
TB/U: median
BB/U: <-1 SD
BB/TB: <-1 SD
Tanda-Tanda Vital
Nadi : 120 x/menit
Respirasi : 30 x/menit
Suhu : 39,1 C

Kepala : normocephal
Mata : - Pupil bulat isokor 3 mm,refleks cahaya +/+
- Konjunctiva tidak anemis
- Sklera tidak ikterik
Hidung : - Sekret -/-
- Pernafasan cuping hidung (-)
Telinga : Sekret -/-
Mulut : - Tonsil T1 - T1,
- Faring tidak hiperemis
- Sianosis perioral (-)
Leher :
- Retraksi suprasternal (-)
- KGB teraba 0,5-1 cm NT(-)

Thorax :
Bentuk dan gerak simetris
Retraksi (-)
Cor : - Bunyi jantung murni reguler
Pulmo : - Sonor
- vesicular breathing sound normal,
kiri = kanan
- Vocal Fremitus dan vocal resonansi normal,
kiri = kanan
- Ronkhi -/-, wheezing -/-
Abdomen :
datar, lembut
Hepar dan lien tidak teraba membesar
Bising usus (+) normal

Ekstremitas : - akral hangat, capillary refill 2 detik


- turgor baik
- edema (-)
- akrosianosis (-)
Status neurologis
Saraf otak: N III, IV, VI GBM ke segala arah
Rangsang meningen:
kaku kuduk (-)
Brudzinski I,II,III (-)
Laseque tidak terbatas
Kernig tidak terbatas
Motoris: Kekuatan 5 5 5 5
Tonus (spastis -, flaccid -)
Fungsi vegetatif: BAB/BAK=normal
Refleks fisiologis:
Refleks biseps: +/+
Refleks patellar: +/+
Refleks achilles: +/+

Refleks patologis:
Babinsky: -/-
Chaddock: -/-
VI. DIAGNOSIS KERJA
Status epileptikus ec kejang demam
kompleks dd/ensefalitis
Malnutrisi ringan
VII. USUL PEMERIKSAAN
Pemeriksaan darah rutin
Hb 10,4 g/dL
Ht 31.1%
Leukosit 15.400/mm3
Trombosit 281.000/mm3)
Pemeriksaan gula darah sewaktu 102 g/dL
Elektrolit
Na 133 mmol/L
K 4 mmol/L
Cl 101 mmol/L
VIII. PENATALAKSANAAN
- O2 sungkup 3-5 L/menit
- IVFD Kaen 3B 14 cc/jam
- Parasetamol 3x140 mg IV
- Diazepam 5 mg IV bolus pelan2x masih kejang dalam 5 menit
- Fenitoin 20 mg/bb: 280 mg dilarutkan ke dalam total D5% 30 cc habis
dalam 30 menit.
- Bila masih kejang fenitoin 10 mg/bb: 140 mg dilarutkan dalam total D5%
30 cc habis dalam 30 menit.
Bila kejang berhenti, fenitoin maintenance 6 mg/bb/2 dosis (selang 12 jam)
2x42 mg IV
- Ceftriaxone 50/bb/kali 1x1 gr iv
- Ambroxol 3x1/2 cth po
- Diet ml 3x/hari
- Observasi kejang dan TTV: bila kejang O2 1L/m dan diazepam 5 mg IV
IX. PROGNOSIS
Quo ad vitam: ad bonam
Quo ad functionam: dubia ad bonam
Quo ad sanactionam: dubia ad bonam
Pembahasan
Mengapa pasien didiagnosis demikian?
Apakah penatalaksanaan pada pasien ini sudah tepat?
Bagaimana prognosis pada pasien ini?
1. Mengapa pasien didiagnosis demikian?

Status epileptikus adalah bangkitan yang terjadi terus


menerus 30 menit berupa bangkitan fokal atau
umum, konvulsi/nonkonvulsi atau dalam 30 menit
terjadi beberapa kali bangkitan tanpa ada pemulihan
kesadaran di antara bangkitan.
Keadaan yang mendasari status epileptikus
a. Akut: ensefalopati (gangguan elektrolit), ensefalitis,
meningitis, perdarahan intrakranial
B. Kronik: malformasi otak, pascatrauma kepala,
epilepsi
KEJANG
Gangguan fungsi otak involunter paroksismal yang
disebabkan oleh bangkitan aktivitas listrik dari neuron-
neuron Sistem Saraf Pusat (SSP) yang abnormal dan
berlebihan, yang bermanifestasi sebagai gangguan atau
kehilangan kesadaran, aktivitas motorik abnormal, kelainan
perilaku, gangguan sensoris, atau disfungsi otonom.
Beberapa kejang ditandai oleh gerak abnormal tanpa
adanya kehilangan atau gangguan kesadaran.
Kejang Demam
Def: Kejang pada anak > 1 bulan, berhubungan dengan
demam yang tidak disebabkan oleh infeksi SSP, tanpa
kejang neonatus sebelumnya atau kejang yang
diprovokasi dan tidak memenuhi kejang simtomatik
lainnya.

Karakteristik Kompleks Sederhana


Durasi >= 15 menit < 15 menit
Bentuk bangkitan Fokal/umum Umum
didahului fokal
Rekurensi 24 jam Ada Tidak ada
Gejala fokal Ada Tidak ada
pascaiktal
Anamnesis
KU : Kejang
Kejang

Demam (+) Demam (-)

-Epilepsi
Kelainan Kelainan
Neurologis (+) Neurolgis (-) - Kelainan
Metabolik

-Meningitis
-Ensefalitis
Kejang
-abses Otak
Demam
Meningitis
Ensephalitis
Infeksi Meningoensephalitis
Infeksi intrakranial Abses otak
Gg. Metabolik
Gg. Elektrolit Infeksi Kejang demam
Akut SOL ekstrakranial
Malformasi
Toksik
Serebral
Kronik
berulang Epilepsi
Kejang

Non
Serebral

Tetanus
Racun
Botulinum
Tetani
Dasar diagnosis
Anamnesis:
- Kejang 2 kali selama > 30 menit
- Diantara episode kejang tidak ada pemulihan kesadaran
- Bentuk bangkitan fokal
- Kejang disertai keluhan demam dan didahului batuk pilek
- Kejang baru terjadi pertama kali
- Sudah disingkirkan secara anamnesis penyebab kejang secara
intrakranial (infeksi, trauma, tumor) dan ekstrakranial (elektrolit
imbalance, hipoglikemia).

Pemeriksaan fisik:
- Tidak ditemukan kelainan neurologis
2. Bagaimana tatalaksana status
epileptikus?

Prehospital
Diazepam rektal (0,5 mg/BB) 5-10 kg: 5 mg;>10 kg: 10 mg
Pemberian diazepam rektal dapat diulang 2x dengan interval 5
menit. Diazepam maksimal 30 mg

Pedoman Diagnosis dan Terapi, edisi 5


Tanda vital, ABC
Jalur intravena dengan NaCl 0,9%
Diazepam 0,3-0,5 mg/BB iv

Diazepam 0,3-0,5 mg/kgBB iv kecepatan 1 mg/menit

Fenitoin 20 mg/BB dalam NaCl 0,9% bolus iv lambat,


kecepatan 1 mg/BB/menit atau 50 mg/menit. Jika kejang
masih berlanjut dapat diulang 10 mg/BB
Bila kejang(-) 12 jam kemudian
diberikan fenitoin rumatan 4-8
mg/BB/hari dibagi 2 dosis

Fenobarbital 20 mg/BB kecepatan <50 mg/menit

Bila kejang(-) 12 jam kemudian


diberikan fenobarbital rumatan 4-
8 mg/BB/hari dibagi 2 dosis
Midazolam 0,15 mg/BB bolus iv dilanjutkan dengan infus 1-2
mikrogram/BB/menit, titrasi setiap 15 menit hingga kejang
teratasi

Pedoman Diagnosis dan Terapi, edisi 5


BB: 14 kg
Dosis diazepam 0,3-0,5 mg/BB 4,2-7 mg IV
Dosis fenitoin loading dose 20 mg/BB iv
Sediaan fenitoin 1 ml: 100 mg
Dosis yang dibutuhkan pasien: 280 mg 3ml
Pengenceran: 3 ml fenitoin + 3 mL Nacl 0,9%
Kecepatan pemberian 1 mg/BB/menit 14 mg/menit
Kecepatan pemberian pada pasien 20 menit

Pedoman Diagnosis dan Terapi, edisi 5


Tatalaksana Kejang Demam
Pengobatan kejang
Pemberian obat saat demam:
Antipiretik: parasetamol 10-15 mg/BB/kali
Antikonvulsan (intermiten): diazepam 0,3-0,5 mg/BB tiap 8 jam
pada saat demam (2-3 hari)
Antikonvulsan rumatan: Asam valproat 20-40 mg/BB/hari dibagi 2-3
dosis terus menerus selama 1 tahun untuk menurunkan risiko
rekurensi.
Efek samping:gangguan hati
Indikasi: Kejang lama>15 menit
Ditemukan kelainan neurologis sebelum/sesudah
kejang
Kejang fokal

Pedoman Diagnosis dan Terapi, edisi 5


PROGNOSIS
Quo ad vitam: ad bonam
Quo ad functionam: dubia ad bonam
Quo ad sanactionam: dubia ad bonam
Risiko terjadi epilepsi di kemudian hari:
Gangguan perkembangan saraf
Kejang demam kompleks
Riwayat epilepsi di keluarga
Lamanya demam hingga terjadi kejang
1 faktor: risko 3-5%
2-3 faktor: risiko 13-15%
TERIMA
KASIH