Anda di halaman 1dari 42

INFEKSI MENULAR

AKIBAT BAKTERI
DENGAN PRANTARA
BINATANG ANTRAKS
ANIS AGUSTINA
PUNANG ANGGARA
A. Pengertian Antraks :

Antraks adalah penyakit menular akut dan sangat mematikan yang disebabkan bakteri
Bacillus anthracis dalam bentuknya yang paling ganas. Antraks bermakna "batubara" dalam
bahasa Yunani, dan istilah ini digunakan karena kulit para korbanakan berubah hitam.
Penyakit ini bersifat zoonosis yang berarti dapat ditularkan dari hewan ke manusia,
namun tidak dapat ditularkan antara sesama manusia. Penyakit Antraks atau disebut juga Radang
Lympha, Malignant pustule, Malignant edema, Woolsorters disease, Rag pickersdisease, Charbon.
Spora Bacillus Anthrax tahan pada suhu panas di atas 43 derajat Celcius.Di dalam tanah,
diketahui spora mampu bertahan sampai dengan 40 tahun. Apabila lingkungan memungkinkan,
yaitu panas dan lembab maka spora dapat menjadi bentuk bakteri biasa (vegetatif) yang mampu
berkembang biak (membelah diri) dengan sangat cepat. Itulah sebabnya, penyakit ini cenderung
berjangkit pada musim kemarau.
Kawasan endemik antraks di Indonesia
meliputi:

1. Jawa Barat
2. Jawa tengah
3. Yogyakarta
4. NTB ( Nusa Tenggara Barat )
5. NTT ( Nusa Tenggara Timur )
6. Sulawesi Utara
7. Sulawesi Tengah
8. Sulawesi Tenggara
B. Etiologi

Bacillus anthracis, kuman berbentuk batang ujungnya persegi dengan sudut-sudut tersusun
berderet sehingga nampak seperti ruas bambu atau susunan bata, membentuk spora yang bersifat gram
positif.
Basil bentuk vegetatif bukan merupakan organisme yang kuat, tidak tahan hidup untuk
berkompetisi dengan organisme saprofit.Basil Antraks tidak tahan terhadap oksigen, oleh karena itu
apabila sudah dikeluarkan dari badan ternak dan jatuh di tempat terbuka, kuman menjadi tidak aktif lagi,
kemudian melindungi diri dalam bentuk spora.
Apabila hewan mati karena Antraks dan suhu badannya antara 28 -30 C, basil antraks tidak akan
didapatkan dalam waktu 3-4 hari, tetapi kalau suhu antara 5 -10 C pembusukan tidak terjadi, basil
antraks masih ada selama 3-4 minggu. Basil Antraks dapat keluar dari bangkai hewan dan suhu luar di atas
20C, kelembaban tinggi basil tersebut cepat berubah menjadi spora dan akan hidup. Bila suhu rendah
maka basil antraks akan membentuk spora secara perlahan - lahan (Christie 1983).
Bacillus antracis penyebab penyakit antraks
mempunyai dua bentuk siklus hidup, yaitu fase
vegetatif dan fase spora:

1. Fase Vegetatif :
Fase Vegetatif
Berbentuk batang, berukuran
panjang 1-8 mikrometer, lebar 1-1,5
mikrometer. Jika spora antraks memasuki
tubuh inang (manusia atau hewan
memamah biak) atau keadaan lingkungan
yang memungkinkan spora segera
berubah menjadi bentuk vegetatif,
kemudian memasuki fase berkembang
biak.
2. Fase Spora :

Fase Spora

Berbentuk seperti bola golf,


berukuran 1-1,5 mikrometer. Selama fase
ini bakteri dalam keadaan tidak aktif
(dorman), menunggu hingga dapat
berubah kembali menjadi bentuk
vegetatif dan memasuki inangnya.
C. Patogenesis
D. Gejala
Gejala umum penyakit antraks terjadinya demam dengan suhu badan
yang tinggi dan hewan kehilangan nafsu makan. Sedangkan gejala yang bersifat
khs: gemetar, ngantuk, lumpuh, lelah, kejang-kejang, mulas, bercak merah pada
membran mukosa, mencret disertai darah, sulit bernapas sehingga mati lemas
dan terdapat bisul yang makin membesar berisi nanah kental berwarna kuning.
Manusia yang terinfeksi dan menderita penyakit antraks ditandai dengan
gejala: suhu badan tinggi, mual-mual dan terjadi pembengkakan kelenjar getah
bening di sekitar leher, dada dan ketiak
Rata-rata masa inkubasi antraks lebih dari 7 hari, bisa juga 60 hari bahkan
lebih tergantung lamanya gejala terbentuk.
Gejala klinis antraks pada manusia dibagi menjadi 4 bentuk
yaitu antraks kulit, antraks saluran pencernaan, antraks
paru dan antraks meningitis :

1. Antraks Kulit (Cutaneus Anthrax)


Kejadian antraks kulit mencapai 90% dari
keseluruhan kejadian antraks di Indonesia. Masa
inkubasi antara 1-5 hari ditandai dengan adanya
papula pada inokulasi, rasa gatal tanpa disertai rasa
sakit, yang dalam waktu 2-3 hari membesar menjadi
vesikel berisi cairan kemerahan, kemudian
haemoragik dan menjadi jaringan nekrotik berbentuk
ulsera yang ditutupi kerak berwarna hitam, kering
yang disebut Eschar (patognomonik).
2. Antraks Saluran Pencernaan
(Gastrointestinal Anthax)
Masa inkubasi 2-5 hari.Penularan
melalui makanan yang tercemar kuman atau
spora misal daging, jerohan dari hewan,
sayur- sayuran dan sebagainya, yang tidak
dimasak dengan sempurna atau pekerja
peternakan makan dengan tengan yang
kurang bersih yang tercemar kuman atau
spora antraks.Penyakit ini dapat berkembang
menjadi tingkat yang berat dan berakhir
dengan kematian dalam waktu kurang dari 2
hari.Angka kematian tipe ini berkisar 25-75%.
3. Antraks Paru-paru (Pulmonary Anthrax)
Masa inkubasi : 1-5 hari (biasanya 3-4 hari).
Gejala klinis antraks paru-paru sesuai dengan tanda-
tanda bronchitis.Dalam waktu 2-4 hari gejala semakin
berkembang dengan gangguan respirasi berat,
demam, sianosis, dispneu, stridor, keringat
berlebihan, detak jantung meningkat, nadi lemah dan
cepat.Kematian biasanya terjadi 2-3 hari setelah
gejala klinis timbul.
4. Antraks Meningitis (Meningitis Anthrax)
Terjadi karena komplikasi bentuk
antraks yang lain, dimulai dengan adanya
lesi primer yang berkembang menjadi
meningitis hemoragik dan kematian dapat
terjadi antara 1-6 hari. Gambaran klinisnya
mirip dengan meningitis purulenta akut
yaitu demam, nyeri kepala hebat, kejang-
kejang umum, penurunan kesadaran dan
kaku kuduk.
E. Cara Penularan
Sumber penyakit antraks adalah hewan ternak herbivora.Manusia terinfeksi antraks
melalui kontak dengan tanah, hewan, produk hewan yang tercemar spora antraks.Penularan
juga bisa terjadi bila menghirup spora dari produk hewan yang sakit seperti kulit dan bulu.
Pada hewan-hewan pemakan rumput, lapangan penggembalaan yang tercemar Bacillus
Anthrax (B.a) merupakan media penyaluran penyakit yang paling efektif.B.a. masuk ke dalam
tubuh lewat pakan atau air minum melalui mulut. Nanah yang keluar dari bisul pecah banyak
mengandung B.a. dapat mencemari lingkungan sekitarnya. Darah ternak yang positif sakit
antraks banyak mengandung B.a. sehingga melakukan penyembelihan memungkinkan darah
menyebar dan merupakan sumber penularan penyakit.
Penularan penyakit antraks pada manusia pada umumnya karena manusia mengonsumsi
daging yang berasal dari ternak yang mengidap penyakit tersebut. Meskipun hanya
mengonsumsi dalam jumlah kecil, B.a. mempunyai daya menimbulkan penyakit sangat tinggi.
Terlebih pada saat pertahanan tubuh manusia menjadi rendah akibat: kelaparan, defisiensi
vitamin A, keracunan (alkohol), kepayahan, iklim yang jelek (sangat dingin/panas) dan cekaman
(stres).
F. Pencegahan Dan Pengobatan

1. Langkah Pencegahan
Langkah pencegahan dimaksudkan agar ternak-ternak yang ada tidak
tertular penyakit antraks selama jangka waktu tertentu.Dengan meningkatkan
kekebalan ternak setelah dilakukan suntikan pencegahan menggunakan vaksin
tertentu secara periodik.Untuk kawasan endemik antraks, vaksinasi seharusnya
diulang setiap tahun secara kontinyu.Keberhasilan langkah ini sangat
ditentukan oleh kemudahan dan ketersediaan vaksin.Untuk itu, Dinas
Peternakan atau Pertanian harus bertanggung jawab dalam pengadaan vaksin.
Pemberian vaksin antraks,
kepada :
1. Orang yang bekerja langsung di laboratorium
2. Orang yang bekerja dengan kulit atau bulu hewan yang diimpor atau di daerah dimana
standar tidak cukup untuk mencegah infeksi spora antraks
3. Orang yang menangani produk hewan yang berpotensi terinfeksi di daerah daerah insiden
tinggi
4. Anggota militer yang dikerahkan ke daerah daerah dengan resiko tinggi untuk terkena
5. Diberikan secara subkutan 5 mL pada minggu 0,2 dan 4 dan pada bulan 6, 12, dan 18 serta
dosis tinggi pada interval 1 tahun.
Anthrax pada manusia dapat dicegah dengan tindakan-
tindakan pencegahan yang bisa kita lakukan antara lain:

1. Cuci tangan sebelum makan


2. Hindari kontak dengan hewan atau manusia yang sudah terjangkit anthrax
3. Beli daging dari rumah potong hewan yang resmi
4. Masaklah daging dengan sempurna
5. Hindari menyentuh cairan dari luka anthrax
6. Melaporkan secepat mungkin bila ada masyarakat yang terjangkit anthrax
Bagi peternak atau pemilik hewan ternak, upayakan untuk menvaksinka
hewan ternaknya. Dengan Pemberian SC ,untuk hewan besar 1 ml dan untuk
hewan kecil 0,5 ml.Vaksin ini memiliki daya pengebalannya tinggi berlangsung
selama 1 tahun.
Cara Pengendalian Penyakit Anthrax
1. Penyembelihan hewan di laksanakan di RPH resmi dibawah pengawasan dokter hewan.
2. Pelaksanaan pemeriksaan kesehatan hewan sebelum penyembelihan (ante mortem) dan pemeriksaan kesehatan
daging, karkas, jeroan dan kepala setelah penyembelihan (post mortem) oleh dokter hewan atau para medis kesehatan
hewan dibawah pengawasan dokter hewan.
3. Hewan yang demam tinggi dan sakit jangan disembelih hanya hewan yang sehat berdasarkan pemeriksaan ante
mortem boleh disembelih.
4. Paralatan dan kandang yang kontak dengan hewan yang sakit harus didesinfeksi.
5. Hewan penderita anthrax ;
harus diisolasi (tidak kontak dengan hewan sehat lainnya)
ditangani dan diawasi oleh dokter hewan atau para medis kesehatan hewan atau petugas yang berwenang.
Hewan penderita anthrax dilarang disembelih.
6. Hewan yang mati karena anthrax harus segera dimusnahkan adengan cara dibakar atau dikubur dalam-dalam. Seluruh
peralatan dan kandang dimusnahkan atau didesinfeksi
7. Orang yang kontak dengan hewan yang sakit dan mati akibat anthrax harus :
a. Memperhatikan higiene pribadi dan sanitasi lingkungan.
b. Segera berobat ke RSUD atau dokter terdekat.
2. Langkah pengobatan

Bacillus anthracis kerentanannya terhadap hampir


semua antibiotika sangatlah tinggi.Yang paling disukai
adalah dengan clindamycin yang mempunyai aktivitas
terhadap Bacillus anthracis dan potensi anti-
eksotoksin.Pengalaman beberapa pasien menunjukkan
respon yang lebih bagus ketika clindamycin 600 mg (iv)/ 8
jam atau 300 mg (po)/8 jam plus rifampicin 300 mg (po)/12
jam plus golongan quinolone (levofloksasin).
Peniciline masih merupakan antibiotika yang paling ampuh,
dengan cara pemberian tergantung tipe dan gejala
klinisnya, yaitu:

Antraks Kulit
1. Procain Penicilline 2 x 1,2 juta IU, secara IM, selama 5-7 hari
2. Benzyl Penicilline 250.000 IU, secara IM, setiap 6 jam, sebelumnya harus dilakukan skin test terlebih
dahulu.
3. Apabila hipersensitif terhadap penicilline dapat diganti dengan tetracycline, chloramphenicol atau
erytromicine.
Antraks Saluran Pencernaan & Paru
1. Penicilline G 18-24 juta IU perhari IVFD, ditambahkan dengan Streptomycine 1-2 g untuk tipe
pulmonal dan tetracycline 1 g perhari untuk tipe gastrointestinal.
2. Terapi suportif dan simptomatis perlu diberikan, biasanya plasma expander dan regimen
vasopresor. Antraks Intestinal menggunakan Chloramphenicol 6 gram perhari selama 5 hari,
kemudian meneruskan 4 gram perhari selama 18 hari, diteruskan dengan eritromisin 4 gram
perhariuntuk menghindari supresi pada sumsum tulang.
3. Langkah Pengawasan
Langkah ini untuk memantau kesehatan ternak secara umum di suatu wilayah (dukuh,
desa, kecamatan), khususnya terhadap penyakit antraks.Petugas Dinas Peternakan/Pertanian
harus mampu merangkul seluruh anggota kelompok tani ternak di wilayahnya agar mau
melaporkan kondisi kesehatan ternaknya dari waktu ke waktu.Peternak harus diyakinkan
bahwa ternak yang keluar (dijual) atau yang masuk (dibeli) benar-benar dalam keadaan sehat.
Pengawasan lalu lintas ternak antarprovinsi hendaknya lebih diperketat, agar ternak-
ternak yang sakit tidak berpindah wilayah sehingga penyebaran penyakit dapat
dicegah.Pemerintah hendaknya menerapkan dengan ketat pengawasan kesehatan masyarakat
veteriner, dengan penyembelihan ternak dilakukan di Rumah Pemotongan Hewan melalui
pemeriksaan kesehatan prapenyembelihan dan pascapenyembelihan.Hanya daging yang
berasal dari ternak yang sehat yang boleh diperdagangkan dan dikonsumsi.Pelanggaran dari
larangan ini dapat dikenakan pidana berdasarkan perundang-undangan yang berlaku.
4. Pembinaan dan Bimbingan

Hubungan baik antara petugas atau tim pembina dan


pembimbing dengan masyarakat peternak harus tetap dipelihara
dan dipupuk, melalui kegiatan pendidikan atau pelatihan,
penyuluhan maupun sarasehan secara berkala, utamanya di
kawasan endemik antraks.
Langkah pembinaan dan pembimbingan tersebut
antara lain dengan mengadakan kegiatan:

1. Sosialisasi

2. Penyuluhan

3. Pelatihan
Langkah Penanganan terhadap Kawasan
Penyakit Antraks:
1. Penutupan wilayah terhadap lalu lintas (keluar-masuk) ternak maupun lalu lintas umum.
2. Mengisolasi ternak yang sakit pada suatu tempat yang terpindah dari lalu lintas ramai.
3. Penyucihamaan ternak yang sakit, dengan cara: lantai ditaburi kapur, membuka atap kandang hingga
sinar matahari dapat menjangkau seluruh luasan kandang selama pengistirahatan kandang dan gunakan
desinfektan yang sesuai untuk seluruh permukaan dan bagian kandang.
4. Segera lakukan vaksinasi terhadap seluruh ternak yang masih sehat di seluruh kawasan.
5. Jangan melakukan otopsi atau bedah mayat karena berisiko tinggi terhadap penyebaran
6. Yakinkan tidak ada ternak sakit yang disembelih dan dagingnya dikonsumsi oleh masyarakat. Bila ada,
segera bawa konsumen ke rumah sakit untuk mendapat penanganan atau perawatan selanjutnya.
7. Bakar bangkai ternak yang mati sampai habis atau kubur pada kedalaman 2,50 m di dalam tanah.
Sebelum bangkai ditimbun dengan tanah, tutuplah dengan kapur atau disiram dengan larutan formalin.
8. Bunuh segera ternak yang dalam keadaan sakit parah.
9. Obati ternak yang terserang pada gejala awal dan isolasikan.
10. Tutup padang atau lapangan penggembalaan dari aktivitas merumput.
G. Pemeriksaan Penunjang
Kelainan kulit berupa ulkus yang dangkal disertai krusta hitam yang tidak nyeri patut
dicurigai suatu antraks kulit. Ditemukannya basil Gram positif pada pemeriksaan cairan vesikel
merupakan temuan yang khas pada antraks kulit tetapi diagnosis pasti baru dapat ditegakkan
bila biakan kuman positif. Karena mirip penyakit gastrointestinal lainnya maka antraks
gastrointestinal sering sulit didiagnosis. Adanya riwayat makan daging yang dicurigai
mengandung kuman antraks disertai dengan gejala nause, anoreksia, muntah, demam, nyeri
perut, hematemesis, dan diare (biasanya disertai darah) sangat membantu penegakan
diagnosis penyakit antraks.
Dari pewarnaan Gram yang dilakukan, bahan diambil dari darah dan atau cairan asites,
dapat ditemukan basil antraks.
Lanjutan...
Untuk pemeriksaan biakan, bahan diambil dari apusan faring (antraks faring), darah, dan cairan
asites. Diagnosis antraks inhalasi juga sulit ditegakkan. Seseorang yang tiba-tiba mengalami gejala seperti
flu yang mengalami perburukan secara cepat dan disertai hasil pemeriksaan foto toraks menunjukkan
pelebaran mediastinum, infiltrat, dan atau efusi pleura, sangat patut dicurigai menderita antraks inhalasi
(apalagi bila pada penderita tersebut juga ditemukan antraks kulit). Pada pewarnaan Gram bahan diambil
dari darah, cairan pleura, cairan serebrospinalis, dan lesi kulit, dapat ditemukan basil antraks.
Untuk pemeriksaan biakan bahan diambil dari darah, cairan pleura, cairan serebrospinalis, dan lesi kulit.
Pada pemeriksaan langsung pewarnaan Gram dari lesi kulit, cairan serospinal atau darah yang
mengandung kuman antraks akan menunjukkan basil besar, encapsulated, dan Gram positif. Pada kultur
darah tampak pertumbuhan pada agar darah domba berupa koloni nonhemolitik, besar, nonmotil, Gram
positif, berbentuk spora, dan tidak tumbuh pada agar Mac Conkey. Nilai prediksi pemeriksaan kultur
apusan hidung (swab nasal) untuk menentukan antraks inhalasi belum diketahui dan belum pernah diuji.
Oleh karena itu CDC tidak menganjurkan pemeriksaan tersebut sebagai pemeriksaan diagnostik klinis. Tes
serologis berguna secara retrospektif dan membutuhkan dua kali pengambilan yaitu pada fase akut dan
penyembuhan. Pemeriksaan dengan menggunakan cara ELISA untuk mendeteksi antibodi terhadap
antigen protektif dan antigen kapsul
ASKEP PADA ANTRAX
A. Pengkajian Pasien
1. Identitas Diri Klien
No.Register : 014728
Nama : Tn. K
Tempat Tanggal Lahir : BENGKULU, 26 MEI 1988
Umur :22 tahun
Jenis kelamin : Laki-laki
Alamat : Jln ponorogo No 26,Kelurahan dusun sawah,Curup
Status perkawinan : Kawin
Agama : Islam
Suku : rejang
Pendidikan : SMA
Pekerjaan : Wiraswasta
Tanggal masuk RS : 12-04-2010
Tanggal pengkajian : 13-04-2010
2. Riwayat Penyakit
a. Keluhan saat masuk RS
Pasien masuk rs dengan keluhan pasien demam dengan suhu 37,30C,Pusing , lengan dan tangan
ditemukan kelainan berupa papel, vesikel yang berisi cairan dan jaringan nekrotik berbentuk
ulsera yang ditutupi oleh kerak berwarna hitam.
b. Riwayat penyakit sekarang
Anthrax
Riwayat penyakit dahulu
pasien sebelumnya tidak pernah masuk rumah sakit, pasien sering menderita penyakit demam,
dan hipertensi.
d. Riwayat keluarga
Klien adalah anak ke 2 dari 2 bersaudara, klien dilahirkan dibantu oleh bidan dan dokter kedua
orang tua tidak mempunyai penyakit keturunan atau menular.
3. Pengkajian saat ini Makan/ minum
A. Persepsi tentang penyakitnya Mandi
pasien percaya bahwa penyakit yang dialaminya Toileting
merupakan akibat dari kelalaiannya sendiri dan Berpakaian
merupakan sebagai cobaan dari Allah SWT. Mobilitas tempat tidur
B. Pola nutrisi dan metabolism Berpindah/berjalan
Jenis makanan : Nasi putih,sayur dan lauknya Ambulasi/ROM
Frekuensi : 3x/hari 0: Mandir; 1: Alat bantu; 2: Dibantu orang lain;
Porsi : diit tidak dihabiskan 3: Alat bantu dan dibantu orang lain; 4:
C. Program Therapi Tgl 15 April 2010 Tergantung total
- Diet ML E. Pola istirahat dan tidur
- IVFD RL 20 tetes/menit Klien mengatakan bahwa ia susah untuk tidur
- Inj Dexametason 500mg 1x1 dan sering terjaga dari tidurnya
F. Pola perceptual
C. Pola Eliminasi Klien khawatir jika penyakit yang dideritanya
BAB: BAB kurang lebih 1 kali dalam sehari merupakan kumpulan dari penyakit yang
BAK: BAK kurang lebih 3 kali sehari berbahaya.

D. Pola Aktivitas dan Latihan


Kemampuan perawatan diri 0 1 2 3 4
G. Pola peran dan hubungan
pasien adalah anak ke2 dari 2 bersaudara,Selama pasien sakit,pasien sangat diperhatika oleh
keluarganya.
H. Sistem nilai dan kepercayaan
Klien menganut agama Islam .
4. Pemeriksaan fisik 1. Abdomen : Turgor kulit elastis, bising usus 25
1.Keluhan yang dirasakan saat ini x/m
Lemas,pusing, dan pada lengan,tangan,dan kaki 2. Punggung : Skoliosis, Kiposis, tidak ada,
pasien terasa gatal. dekubitus tidak
2.Vital sign ada
TD : 130/90 mmHg P : 22x/menit 8. Ekstrimitas
N : 88x/menit S : 37,1 C -atas : Gerakan lemah, terdapat luka /lesi yang
terdapat keropeng bewarna hitam ditengahnya
3. Kepala dan disekitar luka kemerahan dan sembab,
-Rambut : Warna hitam kekuningan, distribusi terpasang
Merata kebersihan cukup Infuse dilengan kanan, kebersihan
-Mata : cekung, kebersihan cukup, conjungtiva cukup
anemi -bawah : Gerakan lemah, terdapat luka /lesi
-Hidung : Bentuk simetris, sekret tidak ada, yang terdapat keropeng bewarna hitam
Kebersihan cukup ditengahnya dan disekitar luka kemerahan dan
-Mulut :Selaput lendir bibir dan mulut tampak sembab,
kering 9. Kulit : Warna kulit kuning langsat, terdapat
lesi pada bagian lengan,tangan dan, kulit kering
4. Dada dan paru-paru 10. Anus : normal
Inspeksi : Bentuk simestris, retraksi otot
pernapasan ada
Palpasi : pembesaran tidak ada, nyeri tekan
tidak ada
Perkusi : Sonor pada daerah paru
Auskultasi :Vesiculer normal
5. Hasil pemeriksaan penunjang dan laboratorium
Tanggal 13 April 2010
Haemoglolbin 13 gr%
Leukosit 6000 /mm3
LED (BSE) 8 mm/jam
Bakteri bacillus(+)
Urine kuning keruh
1. DS:
- Klien mengatakan pada bagian lengan,tangan,dan kaki terasa gatal.
DO:
- Klien menggaruk lengan,tangan dan kaki yang terdapat lesi.
- Klien terlihat gelisah
- Diluka os terdapat jaringan mati berbentuk keropeng berwarna hitam di tengahnya,dan disekitar luka kemerahan dan
sembab.
-
Vital sign:
T: 130/90mmHg P: 22x/menit
N:88x/menit S: 37,1C
Reaksi alergi Gangguan ingritas kulit Gangguan integritas kulit b/d reaksi alergi dengan criteria hasil:

Setelah dilakukan perawatan selama 4 hari diharapkan kerusakan integritas kulit klien teratasi dengan kriteriahasil:
- Menyembuhkan lesi dan jaringan keropeng yang bewarna hitam
- Integritas kulit utuh
- pasien tidak gelisah a. Kaji kulit setiap hari,catat warna,turgor,sirkulasi, dan sensasi
b. Intruksikan pasien to hygiene kulit
c. Secara teratur ganti posisi,dan ganti sprey
d. Anjurkan pasien to tidak menggaruk-garuk dengan benda kasar
e. Kolab dgn dokter dalam pemberian obat-obatan a. Menentukan diman garis dasr perubahan pada status dapat
dibandingkan dan dapan melakukan intervensi yang tepat
b. Mempertahankan kebersihan kulit karena kulit kering dapat menjadi barier infeksi
c. Meningkatkan aliran darah kejaringan ,meningkatkan proses penyembuhan
d. Mencegah infeksi
e. Mengetahui therapy yang diberikan
2. DS: lemas, pusing R/ sebagai dasar untuk memberikan alternativ dan latian
- DO: Gerakan lemah, terdapat luka /lesi yang gerak yang sesuai dengan kemampuannya
Rencanakan tentang pemberian progam latihan sesuai
terdapat keropeng bewarna hitam ditengahnya kemampuan pasien
dan disekitar luka kemerahan dan sembab,
terpasang Infuse dilengan kanan R/ latihan pergerakan dapat meningkatkan otot dan
stimulasi sirkulasi darah
-
Berikan diet kalsium
VS: T:130/90 mmHg
P: 23w x/menit R/ membantu mengganti kalsium yang hilang
N:89x/menit S: 37C Ajarkan klien tentang bagaimana melakukan aktivitas sehari-
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik hari

Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 5 x R/ untuk meningkatkan pergerakan dan melakukan
24 jam pasien tidak mengalami injury pergerakan yang aman
Kriteria Hasil: Libatkan keluarga untuk melatih mobilitas pasien

Pasien mampu mengidentifikasikan faktor-faktor resiko dan R/untuk mendukung pasien


kekuatan individu yang mempengaruhi toleransi terhadap Konsultasikan dengan ahli teapi fisik
aktivitas
R/ bermanfaat dalam mengembangkan progam latihan
Berpartisipasi dalam progam rehabilitasi untuk individual dan mengidentifikasi kebutuhan alat untuk
meningkatkan kemampuan untuk beraktivitas menghilangkan spasme otot, meningkatkan fungsi
motorik, mencegah / menurunkan atrofi dan kontraktur
Mampu memilih beberapa alternatif untuk pada sistem muskular
mempertahankan tingkat aktivitas
Intervensi:
Kaji tingkat kemampuan klien dalam melakukan gerak
3. Ds: pasien mengatakan tidak nafsu makan
Do: makanan tidak habis, bibir kering
Berat badan menurun drastis.

VS: T:130/90 mmHg


P: 23w x/menit
N:89x/menit S: 37C
Setelah dilakukan perawatan diharapkan Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan
Anoreksia, mual, muntah dapat teratasi dengan criteria:
- Klien sudah mempunyai selera untuk makan
- Klien sudah tidak merasa mual
- Turgor kulit baik
- Palpitasi abdomen berkurang
a. Anjurkan kelurga pasien memberikan perawatan oral
b. Hindari makanan penghasil gas dan minuman karbon
c. Anjurkan makan sedikit tapi sering
d. Kolaborasi dengan tim nutrisi untuk menentukan diit
a. Kebersihan oral menghilangkan bakteri penumbuh bau mulut dan meningkatkan rangsangan nafsu makan
b. Menimbulkan distensi abdomen dan meningkatkan dispnea
c. Mencegah perut penuh dan mencegah resiko mual
Menentukan diit yang tepat sesuai perhitungan ahli gizi
Diagnosa Keperawatan
Ketidakefektifan bersihan jalan napas b.d obstruksi jalan nafas ditandai dengan terdengar
stridor, dispnea, batuk dengan sputum purulen, pemeriksaan radiologi tampak pelebaran
mediastinum, efusi pleura.
Kerusakan intergritas jaringan b.d iritan toksin bakteri anthrax ditandai dengan terdapat lesi kulit
primer yang tidak nyeri dan papula yang gatal, vesikel yang berisi cairan jerni, vesikel mengalami
nekrosis sentral menimbul eskar (ulkus nekrotik) kehitaman yang khas dikelilingi edema dan
vesikel keunguan.
Hipertermi b.d peningkatan metabolic ditandai dengan peningkatan suhu tubuh diatas rentang
normal (36,5-37,5), RR meningkat 28 x / menit, dan kulit berwarna merah.
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
Intoleransi aktifitas
Bersihan jalan nafas efektif.
Kriteria hasil :
Menunjukan jalan nafas paten (bersih)
Suara nafas normal, dengan tidak adanya suara mengi
Mampu melakukan pebaikan bersihan jalan nafas misalnya batuk efekti
Tidak ada penggunaan obat bantu pernafasan
ntervensi:
Berikan posisi semi fowler

R : Membantu memaksimalkan ekspansi paru


Aarkan untuk nafas dalam dan batuk efektif

R: Latihan nafas dalam bentuk efektif dilakukan agar mudah mengeluerkan sekret yang tertanam di jalan nafas
Beri oksigen sesuai indikasi

R: Membantu pemenuhan oksigen


Mengobservaasi tanda-tanda vital Memberikan minuman hangat

R: Observasi tanda-tanda vital berguna untuk mengetahui perkembangan dann menilai keadaan umum.Membantu
mengencerkan daha
Kerusakan intergritas jaringan

Setelah dilakukan perawatan, di harapkan kerusakan integritas kulit klien teratasi dengan kriteriahasil:
Menyembuhkan lesi dan jaringan keropeng yang bewarna hitam
Integritas kulit utuh
Tidak gelisah

Intervensi

2.1 Kaji kulit setiap hari,catat warna,turgor,sirkulasi, dan sensasi

R/ Mengetahui therapy yang diberikan

2.2 Intruksikan pasien agar melakukan hygiene kulit

R/ Mempertahankan kebersihan kulit karena kulit kering dapat menjadi barier infeksi

2.3 Secara teratur ganti posisi,dan ganti sprey

R/ Meningkatkan aliran darah kejaringan ,meningkatkan proses penyembuhan

2.4 Anjurkan pasien agar tidak menggaruk-garuk dengan benda kasar

R/ Mencegah infeksi

2.5 Kolaborasi dgn dokter dalam pemberian obat-obatan.

R/ Kolaborasi dengan tim nutrisi untuk menentukan diit.


Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit
Tujuan : Suhu tubuh tidak panas lagi
Kriteria Hasil : Suhu tubuh dalam rentang normal ( 36-37,5o C)
Intervensi:
Pantau tanda-tanda vital terutama suhu

R: Tanda-tanda vital merupakan aluan untuk mengetahui keadaan umum pasien terutama suhu tubuhnya
Beri pasien banyak minum air (1500-2000 cc/hari)

R: Dengan minum banyak air diharapkan cairan yang hilang dapat diganti
Beri pasien kompres air hangat atau air dingin

R: Dengan kompres akan terjadi perpindahan panas secara konduksi dan kompres hangat akan mendilatasi pembuluh
darah
Beri selimut pendingin

R: Untuk mengurangi demam umumnya lebih besar dari 39,5-400C dan untuk mengurangi respon hipertermi
Pantau suhu lingkungan

R: Suhu ruangan harus dirubah agar dapat membantu mempertahankan suhu pasien
Kolaborasi dalam pemberian obat antipiretik dan antibiotik

R: Pemberian oabt antibiotik unuk mencegah infeksi pemberian obat antipiretik untuk penurunan panas
Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
Setelah dilakukan perawatan diharapkan Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan
Anoreksia, mual, muntah dapat teratasi dengan criteria:
Klien sudah mempunyai selera untuk makan
Klien sudah tidak merasa mual
Turgor kulit baik

Palpitasi abdomen berkurang


Intervensi:
4.1 Anjurkan kelurga pasien memberikan perawatan oral
R/ Kebersihan oral menghilangkan bakteri penumbuh bau mulut dan meningkatkan rangsangan nafsu makan
4.2 Hindari makanan penghasil gas dan minuman karbon
R/ Menimbulkan distensi abdomen dan meningkatkan dispnea
4.3 Anjurkan makan sedikit tapi sering
R/ Mencegah perut penuh dan mencegah resiko mual
4.4 Kolaborasi dengan tim nutrisi untuk menentukan diit
R/ Menentukan diit yang tepat sesuai perhitungan ahli gizi.
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan fisik

Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 5 x 24 jam pasien tidak mengalami injury
Kriteria Hasil:

Pasien mampu mengidentifikasikan faktor-faktor resiko dan kekuatan individu yang mempengaruhi toleransi terhadap aktivitas

Berpartisipasi dalam progam rehabilitasi untuk meningkatkan kemampuan untuk beraktivitas

Mampu memilih beberapa alternatif untuk mempertahankan tingkat aktivitas

Intervensi:
Kaji tingkat kemampuan klien dalam melakukan gerak

R/ sebagai dasar untuk memberikan alternativ dan latian gerak yang sesuai dengan kemampuannya
Rencanakan tentang pemberian progam latihan sesuai kemampuan pasien

R/ latihan pergerakan dapat meningkatkan otot dan stimulasi sirkulasi darah


Berikan diet kalsium

R/ membantu mengganti kalsium yang hilang


Ajarkan klien tentang bagaimana melakukan aktivitas sehari-hari

R/ untuk meningkatkan pergerakan dan melakukan pergerakan yang aman


Libatkan keluarga untuk melatih mobilitas pasien

R/untuk mendukung pasien


Konsultasikan dengan ahli teapi fisik

R/ bermanfaat dalam mengembangkan progam latihan individual dan mengidentifikasi kebutuhan alat untuk menghilangkan spasme otot, meningkatkan fungsi
motorik, mencegah / menurunkan atrofi dan kontraktur pada sistem muskular
THANK YOU