Anda di halaman 1dari 36

VARIABLE COSTING DAN SEGMEN

PELAPORAN-ALAT UNTUK
MANAJEMEN

Oleh :
Shinta Anggraeni (D3-0315006)
VARIABLE COSTING DAN FULL COSTING

Metode full costing maupun metode variable


costing merupakan metode penentuan harga
pokok produksi.
Full costing atau sering pula disebut absorption
atau convinental costing adalah metode
penentuan harga pokok produksi yang
membebankan seluruh biaya produksi, baik yang
berperilaku tetap maupun variable kepada
produk.
Sedangkan variable costing atau direct cost
adalah metode penentuan harga pokok produksi
yang membebankan biaya-biaya produksi
variable saja ke dalam harga pokok produk.
Perbedaan pokok yang ada diantara kedua
metode tersebut adalah terletak pada perlakuan
terhadap biaya produksi yang berperilaku tetap.
Adanya perbedaan perlakuan terhadap biaya
produksi tetap ini akan mempunyai akibat pada :
1) Perhitungan harga pokok produksi

2) Penyajian laporan rugi-laba


PERBEDAAN METODE FULL COSTING
DENGAN METODE VARIABLE COSTING
DITINJAU DARI SUDUT PENENTUAN
HARGA POKOK PRODUKSI
Harga pokok produksi menurut metode full
costing terdiri dari :
Biaya Bahan Baku Rp xx
Biaya Tenaga Kerja Langsung Rp xx
Biaya Overhead Pabrik Tetap Rp xx
Biaya Overhead Pabrik Variabel Rp xx
Harga Pokok Produk Rp xx
Dalam metode full costing, biaya overhead pabrik
baik yang berperilaku tetap maupun variabel
dibebankan kepada produk yang diproduksi atas
dasar tarif yang ditentukan di muka pada kapasitas
normal atau atas dasar biaya overhead pabrik
sesungguhnya.
Biaya overhead pabrik tetap akan melekat pada
harga pokok persediaan produk dalam proses dan
persediaan produk jadi yang belum laku dijual dan
baru dianggap sebagai biaya (unsur harga pokok
penjualan) apabila produk jadi tersebut telah terjual.
Karena BOP dibebankan kepada produk atas dasar
tarif yang ditentukan dimuka pada kapasitas normal,
maka jika dalam suatu periode BOP sesungguhnya
berbeda dengan yang dibebankan akan terjadi
pembebanan overhead lebih (overapplied factory
overhead) atau pembebanan BOP kurang
(underapplied factory overhead).
Jika semua produk yang diolah dalam periode
tersebut belum laku dijual maka pembebanan
BOP lebih atau kurang tersebut digunakan
untuk mengurangi atau menambah harga pokok
produk yang masih dalam persediaan tersebut
(baik persediaan produk dalam proses maupun
produk jadi).
Namun jika dalam suatu periode akuntansi tidak
terjadi pembebanan overhead lebih atau kurang,
maka BOP tetap tidak mempunyai pengaruh
terhadap perhitungan rugi-laba sebelum
produknya laku dijual.
Harga pokok produksi menurut metode variable
costing terdiri dari :
Biaya Bahan Baku Rp xx
Biaya Tenaga Kerja Variabel Rp xx
Biaya Overhead Pabrik Variabel Rp xx
Harga Pokok Produk Rp xx
Metode variable costing dikenal juga dengan istilah
direct costing (biaya langsung), pengertian langsung
dan tidak langsungnya suatu biaya tergantung erat
tidaknya hubungan biaya dengan obyek penentuan
biaya, contoh : produk, proses, departmen, dan pusat
biaya yang lain.
Metode variable costing berhubungan dengan
penentuan harga pokok produk yang hanya
memperhitungkan biaya produksi yang berperilaku
variable dan bukan biaya langsung saja.
Sebagai contoh upah tenaga kerja pabrik yang
dibayar bulanan dan tidak tergantung dari hasil
produksinya, merupakan biaya langsung
terhadap produk tersebut namun bukan
merupakan biaya variabel, karena tidak berubah
sebanding dengan perubahan volume produksi.
BOP tetap diperlakukan sebagai period cost dan
bukan sebagai unsur harga pokok produk,
sehingga BOP tetap dibebankan sebagai biaya
dalam periode terjadinya.
BOP tetap di dalam metode variable costing
tidak melekat pada produk yang belum laku
dijual, tetapi langsung dianggap sebagai biaya
dalam periode terjadinya.
ARUS BIAYA FULL COSTING
Biaya Periodik Harga Pokok Produk
Bahan
Biaya Penjualan BOP
BOP Tetap Baku &
dan Administrasi Variabel
BTKL

Persediaan Barang
Dalam Proses / Barang
Jadi

Biaya Periodik

Beban Pokok Persediaan


Penjualan Akhir
ARUS BIAYA VARIABLE COSTING

Biaya Periodik Harga Pokok Produk


Bahan
Biaya BOP
Baku &
Penjualan Variabel
BOP Tetap BTKL
dan
Administrasi

Persediaan Barang
Dalam Proses / Barang
Jadi

Biaya Periodik
Beban Pokok Persediaan
Penjualan Akhir
PT. ZAI memproduksi dan menjual 5.000 unit
produk X per tahun dengan harga Rp 18.750,- per
unit. Berikut adalah struktur biaya produksi,
pemasaran dan administratif tahun 2000 :
- Biaya variabel per unit :
Bahan baku Rp 1.500
Tenaga kerja Rp 3.000
Overhead Pabrik Rp 750
Penjualan, Administrasi Rp 2.250
- Biaya-biaya tetap per tahun :
Overhead Pabrik Rp 22.500.000
Penjualan, Administrasi Rp 7.500.000
Total biaya tetap Rp 30.000.000
Berdasarkan data tersebut perhitungan harga pokok per
unit produk menurut variable costing dan full costing dapat
dibedakan sebagai berikut :

Full Costing Variable


Costing
Biaya bahan baku Rp 1.500 Rp 1.500
Biaya tenaga kerja Rp 3.000 Rp 3.000
Biaya overhead pabrik variabel Rp 750 Rp 750
Total biaya produksi Rp 5.250 Rp 5.250
Biaya overhead pabrik tetap Rp 4.500 -
(Rp 22.500.000/5.000 unit)
Harga pokok per unit produk Rp 9.750 Rp 5.250
PERBEDAAN METODE FULL COSTING
DENGAN METODE VARIABLE COSTING
DITINJAU DARI SUDUT PENYAJIAN
LAPORAN RUGI LABA
Laporan rugi-laba yang disusun dengan metode full
costing menitikberatkan pada penyajian unsur-
unsur biaya menurut hubungan biaya dengan
fungsi-fungsi pokok yang ada dalam perusahaan.
Misalnya dalam perusahaan manufaktur yaitu
fungsi produksi, penjualan/pemasaran, dan fungsi
administrasi dan umum.
Sedangkan dalam metode variable costing lebih
menitikberatkan pada penyajian biaya sesuai
dengan perilakunya dalam hubungannya dengan
volume kegiatan.
Dari data penjualan dan biaya PT ZAI sebelumnya, maka
dapat dibuat perbandingan laporan rugi laba full costing
dan variable costing sebagai berikut :
PT. ZAI
Laporan Laba Rugi
Bulan Januari 2000
(dalam jutaan)
Full Costing Variable Costing

Penjualan Rp 93.750 Penjualan Rp 93.750


( 5.000 unit x Rp 18.750) ( 5.000 unit x Rp 18.750)
Beban Pokok Penjualan1 Rp 48.750 Biaya-biaya variabel3 Rp 37.500

Laba Bruto Rp 45.000 Marjin Kontribusi Rp 56.250

Beban Penjualan, Rp 18.750 Biaya-biaya Tetap Rp 30.000


Administasi&Umum2

Laba Bersih Rp 26.250 Laba Bersih Rp 26.250


(dalam jutaan) 1) Terdiri dari
Full Costing Biaya Produksi
Penjualan Rp 93.750 -Bahan Langsung
( 5.000 unit x Rp 18.750) (5000 x Rp 1.500) 7.500.000
Beban Pokok Penjualan1 Rp 48.750 -Tenaga Kerja Langsung 15.000.000
(5000 x Rp 3.000)
Laba Bruto Rp 45.000
-Overhead Pabrik Variabel
Beban Penjualan, Rp 18.750 (5.000 x Rp 750) 3.750.000
Administasi&Umum2
Total Biaya Produksi
Laba Bersih Rp 26.250
Variabel 26.250.000
-Overhead Pabrik Tetap 22.500.000
2)Terdiri dari
Total Biaya Produksi 48.750.000
Biaya Penjualan,
Administrasi Tetap 7.500.000 Barang siap dijual 48.750.000
Penjualan, Administrasi Persediaan Akhir 0
Variabel
Beban Pokok Penjualan 48.750.000
(5.000 x Rp 2.250) 11.250.000
Total 18.750.000
(dalam jutaan)
3) Terdiri dari
Variable Costing
Penjualan Rp 93.750 Bahan Langsung
( 5.000 unit x Rp 18.750) (5.000 x Rp 1.500) 7.500.000

Biaya-biaya variabel3 Rp 37.500 Tenaga Kerja Langsung


(5000 x Rp 3.000) 15.000.000
Marjin Kontribusi Rp 56.250
Overhead Pabrik Variabel
Biaya-biaya Tetap Rp 30.000 (5.000 x Rp 750) 3.750.000
Laba Bersih Rp 26.250 Penjualan , Administrasi
Variabel
5.000 x Rp 2.250 11.250.000
Total Biaya-biaya Variabel 37.500.000
Dari data penjualan dan biaya PT ZAI sebelumnya yakni
memproduksi dan menjual 5.500 unit produk X per tahun
dengan harga Rp 18.750,- per unit, struktur biaya
produksi, pemasaran dan administratif tahun 2000 :
- Biaya variabel per unit :
Bahan baku Rp 1.500
Tenaga kerja Rp 3.000
Overhead Pabrik Rp 750
Penjualan, Administrasi Rp 2.250
- Biaya-biaya tetap per tahun :
Overhead Pabrik Rp 22.500.000
Penjualan, Administrasi Rp 7.500.000
Total biaya tetap Rp 30.000.000
apabila terdapat biaya-biaya ditangguhkan yang melekat
dalam persediaan akhir, misalnya 500 unit dari total
produksi sebanyak 5.500 unit.
Full Costing
Variable costing
PENGARUH PRODUKSI TERHADAP LABA

Produksi = Produksi > Produksi <


Penjualan Penjualan Penjualan

Persediaan Persediaan Persediaan


tidak berubah bertambah menurun

Laba bersih Full Laba bersih Full Laba bersih Full


Costing = Laba Costing > Laba Costing < Laba
bersih Variable bersih Variable bersih Variable
Costing Costing Costing
PELAPORAN SEGMEN
Pelaporan segmen adalah laporan kontribusi
laba dari beberapa aktivitas atau unit-unit lain
di organisasi tertentu.
Laporan laba rugi segmen menggunakan sistem
kalkulasi biaya variabel yang mempunyai
keunggulan dibandingkan dengan kalkulasi
biaya absorpsi.
Beban tetap dapat dikategorikan menjadi beban
tetap langsung dan beban tetap umum.
Berikut penjelasan mengenai beban tetap
langsung dan beban tetap umum :
1. Beban tetap langsung (direct fixed expenses)
adalah beban tetap yang secara langsung dapat
ditelusuri ke salah satu segmen tertentu. Beban
ini terkadang disebut beban tetap yang dapat
dihindari atau ditelusuri karena beban ini akan
hilang apabila segmen ditutup atau dihapus.
2. Beban tetap umum (commen fixed expenses)
adalah beban tetap yang digunakan secara
bersama-sama oleh dua atau lebih segmen.
Beban ini sering muncul apabila salah satu
segmen ditutup atau dihapus.
3. Kontribusi laba setiap segmen setelah
penutupan biaya tetap umum perusahaan
disebut margin segmen.
Audiomatronics memproduksi dua produk, yaitu
alat pemutar MP3 dan pemutar DVD, berikut
informasi untuk tahun depan :
Pemutar MP3 Pemutar DVD
Penjualan Rp 400.000 Rp 290.000
Harga Pokok Penjualan Variabel Rp 200.000 Rp150.000
Overhead tetap langsung Rp 30.000 Rp 20.000

Komisi penjualan = 5% dari penjualan


Beban penjualan dan adm tetap langsung
diperkirakan untuk produk MP3 sebesar Rp
10.000, DVD sebesar Rp 20.000
Overhead tetap umum untuk pabrik diperkirakan
sebesar Rp 100.000
Beban penjualan & Adm umum diperkirakan
sebesar Rp 20.000
SISTEM ACTIVITY BASED COSTING (ABC)
Activity Based Costing (ABC) adalah metode
membebankan biaya aktivitas-aktivitas
berdasarkan besarnya pemakaian sumber daya,
dan membebankan biaya pada objek biaya,
seperti produk atau pelanggan, berdasarkan
besarnya pemakaian aktivitas, serta untuk
mengukur biaya dan kinerja dari aktivitas yang
terkait dengan proses dan objek biaya.
Dalam Activity Based Costing (ABC), semua
biaya dibebankan ke produk yang menimbulkan
aktivitas atau apabila ada alasan yang mendasar
bahwa biaya tersebut dipengaruhi oleh produk
yang dibuat, baik biayaproduksi maupun biaya
non produksi.
Pengertian mendasar dari sistem ABC adalah
adanya analisa terhadap keseluruhan aktivitas-
aktivitas yang bertujuan untuk mengidentifikasi
adanya hal-hal sebagai berikut :
1 Aktivitas yang ada dalam tiap-tiap departemen
dan sebab timbulnya aktivitas

2 Dalam kondisi yang bagaimana aktivitas tersebut


dilaksanakan

3 Bagaimana frekuensi masing-masing aktivitas dalam


pelaksanaannya

4 Sumber-sumber yang dikonsumsi untuk


melaksanakan masing-masing aktivitas

5 Faktor-faktor apa yang menjadi penyebab timbulnya


aktivitas tersebut atau pembenahan atas sumber daya
yang dimiliki perusahaan
KOMPONEN UTAMA YANG MEMBENTUK
ACTIVITY BASED COSTING (ABC)

Sumber Daya (Resources)

Pemicu Konsumsi Sumber Daya


(Resources Driver)

Aktivitas (Activity)

Pemicu Aktivitas (Activity Drivers)

Objek Biaya (Cost Objects)


TAHAPAN MENERAPKAN ACTIVITY
BASED COSTING (ABC)

Mengidentifikasi Menelusuri BOP


dan menentukan ke aktivitas dan
aktivitas objek biaya

Membebankan
biaya ke objek
biaya
Membebankan/
menggunakan
mengalokasikan
tarif
Menghitung biaya
tarif aktivitas
PENGELOMPOKAN AKTIVITAS
YANG HOMOGEN

Aktivitas tingkat unit (unit level activity)


Aktivitas tingkat batch (batch level
activity)
Aktivitas level produk (product level
activity)
Aktivitas level pelanggan (customer-level
activity)
Aktivitas keberlanjutan organisasi
(organization-sustaining activity)
Langkah 1: Mengidentifikasi dan menentukan
aktivitas

Langkah 2 : Menelusuri BOP ke aktivitas dan objek


biaya
(angka dalam jutaan)
Langkah 3 : Membebankan/mengalokasikan biaya
Langkah 4 : Menghitung tarif aktivitas

Langkah 5 : Membebankan biaya ke objek biaya


menggunakan tarif
PERBANDINGAN ACTIVITY BASED
COSTING DENGAN TRADITIONAL
COSTING
ACTIVITY BASED COSTING TRADITIONAL COSTING
Tarif BOP ditentukan didepan Semua produk dibebani biaya
berdasarkan biaya yang produksi, meskipun produk tertentu
dianggarkan atau tingkatan tidak mengkonsumsi biaya produksi
aktivitas yang diharapkan tersebut
Terdapat lebih dari satu kelompok Biaya produksi selain bahan baku
biaya yang tidak dapat ditelusuri dan tenaga kerja langsung dijadikan
(BOP, administrasi, pemasaran), satu kelompok BOP dengan satu
dimana masing-masing kelompok ukuran, umumnya diukur
biaya mempunyai ukuran aktivitas berdasarkan jam kerja tenaga kerja
tersendiri, sehingga mempunyai langsung atau jam kerja mesin
tarif sendiri

Sistem ini terutama berfokus pada Sistem ini menekankan terutama


aktivitas yang dilakukan untuk pada pemastian biaya setelah biaya
menghasilkan produk tersebut terjadi
MANFAAT ACTIVITY BASED COSTING (ABC)

Memberi kemudahan dalam


pengambilan keputusan

Memperbaiki kualitas
pengambilan keputusan

Memungkinkan manajemen
melakukan perbaikan secara
terus-menerus
KELEMAHAN ACTIVITY BASED COSTING (ABC)

Penerapannya lebih mahal

Sulitnya merubah pola


kebiasaan manajer

Data mudah disalah artikan

Bentuk Laporan kurang sesuai


TERIMA KASIH