Anda di halaman 1dari 17

Clinical Science Session

TUBO OVARIUM ABSES


Preseptor:

dr. Yulia Margaretta Sari, Sp.OG

Reflina Saputri J
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang

Tubo Ovarium
Diagnosis
sumber dari traktus genitalia
.endometritis, salfingitis,
Abses (TOA) Berhubungan seks dengan
pasangan yang IMS
salfingoooforitis,peritonitis pada wanita usia produktif 20- Kankerorgan genital anamnesa, pemeriksaan fisik,
pelvis, dan tubo ovarian abses 40 tahun Apendisitis yang perforasi serta pemeriksaan penunjang
25-50% terjadi pada nullipara. >Terapi-->tidak ditangani
kelanjutan dari infeksi saluran segerakomplikasi
genital bagian bawah
sekuele yang serius pada PID
(Pelvic inflammatory disease).
Penyakit radang
Penyebab
panggul
Batasan Masalah
Batasan penulisan ini membahas mengenai definisi, klasifikasi,
epidemiologi, manifestasi klinis, diagnosis, diagnosis banding, terapi, dan
prognosis Tubo Ovarium Abses.

Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan ini adalah untuk menambah pengetahuan pembaca dan
penulis mengenai Tubo Ovarium Abses.

Metode Penulisan
Penulisan Clinical Science Session Tubo Ovarium Abses ini menggunakan
metode tinjauan kepustakaan yang merujuk pada berbagai literatur.
BAB 2
TINJAUAN
PUSTAKA
Definisi Epidemiologi
Tubo Ovarium Abses adalah radang disertai dengan Dilaporkan sebagai komplikasi Pelvis Inflammatory
akumulasi pus yang terjadi pada ovarium dan atau Disease (PID) pada >1/3 kasus
tuba fallopi pada satu sisi atau kedua sisi adneksa Tubo Ovarium Abses dengan PID berkisar 17-20%.
Pada wanita yakni antara usia 20-40 tahun
25-50% terjadi pada nullipara

Faktor Resiko
Etiologi Pasangan seksual multipel
infeksi berbagai bakteri seperti spesies Streptococcus, Riwayat penyakit peradangan panggul
E.coli, spesies Bacteroides, spesies Prevotella, spesies Penggunaan alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR) yang
Peptostreptococcuss lama biasanya berhubungan dengan Actinomyces
israelii
Riwayat penyakit menular seksual seperti gonorhea
dan chlamidia.
penyebaran bakteri dari vagina ke
pasca abortus, pasca persalinan
uterus lalu ke tuba dan atau tergantung keterlibatan tuba
atau setelah tindakan genekologi
parametrium salpingitis dengan infeksi
sebelumnya
atau tanpa ooforitis

PATOFISIOLOGI
Ovarium mengalami
inflamasitempat ovulasi
Proses peradangan dapat mereda dapat sebagai tempat
spontan atau sebagai respon masuk infeksi abses masih permulaan proses
pengobatanperubahan anatomi terbatas pada tempat penyakitlumen tuba masih
disertai perlekatan fibrin terhadap masuk infeksi, terbatas terbuka mengeluarkan eksudat
organ sekitarnyaproses cepat mengenai tuba dan purulent dari febriae peritonitis
dan hebatabses akan pecah
ovarium dan dapat
melibatkan struktur pelvis
yang lain
Diagnosis
Pemeriksaan Pemeriksaan
Anamnesis
fisik penunjang
Abdomen: nyeri tekan,nyeri lepas, kadang USG: untuk mendeteksi perubahan seperti
Nyeri perut teraba massa. pada auskultasi penurunan terjadinya progressi. regresi, ruptur atau
suara bising usus. pembentukan pus,didapatkan adanya kista
multilokular yang komplekas dengan
Nyeri pelvis penebalan dinding yang ireguler
Pada pemeriksaan dalam: massa pada
adneksa, servik terasa lunak saat digerakan

Demam
CT (computed tomography) :unilateral
Terkadang dapat ditemukan vaginal
location, multilokula dan dinding yang tebal
discharge
dan seragam.
Keputihan
Kriteria Disease Control and Prevention
(CDC) dalam mendiagnosa adanya penyakit
Mual radang panggul
Pemeriksaan laboratorium :kurang
bermakna
Perdarahan pervaginam Kriteria tambahan
TOA utuh dan belum memberikan

Diagnosa keluhan
Kistoma ovari, tumor ovari
KET

Banding Abses peri, apendikuler


Mioma uteri
Hidrosalping

TOA utuh dengan keluhan


Perforasi apendik
Perforasi divertikel/abses divertikel
Perforasi ulkus peptikum
Kelainan sistematis yang memberi
distres akut abdominal
Kista ovari terinfeksi atau terpuntir.
Tatalaksana
Penanganan pada TOA yang mengalami ruptur

intervensi medis segera.


Stabilisasi hemodinamik
pemberian antibiotic
intervensi pembedahan ( Histerektomi total dan salfingoofarektomi bilateral)
Pus dirongga abdomen kultur
Irigasimeminimalisir penyebaran infeksi

Penanganan abses tuboovarium asimptomatik tanpa ruptur

terapi antibiotik jangka panjang, 15-21 hari pemberian tidak ada perubahan ukuran
massadrainase

Penanganan TOA simpomatik tanpa ruptur

rawat inap di rumah sakit, bedrest, pengawasan tanda vital, pemberian cairan intravena
pemeriksaan dan urin output, dan pemberian medikamentosa
Medikamentosa

cefoxitin 2 g IV setiap 6 jam (atau cefocetan 2 g IV


setiap 12 jam),
klindamisin 900 mg IV dan gentamisin 1,5 mg / kg
PO setiap 8 jam (setelah bolus 2 mg / kg
gentamisin) ditambah dengan obat pulang bisa
doksisiklin oral (100 mg per hari) atau klindamisin
(450 mg lima kali sehari) selama dua minggu
Drainase dan
pembedahan Drinase transvaginal

Drainase Transgluteal

Drainase Laparoskopik

Drainase pembedahan
Komplikasi
Prognosis
TOA yang utuh: pecah sampai
sepsis reinfeksi di kemudian Pasien dengan abses tanpa
hari, infertilitas ruptur memiliki prognosis yang
TOA yang pecah: syok sepsis, sangat baik.
abses intraabdominal
BAB 3
PEUTUP
Kesimpulan
Tubo Ovarium Abses adalah radang disertai dengan akumulasi pus yang terjadi pada ovarium dan atau
tuba fallopi pada satu sisi atau kedua sisi adneksa

Tubo Ovarium Abses sering terjadi pada wanita yakni antara usia 20-40 tahun dan paling banyak
terjadipada nulipara

Tubo Ovarium Abses disebabkan oleh infeksi berbagai bakteri seperti spesies Streptococcus, E.coli,
spesies Bacteroides, spesies Prevotella, spesies Peptostreptococcuss

Faktor resiko terjadinya Tubo Ovarium Abses yaitu pasangan seksual multipel, Riwayat penyakit
peradangan panggul, Penggunaan alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR), Riwayat penyakit menular seksual.
Diagnosis Tubo Ovarium Abses dapat ditegakkan berdasarkan
anamnesis , pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang.

Tatalaksana dapat berupa medikamentosa ataupun drainase dan


pembedahan.

Komplikasi bisa rupture abses, syok septik, infertilitas, kehamilan


ektopik, abses intaabdominal.

Prognosis pada abses tanpa rupturmemiliki prognosis yang baik.


TERIMAKASIH