Anda di halaman 1dari 45

RESPONSI

SEPSIS NEONATORUM
KRISNATALIGAN

406138114
1|2|3|4|5|6|7|8

1. Identitas Pasien dan Orang Tua


2. Anamnesis
3. Pemeriksaan Fisik dan Lab
4. Resume
5. Diagnosa Banding
6. Diagnosa Kerja
7. Pemeriksaan Penunjang
8. Tatalaksana dan Prognosis
1. Identitas |2|3|4|5|6|7|8

1. Identitas Pasien

Nama : bayi Icha

Jenis kelamin : Laki-laki

Tanggal lahir : 18 Juli 2014

Umur : 4 hari

Agama : Islam

No. Rekam medik : 56-79-10


1. Identitas |2|3|4|5|6|7|8

2. Identitas Orang Tua

Ayah Ibu
Nama Kamiludin Iin Sumarni
Usia 30 28
Pendidikan terakhir - -
Pekerjaan Saat ini Wiraswasta Ibu Rumah Tangga
Agama Islam Islam
Suku Bangsa WNI WNI
Alamat Jl. Makoliwe I RT 013/02 Jl. Makoliwe I RT
Gropet 013/02 Gropet
1|2. Anamnesis|3|4|5|6|7|8

Keluhan utama : Kuning

Riwayat perjalanan penyakit


Kuning sejak 1 hari yang lalu (saat pasien berumur 3
hari). Sehari sebelumnya kuning hanya di muka, hari ini
mulai terlihat di lengan, telapak tangan, kaki dan badan.
Pasien terlihat banyak tidur, tidak rewel.
Pasien jarang minum ASI dari hari pertama.
Ibu pasien tidak memelihara kucing. Ibu pasien tidak suka
berkebun.
Ibu sehat selama hamil, tidak minum obat-obatan kecuali
obat mulas karena kontraksi rahim.
BAK Normal, BAB masih berwarna sedikit
kehijauan dan keluar setiap kali setelah menetek.
1|2. Anamnesis|3|4|5|6|7|8

Riwayat penyakit dahulu


Pasien belum pernah sakit berat.
Riwayat keluarga
Pasien adalah anak pertama dari satu bersaudara. Kedua
orang tua dalam keadaan sehat.
Golongan darah ibu adalah O, golongan darah ayah
adalah A dan golongan darah anak adalah A. Rhesus
ayah, ibu dan bayi adalah positif.
1|2. Anamnesis|3|4|5|6|7|8

Riwayat Kehamilan dan persalinan


Waktu Keterangan

Kehamilan HPHT tanggal 1 November 2013.


Tanggal taksiran partus 8 Agustus 2014.

ANC Selama kehamilan, ibu pasien rajin kontrol ke dokter sebulan sekali.
Ibu pasien tidak pernah sakit berat selama kehamilan. Ibu pasien tidak
minum jamu-jamuan.
Selama kehamilan ibu pasien sering merasa mulas, terutama mendekati
persalinan. Ibu pasien minum obat untuk mulasnya setiap hari sebelum
persalinan.
Persalinan Pasien lahir ditolong oleh dokter, lahir tanggal 22 Juli 2014 (34 minggu)
Pasien lahir dengan seksio sesaria dengan indikasi persalinan terlalu
lama dan tidak maju.
Skor APGAR lahir = 7, dan skor APGAR 5 menit = 9.
Ketuban pecah 12 jam sebelum partus. Warna ketuban hijau kental dan
berbau amis.
Berat badan lahir : 3750 gram, Panjang badan lahir : 46 cm
Kesan : Bayi Kurang Bulan, Besar Masa Kehamilan.
1|2. Anamnesis|3|4|5|6|7|8

Riwayat imunisasi
Orang tua tidak tahu secara pasti mengenai riwayat
imunisasi bayi.
Riwayat tumbuh kembang
Tumbuh kembang belum dapat dinilai
Riwayat makanan
0 4 hari : ASI eksklusif (tidak ada asupan lain)
1|2|3. Pemeriksaan Fisik dan Lab|4|5|6|7|8

Pemeriksaan Fisik
Tanggal 22 Juli 2014
Pemeriksaan Umum
Keadaan umum : kesadaran somnolen, Tampak sakit sedang,
Lethargis, Ikterik, Tidak irritable, Tidak sianosis, Tidak anemis,
Tidak dyspnea.
Tanda vital
Frekuensi nadi : 148 x/menit, reguler
Suhu tubuh : 36.2C diukur pada axilla
Frekuensi napas : 30 x/menit, reguler
Tekanan darah : 100/60 mmHg
Data antropometri
Berat badan : 3750 gram, Panjang badan: 45 cm, Lingkar
Kepala : 34 cm.
1|2|3. Pemeriksaan Fisik dan Lab|4|5|6|7|8

Pemeriksaan fisik

Organ Temuan
Kepala Bentuk dan ukuran seperti biasanya, tidak teraba benjolan, UUB lebar
dengan ukuran 3x3 cm, UUB rata, Sutura rata, tidak ada kelainan di kulit
kepala, rambut hitam terdistribusi merata, tidak mudah dicabut.

Mata Bola mata ada, palpebra superior et inferior, dekstra et sinistra tidak
edema, tidak cekung, konjungtiva palpebra dekstra et sinistra tidak anemis,
sklera dekstra et sinistra ikterik. Kedua pupil bulat, isokor, Refleks cahaya
kedua mata positif cepat (+/+), tidak ada sekret.

Telinga Rekoil daun telinga lambat, Tulang rawan telinga belum sempurna,
kedua liang telinga lapang, tidak terdapat sekret dan serumen di kedua
telinga, tidak ada nyeri tekan tragus, tidak ada nyeri tarik aurikurel, tidak
ada nyeri tekan mastoid, kelenjar getah bening pre-retro-post aurikel tidak
teraba.

Hidung Bentuk seperti biasanya, lubang hidung ada, tidak ada septum deviasi,
mukosa di kedua lubang hidung tidak hiperemis tidak ada sekret, tidak ada
1|2|3. Pemeriksaan Fisik dan Lab|4|5|6|7|8

Pemeriksaan fisik

Organ Temuan
Mulut Bibir tidak kering, perioral tidak sianosis, lidah tidak pucat, mukosa mulut
tidak kering, lidah tidak kotor, tepi tidak hiperemis. Tonsil T1-T1 tidak
hiperemis, tidak ada detritus, mukosa dinding faring tidak hiperemis.

Leher M. Sternocleidomastoideus tidak ada benjolan, trakea di tengah, kelenjar


tiroid tidak teraba, kelenjar getah bening submandibula, supra-infra
clavicula tidak teraba, tidak ada kaku kuduk.

Mammae Areola 8x8mm, papil ada, teraba ada jaringan.


Thorax Inspeksi :
Simetris dalam diam dan pergerakan napas, tidak ada retraksi intercostal,
supraclavicula, subclavicula, suprasternal, substernal
Palpasi :
Stem fremitus kanan - kiri, depan - belakang sama kuat, tidak ada benjolan
Perkusi : tidak dilakukan
Auskultasi :
Suara nafas vesikuler, tidak terdengar ronki atau wheezing di kedua paru
1|2|3. Pemeriksaan Fisik dan Lab|4|5|6|7|8

Pemeriksaan fisik

Organ Temuan
Jantung Bunyi jantung I dan II reguler, tidak terdengar murmur, tidak terdengar
gallop.

Abdomen Inspeksi : cembung


Auskultasi : Bising usus positif normal 15 kali permenit
Perkusi : Normo Timpani.
Palpasi : Supel, hepar membesar - kenyal, tepi tajam, permukaan
rata, dan lien tidak teraba, tidak ada asites

Umbilikus Masih di klem, terbungkus dengan kain kasa, tidak berbau.

Anus Ada, tidak tampak kelainan dari luar.


1|2|3. Pemeriksaan Fisik dan Lab|4|5|6|7|8

Pemeriksaan fisik

Organ Temuan
Genitalia Rugae skrotum belum sempurna, testis jumlah 2, Orificium Urethra
Externa di distal penis, tidak ada hernia pada skrotum atau inguinal, tidak
teraba kelenjar getah bening di inguinal.

Ekstremitas Superior et inferior dextra et sinistra tidak edema, Lekuk plantar ada
tetapi belum dalam, tidak terdapat deformitas, akral hangat, terlihat
kuning di telapak tangan dan kaki.

Kulit Tipis, venectasi jelas, terlihat ikterik


1|2|3. Pemeriksaan Fisik dan Lab|4|5|6|7|8

Status neurologis
Refleks Moro :+
Refleks rooting :+
Refleks sucking :+
Refleks swallowing :+
Refleks palmar/plantar grasp : +
Refleks Babinski :+

Pemeriksaan Lab
Pasien tidak melakukan pemeriksaan lab
sebelum datang ke rumah sakit
1|2|3|4. Resume|5|6|7|8

Telah diperiksa seorang bayi laki-laki berumur 4 hari


dengan keluhan utama kuning sejak 1 hari yang lalu.
Sehari sebelumnya kuning hanya di muka, hari ini mulai
terlihat di lengan, telapak tangan, kaki dan badan.
Pasien juga terlihat banyak tidur dan tidak rewel. Pasien
jarang minum ASI dari hari pertama. Tidak ada asupan
lain selain ASI. Ibu pasien tidak memelihara kucing dan
ibu pasien tidak suka berkebun. Ibu sehat selama hamil,
tidak minum obat-obatan kecuali obat mulas karena
kontraksi rahim. Tidak ada batuk pilek, tidak ada
mencret, tidak ada demam, tidak ada kejang, tidak biru,
tidak ada sesak nafas. Riwayat BAB bayi sampai
sekarang masih berwarna sedikit kehijauan dan keluar
setiap kali menetek.
1|2|3|4. Resume|5|6|7|8

Pasien merupakan anak pertama dari kehamilan


pertama. Hari Pertama Haid Terakhir pada tanggal 1
November 2013. Taksiran partus adalah tanggal 8
Agustus 2014. Bayi lahir prematur pada tanggal 22 Juli
2014 dengan umur kehamilan 34 minggu. Bayi lahir
seksio sesaria dengan indikasi persalinan yang lama dan
tidak maju. Skor APGAR lahir = 7, dan skor APGAR 5
menit = 9. Ketuban pecah pada 12 jam sebelum bayi
lahir, dengan warna hijau kental dan berbau amis. Bayi
lahir tidak ikterik, tidak sianosis. Bayi dari hari pertama
diberi ASI eksklusif.
1|2|3|4. Resume|5|6|7|8

Dari pemeriksaan fisik didapatkan :


Keadaan Umum : Tampak sakit sedang, kesadaran
somnolen, letargis, tampak ikterik, tidak irritable, tidak
dyspnea, tidak sianosis, tidak anemis.
Frekwensi nadi : 148 x/ menit, reguler
Tekanan darah : 100/60 mmHg
Suhu tubuh : 36.2 C
Frekuensi napas : 30 x/ menit, reguler
Berat Badan : 3750 gram
Panjang Badan : 45 cm
1|2|3|4. Resume|5|6|7|8
Kepala : Bentuk dan ukuran seperti biasanya, tidak
teraba benjolan, UUB lebar dengan ukuran 3x3 cm, UUB
rata, Sutura rata, tidak ada kelainan di kulit kepala, rambut
hitam terdistribusi merata, tidak mudah dicabut.
Mata : Bola mata ada, palpebra superior et inferior,
dekstra et sinistra tidak edema, tidak cekung, konjungtiva
palpebra dekstra et sinistra tidak anemis, sklera dekstra et
sinistra ikterik. Kedua pupil bulat, isokor, Refleks cahaya
kedua mata positif cepat (+/+), tidak ada sekret.
Telinga : Rekoil daun telinga lambat, Tulang rawan
telinga belum sempurna, kedua liang telinga lapang, tidak
terdapat sekret dan serumen di kedua telinga, tidak ada nyeri
tekan tragus, tidak ada nyeri tarik aurikurel, tidak ada nyeri
tekan mastoid, kelenjar getah bening pre-retro-post aurikel
tidak teraba.
Payudara : Areola 8x8cm, papil ada, teraba ada jaringan.
1|2|3|4. Resume|5|6|7|8
Leher : M. Sternocleidomastoideus tidak ada benjolan,
trakea di tengah, kelenjar tiroid tidak teraba, kelenjar getah bening
submandibula, supra-infra clavicula tidak teraba, tidak ada kaku
kuduk.
Abdomen : Inspeksi : cembung, Auskultasi : Bising usus positif
normal 15 kali permenit, Perkusi : Normo Timpani., Palpasi : Supel,
hepar membesar - kenyal, tepi tajam, permukaan rata, dan lien
tidak teraba, tidak ada asites
Anus : Ada, tidak tampak kelainan dari luar.
Genitalia : Rugae skrotum belum sempurna, testis jumlah 2,
Orificium Urethra Externa di distal penis, tidak ada hernia pada
skrotum atau inguinal, tidak teraba kelenjar getah bening di
inguinal.
Extremitas : Superior et inferior dextra et sinistra tidak edema,
Lekuk plantar ada tetapi belum dalam, tidak terdapat deformitas,
akral hangat, terlihat kuning di telapak tangan dan kaki.
Kulit : Tipis, venectasi jelas, terlihat ikterik.
1|2|3|4|5. Diagnosa Banding|6|7|8

DIAGNOSA BANDING
Inkompatibilitas ABO
Defisiensi G6PD
Sepsis neonatorum
Hiperbilirubinemia fisiologis
Breast Feeding Jaundice
1|2|3|4|5. Diagnosa Banding|6|7|8
1|2|3|4|5. Diagnosa Banding|6|7|8
1|2|3|4|5. Diagnosa Banding|6|7|8
1|2|3|4|5. Diagnosa Banding|6|7|8
1|2|3|4|5. Diagnosa Banding|6|7|8
1|2|3|4|5|6.Diagnosa Kerja|7|8

DIAGNOSA KERJA
Bayi Kurang Bulan - Besar Masa Kehamilan
Menurut Klasifikasi Lubchenco, pasien termasuk Bayi
Kurang Bulan Besar Masa Kehamilan
Sepsis neonatorum
Saya mendiagnosa Sepsis neonatorum karena pasien
memenuhi kriteria resiko sepsis Perinatologi
FKUI/RSCM dan Panduan Manajemen Masalah Bayi
Baru Lahir tahun 2003
1|2|3|4|5|6|7. Pemeriksaan Penunjang|8

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Gula Darah Sewaktu
Kultur darah
SGOT dan SGPT
Kadar albumin serum
Bilirubin serum direk dan indirek
Hitung retikulosit
Hemoglobin dan hitung leukosit
Apusan darah tepi
Uji Coombs
Uji G6PD kuantitatif dan kualitatif
1|2|3|4|5|6|7|8. Tatalaksana

Rencana terapi
Foto terapi sambil menunggu hasil pemeriksaan
penunjang
Gentamisin 5 mg/kgBB/hari x 4 kg = 20 mg/hari.
Rencana edukasi
ASI tetap dilanjutkan
Jaga kebersihan, terutama mencuci tangan dengan benar
Rencana evaluasi
Gula darah sewaktu berkala
Pemeriksaan bilirubin direk dan indirek bekala
Pantau tanda vital
PROGNOSIS
Dubia ad bonam

DAFTAR PUSTAKA
Soedarmo, Sumarmo, dkk. Buku Ajar Infeksi & Pediatri
Tropis. Jakarta : badan Penerbit IDAI. 2010.
Behrman,Kliegman,Arvin. Nelson,Ilmu Kesehatan Anak
Pelayanan Kesehatan Anak Di Rumah Sakit.WHO
Kosim, M. Sholeh, dkk. Buku Ajar Neonatologi. Jakarta :
badan penerbit IDAI. 2014.
Health Technology Assesment Indonesia Departemen
Kesehatan Republik Indonesia. Penatalaksanaan Sepsis
Neonatorum. 2007
TINJAUAN PUSTAKA
Sepsis neonatorum awitan dini (SNAD) merupakan infeksi
perinatal yang terjadi segera dalam periode postnatal (kurang
dari 72 jam) dan biasanya diperoleh pada saat proses
kelahiran atau in utero
Sepsis neonatorum awitan lambat (SNAL) merupakan infeksi
postnatal (lebih dari 72 jam) yang diperoleh dari lingkungan
sekitar atau rumah sakit (infeksi nosokomial).
Bakteri penyebab SNAD umumnya berasal dari traktus
genitalia maternal yang tidak menimbulkan penyakit pada ibu
seperti Streptococcus Grup B dan bakteri enterik

SNAL umumnya disebabkan oleh infeksi nosokomial seperti


Enterococcus, dan Staphylococcus aureus
Faktor risiko ibu:

Ketuban pecah dini dan ketuban pecah lebih dari 18 jam. Bila
ketuban pecah lebih dari 24 jam maka kejadian sepsis pada bayi
meningkat sekitar 1% dan bila disertai korioamnionitis maka
kejadian sepsis meningkat menjadi 4 kali.
Infeksi dan demam (> 38C) pada masa peripartum akibat
korioamnionitis, infeksi saluran kemih, kolonisasi vagina oleh
Streptokokus grup B (group B streptococi = GBS), kolonisasi
perineal oleh E. Coli, dan komplikasi obstetric lainnya.
Cairan ketuban hijau keruh dan berbau
Kehamilan multipel.
Faktor risiko pada bayi:
Prematuritas dan berat lahir rendah.
Resusitasi pada saat kelahiran misal pada bayi yang mengalami
fetal distress, dan trauma pada proses persalinan.
Prosedur invasif seperti intubasi endotrakeal, kateter, infus,
pembedahan.
Bayi dengan galaktosemia (predisposisi untuk sepsis oleh
E.coli), defek imun atau asplenia.
Asfiksia neonatorum
Cacat bawaan.
Tanpa rawat gabung.
Pemberian nutrisi parenteral.
Perawatan di bangsal intensif bayi baru lahir yang terlalu lama.
Darah Rutin
Darah rutin yaitu jumlah leukosit PMN, jumlah trombosit,
dan preparat darah hapus. Pada preparat darah hapus yang
perlu diperhatikan adalah jumlah leukosit imatur (neutropenia
< 1800/ul) sehingga dapat diperhitungkan rasio netrofil
imatur dengan netrofil total. Dimana dikatakan terinfeksi
apabila I:T rasio > 0,2.

Kultur
Untuk membuktikan adanya sepsis bakterial, organisme harus
diisolasi dari kultur darah atau cairan tubuh steril seperti
cairan cerebrospinal, cairan sendi, cairan peritoneal dan
pleura. Kultur darah merupakan gold standard dalam diagnosis
sepsis.
Kriteria Rodwell : Jika jumlah skor lebih atau sama dengan 3 maka
kemungkinan besar sepsis.
CRP
Pada proses inflamasi sintesis CRP meningkat dalam waktu 4-6 jam
dengan puncaknya 36-50 jam. Kadar CRP cepat menurun setelah
sumber infeksi tereliminasi. Kadar normal CRP bayi cukup bulan
dan prematur 2-5 mg/L, kadar >10 mg/L berhubungan dengan
infeksi-sepsis.
Karena protein ini meningkat pada berbagai kerusakan jaringan
tubuh maka pemeriksaan ini tidak dapat dipakai sebagai indikator
tunggal dalam menegakkan diagnosis sepsis neonatal

Interleukin
Interleukin -6 (IL-6) adalah sitokin pleiotropic yang terlibat dalam
berbagai aspek dari sistem imunitas. IL-6 disintesis oleh berbagai
macam sel seperti monosit, sel endotel, dan fibroblas, setelah
stimulasi TNF dan IL-1. Petanda ini mengindukasi sintesis protein
fase akut hepatik termasuk CRP dan fibrinogen
Tatalaksana Farmakologis
Ampisilin dan sefalosporin generasi ketiga (sefotaksim,
seftriakson, seftazidim) dilaporkan dapat menyebabkan
organisme Gram negatif memproduksi ESBL yang
selanjutnya menimbulkan masalah resistensi. Oleh karena
itu, terapi kombinasi antibiotik betalaktam dan
aminoglikosida sangat dianjurkan untuk mencegah
resistensi tersebut.
Pada bayi dengan SNAD, terapi empirik harus meliputi
SGB, E. coli, dan Listeria monocytogenes. Kombinasi
penisilin atau ampisilin ditambah aminoglikosida
mempunyai aktivitas antimikroba lebih luas dan
umumnya efektif terhadap semua organisme penyebab
SNAD.
Tatalaksana non farmakologis
Fresh frozen plasma (FFP) mengandung antibodi,
komplemen, dan protein lain seperti C-Reactive Protein dan
fibronektin. Antibodi bayi baaru lahir terbatas pada
spesifikasi yang dihasilkan oleh ibunya, tidak termasuk
antibodi protektif terhadap patogen patogen tertentu. FFP
mengandung antibodi protektif, namun dalam dosis 10
ml/kg, jumlah antibodi tidak adekuat untuk mencapai
kadar proteksi pada tubuh bayi. Pada pemberian secara
kontinu (seperti 10 ml/kg setiap 12 jam), kadar proteksi
dapat tercapai.
Tatalaksana non farmakologis

Secara teoretis, transfusi tukar menggunakan whole blood segar


pada sepsis neonatorum bertujuan: 1)
mengeluarkan/mengurangi toksin atau produk bakteri serta
mediator-mediator penyebab sepsis, 2) memperbaiki perfusi
perifer dan pulmonal dengan meningkatkan kapasitas oksigen
dalam darah, dan 3) memperbaiki sistem imun dengan adanya
tambahn neutrofil dan berbagai antibodi yang mungkin
terkandung dalam darah donor. Transfusi tukar juga memiliki
beberapa kelemahan seperti kesulitan teknik pelaksanaan,
potensial terjadinya infeksi, dan reaksi transfusi.