Anda di halaman 1dari 38

REFERAT

KARSINOMA NASOFARING
Disusun oleh
Elva Oktiana 110 2012 075 FK YARSI
Handhy Tanara 11 2016 289 FK UKRIDA
Ifon Supandi 11 2016 244 FK UKRIDA
Stella Maria Wentinusa 11 2016 224 FK UKRIDA


Pembimbing : dr. Susilaningrum Sp.THT KL
ANATOMI NASOFARING
ANATOMI NASOFARING
HISTOLOGI NASOFARING

Mukosa nasofaring dilapisi oleh epitel bersilia respiratory type, setelah 10 tahun
bertransformasi menjadi epitel nonkeratinizing squamous

Mukosa membentuk crypta

Stroma banyak jaringan limfoid

Terdapat kelenjar seromucinous, tetapi tidak sebanyak pada rongga hidung


FISIOLOGI NASOFARING
Fungsi nasofaring :
Sebagai jalan udara pada respirasi
Jalan udara ke tuba eustachii
Resonator
Sebagai drainage sinus paranasalkavum timpani dan hidung

Secret dari nasopharing dapat bergerak ke bawah karena:


Gaya gravitasi
Gerakan menelan
Gerakan silia (kinosilia)
Gerkan usapan palatum molle
Nasopharing akan tertutup bila palatum molle melekat ke dinding posterior pada waktu menelan,
muntah, mengucapkan kata-kata etrtentu seperti hak.
KARSINOMA NASOFARING
DEFINISI

Karsinoma nasofaring merupakan tumor ganas daerah kepala dan


leher yang terbanyak ditemukan di Indonesia (Efraty & Nurbaiti,
2001) hampir 60% tumor ganas daerah kepala dan leher
merupakan kanker nasopharing.

Karsinoma Nasofaring merupakan tumor ganas yang timbul pada


epithelial pelapis ruangan dibelakang hidung (nasofaring), berada di
antara belakang hidung dan esophagus.
EPIDEMIOLOGI

Angka kejadian KNF di Indonesia cukup tinggi, yakni 4,7


kasus/tahun/100.000 penduduk atau diperkirakan 7000 8000 kasus per
tahun di seluruh Indonesia.

Di RSCM Jakarta ditemukan lebih dari 100 kasus setahun


Pasien dari ras Cina relatif sedikit lebih banyak dari suku bangsa lainya
Lebih sering ditemukan pada pria dibanding wanita dengan rasio 2-3:1
Daerah dengan insiden tinggi KNF meningkat setelah umur 30 tahun,
puncaknya pada umur 40-59 tahun dan menurun setelahnya
ETIOLOGI

Dijumpainya Epstein-Barr Virus (EBV), pada hampir semua kasus KNF telah
mengaitkan terjadinya kanker ini dengan keberadaan virus tersebut.

Pada 1966, seorang peneliti menjumpai peningkatan titer antibodi terhadap


EBV pada KNF serta titer antibodi IgG terhadap EBV, capsid antigen dan
early antigen.
FAKTOR RESIKO

Faktor lingkungan

Telah dikonfirmasikan bahwa ikan asin dan makanan lain yang awetkan
mengandung sejumlah besar nitrosodimethyamine (NDMA), N-
nitrospurrolidene (NPYR) dan nitrospiperidine (NPIP ) yang mungkin
merupakan faktor karsinogenik karsinoma nasofaring.

Selain itu merokok dan perokok pasif yg terkena paparan asap rokok yang
mengandung formaldehide dan yang tepapar debu kayu diakui faktor risiko
karsinoma nasofaring dengan cara mengaktifkan kembali infeksi dari EBV.
Genetik

Analisis korelasi menunjukkan gen HLA (human leukocyte antigen) dan gen
pengode enzim sitokrom p450 2E1 (CYP2E1) kemungkinan adalah gen kerentanan
terhadap karsinoma nasofaring. Sitokrom p450 2E1 bertanggung jawab atas
aktivasi metabolik yang terkait nitrosamine dan karsinogen
PATOFISIOLOGI
PATOFISIOLOGI

CR2 dan PIGR (Polimeric Sel epitel


EBV Immunogloblin Replikasi EBV
nasofaring
Receptor)

Terbentuk sel Perubahan sifat sel Interaksi virus dengan


kanker menjadi ganas sel
MANIFESTASI KLINIS

NASAL SIGN : HIDUNG TERSUMBAT TUMOR SIGN : PEMBESARAN


EPITAKSIS KELENJAR LIMFOID LEHER

EAR SIGN : TINITUS


NYERI TELINGA (OTALGIA) CRANIAL SIGN : SAKIT KEPALA. BILA
GANGGUAN PENDENGARAN TERKENA FORAMEN JUGULARE N IX, X, XI,
XII TERJADI SINDROM JACKSON

EYE SIGN : DIPLOPIA. FORAMEN Dengan tanda-tanda kelumpuhan pada:


LASERATUM N. III, N. IV, N. V, N. VI Lidah
BISA TERKENA Palatum
Faring atau laring
Neuralgia trigeminus ( N. V ) M. sternocleidomastoideus
Ptosis palpebra ( N. III ) M. trapezeus
Ophthalmoplegia ( N. III, N. IV, N.
VI )
KLASIFIKASI

bentuk ulseratif

bentuk noduler/lobuler/ploriperative

bentuk eksofitik
KLASIFIKASI

1. ULSERATIF

Paling sering : pada dinding posterior, di daerah sekitar fossa rosen mulleri,
dinding lateral didepan tuba eustachius dan pada bagian atap nasofaring
Lesi ini biasanya lebih kecil disertai dengan jaringan yang nekrotik dan sangat
mudah mengadakan infiltrasi ke jaringan sekitarnya
Gambaran histopatologik bentuk ini adalah karsinoma sel skuamosa deengan
diferensiasi baik
KLASIFIKASI

2. NODULER/LOBULER/PROLIVERATIF

Sangat sering dijumpai : daerah sekitar muara tuba eustachius


Berbentuk seperti buah anggur / polipoid
Jarang dijumpai adanya ulserasi, namun kadang-kadang dijumpai ulserasi
kecil
Gambaran histopatologik bentuk ini biasanya karsinoma tanpa diferensiasi
KLASIFIKASI

3. EKSOFITIK

Biasanya tumbuh pada satu sisi nasofaring


Tidak dijumpai adanya ulserasi
Kadang-kadang bertangkai dan permukaannya licin
Biasanya tumbuh dari atap nasofaring dan dapat mengisi seluruh rongga
nasofaring, dapat mendorong palatum mole ke bawah dan tumbuh kearah
koana dan masuk ke dalam rongga hidung
Gambaran histopatologik berupa limfasarkoma
DIAGNOSIS

Anamnesis

Pemeriksaan nasofaring

Dengan menggunakan kaca nasofaring atau dengan nashopharyngoskop

Biopsi nasofaring

1. Biopsi melalui hidung dilakukan tanpa melihat jelas tumornya (blind biopsy). Cunam
biopsy dimasukan melalui rongga hidung menyelusuri konka media ke nasofaring
kemudian cunam diarahkan ke lateral dan dilakukan biopsy
DIAGNOSIS
(CONTINUE)

2. Biopsy melalui mulut dengan memakai bantuan kateter nelaton yang dimasukan
melalui hidung dan ujung kateter yang berada dalam mulut ditarik keluar dan diklem
bersama-sama ujung kateter yang dihdung
Pemeriksaan Patologi Anatomi

Klasifikasi gambaran histopatologi yang direkomendasikan oleh Organisasi


Kesehatan Dunia (WHO) sebelum tahun 1991, dibagi atas 3 tipe, yaitu :
Karsinoma sel skuamosa berkeratinisasi (Keratinizing Squamous Cell Carcinoma).

Karsinoma non-keratinisasi (Non-keratinizing Carcinoma).

Karsinoma tidak berdiferensiasi (Undifferentiated Carcinoma).


Pemeriksaan radiologi

Foto polos

Ada beberapa posisi dengan foto polos yang perlu dibuat dalam mencari
kemungkina adanya tumor pada daerah nasofaring yaitu:

Posisi Lateral dengan teknik foto untuk jaringan lunak (soft tissue technique)

Posisi Basis Kranii atau Submentoverteks

Tomogram Lateral daerha nasofaring

Tomogranm Antero-posterior daerah nasofaring


CT SCAN
Pemeriksaan serologi.

Pemeriksaan serologi IgA anti EA (early antigen) dan igA anti VCA (capsid antigen)
untuk infeksi virus E-B telah menunjukan kemajuan dalam mendeteksi karsinoma
nasofaring.

Tjokro Setiyo dari FK UI Jakarta mendapatkan dari 41 pasien karsinoma nasofaring


stadium lanjut (stadium III dan IV) senstivitas IgA VCA adalah 97,5% dan spesifitas
91,8% dengan titer berkisar antara 10 sampai 1280 dengan terbanyak titer 160.
STAGING

T = Tumor, menggambarkan keadaan tumor N = Nodul, menggambarkan keadaan

primer, besar dan perluasannya. kelenjar limfe regional

T0 : Tidak tampak tumor N0 : Tidak ada pembesaran kelenjar

T1 : Tumor terbatas pada 1 lokasi di nasofaring N1 : Terdapat pembesaran kelenjar


homolateral yang masih dapat digerakkan
T2 : Tumor meluas lebih dari 1 lokasi, tetapi
N2 : Terdapat pembesaran kelenjar
masih di dalam rongga nasofaring
kontralateral / bilateral yang masih dapat
T3 : Tumor meluas ke kavum nasi dan / atau
digerakkan
orofaring
N3 :Terdapat pembesaran kelenjar baik
T4 : Tumor meluas ke tengkorak dan / sudah
homolateral, kontralateral atau bilateral,
mengenai saraf otak
yang sudah melekat pada jaringan sekitar.
Berdasarkan TNM tersebut di atas,
M = Metastase, menggambarkan
stadium penyakit dapat ditentukan :
metastase jauh
Stadium I : T1 N0 M0
M0 : Tidak ada metastase jauh
Stadium II : T2 N0 M0
M1 : Terdapat metastase
Stadium III: T3 N0 M0
jauh.2,3,9-13
T1,T2,T3 N1 M0

Stadium IV : T4 N0,N1 M0

Tiap T N2,N3 M0

Tiap T Tiap N M12


Menurut American Joint Committee Cancer tahun 1988, tumor staging dari nasofaring
diklasifikasikan sebagai berikut :

Tis : Carcinoma in situ

T1 : Tumor yang terdapat pada satu sisi dari nasofaring atau tumor yang tak dapat dilihat, tetapi

hanya dapat diketahui dari hasil biopsi.

T2 : Tumor yang menyerang dua tempat, yaitu dinding postero-superior dan dindinglateral.

T3 : Perluasan tumor sampai ke dalam rongga hidung atau orofaring.

T4 : Tumor yang menjalar ke tengkorak kepala atau menyerang saraf cranial (atau keduanya).
DIAGNOSIS
BANDING

1. HIPERPLASIA ADENOID
2. ANGIOFIBROMA JUVENILE
3. TUMOR SINUS SFENOIDALIS
4. TUMOR KELENJAR PAROTIS
5. NEUROFIBROMA
6. CHORDOMA
7. MENINGIOMA BASIS KRANII
KOMPLIKASI
Petrosphenoid sindrom

Retroparidean sindrom

Sel-sel kanker dapat ikut mengalir bersama getah bening atau darah, mengenaiorgan
tubuh yang letaknya jauh dari nasofaring. Yang sering adalah tulang, hati dan paru.
TATALAKSANA

Radioterapi

Penatalaksanaan pertama untuk karsinoma nasofaring adalah radioterapi dengan


atau tanpa kemoterapi.
Ditujukan pada kanker primer didaerah nasofaring dan ruang parafaringeal
serta pada daerah aliran getah bening leher atas, bawah serta klavikula

Sampai saaat ini pengobatan pilihan terhadap tumor ganas nasofaring adalah
radiasi, karena kebanyakan tumor ini tipe anaplastik yang bersifat radiosensitif.
Radioterapi dilakukan dengan radiasi eksterna, dapat menggunakan pesawat kobal
(Co60 ) atau dengan akselerator linier ( linier Accelerator atau linac).
Radiasi

Dosis radiasi
Berkisar antara 6000 7000 rad, dalam waktu 6 7 minggu dengan periode istirahat 2 3
minggu (split dose). Alat yang biasanya dipakai ialah cobalt 60,
megavoltageorthovoltage

Komplikasi radioterapi
a) Komplikasi dini
Xerostomia, mual-muntah, mukositis (nyeri telan, mulut kering, hilangnya cita rasa, infeksi
jamur), anoreksi, eritema
b) Komplikasi lanjut
Kontraktur, penurunan pendengaran, gangguan pertumbuhan
Kemoterapi

Kemoterapi sebagai terapi tambahan pada karsinoma nasofaring ternyata dapat


meningkatkan hasil terapi.Terutama diberikan pada stadium lanjut atau pada
keadaan kambuh

kemoradioterapi diberikan kemoterapi tunggal (single agent chemotherapy) dosis


rendah dengan tujuan khusus untuk meningkatkan sensitivitas sel kanker terhadap
radioterapi (radiosensitizer). Sitostatika yang sering digunakan adalah Cisplatin, 5-
Fluorouracil dan MTX dengan response rate 15%-47%.
Operasi
Tindakan operasi pada penderita karsinoma nasofaring berupa diseksi leher radikal
dan nasofaringektomi. Diseksi leher dilakukan jika masih ada sisa kelenjar pasca
radiasi atau adanya kelenjar dengan syarat bahwa tumor primer sudah
dinyatakan bersih yang dibuktikan dengan pemeriksaan radiologik dan serologi

Imunoterapi
Dengan diketahuinya kemungkinan penyebab dari karsinoma nasofaring adalah
virus Epstein-Barr, maka pada penderita karsinoma nasofaring dapat diberikan
imunoterapi.
PROGNOSIS

Secara keseluruhan, angka bertahan hidup 5 tahun adalah 45 %. Prognosis


diperburuk oleh beberapa faktor, seperti :

Stadium yang lebih lanjut.


Usia lebih dari 40 tahun
Laki-laki dari pada perempuan
Ras Cina dari pada ras kulit putih
Adanya pembesaran kelenjar leher
Adanya kelumpuhan saraf otak adanya kerusakan tulang tengkorak
Adanya metastasis jauh
PENCEGAHAN

Pemberian vaksinasi dengan vaksin spesifik membran glikoprotein virus Epstein Barr
yang dimurnikan pada penduduk yang bertempat tinggal di daerah dengan resiko
tinggi.

Penerangan akan kebiasaan hidup yang salah, mengubah cara memasak makanan
untuk mencegah akibat yang timbul dari bahan-bahan yang berbahaya.

Penyuluhan mengenai lingkungan hidup yang tidak sehat, meningkatkan keadaan


sosial ekonomi dan berbagai hal yang berkaitan dengan kemungkinan-kemungkinan
faktor penyebab.

Melakukan tes serologik IgA anti VCA dan IgA anti EA secara massal di masa yang akan
datang bermanfaat dalam menemukan karsinoma nasofaring secara lebih dini.
KESIMPULAN

Karsinoma nasofaring merupakan tumor ganas nomor satu yang mematikan dan
menempati urutan ke 10 dari seluruh tumor ganas di tubuh

Faktor yang diduga berhubungan dengan KNF, yaitu

(1)Aadanya infeksi EBV,

(2) Faktor lingkungan

(3) Genetik

Karsinoma nasofaring banyak ditemukan di Indonesia

Pada stadium dini yang diberikan adalah penyinaran dan hasilnya baik
DAFTAR PUSTAKA

1. Boies, adams. Buku Ajar Penyakit THT Edisi 6 EGC. Jakarta .1997
2. Roderthanian IL, Anatomi dan Fisiologi Faring. In : Kumpulan Kuliah Faringologi. Medan: 2008; hal: 91-107
3. Averdi Roezin, Aninda Syafril. Karsinoma Nasofaring. Dalam: Efiaty A. Soepardi (ed). Buku ajar ilmu penyakit
telinga hidung tenggorok. Edisi Keenam. Jakarta : FK UI, h. 146-50.
4. Harry a. Asroel. Penatalaksanaan radioterapi pada karsinoma nasofaring. Referat. Medan: FK USU,2002.h. 1-11.
5. Hasibuan R, A. H. pharingologi. Jakarta: Samatra Media Utama, 2004.h. 70-81.
6. Kartikawati, Henny. Penatalaksanaan karsinoma nasofaring menuju terapi kombinasi/kemoradioterapi.
7. Lu Jiade J, Cooper Jay S, M Lee Anne WM. The epidemiologi of Nasopharigeal Carcinoma In : Nasopharyngeal
Cancer. Berlin : Springer,2010. p. 1-9.
8. Susworo, Makes D. Karsinoma nasofaring aspek radiodiagnostik dan radioterapi. Jakarta: FK UI, 1987.h. 69-82.
9. Susworo, R. Kanker nasofaring : epidemiologi dan pengobatan mutakhir. Tinjauan pustaka artikel. Dalam:
Cermin Dunia Kedokteran. No. 144, 2004.h. 16-18.
10.Iskandar Nurbaiti, Munir Masrin, Soetjipto Damayanti, Tumor Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher Diagnosis
dan Penatalaksanaan, Jakarta, 2007, hal ; 2-41

TERIMA KASIH