Anda di halaman 1dari 27

Oleh : dr.

Anggreiti Untu
Pembimbing : dr. Stevanus S. Pesik, SpPD
Pendamping : dr. Lucky H Dalos
Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana
terjadi penumpukan cairan di dalam rongga
pleura. Efusi pleura terjadi karena
tertimbunnya cairan pleura secara berlebihan
sebagai akibat transudasi (perubahan tekanan
hidrostatik dan onkotik) dan eksudasi
(perubahan permeabilitas membran) pada
permukaan pleura seperti terjadi pada proses
infeksi dan neoplasma.
Menurut WHO (2008), efusi pleura
merupakan suatu gejala penyakit yang dapat
mengancam jiwa penderitanya. Secara
geografis penyakit ini terdapat diseluruh
dunia, bahkan menjadi problema utama di
negara-negara yang sedang berkembang
termasuk Indonesia. Di negara-negara
industri, diperkirakan terdapat 320 kasus
efusi pleura per 100.000 orang.
. Menurut Depkes RI ( 2006 ), kasus efusi
pleura mencapai 2,7 % dari penyakit infeksi
saluran napas lainnya. Tingginya angka
kejadian efusi pleura disebabkan
keterlambatan penderita untuk memeriksakan
kesehatan sejak dini dan angka kematian
akibat efusi pleura masih sering dite mukan
faktor resiko terjadinya efusi p leura karena
lingkungan yang tidak bersih, sanitasi yang
kurang, lingkungan yang padat penduduk,
kondisi sosial ekonomi yang menurun, serta
sarana dan prasarana kesehatan yang kurang
dan kurangnya masyarakat tentang pengetahuan
kesehatan
Di Indonesia, tuberkolosis paru adalah
penyebab utama efusi pleura, disusul oleh
keganasan. Distribusi berdasarkan jenis
kelamin, efusi pleura di dapatkan lebih
banyak pada wanita dari pada pria. Efusi
pleura yang disebabkan oleh tuberkolosis
paru lebih banyak dijumpai pada pria dari
pada wanita. Umur terbanyak untuk efusi
pleura karena tuberkolosis adalah 21-30
tahun (30,26%).
Efusi pleura secara umum diklasifikasikan
sebagai transudat dan eksudat, bergantung
dari mekanisme terbentuknya serta profil
kimia cairan efusi tersebut.
Cairan transudat dihasilkan dari ketidakseimbangan
antara tekanan hidrostatik dan onkotik.
Cairan eksudat dihasilkan oleh proses inflamasi
pleura ataupun akibat berkurangnya kemampuan
drainase limfatik.
Gejala klinis yaitu :
Sesak nafas
Nyeri khas pleuritik pada area yang terlibat,
khususnya jika penyebabnya adalah keganasan.
Nyeri dada meningkatkan kemungkinan suatu efusi
eksudat misalnya infeksi, mesotelioma atau infark
pulmoner.
Batuk kering berulang
Pemeriksaan Fisik yaitu :
Gangguan pergerakan toraks,
Fremitus melemah,
Suara beda pada perkusi toraks,
Serta suara nafas yang melemah hingga
menghilang.
Pemeriksaan Penunjang :
Foto toraks posteroanterior (PA) dan lateral :
terlihat akumulasi cairan yang menyebabkan
hemitoraks tampak lebih tinggi, kubah diafragma
tampak lebih ke lateral, serta sudut kostofrenikus
yang menjadi tumpul.
Analisa cairan pleura
TB Paru adalah penyakit bakteri yang
disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis.
Infeksi terjadi apabila seseorang terpapar
oleh tubercle bacilli. Droplet nuklei
selanjutnya akan terhirup dan menginfeksi
paru.
Pengobatan efusi pleura tuberkulosis sama
dengan efusi pada umumnya, yaitu dengan
melakukan torakosintesis agar keluhan sesak
penderita menjadi berkurang, terutama untuk
efusi pleura yang terisi penuh.
Pengobatannya yaitu :
(1) Aspirasi
(2) Pleurodesis
(3) Pembedahan atau pleurektomi
Sedangkan tuberkulosisnya diterapi dengan
OAT.
IDENTITAS
NAMA : Ny. WP
Umur : 42 tahun
Alamat : Taraitak
Status Perkawinan : Kawin
Agama : Kristen Protestan
Tanggal MRS : 14-7-2016
Ruangan : Interna Wanita
Status Pernikahan : Menikah
Riwayat penyakit sekarang :
Sesak dialami pederita sejak 3 hari SMRS. Sesak
napas dirasakan pasien terus menerus, semakin hari
semakin berat. Sesak napas dirasakan sepanjang hari,
baik saat beraktifitas maupun saat istirahat. Sesak
sedikit berkurang dengan perubahan posisi yaitu jika
pasien miring ke kiri. Sesak tidak disertaibunyi mengi
atau ngik-ngik. Sesak tidak berkurang dengnan
penggunaan 3 bantal saat tidur.
Batuk sejak 1 bulan SMRS. Batuk berlendir dan
tidak disertai darah. Pasien juga mengeluh nyeri
dada. Pasien juga mengeluh setiap malam
berkeringat banyak dan penurunan berat badan juga
dialami tanpa sebab yang jelas. BAB dan BAK dalam
batas normal.
Riwayat Penyakit Dahulu :
Keluhan seperti ini belum pernah dirasakan
sebelumnya. Tidak ada riwayat penyakit jantung,
hati, hipertensi, DM, dan asma. Riwayat trauma
dada juga disangkal. Tidak ada riwayat pengobatan
paru dengan OAT.

Riwayat Penyakit Keluarga :


Dikeluarga tidak ada yang mengalami keluhan yang
sama seperti pasien. Tidak ada yang mengalami
batuk lama. Riwayat alergi tidak ada di keluarga.

Riwayat Kebiasaan :
Pasien tidak merokok, minum alkohol maupun
narkoba.
Keadaan umum : Tampak sakit
Kesadaran : Kompos mentis
Tekanan darah : 120/80 mmHg
Nadi : 88 x/m
Respirasi : 20 x/m, reguler
Suhu badan : 360c
Kepala : konjungtiva anemis (-),
Sklera Ikterik (-)
Thoraks :
Cor : Inspeksi : Iktus cordis tidak tampak
Palpasi : Iktus cordis tidak teraba
Perkusi :
Batas kanan : ICS III-IV Linea parasternalis
dekstra
Batas kiri : ICS V Linea midclavicula sin.
Auskultasi : S I-II normal, bising (-)
Pulmo : Inspeksi : Simetris, gerakan dada kiri tertinggal
Palpasi : Stem fremitus kanan > kiri
Perkusi : sonor kanan, pekak kiri
Auskultasi : suara pernapasan +/- , Rh -/-, Wh -
/-
Abdomen : Datar, Lemas, BU (+) Normal, NTE (-), H/L ttb
Ekstremitas : Akral hangat, edema (-)
Leukosit 8.400

Limfosit 16.4

Monosit 7.6

Granulosit 76.0

Hb 13.9

Eritrosit 4.33

MCV 92.4

MCH 32.1

MCHC 34.8

Hematokrit 40.0

Trombosit 353.000

Ureum 10

Glukosa 108

Creatinin 0.9

Natrium 138

Kalium 3.8
Diagnosa Kerja :
Efusi Pleura Sinistra
Penatalaksanaan :
O2 2-4 L/m (kp)
IVFD NaCl 0,9% 14 gtt/m
Ceftriaxone inj. 2x1gr iv (ST)
Ranitidin inj. 2x1amp iv
Ambroxol syr 3xCI
Imesco 2x1 tab
HARI I 15/7/2016
S : sesak (+), nyeri dada (+), batuk (+) berlendir warna putih
O : KU : sedang Kes : CM

Kepala : conj.an (-), skl.ikt (-)


Thoraks : suara pernapasan -/+
Abdomen : datar, lemas, BU (+) N, NTE (-)
Ekstremitas : hangat
A : Efusi Pleura Sinistra
P : O2 2-4 L/m (kp)
IVFD NaCl 0,9% 14 gtt/m
Ceftriaxone inj. 2x1gr iv
Ranitidin inj. 2x1amp iv
Ambroxol syr 3xCI
Imesco 2x1 tab
Hari II 16-7-2016
S : sesak (+)
O : KU : sedang Kes : CM

Kepala : conj.an (-), skl.ikt (-)


Thoraks : suara pernapasan -/+
Abdomen : datar, lemas, BU (+) N, NTE (-)
Ekstremitas : hangat
A : Efusi Pleura
P : Dilakukan Pungsi : keluar cairan 1500 cc
IVFD NaCl 0,9% 14 gtt/m
Ceftriaxone inj. 2x1gr iv
Ranitidin inj. 2x1amp iv
Ambroxol syr 3xCI
Imesco 2x1 tab
Plan : Analisis Cairan Pleura
MAKROSKOPIS HASIL RUJUKAN

Warna Kuning Kuning, kuning kehijauan,


kuning kemerahan
Kejernihan Agak keruh Jernih,
Bekuan Positif (+) Normal : bekuan negatif (-)
Uji Rivalta Positif (+) Normal: negatif (-)
TRANSUDAT (-), EKSUDAT (-)
MIKROSKOPIS LEUKOSIT ERITROSIT
Jumlah Sel 350 /L 0 2 / LPB
(T<1000 sel/L, E>1000 sel/L)
Hitung Jenis (PMN 14%, MN 86%) -
KIMIAWI SPESIMEN SERUM
Protein total 4.3 g/dL (T:<50% sel/L, E:>50% g/dL (normal 6,0 7,8 g/dL)

Rasio protein (rujukan TRANSUDAT < 0,5 , EKSUDAT > 0,5)


spesimen /serum
Glukosa 120 mg/dL (T: =serum, E: serum) mg/dL (normal <140 mg/dL)

LDH Tidak dievaluasi U/L (normal: 160-320 U/L


Rasio LDH
Spesimen/serum (rujukan TRANSUDAT < 0,5 , EKSUDAT > 0,5)
pH 8,0
MIKROBIOLOGI HASIL RUJUKAN

Pulasan Gram Negatif (-) Negatif (-)


Pulasan BTA Negatif (-) Negatif (-)
Kultur dan Tidak dievaluasi Negatif (-)
Hari III 17-7-2016
S : sesak (+)
O : KU : sedang Kes : CM

Kepala : conj.an (-), skl.ikt (-)


Thoraks : suara pernapasan -/+
Abdomen : datar, lemas, BU (+) N, NTE (-)
Ekstremitas : hangat
A : Efusi Pleura Sinistra ec Tuberkulosis Paru
P : Dilakukan Pungsi : keluar cairan 1500 cc
IVFD NaCl 0,9% 14 gtt/m
Ceftriaxone inj. 2x1gr iv
Ranitidin inj. 2x1amp iv
Ambroxol syr 3xCI
Imesco 2x1 tab
OAT Proyek Kategori 1
Anamnesis :
Pada pasien ini ditemukan keluhan Sesak dialami
pederita sejak 3 hari SMRS. Sesak napas dirasakan
pasien terus menerus, semakin hari semakin berat.
Sesak sedikit berkurang dengan perubahan posisi
yaitu jika pasien miring ke kiri. Batuk sejak 1
bulan SMRS. Batuk berlendir dan tidak disertai
darah. Pasien juga mengeluh nyeri dada. Pasien
juga mengeluh setiap malam berkeringat banyak
dan penurunan berat badan juga dialami tanpa
sebab yang jelas.
Pemeriksaan fisik
Inspeksi : didapatkan gerakan dinding dada
paru kiri tertinggal
Auskultasi : suara pernapasan paru kiri (-)

Pemeriksaaan Penunjang :
- Foto thoraks : kesan efusi pleura sinistra
- Analisa cairan pleura