Anda di halaman 1dari 68

KARBOHIDRAT

MATIAS NATANIEL KOLOBANI, M.FARM., APT.


Pengertian

Karbohidrat merupakan molekul yang tersusun dari


atom karbon, hidrogen dan oksigen
Perbandingan jumlah atom hidrogen dan oksigen
adalah 2:1.
Contohnya C6H12O6 atau C12H22O11
Karbohidrat dibentuk dari molekul karbondioksida
(CO2) dan Air (H2O) melalui proses fotosintesis
dengan bantuan sinar matahari dan klorofil
menghasilkan karbohidrat dan oksigen.
Struktur Karbohidrat

Karbohidrat memiliki gugus fungsi utama hidroksi,


gugus aldehida atau gugus keton
Struktur karbohidrat dibagi menjadi 2 bentuk yaitu
struktur fischer dan struktur Haworth
Struktur fischer (struktur Rantai panjang)
dikemukakan oleh Emil Fischer (1852-1919), yang
diberi nobel pada 1902 atas karyanya di bidang
stereokimia dan struktur karbohidrat.
Struktur Haworth (struktur Cincin) dikemukakan
oleh Sir Walter Norman Haworth (1883-1950) yang
diberi nobel pada 1937 di bidang kimia
Rumus Fischer

Atom karbon pada Glukosa mengikat atom atau


gugus tertentu
Apabila mengikat 4 atom atau gugus, maka akan
terbentuk sudut antara 2 ikatan yang besarnya 109o
sehingga antara atom karbon dengan keempat atom
atau gugus yang diikatnya akan terbentuk suatu
tetrahedron dengan atom karbon sebagai pusatnya.
Lanjutan

Apabila atom karbon mengikat 4 atom atau gugus


yang berlainan, maka atom karbon tersebut
dinamakan atom karbon asimetrik atau tidak
simetrik, karena pada molekul tersebut tidak
terdapat bidang simetri.
Pada suatu molekul dengan atom karbon yang
mengikat 1 atom A, 1 atom B dan 2 atom D atau
CABD2, bukan atom asimetri karena terdapat bidang
simetri (memiliki 2 atom D).
Molekul asimetri contohnya CABDE, karena
keempat atom yang berikatan dengan atom C
berbeda.
Lanjutan

Apabila letak gugus atau atom-atom diubah, maka


dapat terjadi suatu senyawa lain yang merupakan
bayangan cermin senyawa semula.
Senyawa I merupakan bayangan cermin senyawa II
atau sebaliknya senyawa II merupakan bayangan
cermin senyawa I
Kedua senyawa ini membentuk suatu pasangan yang
disebut pasangan enansiomer.
Aktivitas Optik

Enansiomer mempunyai titik lebur, kelarutan dalam


air dan sifat kimia yang sama. Namun yang
membedakan adalah pemutaran bidang getar cahaya
terpolarisasi.
Cahaya biasa dipancarkan dalam bentuk gelombang
yang tegak lurus pada arah jalan cahaya tersebut.
Apabila cahaya tersebut dipancarkan melalui kristal
kalsit atau melalui prisma polarisator, maka hanya
ada satu gelombang cahaya yang mempunyai posisi
tertentu yang dapat diteruskan yang disebut cahaya
terpolarisasi
Lanjutan

Gelombang cahaya terpolarisasi terletak pada satu


bidang yaitu bidang getar cahaya.
Apabila cahaya terpolarisasi dilewatkan pada larutan
salah satu enansiomer, maka bidang getarnya akan
mengalami perubahan posisi, yaitu berputar ke arah
kanan atau kiri.
Proses pemutaran bidang getar cahaya terpolarisasi
dinamakan rotasi optik, sedangkan senyawa yang
dapat menyebabkan terjadinya pemutaran cahaya
terpolarisasi dikatakan mempunyai aktivitas optik.
Kedua enansiomer disebut juga isomer optik.
Skema Kerja Polarimeter
Penentuan Hasil Polarimeter

Enansiomer yang memutar cahaya terpolarisasi ke


kanan diberi tanda (+) atau d (dekstro), sedangkan
yang memutar ke kiri diberi tanda (-) atau l (levo).
Jadi (+) glukosa atai d-glukosa artinya glukosa yang
memutar cahaya terpolarisasi ke kanan, sedangkan
(-) glukosa atau l-glukosa berarti glukosa yang
memutar cahaya terpolarisasi ke arah kiri.
Besarnya sudut putar atau sudut rotasi ()
tergantung pada jenis senyawa, suhu, panjang
gelombang cahaya terpolarisasi dan banyaknya
molekul pada jalan yang dilalui cahaya.
Lanjutan

Rotasi spesifik ialah putaran atau rotasi yang


dihasilkan oleh 1,00 gram senyawa dalam 1,00 ml
larutan dalam suatu sel sepanjang 1,00 dm, pada
suhu dan panjang gelombang yang ditentukan
Biasanya digunakan panjang gelombang 589,3 mu
atau 5893 A (garis D natrium) yang diperoleh dari
lampu natrium.
Suhu pada saat pengukuran adalah 20oC.
Konfigurasi Molekul

Konfigurasi molekul adalah khas struktur suatu


senyawa.
Pada bentuk d-, atom C asimetrik yang terjauh dari
gugus fungsi mengikat gugus OH di sebelah kanan
dan atom -H di sebelah kiri.
Pada bentuk l-, atom C asimetrik yang terjauh dari
gugus fungsi mengikat gugus H di sebelah kanan
dan atom -OH di sebelah kiri.
Rumus Haworth

Jika kristal glukosa murni dilarutkan dalam air,


maka larutannya akan memutar cahaya terpolarisasi
ke arah kanan.
Namun bila larutan itu dibiarkan beberapa waktu
dan diamati putarannya, terlihat bahwa sudut
putaran berubah makin kecil, hingga lama kelamaan
makin tetap.
Peristiwa ini disebut mutarotasi, artinya perubahan
rotasi atau perubahan putaran.
Lanjutan

Pada peristiwa mutarotasi, glukosa yang larut air


berubah menjadi bentuk lain yang mempunyai rotasi
spesifik yang berbeda.
Dengan demikian sudut putarannya akan berubah.
Lama-kelamaan sudut putaran akan mencapai harga
tetap karena telah tercapai kesetimbangan antara
kedua bentuk glokosa tersebut.
Adanya dua macam bentuk molekul glukosa ini
disebabkan oleh terjadinya reaksi antara gugus
aldehida/keton dengan gugus OH yang membentuk
hemiasetal.
Reaksi Pembentukan Hemiasetal
Lanjutan

Gugus aldehida pada molekul glukosa bereaksi


dengan gugus OH yang terikat pada atom C nomor
5, sehingga terbentuk dua macam hemiasetal siklik
yang disebut anomer dan .
Anomer -d-glukosa mempunyai rotasi spesifik
+112o dan anomer -d-glukosa mempunyai rotasi
spesifik +19o.
Perbedaan antara kedua molekul ini ialah pada letak
gugus OH dan atom H yang terikat pada atom C
nomor 1.
Lanjutan

Pada molekul -d-glukosa gugus OH terletak di


sebelah kanan (rumus proyeksi), sedangkan pada -
d-glukosa gugus OH terletak di sebelah kiri.
Atom C No 1 menjadi atom C asimetrik dan dengan
demikian pada molekul tersebut terdapat 5 atom C
asimetrik.
Molekul -d-glukosa diperoleh dari larutan d-
glukosa yang diuapkan perlahan-lahan sehingga
terbentuk kristal.
Molekul -d-glukosa dapat diperoleh sebagai hasil
kristalisasi glukosa pada asam asetat atau piridin.
Lanjutan

-d-glukosa maupun -d-glukosa apabila dilarutkan


dalam air dan dibiarkan, keduanya dapat mengalami
mutarotasi.
Sudut putar -d-glukosa berubah dari +112o menjadi
+52,5o, sedangkan -d-glukosa akan berubah dari
+19o menjadi +52,5o.
Larutan glukosa dalam air setelah mencapai
keseimbangan mengandung kira-kira 64% -d-
glukosa, 36% -d-glukosa, dan 0,02% dalam bentuk
aldehida.
Campuran ini menghasilkan rotasi spesifik sebesar
+52,5o.
Lanjutan

Haworth berpendapat bahwa pada molekul glukosa


kelima atom karbon yang pertama dengan atom
oksigen dapat membentuk cincin segi enam.
Haworth mengusulkan penulisan rumus struktur
karbohidrat sebagai bentuk cincin furan atau piran.
Glukosa bentuk Cincin
Lanjutan

Dalam penulisan struktur karbohidrat menurut


Haworth, dianggap bahwa cincin segi enam tersebut
terletak pada sebuah bidang datar dan gugus atau
atom yang terikat pada atom karbon terletak di
bawah atau di atas bidang datar tersebut.
Anggapan ini hanya untuk mempermudah
penulisan, sebab cincin segi enam itu sebenarnya
berbentuk kursi, seperti halnya struktur
sikloheksana.
Adanya gugus yang besar tidak memungkinkan
terjadinya bentuk perahu
Glukosa Bentuk Kursi
Bentuk Perahu
Perbandingan Rumus Fischer dan Haworth
Penggolongan Karbohidrat

Monosakarida
Ligosakarida
Polisakarida
Monosakarida

Monosakarida ialah karbohidrat yang sederhana,


dalam arti molekulnya hanya terdiri atas beberapa
atom karbon saja dan tidak dapat diuraikan dengan
cara hidrolisis dalam kondisi lunak menjadi
karbohidrat lain
Monosakarida yang paling sederhana ialah
gliseraldehida dan dihidroksiaseton
Gliseraldehida dapat disebut aldotriosa karena
terdiri atas tiga atom karbon dan mempunyai gugus
aldehida.
Lanjutan

Dihidroaseton dinamakan ketotriosa karena terdiri


atas tiga atom karbon dan mempunyai gugus keton.
Monosakarida yang terdiri atas empat atom karbon
disebut tetrosa dengan rumus C4H8O4. Contohnya
Eritosa (aldotetrosa) dan eritrulosa (ketotetrosa).
Pentosa ialah monosakarida yang mempunyai 5 atom
karbon. Contohnya Ribosa (aldopentosa) dan Ribulosa
(ketopentosa).
Heksosa ialah monosakarida yang memiliki 6 atom
karbon. Contohnya : Glukosa, Fruktosa dan galaktosa
Glukosa

Glukosa adalah suatu aldoheksosa dan sering dan


sering disebut dekstrosa karena mempunyai sifat dapat
memutar cahaya terpolarisasi ke arah kanan.
Di alam, alam glukosa terdapat dalam buah-buahan
dan madu lebah.
Darah manusia normal mengandung glukosa dalam
jumlah atau konsentrasi yang tetap, yaitu antar 70-100
mg/dl.
Glukosa darah bertambah setelah kita makan makanan
sumber karbohidrat, namun kira-kira 2 jam setelah itu,
jumlah glukosa darah akan kembali semula.
Lanjutan

Pada pasien diabetes melitus atau kencing manis,


jumlah glukosa darah lebih besar dari 130 mg/dl.
Dalam alam, glukosa dihasilkan dari reaksi antara
CO2 dan H2O dengan bantuan sinar matahari dan
klorofil dalam daun.
Prosesnya dinamakan fotosintesis dan glukosa yang
terbentuk terus digunakan untuk pembentukan
amilum atau selulosa.
Amilum terbentuk dari glukosa dengan jalan
penggabungan molekul-molekul glukosa yang
membentuk rantai lurus maupun bercabang dengan
melepas molekul air.
Lanjutan

Dalam Dunia Perdagangan dikenal sirup glukosa,


yaitu suatu larutan glukosa yang sangat pekat,
sehingga mempuyai viskositas atau kekentalan yang
tinggi.
Syrup glukosa ini diperoleh dari amilum melalui
proses hidrolisis dengan asam.
Fruktosa

Fruktosa adalah suatu ketoheksosa yang mempunyai


sifat memutar cahaya terpolarisasi ke kiri dan
karenanya disebut juga levulosa. Contohnya Madu,
Pada umumnya monosakarida dan disakarida
memiliki rasa manis.
Fruktosa mempunyai rasa lebih manis daripada
glukosa, juga lebih manis dari gula tebu atau sukrosa
Fruktosa dapat dibedakan dari glukosa dengan
pereaksi seliwanoff.
Galaktosa

Monosakarida ini jarang terdapat bebas dalam alam.


Umumnya terikat dengan glukosa dalam bentuk
laktosa, yang terdapat dalam susu.
Galaktosa mempunyai rasa kurang manis
dibandingkan glukosa dan kurang larut dalam air.
Galaktosa mempunyai sifat memutar bidang cahaya
terpolarisasi ke kanan.
Pada proses oksidasi oleh asam nitrat pekat dan
dalam keadaan panas, galaktosa menghasilkan asam
musat yang kurang larut dalam air dibandingkan
dengan asam sakarat hasil oksidasi glukosa
Struktur Glukosa, Fruktosa dan Galaktosa
bentuk Hawort
Struktur Glukosa, Fruktosa dan Galaktosa
bentuk Fiscer
Pentosa

Pentosa yang penting diantaranya ialah arabinosa,


xilosa, ribosa dan 2-deoksiribosa, adalah aldopentosa
dan tidak terdapat dalam keadaan bebas di alam.
Arabinosa diperoleh dari gom arab dengan jalan
hidrolisis, sedangkan xilosa terdapat dalam urin
seseorang yang disebabkan oleh suatu kelainan pada
metabolisme karbohidrat yang dinamakan pentosuria
Ribosa dan deoksiribosa merukan komponen asam
nukleat. Deoksiribosa kekurangan 1 atom oksigen
dibanding ribosa
Struktur Pentosa
Oligosakarida

Oligosakarida merupakan gabungan beberapa


monosakarida
Gabungan dua monosakarida dinamakan disakarida
Gabungan tiga monosakarida dinamakan trisakarida
Kebanyakan oligosakarida di alam berbentuk
disakarida
Contoh oligosakarida yaitu : Sukrosa, Laktosa,
Maltosa, Rafinosa, dan Stakiosa
Sukrosa

Sukrosa merupakan gabungan dari glukosa dan


fruktosa
Terdapat dalam tebu, bit, nanas, wortel dan lainnya.
Pada molekul sukrosa, terdapat ikatan antara
molekul glukosa dan fruktosa, yaitu atom karbon no
1 pada glukosa dengan atom karbon no 2 pada
fruktosa melalui atom oksigen.
Kedua atom tersebut adalah atom karbon yang
mempunyai gugus OH glikosidik, atau atom karbon
yang merupakan gugus aldehida pada glukosa dan
gugus keton pada fruktosa, sehingga sukrosa tidak
memiliki gugus OH glikosidik sifat mereduksi
Lanjutan

Sukrosa mempunyai sifat memutar cahaya


terpolarisasi ke kanan.
Glukosa memutar cahaya terpolarisasi ke kanan
sedangkan fruktosa ke kiri, namun fruktosa memiliki
rotasi spesifik lebih besar dibandingkan glukosa
sehingga cahaya terpolarisasi memutar ke kiri.
Pada proses hidrolisis, terjadi perubahan sudut putar,
mula mula ke kanan kemudian ke kiri, yang
dinamakan proses inversi.
Hasil hidrolisis sukrosa dinamakan gula invert, dalam
tubuh hidrolisis dibantu enzim sukrase atau invertase.
Struktur Sukrosa
Laktosa

Hidrolisi laktosa hasilnya d-galaktosa dan d-glukosa.


Ikatan galaktosa dan glukosa terjadi antara atom
karbon no 1 pada galaktosa dan atom karbon no 4
pada glukosa, sehingga galaktosa memiliki gugus
OH glikosidik dan bersifat mereduksi.
Dalam susu terdapat laktosa yang disebut gula susu.
Pada ibu menyusui, laktosa kadang terdapat dalam
urin dengan konsentrasi rendah.
Glukosa lebih manis dibandingkan laktosa.
Bila laktosa dihidrolisis dan dipanaskan dengan
asam nitrat akan terbentuk asam musat.
Struktur Laktosa
Maltosa

Maltosa dibentuk dari dua molekul glukosa, antara


atom karbon no 1 dan atom karbon no 4, sehingga
masih mempunyai gugus OH glikosidik yang
bersifat mereduksi.
Maltosa adalah hasil antara hidrolisis amilum oleh
amilase yang kemudian akan dihirolisis menjadi
glukosa dengan bantuan maltase.
Maltosa lebih manis dibandingkan laktosa, namun
kurang manis dibandingkan sukrosa.
Struktur Maltosa
Rafinosa

Rafinosa merupakan gabungan antara galaktosa,


glukosa dan fruktosa.
Atom karbon no 1 pada galaktosa berikatan dengan
atom karbon no 6 pada glukosa, selanjutnya atom
karbon no 1 pada glukosa berikatan dengan atom
karbon no 2 pada fruktosa.
Hidrolisis sempurnanya menggunakan sukrase dan
melibiase menghasilkan glukosa, galaktosa dan
fruktosa.
Hidrolisis dengan asam lemah atau sukrase akan
menghasilkan melibiosa dan fruktosa.
Lanjutan

Hidrolisis dengan maltase menghasilka galaktosa


dan sukrosa.
Rafinosa tidak memiliki sifat mereduksi, karena
pada molekul rafinosa tidak memiliki gugus OH
glikosidik.
Rafinosa terdapat dalam bit dan tepung biji kapas
(sekitar 8%)
Rafinosa tidak digunakan oleh manusia sebagai
sumber karbohidrat.
Stakiosa

Stakiosa merupakan tetrasakarida yang disusun oleh


2 molekul galaktosa, 1 molekul glukosa dan 1
molekul fruktosa
Pada hidrolisis parsial dapat dihasilkan fruktosa dan
monotriosa (suatu trisakarida)
Stakiosa tidak memiliki sifat mereduksi
Polisakarida

Polisakarida merupakan kumpulan lebih dari 10


monosakarida.
Polisakarida dengan 1 macam monosakarida disebut
homopolisakarida, sedangkan yang mengandung
senyawa lain disebut heteropolisakarida.
Umumnya polisakarida berupa serbuk putih yang
tidak mengkristal, tidak berasa manis dan tidak
mereduksi.
Polisakarida dapat membentuk koloid dalam air
Contoh polisakarida : amilum, glikogen, dekstrin
dan selulosa
Amilum

Amilum/pati banyak terdapat di alam, contohnya


umbi, daun, batang dan biji-bijian.
Batang pohon sagu, umbi pada ubi jalar, umbi ketela
pohon/singkong dimanfaatkan sebagai sumber
karbohidrat bagi manusia.
Amilum terdiri atas dua polisakarida yang keduanya
adalah polimer dari glukosa, yaitu amilosa (sekitar
20-28%) dan sisanya amilopektin.
Amilosa terdiri atas 250-300 unit d-glukosa yang
terikat dengan ikatan -1,4-glikosidik, jadi
molekulnya merupakan rantai terbuka.
Lanjutan

Amilopektin terdiri atas molekul d-glukosa yang


sebagian besar mempunyai ikatan 1,4-glikosidik dan
sebagian lagi ikatan 1,6-glikosidik.
Ikatan 1,6-glikosidik menyebabkan terjadinya
cabang, sehingga amilopektin berbentuk rantai
terbuka dan bercabang.
Amilopektin lebih besar dari amilosa karena terdiri
atas 1000 unit glukosa.
Tersuspensi dalam air panas membentuk keloid,
namun tidak pada air dingin.
Amilum dihidrolisis dengan asam atau amilase
membentuk oligosakarida dan monosakarida
Gambar Amilosa dan Amilopektin
Glikogen

Glikogen terbentuk dari d-glukosa, yang dalam


tubuh tersimpan di hati dan otot yang digunakan
untuk mengontrol kadar gula dalam darah.
Di alam glikogen terdapat pada kerang, alga atau
rumput laut
Glikogen dalam rumput lait diambil dengan cara
mengendapkannya menggunakan etanol.
Glikogen memutar cahaya terpolarisasi ke kanan,
strukturnya serupa dengan amilopektin, berupa
rantai glukosa yang bercabang.
Dekstrin, Selulosa dan Mukopolisakarida

Hidrolisis parsial amilum menghasilkan dekstrin


yang berwarna lembayung, digunakan sebagai bahan
perekat.
Selulosa terdapat dalam tumbuhan dan
dimanfaatkan untuk pembentukan dinding sel.
Contoh selulosa yaitu serat kapas.
Selulosa dalam tubuh tidak terhidrolisis, karena
selulosa hanya terhidrolisis oleh asam pekat menjadi
selobiosa dan d-glukosa.
Karena selulosa tidak dapat dicerna, dimanfaatkan
sebagai serat untuk memperlancar BAB.
Lanjutan

Mukopolisakarida adalah suatu heteropolisakarida,


yang dibentuk oleh gula amino dan asam uronat.
Contohnya asam hialuronat yang merupakan
komponen jaringan ikat yang terdapat pada otot,
terbentuk dari kumpulan unit N-asetilglukosamina
yang berikatan dengan asam glukoronat.
Heparin adalah suatu antikoagulan darah
merupakan mukopolisakarida.
Sifat Kimia Karbohidrat

Sifat kimia karbohidrat dipengaruhi oleh gugus


hidroksi (-OH), gugus aldehida dan gugus keton
Sifat mereduksi
Pembentukan Furfural
Pembentukan Osazon
Pembentukan Ester
Isomerasi
Pembentukan Glikosida
Sifat Mereduksi

Monosakarida dan beberapa disakarida mempunyai


kemampuan mereduksi terutama dalam keadaan
basa karena adanya gugus aldehida atau keton bebas
dalam molekul karbohidrat.
Sifat ini tampak pada tampak pada reaksi reduksi
ion-ion logam misalnya ion Cu++ dan ion Ag+ yang
terdapat pada pereaksi tertentu.
Contohnya fehling (Cu++ ), benedict (Cu++ ), barfoed
(Cu++ ).
Pembentukan Furfural

Monosakarida bila dipanaskan dalam asam encer


umumnya stabil, namun pada asam pekat
menghasilkan furfural atau derivat.
Reaksi pembentukan furfural adalah reaksi dehidrasi
atau pelepasan molekul air dari suatu senyawa.
Pentosa hampir secara kuantitatif semua terhidrasi
menjadi furfural.
Dengan dehidrasi, heksosa menghasilkan
hidroksimetilfurfural.
Furfural membentuk senyawa berwarna dengan
naftol atau timol. Pereaksi molisch
Pembentukan Osazon

Semua karbohidrat yang mempunyai gugus aldehida


atau keton bebas akan membentuk osazon bila
dipanaskan bersama fenilhidrazin berlebih.
Osazon yang terjadi membentuk kristal dan titik
lebur yang khas bagi masing-masing karbohidrat.
Pada reaksi glukosa dengan fenilhidrazin mula-mula
terbentuk d-glukosafenilhidrazon, kemudian d-
glukosazon.
Glukosa, fruktosa dan manosa dengan fenilhidrazin
membentuk osazon yang sama.
Pembentukan Ester

Adanya gugus hidroksil pada karbohidrat


memungkinkan terjadinya ester apabila direaksikan
dengan asam.
Monosakarida dan asam fosfat mebentuk ester asam
fosfat.
Ester yang penting yaitu -d-glukosa-6-fosfat dan -
d-fruktosa-1,6-difosfat.
Kedua jenis ester ini terjadi dari reaksi
monosakarida dengan adenosintrifosfat (ATP)
dengan bantuan enzim tertentu dalam tubuh.
Lanjutkan

Proses esterifikasi dengan asam fosfat yang


berlangsung dalam tubuh kita disebut juga proses
fosforilasi.
Pada glukosa dan fruktosa, gugus fosfat dapat terikat
pada atom karbon nomor 1,2,3,4 atau 6.
Pada -d-glukosa-6-fosfat, gugus fosfat terikat pada
atom karbon no 6, sedangkan pada -d-fruktosa-1,6-
difosfat dua gugus fosfat terikat pada atom karbon
no 1 dan 6.
Reaksi Pembentukan Ester

Dari reaksi tersebut, tampak gugus fosfat yang diikat


oleh atom karbon masih mempunyai sifat asam
karena masih ada atom H yang dapat dilepaskan
sebagai ion H+ sehingga disebut juga asam -d-
glukopiranosa-6-fosfat.
Isomerisasi dan Pembentukan Glukosa

Monosakarida tidak stabil pada basa encer, glukosa


akan berubah menjadi fruktosa dan manosa, dalam
keadaan setimbang.
Apabila glukosa direaksikan dengan metilalkohol,
menghasilkan dua senyawa yang dapat dipishkan
dan keduanya tidak memiliki sifat aldehid.
Keadaan ini membuktikan bahwa yang menjadi
pusat reaksi adalah gugus OH yang terikat pada
atom karbon no 1.
Senyawa yang tersebut adalah asetal yang disebut
glikosida
Lanjutan

Ikatan yang terjadi antara gugus metil dan


monosakarida disebut ikatan glikosida dan gugus
OH yang bereaksi disebut gugus OH glikosidik.
Metilglikosida yang dihasilkan disebut juga
metilglukosida.
Senyawa yang terbentuk yaitu metil--d-glukosida
atau metil--d-glukopiranosida dan metil--d-
glukosida atau metil--d-glukopiranosida.
Glikosida banyak terdapat di tumbuhan, dimana
gabungan antara gula dan bukan gula.