Anda di halaman 1dari 36

JOURNAL READING

A Rareposition in Partial Hanging


- A Case Report
PENGUJI : dr. Santosa, SPF, MHKes
PEMBIMBING : dr. Raja Alfath
DEPARTEMEN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL RSUP DR KARIADI / FK UNDIP
FAKULTAS KEDOKTERAN UPN Veteran JAKARTA
PENDAHULUAN secara utuh
tidak ada yang
menyentuh
permukaan
COMPLETE kekuatan menjerat
dari seluruh tubuh
HANGING

INCOMPLETE berat dari beberapa


bagian tubuh
menjadi kekuatan
Penyebab menjerat
Kematian

Oklusi Kompresi
Oklusi vena
saluran nafas arteri karotis

Dislokasi
vetebra Refleks fraktur
cervical inhibisi vagal
RIWAYAT KASUS
Pukul 18:00 saksi melihat Anak laki-laki tergeletak di meninggal dalam posisi
sepeda dan tas sekolah atas perosotan bermain berbaring dengan seluruh
namun tidak ada seorang dengan posisi tergantung sisi bawah jenazah
pun di sekitar di taman dengan dasi bertumpu di permukaan
bersama dengan kepala di
perosotan bermain

Konfirmasi lebih lanjut dari orang tua korban


RIWAYAT KASUS
Jenazah berusia 15 tahun, siswa kelas 9, tinggal dengan orang tuanya.
Dia pernah mencoba bunuh diri dengan menggantung diri di rumah
beberapa bulan yang lalu. Dia mengatakan kepada orang tuanya bahwa
pikirannya seperti dikendalikan oleh orang dari imajinasinya dan
tentang pikiran untuk bunuh diri. Orang tuanya pernah memeriksakan
jenazah dengan psikiater sekali dan tidak pernah konsultasi kembali.

HASIL OTOPSI
Identitas umum : Seorang anak laki-laki berusia 15 tahun dan bergizi
cukup
Identitas khusus :
Benda disekitar jenazah : mengenakan kemeja merah & celana putih
dengan dasi berwarna hijau, yang digunakan sebagai tali pengikat dengan
simpul mati di leher sisi kiri jenazah.
Temuan yang berkaitan dengan waktu terjadinya kematian :
Lebam Mayat : terlihat pada bagian posterior tubuh dan sangat terlihat di
tungkai bawah
Kaku Mayat : terlihat diseluruh tubuh
Temuan dari pemeriksaan tubuh bagian luar :
Kepala
Wajah : sembab
Leher : Bekas tali terlihat miring, inkomplit dan di atas tingkat tulang
rawan tiroid berjalan ke atas mundur ke wilayah mastoid kiri
berukuran 1 cm lebarnya dan 6 cm di sisi kiri & belakang leher. Bekas
tali berwarna cokelat kemerahan gelap dan seperti perkamen
Bagian tubuh tertentu :
Mata : Terbuka sebagian
Terdapat perdarahan sub-konjungtiva
Mulut : terbuka sebagian
Lidah : ujung lidah di antara gigi, terdapat noda pada lidah yang kering terlihat di
sudut kanan mandibula berjalan vertikal ke bawah
Gigi : jumlah 28
Temuan dari pemeriksaan tubuh bagian dalam :
Rongga Kepala : otak padat dan edema
Leher bagian dalam :
Kulit bagian dalam : Jaringan subkutan terlihat area berkilau putih, sesuai dengan
jejas tali.
Otot leher bagian dalam : Tidak ada ekstravasasi darah di otot dan jaringan
sekitarnya
Pembuluh darah besar leher : Vena jugularis dan arteri karotis tidak ditemukan
adanya kelainan atau cedera
Tulang rawan : Tidak ada kelainan
Trakea : Trakea sedikit sembab dengan sedikit buih di dalamnya
Rongga Dada :
Paru : padat dan edema, terlihat perdarahan pada organ sub pleura dan sub
perikardial.
Rongga Perut : terlihat sembab dan berisi 100 ml bahan cairan kekuningan
tanpa bau aneh
Semua organ tampak sembab dan darah yang berwarna gelap pada
jantung dan pembuluh darah besar
Opini penyebab kematian: Asfiksia karena
penggantungan.
DiSKUSI
Pada kasus ini seluruh tubuh di tunjang oleh permukaan perosotan
dan tidak ada salah satupun dari bagian tubuh yang menjadi faktor
kontriksi
Terdapat ciri facial congestion, hemoragic subkonjungtiva, dan
obstruksi saluran nafas
Terdapat tetesan air liur dari sudut kanan mulut, pigmentasi kulit
pada ligature dengan ptekie hemoragik diatas tanda ligatur, tana
sianosis sentral, fluiditas darah dan edema serebropulmonari dengan
subpleural dan subperikardial ptekie
Dasi kokoh terikat dengan beberapa simpul
Pada kaus ini korban telah berkonsultasi dengan psikiatris sekali
namun karena orang tua buta huruf, tidak pedulian, status
sosioekonomi rendah follow up tidak dilakukan.
KESIMPULAN
Gantung diri paling sering dipakai sehingga diamati karena sering
dipilih sebagai metode bunuh diri.
Partial hanging dapat dilakukan dengan posisi yang berbeda-beda
seperti, kaki atau jari menyentuh tanah atau berada dalam posisi
duduk, berlutut, berbaring, tengkurep atau posisi lain dimana hanya
kepala dan dada yang menyentuh tanah dan juga terdapat posisi yang
tidak biasa.
Peningkatan gaya konstriksi pada leher yang cukup untuk
menyebabkan kematian adalah faktor paling penting untuk
menyelesaikan tindakan
TINJAUAN PUSTAKA
Anatomi Leher
Regio colli
Regio colli anterior dan Regio Colli
posterior

1. Sternocleidomastoideus
2. Trigonum Submentale
3. Trigonum Musculare
4. Trigonum Submandibulare
5. Trigonum Caroticum
6. Cervicalis Lateralis
Pembuluh Darah Leher
Arteri Carotis Communis dextra
sinistra
1. Arteri Carotis Eksterna
2. Arteri Carotis Interna
Vena Jugularis Interna
ASFIKSIA

keadaan yang ditandai dengan terjadinya gangguan pertukaran udara


pernapasan, mengakibatkan oksigen darah berkurang (hipoksia) disertai
dengan peningkatan karbon dioksida (hiperkapnea)
Klasifikasi berdasarkan penyebab
1. anoksi-anoksia
a. Kekurangan oksigen dalam udara bebas (atmosfer)
b. Mekanik
- Smothering
- Chocking
- Drowning (tenggelam)
c. Strangulation
- Manual strangulation (throttling/cekikan)
- Ligatur strangulation (jeratan)
- Hanging (gantung diri)
- Tekanan pada dada atau perut yang kuat
2. Anoksia anemik
3. Anoksia stagnan
4. Anoksia histotoksik
Gejala klinik

Fase Fase Fase Fase


dyspneu konvulsi apnea akhir
Pemeriksaan luar jenazah asfiksia
Sianosis
Kongesti
Buih halus
Warna lebam mayat merah-
kebiruan gelap

Tardieus spot
Pemeriksaan Dalam Jenazah Asfiksia
Darah berwarna lebih gelap dan lebih encer
Busa halus di dalam saluran pernapasan.
organ dalam tubuh menjadi lebih berat, berwarna lebih gelap dan pada
pengirisan banyak mengeluarkan darah.
Petekie pada mukosa usus halus, epikardium pada bagian belakang jantung
daerah aurikuloventrikular, subpleura viseralis paru terutama di lobus
bawah pars diafragmatika dan fisura interlobaris, kulit kepala sebelah
dalam terutama daerah otot temporal, mukosa epiglotis dan daerah sub-
glotis.
Kelainan-kelainan yang berhubungan dengan kekerasan, seperti fraktur
laring langsung atau tidak langsung
Gantung (hanging)
peristiwa dimana seluruh atau sebagian dari berat tubuh seseorang
ditahan dibagian lehernya oleh sesuatu benda dengan permukaan yang
relatif sempit dan panjang (biasanya tali) sehingga daerah tersebut
mengalami tekanan
Jenis Penggantungan

Dari letak tubuh ke lantai letak jeratan


Complete Tipikal
partial Atipikal
Ciri Hanging Partial
Jejas jerat tidak begitu nyata
Letak jejas jerat di leher lebih rendah
Arah jejas jerat lebih mendekati horizontal
Karena efek tali hanya menekan vena maka tanda tanda lain yang
dapat dilihat adalah muka menjadi sembab, warna merah kebiruan
dan ditemukan bintik bintik perdarahan
Penyebab Kematian pada Hanging
Oklusi saluran nafas
Oklusi vena
Kompresi arteri carotis
Dislokasi/fraktur vertebra cervicalis II-III
Reflex inhibisi vagal
Pemeriksaan Luar
KEPALA
1. Bibir sianosis, muka sembab
2. Tanda penjeratan pada leher ( tergantung alat penjerat & alur jerat)
3. Tanda-tanda asfiksia.
- mata menonjol keluar
- peteki
- lidah menjulur
- Air liur mengalir dari sudut bibir di bagian yang berlawanan
dengan simpul tali
Anggota gerak Dubur dan kelamin
1. Lebam mayat dan bintik-bintik Keluarnya mani, darah (sisa
perdarahan terutama pada haid), urin dan feses akibat
bagian akral dari ekstremitas kontraksi otot polos pada saat
2. Posisi tangan biasanya dalam stadium konvulsi pada puncak
keadaan tergenggam asfiksia.
Kepala
Tanda bendungan pembuluh darah otak
Leher
Jaringan yang berada dibawah jeratan berwarna pucat, berkilat dan perabaan seperti perkamen karena
kekurangan darah.
otot lain disekitarnya mungkin memar atau ruptur pada beberapa keadaan
Lapisan dalam dan bagian tengah pembuluh darah mengalami laserasi ataupun ruptur. Resapan darah hanya
terjadi didalam dinding pembuluh darah.
Fraktur tulang hyoid jarang terjadi. Fraktur ini biasanya terdapat pada penggantungan yang korbannya
dijatuhkan dengan tali penggantung yang panjang dimana tulang hyoid mengalami benturan dengan tulang
vertebra. Adanya efusi darah disekitar fraktur menunjukkan bahwa penggantungannya ante-mortem.
Fraktur kartilago tiroid jarang terjadi. Pada korban diatas 40 tahun, patah tulang ini darap terjadi bukan
karena tekanan alat penjerat tetapi karena terjadinya traksi pada penggantungan.
Fraktur 2 buah tulang vertebra servikalis bagian atas. Fraktur ini sering terjadi pada korban hukuman
gantung
Dada dan perut
Perdarahan pada pleura, pericard atau peritoneum
Organ-organ dapat mengalami kongesti atau bendungan
Darah
Darah dalam jantung gelap dan lebih cair.
Perbedaan antara penggantungan
antemortem dan postmortem
No Penggantungan antemortem Penggantungan postmortem

1 Tanda jejas jeratan miring, berupa Tanda jejas jeratan biasanya berbentuk lingkaran
lingkaran terputus (non-continuous) dan utuh (continuous), agak sirkuler dan letaknya
letaknya pada leher bagian atas pada bagian leher tidak begitu tinggi
2 Simpul tali biasanya tunggal, terdapat Simpul tali biasanya lebih dari satu, diikatkan
pada sisi leher dengan kuat dan diletakkan pada bagian depan
leher
3 Ekimosis tampak jelas pada salah satu sisi Ekimosis pada salah satu sisi jejas penjeratan
dari jejas penjeratan. Lebam mayat tidak ada atau tidak jelas. Lebam mayat terdapat
tampak di atas jejas jerat dan pada pada bagian tubuh yang menggantung sesuai
tungkai bawah dengan posisi mayat setelah meninggal
4 Pada kulit di tempat jejas penjeratan Tanda parchmentisasi tidak ada atau tidak begitu
teraba seperti perabaan kertas perkamen, jelas
yaitu tanda parchmentisasi
6 Sianosis pada wajah, bibir, telinga, dan lain- Sianosis pada bagian wajah, bibir, telinga dan lain-
lain sangat jelas terlihat terutama jika lain tergantung dari penyebab kematian
kematian karena asfiksia
7 Wajah membengkak dan mata mengalami Tanda-tanda pada wajah dan mata tidak terdapat,
kongesti dan agak menonjol, disertai dengan kecuali jika penyebab kematian adalah pencekikan
gambaran pembuluh dara vena yang jelas (strangulasi) atau sufokasi
pada bagian kening dan dahi

8 Lidah bisa terjulur atau tidak sama sekali Lidah tidak terjulur kecuali pada kasus kematian
akibat pencekikan
9 Penis. Ereksi penis disertai dengan keluarnya Penis. Ereksi penis dan cairan sperma tidak ada.
cairan sperma sering terjadi pada korban Pengeluaran feses juga tidak ada
pria. Demikian juga sering ditemukan
keluarnya feses

10 Air liur. Ditemukan menetes dari sudut Air liur tidak ditemukan yang menetes pad kasus
mulut, dengan arah yang vertikal menuju selain kasus penggantungan.
dada. Hal ini merupakan pertanda pasti
penggantungan ante-mortem
Pemeriksaan tempat kejadian
Periksa apakah masih hidup atau sudah meninggal
Keadaan di TKP (tempat kejadian perkara) : Pada kasus gantung diri, keadaanya
tenang, di ruang atau tempat tersembunyi atau pada tempat yang sudah tidak
digunakan.
Pakaian korban : Pada kasus gantung diri biasa ditemukan pakaian korban cukup
rapih, sering didapatkan surat peninggalan dan tidak jarang diberikan alas sapu
tangan sebelum alat jerat dikalungkan ke leher.
Adakah alat penumpu seperti bangku dan sebagainya
Jumlah lilitan : Semakin banyak jumlah lilitan, dugaan bunuh diri makin besar
Arah serabut tali penggantung:
- Bunuh diri arah serabut tali menuju korban
- Dibunuh terlebih dulu arah serabut sebaliknya
Distribusi lebam mayat. Diperiksa apakah sesuai dengan posisi korban yang
tergantung atau tidak.
Macam simpul pada jerat di leher
- Simpul hidup : Umumnya pada kasus bunuh diri.
- Simpul mati
Pemeriksaan : Bila dilonggarkan maksimal, apakah dapat melewati kepala.
Bila dapat biasanya bunuh diri,. Bila tidak, curiga pembunuhan.
Jarak ujung jari kaki dengan lantai.
Pada kasus bunuh diri, posisi korban yang tergantung lebih mendekati
lantai, berbeda dengan pembunuhan dimana jarak antara kaki dan lantai
cukup lebar.
Letak korban di tempat kejadian
Cara menurunkan korban:
Potong bahan penggantung di luar simpul. Awalnya buat ikatan pada 2
tempat untuk mencegah serabut terurai lalu potong diantara kedua ikatan
secara miring untuk memudahkan rekonstruksi.
Bekas serabut tali pada tempat menggantung dan pada leher diamankan
untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Bahan penggantung; makin kecil/keras bahan makin jelas alur jerat yang
timbul di leher.
- Tali, kawat, selendang, ikat pinggang
- Seprei yang disambung
Buku kedua KUHP Bab XIX tentang kejahatan
terhadap nyawa.
1. Pasal 338
Barang siapa dengan sengaja merampas nyawa orang lain, diancam karena
pembunuhan dengan pidana penjara paling lama lima belas tahun.
2. Pasal 339
Pembunuhan yang diikuti, disertai atau didahului oleh suatu perbuatan
pidana, yang dilakukan dengan maksud untuk mempersiapkan atau
mempermudah pelaksanaannya, atau untuk melepaskan diri sendiri
maupun peserta lainnya dari pidana dalam hal tertangkap tangan, ataupun
untuk memastikan penguasaan barang yang diperolehnya secara melawan
hukum, diancam dengan pidana penjara seumur hidup atau selama waktu
tertentu, paling lama dua puluh tahun.
3. Pasal 340
Barang siapa dengan sengaja dan dengan rencana terlebih dahulu
merampas nyawa orang lain, diancam karena pembunuhan dengan
rencana, dengan pidana rnati atau pidana penjara seumur hidup atau
selama waktu tertentu, paling lama dua puluh tahun.
4. Pasal 345
Barang siapa sengaja mendorong orang lain untuk bunuh diri,
menolongnya dalam perbuatan itu atau memberi sarana kepadanya
untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun
kalau orang itu jadi bunuh diri.