Anda di halaman 1dari 51

PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIS (PPOK)

EKSASERBASI AKUT

Pembimbing :
dr. I Nyoman Arnatha

Oleh :
dr. I Gede Agus Bhakti Suputra

Puskesmas Susut I
Pendahuluan

Epidemiologi
Prevalensi PPOK tertinggi terdapat di Destruksi jaringan
Nusa Tenggara Timur (10,0%), diikuti parenkimal dan fibrosis
Sulawesi Tengah (8,0%), Sulawesi
saluran kecil
Barat, dan Sulawesi Selatan masing-
masing 6,7 persen

Indonesia
Peringkat 6 sebagai penyebab Sesak nafas dan gejala
kematian khas PPOK
Peringkat 1 menyumbang angka
kesakitan pada penyakit tidak
menular
TINJAUAN PUSTAKA
DEFINISI

Penyakit Paru Obstruksi Kronis (PPOK) atau juga


dikenali sebagai Chronic Obstructive Pulmonary
Disease (COPD) merupakan obstruksi saluran
pernafasan yang progresif dan ireversibel yang
terjadi bersamaan dengan
bronkitis kronik, emfisema atau kedua-duanya.
Faktor Risiko
Faktor Risiko COPD
Gen
Paparan terhadap partikel
Asap rokok
Polusi di tempat kerja (bahan kimia, zat iritasi, gas beracun
Polusi di dalam ruangan dari asap kompor, pemanas ruangan dan ventilasi
rumah yang kurang baik
Populasi di luar ruangan
Tumbuh kembang paru
Stress oksidatif
Gender
Umur
Infeksi saluran nafas
Riwayat tuberculosis dan asma
Status sosioekonomi
Nutrisi
Faktor Risiko
Faktor risiko meliputi faktor pejamu, faktor perilaku
merokok, dan faktor lingkungan.
Faktor pejamu meliputi genetik, hiperesponsif jalan
napas dan pertumbuhan paru.
Faktor genetik yang utama adalah kurangnya alfa 1
antitripsin, yaitu suatu serin protease inhibitor.
Hiperesponsif jalan napas juga dapat terjadi akibat
pajanan asap rokok atau polusi.
Pertumbuhan paru dikaitan dengan masa kehamilan,
berat lahir dan pajanan semasa anak-anak.
Penurunan fungsi paru akibat gangguan pertumbuhan
paru diduga berkaitan dengan risiko mendapatkan
PPOK.
Patogenesis
Patogenesis
Abnormalitas pertukaran gas
Peradangan merupakan elemen kunci terhadap
patogenesis PPOK. Inhalasi asap rokok atau gas
berbahaya lainnya mengaktifasi makrofag dan
sel epitel

Hipersekresi Mukus
Hipersekresi mucus mengakibatkan batuk kronis
yang produktif.
Patogenesis

Eksaserbasi
Eksaserbasi dapat disebabkan oleh infeksi atau
faktor faktor lain seperti polusi udara,
kelelahan atau timbulnya komplikasi dan
sepertiga dari eksersebasi akut penyebabnya
tidak dapat diidentifikasi.
Klasifikasi PPOK
Derajat Klinis Faal paru
Derajat I: PPOK Gejala batuk kronik dan produksi sputum ada -VEP1/KVP < 70%
Ringan tapi tidak sering. -VEP1 80% prediksi

Derajat II: PPOK Gejala sesak mulai dirasakan saat aktivitas dan -VEP1/KVP < 70%
Sedang kadang ditemukan gejala batuk dan produksi -50 < VEP1 < 80% prediksi
sputum.

Derajat III: PPOK Gejala sesak lebih berat, penurunan aktivitas, - VEP1/KVP < 70%
Berat rasa lelah dan serangan eksaserbasi makin -30 < VEP < 50% prediksi
1
sering

Derajat IV: PPOK Gejala di atas ditambah tanda-tanda gagal - VEP1/KVP < 70%
Sangat Berat napas atau gagal jantung kanan dan - VEP <30% prediksi atau
1
ketergantungan oksigen.
VEP1 < 50% disertai gagal
napas kronik.
Diagnosis
Diagnosis PPOK dimulai dari anamnesis,
pemeriksaan fsik dan pemeriksaan
penunjang.
Diagnosis
Anamnesis & Faktor Resiko
Gejala Keterangan
Sesak Progresif (sesak bertambah berat seiring berjalannya waktu)
Bertambah berat dengan aktivitas
Persisten (menetap sepanjang hari)
Pasien mengeluh berupa, Perlu usaha bernafas, berat, sukar
bernafas, terengah-engah

Batuk Kronis Hilang timbul dan mungkin tidak berdahak


Batuk Kronis Setiap batuk kronik berdahak dapat mengindikasikan PPOK
Berdahak

Riwayat Asap rokok


Terpajan Debu
Faktor Bahan kimia di tempat kerja
Risiko Asap dapur
Diagnosis
Inspeksi
Pursed - lips breathing (mulut setengah terkatup mencucu)
Barrel chest (diameter antero - posterior dan transversal sebanding)
Penggunaan otot bantu napas
Hipertropi otot bantu napas
Pelebaran sela iga
Bila telah terjadi gagal jantung kanan terlihat denyut vena jugularis leher dan edema
tungkai
Penampilan pink puffer atau blue bloater
Palpasi
Pada emfisema fremitus melemah, sela iga melebar

Perkusi
Pada emfisema hipersonor dan batas jantung mengecil, letak
diafragma rendah, hepar terdorong ke bawah

Auskultasi
Suara napas vesikuler normal, atau melemah
Terdapat ronki pada waktu bernapas biasa atau pada ekspirasi paksa ekspirasi
memanjang bunyi jantung terdengar jauh
Ciri khas yang mungkin ditemui pada penderita PPOK :

-Pink puffer, khas pada emfisema

Blue bloater, khas pada bronkitis kronik

Pursed - lips breathing, bernapas dengan mulut


mencucu dan ekspirasi yang memanjang
PEMERIKSAAN PENUNJANG

1. Faal Paru
Spirometri (VEP1 prediksi, KVP, VEP1/KVP
Obstruksi ditentukan oleh nilai VEP1 prediksi (%)
dan atau VEP1/KVP (%)
Obstruksi : % VEP1 (VEP1/VEP1 pred) < 80% VEP1%
(VEP1/KVP) < 75%
Uji Bronkodilator
Dilakukan dengan menggunakan spirometri
Setelah pemberian bronkodilator inhalasi sebanyak 8
hisapan, 15 20 menit kemudian dilihat perubahan nilai
VEP1 atau APE, perubahan VEP1 atau APE < 20% nilai
awal dan < 200 ml
Uji bronkodilator dilakukan pada PPOK stabil
Radiologi
Pemeriksaan Penunjang

2. Darah Lengkap
WBC dalam batas normal atas dan penurunan jumlah sel darah merah,
hemoglobin, dan hematokrit yang sangat sedikit.

3. Analisis Gas Darah (AGD)


Adanya hipoventilasi pada banyak alveoli dan kerusakan dinding alveolus
mengakibatkan terjadinya peningkatan kadar pCO2 dalam darah dan
penurunan kadar pO2 dalam darah.

4. Radiologi
Emfisema, Hiperinflasi, Hiperlusen, Ruang retrosternal melebar, Diafragma
mendatar, Jantung menggantung (jantung pendulum / tear drop / eye drop
appearance).
bronkitis kronik : Normal, Corakan bronkovaskuler bertambah pada 21 % kasus

04/08/13
Normal Hyperinflation
Diagnosis Banding PPOK
Diagnosis Gambaran Klinis
Asma Onset usia dini
Gejala bervariasi dari hari ke hari
Gejala pada waktu malam/dini hari lebih menonjol
Ditemukan riwayat alergi, rinitis, atau eczema
Ada riwayat asma dalam keluarga
Hambatan aliran udara umumnya reversibel

Gagal jantung Adanya riwayat hipertensi


kongestif Ditemukan ronkhi basah pada basal paru
Gambaran foto thoraks berupa pembesaran jantung dan edema paru
Pemeriksaan faal paru restriksi, bukan obstruksi

Bronkiektasis Sputum purulen dalam jumlah yang banyak


Sering berhubungan dengan infeksi bakteri
Ronkhi basah kasar
Gambaran foto thoraks tampak honeycomb appearance dengan penebalan
dinding bronkus.
Diagnosis Banding PPOK
Diagnosis Gambaran Klinis
Tuberkulosis Onset semua usia
Gambaran foto thoraks berupa infiltrat
Ditemukan BTA pada pemeriksaan mikrobiologi

Bronkiolitis Usia muda


obliterasi Tidak merokok
Dapat ditemukan riwayat adanya artritis reumatoid
CT paru ekspirasi terlihat gambaran hipodens

Diffuse Sering pada perempuan tidak merokok


panbronchiolitis Seringkali berhubungan dengan sinusitis
Pada foto rontgen dan CT paru resolusi tinggi
memperlihatkan bayangan diffuse nodul opak
sentrilobular dan hiperinflasi.
Eksaserbasi Akut

Gejala eksaserbasi utama berupa peningkatan sesak,


produksi sputum meningkat, dan adanya perubahan
konsistensi atau warna sputum.
Eksaserbasi akut dapat dibagi menjadi tiga tipe, yaitu
Tipe I (eksaserbasi berat) apabila memiliki 3 gejala
utama,
Tipe II (eksaserbasi sedang) apabila hanya memiliki 2
gejala utama,
Tipe III (eksaserbasi ringan) apabila memiliki 1 gejala
utama ditambah adanya infeksi saluran napas atas
lebih dari 5 hari, demam tanpa sebab lain, peningkatan
batuk
PENATALAKSANAAN
Bronkodilator
Bronkodilator yang lebih dipilih pada terapi
eksaserbasi PPOK adalah short-acting inhaled B2-
agonists.
Kortikosteroid
Kortikosteroid oral/intravena direkomendasikan
sebagai tambahan terapi pada penanganan
eksaserbasi PPOK.
Dosis prednisolon oral sebesar 30-40 mg/hari
selama 7-10 hari adalah efektif dan aman (GOLD,
2009).
PENATALAKSANAAN
Antibiotik
Berdasarkan bukti terkini yang ada, antibiotik harus
diberikan kepada:
a. Pasien eksaserbasi yang mempunyai tiga gejala
kardinal, yaitu peningkatan volume sputum,
sputum menjadi semakin purulen, dan
peningkatan sesak
b. Pasien eksaserbasi yang mempunyai dua gejala
kardinal, jika peningkatan purulensi merupakan
salah satu dari dua gejala tersebut
c. Pasien eksaserbasi yang memerlukan ventilasi
mekanik.
PENATALAKSANAAN
Terapi Oksigen
Pada eksaserbasi akut terapi oksigen merupakan
hal yang pertama dan utama, bertujuan untuk
memperbaiki hipoksemia dan mencegah
keadaan yang mengancam jiwa.
Ventilasi Mekanik
Tujuan utama penggunaan ventilasi mekanik
pada PPOK eksaserbasi berat adalah
mengurangi mortalitas dan morbiditas, serta
memperbaiki gejala.
04/08/13
Algoritma PPOK

04/08/13
KOMPLIKASI
Pencegahan
Mencegah terjadinya PPOK

Hindari asap rokok


Hindari polusi udara
Hindari infeksi saluran napas berulang

Mencegah perburukan PPOK

Berhenti merokok
Gunakan obat-obatan adekuat
Mencegah eksaserbasi berulang
Konseling dan Edukasi

- Edukasi ditujukan untuk mencegah penyakit bertambah berat


dengan cara menggunakan obat-obatan yang tersedia dengan
tepat, menyesuaikan keterbatasan aktivitas serta mencegah
eksaserbasi.
- Pengurangan pajanan faktor risiko
- Berhenti merokok
- Keseimbangan nutrisi antara protein lemak dan karbohidrat,
dapat diberikan dalam porsi kecil tetapi sering.
- Rehabilitasi
Latihan bernapas dengan pursed lip breathing ,Latihan
ekspektorasi ,Latihan otot pernapasan dan ekstremitas, Terapi
oksigen jangka panjang
LAPORAN KASUS
IDENTITAS PASIEN

Nama : Tn. IWJ


Umur : 47 tahun
Gender : Laki-Laki
Suku : Bali
Agama : Hindu
Pendidikan : Smp
St.Perkawinan : Sudah Menikah
Pekerjaan : Petani
Alamat : Tiga Kawan
Tgl Pemeriksaan: 11 Januari 2017
Anamnesis

Sesak

Dirasakan sudah sejak sejak 1 tahun yang lalu dan dirasakan memberat sejak
tadi pagi

Sesak dirasakan sangat berat sehingga butuh usaha untuk bernapas, sesak
dipengaruhi aktivitas (+) bila berjalan sejauh 50 meter

tidak dipengaruhi cuaca dan emosi, sering terbangun di malam hari karena
sesak (-), pasien tidur dengan 1 bantal,
Anamnesis

-Batuk sejak 1 tahun yang lalu


- Batuk dirasakan hilang timbul namun tidak sampai
Batuk mengganggu aktivitas sehari-hari
- Kadang disertai dahak putih kental yang sulit keluar
- akhir- akhir ini batuk dirasakan tambah berat

- satu minggu yang lalu pasien merasakan demam,


Demam membaik dengan obat penurun panas dan saat ini demam
tidak ada

Dahak disertai darah (-), nyeri dada (-), dada berdebar (-), kaki
bengkak (-), nafsu makan turun (+), keringat malam (-) BAB
dan BAK biasa.
Anamnesis

Satu minggu sebelum datang ke Puskesmas pasien sempat


dirawat di RSU Bangli karena mengalami keluhan sesak
Riwayat nafas yang dirasakan semakin lama semakin berat. Juga
Pengobatan mengeluhkan batuk yang semakin bertambah berat, pasien
mengaku batuk mengeluarkan dahak kental berwarna putih
kekuningan

Keluhan sesak disertai batuk sudah dirasakan sejak dari


Riwayat dulu dan sering berobat ke rumah sakit jika sesak
Penyakit bertambah parah.
Dahulu
Anamnesis

RIWAYAT KELUARGA

Tidak ada anggota keluarga pasien yang memiliki keluhan yang sama
dengan pasien.
Riwayat penyakit sistemik seperti asma, hipertensi, diabetes mellitus,
dan penyakit jantung disangkal oleh pasien

RIWAYAT SOSIAL

Pasien bekerja sebagai petani


Tinggal bersama istri beserta anak
Tidak bisa melakukan aktivitas berat dikarenakan sesaknya tersebut
Riwayat merokok dan sudah berhenti sejak lama
Tempat tidur jadi satu dengan dapur, sehingga sering terpapar asap
Pemeriksaan Fisik
Tanda Tanda Vital :
KU : Sakit sedang
Kesadaran : E4V5M6 /Compos mentis
Gizi : Baik
TD : 120/80 mmHg
Nadi : 88 kali/menit
Respirasi : 27 kali/menit, iregular, ekspirasi memanjang
Suhu aksila : 36,7C
TB : 170 cm
BB : 59 kg
BMI : 20,41 kg/m2
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Umum
Mata : Anemis -/-, ikterus -/-, reflek pupil +/+
isokor, edema palpebra -/-
THT
Telinga : Sekret -/-, hiperemis -/-
Hidung : discharge (-/-), deformitas (-), nafas cuping
hidung (-)
Tenggorokan: Tonsil T1/T1, faring hiperemi (-)
Lidah : Papil atrofi (-)
Leher : JVP 0 cmH2O, kelenjar tiroid normal,
pembesaran kelenjar getah bening (-)
Pemeriksaan Fisik
Thorax :
Cor
Inspeksi : Iktus cordis tidak tampak
Palpasi : Iktus kordis tidak teraba
Perkusi : Batas atas jantung ICS II
Batas kanan jantung PSL kanan
Batas kiri jantung MCL kiri ICS V
Auskultasi : S1S2 tunggal, regular, murmur (-)
Pemeriksaan Fisik
Lungs :
Insp.: simetris pada statis dan dinamis, barrel chest (+),
tampak pelebaran celah iga
Palp.: tactile fremitus , pelebaran celah iga (+)

Perc.: hypersonor hypersonor


hypersonor hypersonor
HYpersonor Hypersonor
+ + + + + +
+ + + +
Ausc. : vesicular rh + + wh
+ + + + + +
Pemeriksaan Fisik
Abdomen :
Inspeksi : Distensi (-)
Auskultasi : Bising usus (+) normal
Palpasi : Hepar/lien tidak teraba, nyeri
tekan (-)
Perkusi : Timpani, shifting dullness (-)

Ekstremitas
+ +
: - -
Hangat + + Edema - -
PEMERIKSAAN PENUNJANG

Rencana Pemeriksaan Penunjang

-DL
- AGD
- Thorak Foto

Jika sudah stabil cek Spirometri


Diagnosis Kerja

PPOK (Penyakit Paru


Obstruksi Kronis)
Eksaserbasi akut

Penatalaksanaan
-O2 3 Lpm
-Nebulizer combivent
-Methylprednisolone tab 3 x 4 mg
-Ambroxol syr (OBH) 3 x C (PO)
-Salbutamol tab 3x 1mg
- Eritromisin tab 3 x 500 mg tab
-KIE
Rencana Monitoring
Observasi keluhan (sesak, demam, mual, dll)
dan tanda vital
Rencana Edukasi
KIE pasien dan keluarga tentang penyakit
PPOK: kondisi pasien, faktor resiko yang harus
dihindari, prognosis, dan penatalaksanaan
berikutnya.
Masalah dan Hambatan

Kurangnya sarana untuk digunakan sebagai


pemeriksaan penunjang dan
kurangnya ketersediaan obat-obatan

Usulan atau Saran

Disarankan untuk mengoperasikan mikro lab serta penyediaan


obat-obatan diperbanyak sehingga pengobatan yang diberikan
ke masyarakat lebih optimal serta diadakannya sosialisasi ke
masyarakat tentang bahaya merokok serta bahaya paparan
asap yang berlebihan
PERBAHASAAN
Pembahasan Kasus
PEMBAHASAN KASUS
KLINIS TEORI
Anamnesis : Sesak dirasakan susah untuk PPOK eksaserbasi akut tipe I
bernapas tiga gejala PPOK yang berat yaitu sesak yang
mengeluhkan batuk yang berdahak bertambah berat, frekuensi batuk yang
berwarna putih kekuningan meningkat dan disertai dengan perubahan
warna sputum

Faktor resiko : memiliki kebiasaan merokok adanya paparan partikel atau gas beracun
disertai sering terpapar asap dapur karena berbahaya yang berhubungan dengan
tempat tidur jadi satu dengan dapur munculnya respon inflamasi pada saluran
nafas dan parenkim paru

Pem fisik: nafas 27x/m, sela-sela iga pasien terjadi peningkatan usaha napas akibat dari
melebar dan dari pemeriksaan auskultasi respon tubuh , adanya suara tambahan di
ditemukan adanya suara tambahan yaitu saluran napas dan paru-paru karena adanya
adanya suara rhonki dan wheezing penyempitan lumen
KLINIS TEORI

O2 3Lpm Terapi oksigenasi


Nebulizer Ventolin Bronkodilator
Eritromisin 3x500mg Antibiotik
PO Mukolitik
Kortikosteroid
Ambroxol 3x30mg PO
Prednison 3x4mg PO
Konseling dan Edukasi
Menjelaskan kepada pasien
mengenai penyakit PPOK
menghilangkan kebiasaan buruk
Makan
Makanan
yang
Jangan Merokok dan menghindari bergizi
paparan dari asap dapur

Memberikan nasihat kepada pasien


agar rutin kontrol ke Puskesmas
apabila sesaknya kumat atau
memberat
Daftar
Daftar Pustaka
Pustaka
Slamet H 2006. PPOK Pedoman Praktis Diagnosis & Penatalaksanaan di Indonesia. Jakarta:. p.
1-18.
IDI. 2014. Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan Kesehatan Primer.
Jakarta,p 391-394
Riyanto BS, Hisyam B 2006. Obstruksi Saluran Pernafasan Akut. Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam Edisi 4. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen IPD FKUI, p. 984-5.
Anonim 2008. Konsensus PPOK. Tersedia di:
http://www.klikpdpi.com/konsensus/konsensus-ppok/konsensus-ppok
Penyakit Paru Obstruktif Kronik ( PPOK ) - Pedoman Diagnosis & Penatalaksanaan Di
Indonesia, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia :2003
Antonio et all 2007. Global Strategy for the Diagnosis, Management, and Prevention of
Chronic Obstructive Pulmonary Disease. USA, p. 16-19 Didapat dari :
http://www.goldcopd.com/Guidelineitem.asp
Corwin EJ 2001. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC, p. 437-8.
Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI).2011. Penyakit Paru Obstruktif Kronik.Jakarta
Terima kasih