Anda di halaman 1dari 36

APLIKASI TEORI IDA JEAN

ORLANDO PADA LANSIA DENGAN


KASUS HIPERTENSI DI PANTI
SOSIAL TRESNA WERDA
PUSPAKARMA MATARAM
TAHUN 2014
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Hipertensi merupakan penyakit kardiovaskular
yang perlu mendapat perhatian serius karena
dampaknya membahayakan keselamatan jiwa.
Hipertensi yang tidak tertangani dengan baik dapat
berujung pada kematian karena tekanan darah yang
sangat tinggi atau karena penyakit lain yang dipicu
oleh hipertensi (Lanny Lingga, 2012).
Banyak penelitian menyatakan bahwa penyakit
ini menduduki peringkat kedua diantara penyakit-
penyakit ganas lainnya. Lebih parah lagi banyak
pasien hipertensi tidak mengetahui apakah dirinya
mengidap hipertensi atau tidak (Sofia Dewi & Digi
Familia, 2010).
Badan Kesehatan Dunia WHO mencatat tahun
2011 ada satu milyar orang didunia menderita
hipertensi dan dua pertiga diantaranya berada di
Negara berkembang yang berpenghasilan rendah-
sedang. Bila tidak dilakukan upaya yang tepat
jumlah ini akan terus meningkat, dan diprediksi
pada tahun 2025 sebanyak 29% atau 1,6 miliar
orang di seluruh dunia menderita hipertensi,
wilayah Afrika menempati posisi pertama dengan
jumlah penduduk penderita hipertensi sebesar
46%, Amerika menempati urutan paling bawah
dengan penduduk yang mengalami hipertensi
sebesar 35% sedangkan di Asia Tenggara memiliki
persentase sebesar 36% penduduk yang
mengalami hipertensi.
Menurut data Riskesdas tahun 2013, prevalensi
hipertensi secara nasional pada penduduk umur 18
tahun ke atas di Indonesia adalah sebesar 31.7%
sementara kasus hipertensi yang belum berhasil
terdiagnosa juga masih sangat tinggi yakni 76%. Menurut
provinsi, prevalensi hipertensi tertinggi di Kalimantan
Selatan (39.6%) dan terendah di Papua Barat (20.1%).
Nusa Tenggara Barat merupakan salah satu provinsi yang
mempunyai prevalensi hipertensi lebih tinggi dari angka
nasional (31.7%) yaitu sebesar 32.4%, dimana Kota
Mataram menempati urutan ke empat yaitu sebesar
29.3% , Kabupaten Dompu (18.4%). Kejadian paling
banyak yaitu di Kabupaten Lombok Tengah (38.9%)
(Riskesdas, 2013).
Berdasarkan data rekapitulasi di PSTW Puspakarma
Mataram jumlah penderita Hipertensi pada tahun 2013
sebanyak 13 orang lansia dari 74 lansia sedangkan pada
tahun 2014 jumlah lansia penderita Hipertensi dari
bulan JanuariAgustus sebanyak 12 orang karena 1
orang meninggal dari 68 orang lansia.
Untuk menjalankan tugas keperawatan, banyak teori keperawatan
yang digunakan, salah satunya adalah Ida Jean Orlando. Orlando
dalam penerapan asuhan keperawatan menggambarkan model
teorinya dengan lima konsep utama yaitu fungsi perawat profesional,
mengenal perilaku pasien, respon internal atau kesegeraan, disiplin
proses keperawatan serta kemajuan,
Adapun hubungan teori Orlando dengan penyakit hipertensi yaitu
pasien dengan penyakit hipertensi sangat membutuhkan bantuan
segera, dimana kita ketahui pasien yang menderita penyakit
hipertensi sering mengalami sakit kepala, sesak napas, sulit tidur dan
sebagainya, adanya respon verbal dan non verbal (perilaku pasien)
dari penderita hipertensi yang dimana orlando mengatakan dengan
diketahuinya perilaku pasien baik verbal maupun non verbal berarti
pasien membutuhkan bantuan. Jika pasien dengan hipertensi tidak
ditangani atau dibantu akan timbul komplikasi yang berakibat fatal
yaitu stroke, penyakit jantung, bahkan bisa menyebabkan kematian.
Berdasarakan latar belakang tersebut diatas penulis tertarik untuk
membuat Laporan Peminatan Aplikasi Teori Ida Jean Orlando
Nursing Procces Theory Dalam Asuhan Keperawatan Pada Pasien
Dengan Kasus Hipertensi Di PSTW Puspakarma Mataram.
1.2 Tujuan Penelitian
Tujuan Umum
Mampu memberikan asuhan keperawatan pada pasien Hipertensi
dengan menggunakan teori aplikasi Ida Jean Orlando secara benar,
tepat dan sesuai dengan standar keperawatan secara profesional.
Tujuan Khusus
Mampu melakukan pengkajian pada pasien hipertensi menurut Ida
Jean Orlando.
Mampu merumuskan diagnosa keperawatan berdasarkan hasil
pengkajian dari teori model keperawatan Ida Jean Orlando
Mampu menyusun rencana keperawatan sesuai dengan diagnosa
keperawatan yang muncul.
Mampu melaksanakan implementasi keperawatan berdasarkan
rencana keperawatan yang muncul
Mampu mengevaluasi hasil akhir keberhasilan perawat dalam
menerapkan asuhan keperawatan pada pasien Hipertensi dengan
teori Ida Jean Orlando
Manfaat Penelitian

Bagi perkembangan keperawatan.


Penulis
Institusi Pendidikan
Bagi Lokasi Penelitian
Bagi Profesi Perawat
BAB II
LANDASAN TEORI
Model Konseptual Teori Ida Jean Orlando
1. Definisi Keperawatan Menurut Teori Ida
Jean Orlando
Menurut Orlando, memperkenalkan
keperawatan bersifat unik dan independent
karena berhubungan langsung dengan kebutuhan
pasien yang harus dibantu, nyata atau potensial
serta pada situasi langsung. Teori Orlando
berfokus pada pasien sebagai individu, artinya
masing masing orang berada pada situasi yang
berbeda.
Teori keperawatan Orlando menekankan ada
hubungan timbal balik antara pasien dan perawat,
apa yang mereka katakan dan kerjakan akan saling
mempengaruhi.
Orlando menggambarkan model teorinya dengan
lima konsep utama yaitu fungsi perawat
profesional, mengenal perilaku pasien, respon
internal atau kesegeraan, disiplin proses
keperawatan serta kemajuan.
1. Tanggung jawab perawat
Tanggung jawab perawat yaitu membantu
apapun yang pasien butuhkan untuk memenuhi
kebutuhan tersebut (misalnya kenyamanan fisik
dan rasa aman ketika dalam mendapatkan
pengobatan atau dalam pemantauan. Perawat
harus mengetahui kebutuhan pasien untuk
membantu memenuhinya. Perawat harus
mengetahui benar peran profesionalnya, aktivitas
perawat profesional yaitu tindakan yang dilakukan
perawat secara bebas dan bertanggung jawab guna
mencapai tujuan dalam membantu pasien.
2. Mengenal perilaku pasien
Mengenal perilaku pasien yaitu dengan mengobservasi
apa yang dikatakan pasien maupun perilaku nonverbal yang
ditunjukan pasien.
3. Reaksi segera
Reaksi segera meliputi persepsi, ide dan perasaan
perawat dan pasien. Reaksi segera adalah respon segera atau
respon internal dari perawat dan persepsi individu pasien ,
berfikir dan merasakan.
4. Disiplin proses keperawatan
Menurut George (1995) mengartikan disiplin proses
keperawatan sebagai interaksi total (totally interactive) yang
dilakukan tahap demi tahap, apa yang terjadi antara perawat
dan pasien dalam hubungan tertentu, perilaku pasien, reaksi
perawat terhadap perilaku tersebut dan tindakan yang harus
dilakukan, mengidentifikasi kebutuhan pasien untuk
membantunya serta untuk melakukan tidakan yang tepat.
5. Kemajuan / peningkatan
Peningkatan berari tumbuh lebih, pasien menjadi lebih
berguna dan produktif.
Paradigma Keperawatan Teori Proses Keperawatan
Orlando
Perawat
Perawat adalah suatu profesi yang mempunyai fungsi autonomi yang
didefinisikan sebagai fungsi profesional keperawatan. Fungsi profesional yaitu
membantu mengenali dan menemukan kebutuhan pasien yang bersifat segera.
Itu merupakan tanggung jawab perawat untuk mengetahui kebutuhan pasien
dan membantu memenuhinya.
Manusia
Manusia bertindak atau berperilaku secara verbal dan nonverbal, kadang-
kadang dalam situasi tertentu manusia dalam memenuhi kebutuhannya
membutuhkan pertolongan, dan akan mengalami distress jika mereka tidak
dapat melakukannya. Hal ini dijadikan dasar pernyataan bahwa perawat
profesional harus berhubungan dengan seseorang yang tidak dapat menolong
dirinya dalam memenuhi kebutuhannya.
Sehat
Orlando tidak medefinisikan tentang sehat, tetapi berasumsi bahwa bebas dari
ketidaknyamanan fisik dan mental dan merasa adekuat dan sejahtera
berkontribusi terhadap sehat. Perasaan adekuat dan sejahtera dalam
memenuhi kebutuhannya berkontribusi terhadap sehat.
Lingkungan
Orlando berasumsi bahwa lingkungan merupakan situasi keperawatan yang
terjadi ketika perawat dan pasien berinteraksi, dan keduanya mempersepsikan,
berfikir, dan merasakan dan bertindak dalam situasi yang bersifat segera.
Disiplin Proses Keperawatan Dalam Teori Proses
Keperawatan
Disiplin proses keperawatan meliputi komunikasi perawat kepada
pasiennya yang sifatnya segera, mengidentifikasi permasalahan klien
yang disampaikan kepada perawat, menanyakan untuk validasi atau
perbaikan. Disiplin proses keperawatan didasarkan pada proses
bagaimana seseorang bertindak. Tujuan dari proses disiplin ketika
digunakan antara perawat dan pasien adalah untuk membantu
pemenuhan kebutuhan pasien.
1. Perilaku Pasien
Disiplin proses keperawatan dilaksanakan sesuai dengan perilaku pasien.
Seluruh perilaku pasien yang tidak sesuai dengan permasalahan dapat
dianggap sebagai ekspresi yang membutuhkan pertolongan, ini sangat
berarti pada pasien tertentu dalam kondisi gawat harus dipahami.
Orlando menekankan hal ini pada prinsip pertamanya dengan
diketahuinya perilaku pasien, atau tidak diketahuinya yang seharusnya
ada hal tersebut menunjukan pasien membutuhkan suatu bantuan.
2. Reaksi Perawat
Perilaku pasien menjadi stimulus bagi perawat, reaksi ini
tertidiri dari 3 bagian yaitu pertama perawat merasakan
melalui indranya, kedua yaitu perawat berfikir secara
otomatis, dan ketiga adanya hasil pemikiran sebagai suatu
yang dirasakan. Contoh perawat melihat pasien merintih,
perawat berfikir bahwa pasien mengalami nyeri kemudian
memberikan perhatian.
3. Tindakan Perawat / Fase Nursing Action
Setelah mevalidasi dan memperbaiki reaksi perawat
terhadap perilaku pasien, perawat dapat melengkapi proses
disiplin dengan tindakan keperawatan, Orlando menyatakan
bahwa apa yang dikatakan dan dilakukan oleh perawat
dengan atau untuk kebaikan pasien adalah merupakan suatu
tidakan profesional perawatan. Perawat harus menentukan
tindakan yang sesuai untuk membantu memenuhi
kebutuhan pasien.
4. Fungsi profesional
Tindakan yang tidak profesional dapat menghambat
perawat dalam menyelesaikan fungsi profesionalnya, dan
dapat menyebabkan tidak adekuatnya perawatan pasien.
Perawat harus tetap menyadari bahwa aktivitas
termasuk profesional jika aktivitas tersebut
direncanakan untuk mencapai tujuan pemenuhan
kebutuhan pasien.
Disiplin proses keperawatan adalah serangkaian tindakan
dengan suatu perilaku pasien yang membutuhkan
bantuan. Perawat harus bereaksi terhadap perilaku
pasien dengan mempersepsikan, berfikir dan
merasakan.Perawat membagi aspek reaksinya dengan
pasien, meyakinkan bahwa tindakan verbal dan
nonverbalnya adalah konsisten dengan reaksinya, dan
mengidentifikasi reaksi sebagai dirinya sendiri, dan
perawat mengunjungi pasien untuk memvalidasi
reaksinya.
Teori Lansia
Pengertian Lansia
Usia lanjut adalah proses alam yang tidak dapat dihindarkan. Usia
lanjut adalah mereka yang berusia diatas 55 tahun (Depkes RI, 1992
dalam Nugroho, 2012)
Batasan Usia Lanjut
Menurut Organisasi Kesehatan dunia.
Usia lanjut dikelompokkan menjadi usia pertengahan (middle age), ialah
kelompok usia 45-59 tahun, lanjut usia (elderly) antara usia 60-74 tahun,
lanjut usia tua 75-90 tahun, usia sangat tua (very old) diatas 90 tahun
(Wahyudi Nugroho, 2012).
Teori-Teori Proses Menua
Didalam Nugroho (2012) disebutkan bahwa teori proses menua ada
beberapa macam diantaranya adalah :
1.Teori biologi genetika (teori jam biologic)
2. Teori biologik nongenetik
3. Teori psikososial
Faktor-FaktorYang Mempengaruhi Ketuaan
Faktor-faktor yang mempengaruhi ketuaan adalah
herediter, nutrisi, status kesehatan, pengalaman hidup,
lingkungan dan stress
Perubahan Yang Terjadi Pada Lansia
1. Perubahan fisik
sel, Sistem Pencernaan, Sisitem kekebalan, Sistem
kardiovaskuler , Sistem Respirasi , Sistem otak dan
persyarafan , Sistem endokrin, Sistem genitrourinaria ,
Sistem muskuloskeletal , Sistem Indera dan sistem
integumen
2. Perubahan mental
3. Perubahan perubahan psikososial
Landasan Teori Hipertensi
Pengertian Hipertensi
Hipertensi dapat diartikan sebagai tekanan
darah persisten dimana tekanan darahnya diatas
140/90 mmHg. Pada lansia hipertensi didefinisikan
sebagai tekanan sistoliknya 160 mmHg dan
tekanan diastoliknya 90 mmHg (Brunner dan
Suddarth, 2002).
Hipertensi adalah suatu keadaan dimana
dijumpai tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg
atau lebih untuk usia 13-50 tahun dan tekanan
darah mencapai 160/95 mmHg untuk usia diatas
50 tahun. Dan harus dilakukan pengukuran
tekanan darah minimal sebanyak dua kali untuk
lebih memastikan keadaan tersebut (WHO, 2008).
Etiologi
Menurut Sutanto (2009) penyebab hipertensi pada orang dengan
lanjut usia adalah terjadinya perubahan-perubahan pada:
Elastisitas dinding aorta menurun
Katub jantung menebal dan menjadi kaku
Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun
sesudah berumur 20 tahun, kemampuan jantung memompa darah
menurun menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya.
Kehilangan elastisitas pembuluh darah. Hal ini terjadi karena
kurangnya efektifitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi
Meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer.
Berdasarkan etiologinya,hipertensi menurut Herlambang, 2013 dapat
dibedakan menjadi :
1. Hipertensi primer atau esensial
2. Hipertensi sekunder
Faktor-Faktor Resiko Terjadinya Hipertensi
1. Faktor Genetik
Usia, Faktor keturunan, Etnis dan Jenis kelamin
2. Faktor lingkungan
Stres dan beban mental, Konsumsi makanan yang berlebih
dan obesitas, Merokok, Mengkonsumsi alkohol,
Mengkonsumsi garam berlebih, Kebiasaan minum kopi,
dan Kurang olahraga
Tanda Dan Gejala Klinis
Menurut (Sofia Dewi & Digi Famila, 2010) gejala
hipertensi adalah :
Sakit kepala bagian belakang dan kaku kuduk.
Sulit tidur dan gelisah atau cemas dan kepala pusing.
Dada berdebar-debar.
Lemas, sesak nafas, berkeringat, dan pusing.
patofisiologi
Mekanisme yang mengontrol konnstriksi dan relaksasi pembuluh darah
terletak dipusat vasomotor, pada medulla diotak. Dari pusat
vasomotor ini bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke
korda spinalis dan keluar dari kolumna medulla spinalis ganglia simpatis
di toraks dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan
dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui system saraf
simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion
melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut saraf pasca
ganglion ke pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya
noreepineprin mengakibatkan konstriksi pembuluh darah. Berbagai
factor seperti kecemasan dan ketakutan dapat mempengaruhi respon
pembuluh darah terhadap rangsang vasokonstriksi.
Pada saat bersamaan dimana system saraf simpatis merangsang
pembuluh darah sebagai respons rangsang emosi, kelenjar adrenal juga
terangsang, mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi. Medulla
adrenal mensekresi epinefrin, yang menyebabkan vasokonstriksi.
Korteks adrenal mensekresi kortisol dan steroid lainnya, yang dapat
memperkuat respons vasokonstriktor pembuluh darah.Vasokonstriksi
yang mengakibatkan penurunan aliran ke ginjal, menyebabkan
pelepasan rennin. Rennin merangsang pembentukan angiotensin I yang
kemudian diubah menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat,
yang pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks
adrenal. Hormon ini menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus
ginjal, menyebabkan peningkatan volume intra vaskuler. Semua factor
ini cenderung mencetuskan keadaan hipertensi.
Komplikasi Hipertensi
Dapat terjadi perdarahan diotak, atau akibat embolus yang terlepas dari
pembuluh darah non-otak yang terpajan tekanan tinggi.
Infak Miokardium
Infakmiokardium dapat terjadi apabila ateri koroner yang aterosklerotik
tidak dapat menyuplai darah yang cukup oksigen ke miokardium atau
apabila terbentuk thrombus yang menghambat aliran darah melalui ateri
koroner.
Gagal Ginjal
Gagal ginjal dapat terjadi karena kerusakan progresif akibat tekanan yang
tinggi pada kapiler-kapiler ginjal,yaitu glomerulus. Dengan rusaknya
glomerulus,darah akan mengalir keunit-unit fungsional ginjal, nefron akan
terganggu dan dapat berlanjut menjadi hipoksik dan kematian.
Ensefalopati
Ensefalopati dapat terjadi terutama pada hipertensi maligna
(hipertensi yang meningkat cepat). Tekanan yang sangat tinggi pada
kelainan ini dapat menyebabkan peningkatan tekanan kapiler dan
mendorong cairan kedalam ruang interstitium di seluruh susunan saraf
pusat.Neuron-neuron disekitarnya kolaps dan terjadi koma serta
kematian.
Penatalaksanaan
Hipertensi esensial tidak dapat diobati tetapi dapat
diberikan pengobatan untuk mencegah terjadinya
komplikasi. Langkah awal biasanya adalah merubah gaya
hidup penderita (Herlambang, 2013):
Penderita hipertensi yang mengalami kelebihan berat
badan dianjurkan untuk menurunkan berat badannya
sampai batas ideal.
Merubah pola makan pada penderita diabetes,
kegemukan atau kadar kolesterol darah tinggi.
Mengurangi pemakaian garam sampai kurang dari 2,3
gram natrium atau 6 gram natrium klorida setiap harinya
(disertai dengan asupan kalsium, magnesium dan kalium
yang cukup) dan mengurangi alkohol.
Olahraga teratur yang tidak terlalu berat.
Berhenti merokok karena merokok dapat merusak
jantung dan sirkulasi darah dan meningkatkan risiko
penyakit jantung
Pemberian obat-obatan
Pemeriksaan Penunjang Hipertensi
Pemeriksaan labrotorium rutin yang dilakukan sebelum
memulai terapi bertujuan menentukan adanya kerusakan
organ resiko lain atau mencari penyebab hipertensi
sebagai tambahan dapat dilakukan pemeriksaan lain
seperti kreatinin, proteinurin 24 jam, asam urat,
kolesterol/LDL, TSH, EKG dan CT-Scan, foto rontgen,
dan glukosa.
TINJAUAN KASUS
Gambaran Kasus pada Ny K Dengan Menggunakan
Teori Ida Jean Orlando
Perilaku Pasien dan Reaksi Perawat
Pengkajian
Biodata
Nama : Ny K
Usia/tgl lahir : 70 Tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Alamat : Ampenan
Suku : Sasak
Agama : Islam
Pendidikan : TS
Tanggal masuk : 02 Mei 2013
Wisma : Beberu
Tanggal pengkajian : 02-10-2014
Gambaran Kasus
Ny K berusia 70 tahun tinggal di wisma Beberu PSTW Puspakarma
Mataram. Pada saat dilakukan pengkajian pada hari kamis tanggal 2
Oktober 2014 jam 10.18 wita didapatkan data Ny K mengeluh sakit
kepala, pusing, nyeri dirasakan dibagian belakang atau tengkuk, skala nyeri 6
(0-10), nyeri seperti tertekan, nyeri dirasakan hilang timbul dan pasien
tampak meringis. Pasien juga mengeluh lemas tidak bisa melakukan aktivitas
seperti biasa, pasien hanya bisa melakukan aktivitas ringan seperti makan,
minum, mandi dan pada saat ke kamar mandi pasien tampak berpegangan
pada tembok. Keluhan ini dirasakan sejak satu mingggu yang lalu, pasien
diberikan obat amlodipine dan asam mefenamat.
Pasien mengatakan tidak mengalami kesulitan bernapas RR 21x
permenit, tidak ada penggunaan otot bantu pernapasan, pasien tidak
mengalami gangguan nafsu makan, pasien makan 3x sehari dengan
menghabiskan porsi yang telah disiapkan oleh PSTW Puspakarma Mataram,
pasien mengetahui makanan apa yang tidak boleh dikonsumsinya. Ny K
tidak mengalami kesulitan tidur, pasien biasa tidur siang dan mengatakan
tidur malam jam 21.00 dan bangun jam 05.00 wita. Pasien mengatakan
memiliki riwayat hipertensi kurang lebih sejak 5 tahun yang lalu, pernah
dirawat di Rumah Sakit 4x dan pada saat dilakukan pemeriksaan
didapatkan hasil TD: 170/110 mmHg, Nadi 91x/menit, RR: 21x/menit dan
suhu 36,8 C.
Fase Nursing Action/ Tindakan Perawat.
Analisa Data
NO DATA ETIOLOGI MASALAH
DS : pasien mengatakan pusing dan sakit kepala Terjadinya penyumbatan pembuluh darah
1 P : Klien menyatakan nyeri kepala terutama jika Nyeri kepala
bangun dari tempat tidur vasokontriksi
Q : Klien menyatakan nyeri sepeti tertekan.
R : Klien menyatakan nyeri pada tengkuk terganggunya sirkulasi darah pada otak
S : Klien menyatakan skala nyeri 6.
T : Klien menyatakan nyeri hilang timbul resistensi pembuluh darah otak
DO :
Ekspresi wajah tampak meringis
TD : 170/110 mmHg merangsang SSP mengeluarkan reseptor
Nadi : 89x/menit nyeri
RR : 21x/menit
Suhu : 36,8 C. nyeri

DS : Aterosklerosis di pembuluh darah


2 Pasien mengatakan merasa lemas Intoleransi Aktivitas
Pasien mengatkan tidak bisa beraktivitas
Lumen Vaskuler menyempit
seperti biasanya.
DO:
pasien tampak lemas Resistensi perifer meningkat
kekuatan otot 5 5
Penurunan aliran darah

Supali O2 dan nutrisi otot rangka


menurun

Peningkatan timbunan asam laktat

Fatique
Diagnosa Keperawatan
Gangguan rasa nyaman nyeri : sakit kepala
berhubungan dengan adanya peningkatan
tekanan pembuluh darah pada otak
Intoleransi aktivitas berhubungan dengan
ketidakseimbangan antara suplai dan
kebutuhan oksigen
BAB IV
PEMBAHASAN
Pengkajian
Pengkajian pada Ny K pada kasus hipertensi telah menggunakan perilaku
pasien baik verbal maupun non verbal dan didapatkan data hasil pengkajian yaitu
Ny K mengeluh sakit kepala, pusing, nyeri dirasakan dibagian belakang atau
tengkuk, skala nyeri 6 (0-10), nyeri seperti tertekan, nyeri dirasakan hilang timbul
dan pasien tampak meringis dengan TD: 170/110 mmHg, Nadi 91x/menit, RR:
21x/menit dan suhu 36,8 C. Pasien juga mengeluh lemas tidak bisa melakukan
aktivitas seperti biasa, pasien hanya bisa melakukan aktivitas ringan seperti makan,
minum, mandi dan pada saat ke kamar mandi pasien tampak berpegangan pada
tembok.
Menurut teori keperawatan Ida Jean Orlando pada tahap penilaian
(pengkajian), perawat menilai perilaku pasien baik yang verbal maupun nonverbal.
Pengumpulan data dilakukan dari perilaku yang di tunjukkan pasien.
Penekanan pengkajian pada Teori Ida Jean Orlando adalah perilaku pasien.
Dengan adanya respon verbal dan non verbal (perilaku pasien) dari penderita
hipertensi yang dimana orlando mengatakan dengan diketahuinya perilaku pasien
baik verbal maupun non verbal berarti pasien membutuhkan bantuan. Jika pasien
dengan hipertensi tidak ditangani atau dibantu dengan segera maka akan timbul
komplikasi yang berakibat fatal yaitu stroke, penyakit jantung, bahkan bisa
menyebabkan kematian.
Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang muncul adalah Gangguan rasa nyaman
nyeri : sakit kepala berhubungan dengan adanya peningkatan
tekanan pembuluh darah pada otak ditandai dengan pasien
mengeluh sakit kepala/pusing, nyeri dirasakan dibagian belakang atau
tengkuk, dengan skala nyeri 6 (0-10), nyeri dirasakan seperti
tertekan, nyeri dirasakan hilang timbul dan pasien tampak meringis
dengan hasil pemeriksaan tanda-tanda vital yaitu TD: 170/110
mmHg, Nadi 91x/menit, RR: 21x/menit dan suhu 36,8 C. Intoleransi
aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan
kebutuhan oksigen ditandai dengan pasien tampak lemas.
Dalam menegakkan diagnosa keperawatan , penulis mengacu pada
hasil pengkajian dengan menggunakan teori model Ida Jean Orlando
dan disesuaikan juga dengan patofisiologi penyakit yang dituangkan
dalam pohon masalah sesuai dengan gangguan yang ditimbulkan.
Intervensi Keperawatan
Berdasarkan diagnosa keperawatan yang
muncul dari hasil pengkajian dengan menggunakan teori
model keperawatan Ida Jean Orlando intervensi yang
akan dilakukan yaitu diagnosa 1 dengan intervensi Kaji
karakteristik nyeri ,Ajarkan teknik relaksasi dengan
menarik nafas dalam dan keluarkan nafas secara
perlahan,Atur posisi pasien yang nyaman/semi
fowler,Observasi tanda-tanda vital dan Berikan pijatan
punggung dan leher. Diagnosa 2 dengan intervensi Kaji
toleransi pasien terhadap aktivitas, Observasi tanda-
tanda vital, Instruksikan tekhnik penghematan energi
(menggunakan kursi saat mandi, duduk, menyisir rambut
atau menyikat gigi, lakukan aktivitas dengan perlahan dan
Berikan dorongan kepada pasien untuk melakukan
aktifitas secara bertahap dan berikan bantuan sesuai
kebutuhan
Implementasi Keperawatan
Pada tahap implementasi, sesuai dengan intervensi
yang telah ditetapkan, perawat membantu pasien sesuai
dengan perilaku pasien. Intervensi yang diberikan perawat
sifatnya individual sesuai dengan keluhan pasien.
Evaluasi
Hasil evaluasi Asuhan Keperawatan pada Kasus
hipertensi dengan menggunakan Konsep Ida Jean Orlando
yaitu pasien mengatakan nyeri sudah berkurang, nyeri
seperti nyut-nyutan, skala nyeri 2 (0-10), nyeri dirasakan
hilang timbul dan pasien tampak rileks, hasil pemeriksaan
tanda-tanda vital yaitu TD: 140/90 mmHg, Nadi :86x/menit,
RR: 20x/menit dan Suhu: 36, 4 C. Evaluasi diagnosa
kedua yaitu pasien mengatakan bisa melakukan aktivitas
selain makan, minum, dan ke toilet, pasien juga mengatakan
sudah bisa jalan tanpa bantuan.
Kekuatan Teori Ida Jean Orlando Pada Lansia
Dengan Kasus Hipertensi
Dalam melakukan pengkajian keperawatan Ida Jean
Orlando menggunakan perilaku pasien, Penerapan
konsep Teori Orlando pada lansia dengan kasus
hipertensi sangat baik dimana perawat
mengumpulkan data berupa respon verbal maupun
non verbal untuk dianalisa dan dilakukan tindakan
keperawatan kepada pasien menjadi lebih cepat dan
terarah, sesuai dengan kebutuhan pasien.
Kita juga tidak perlu mengkaji lebih detail dan
mendalam seperti teori ahli yang lain seperti Virgia
Henderson yang meski mengkaji 14 item dan
Florence yang mengkaji 12 item yang akan lebih
banyak menghabiskan waktu untuk pengkajian.
Kelemahan Teori Ida Jean Orlando Pada Lansia Dengan
Kasus Hipertensi
Dalam proses asuhan keperawatan pada kasus hipertensi yang
menggunakan aplikasi teori Ida Jean Orlando dalam pengkajian
ada beberapa hal yang masih terasa kurang yaitu pengkajian Ida
Jean Orlando tidak mampu mengkaji perilaku yang tidak terlihat.
Pengkajian menurut Ida Jean Orlando dalam membuat asuhan
keperawatan hanya berfokus pada perilaku pasien. Pengkajian
untuk riwayat penyakit sekarang, dahulu, riwayat penyakit
keluarga tidak ada dan riwayat kebiasaan hidup sehari-hari tidak
ada sehingga dalam laporan ini pengkajian Ida Jean Orlando
tidak bisa mengetahui riwayat penyakit pasien.
Kurang lengkapnya pengkajian pada lansia seperti tidak
terkajinya pengkajian khusus lansia seperti masalah kesehatan
kronis, fungsi kognitif, status fungsional, status psikologis dan
tidak terkajinya pemeriksaan fisik (head to toe).
Kurang lengkapnya pengumpulan data dari segi data tambahan
seperti tidak adanya hasil pemeriksaan yang lain seperti
pemeriksaan diagnostik, dll
BAB V
PENUTUP
Kesimpulan
Pengkajian pada pasien hipertensi dengan menggunakan teori Ida Jean Orlando
di PSTW Puspakarma Mataram lebih banyak terfokus pada perilaku pasien
atau apa yang dirasakan pasien pada saat itu.
Diagnosa keperawatan dirumuskan dari hasil pengkajian yang didapatkan dari
perilaku pasien baik data verbal maupun non verbal sesuai dengan teori Ida Jean
Orlando pada pasien hipertensi.
Membuat intervensi asuhan keperawatan pada pasien hipertensi sesuai dengan
teori Ida Jean Orlando yaitu rencana keperawatan disusun mandiri berdasarkan
kebutuhan pasien yang ditunjukkan dari perilaku pasien baik verbal maupun non
verbal.
Mengetahui prinsip implementasi asuhan keperawatan pada pasien hipertensi
sesuai dengan teori disiplin proses keperawatan Ida Jean Orlando yaitu perawat
melakukan interaksi total (totally interactive) yang dilakukan tahap demi tahap,
apa yang terjadi antara perawat dan pasien dalam hubungan tertentu, perilaku
pasien, reaksi perawat terhadap perilaku tersebut dan tindakan yang harus
dilakukan, mengidentifikasi kebutuhan pasien untuk membantunya serta untuk
melakukan tidakan yang tepat.
Mengevaluasi hasil akhir asuhan keperawatan pada pasien hipertensi sesuai
dengan teori Ida Jean Orlando.
Saran
Bagi Penulis
Asuhan Keperawatan berikutnya agar lebih teliti dan akurat
dalam pengkajian agar diagnosa yang diangkat sesuai dengan
keluhan pasien.
Bagi Instansi Terkait
Dapat di gunakan sebagai salah satu acuan dalam meningkatkan
asuhan keperawatan pada pasien dengan diagnosa medis
Hipertensi
Bagi Akademik
Dengan asuhan keperawatan ini diharapkan dapat dijadikan
tambahan dalam meningkatkan sumber daya manusia yang lebih
dan berkembang terutama menambah literatur tentang asuhan
keperawatan pada pasien Hipertensi.
Bagi Pembaca
Penulis menyadari, makalah ini cukup jauh dari sempurna. Maka
penulis sangat mengharap dan sangat terbuka untuk menerima
kritik dan saran yang membangun dari pembaca. Untuk itu
penulis ucapkan terima kasih.
TERIMA KASIH

Anda mungkin juga menyukai