Anda di halaman 1dari 35

KAPASITAS DUKUNG

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


KAPASITAS DUKUNG

TEORI KAPASITAS DUKUNG PONDASI DANGKAL


Konsep perhitungan daya dukung batas tanah dan bentuk keruntuhan geser dalam tanah dapat dilihat
dalam model pondasi menerus dengan lebar (B) yang diletakkan pada permukaan lapisan tanah pasir padat
(tanah yang kaku) seperti pada Gambar 1a. Apabila beban terbagi rata (q) tersebut ditambah, maka
penurunan pondasi akan bertambah pula. Bila besar beban terbagi rata q = qu (qu = daya dukung tanah
batas) telah dicapai, maka keruntuhan daya dukung akan terjadi, yang berarti pondasi akan mengalami
penurunan yang sangat besar tanpa penambahan beban q lebih lanjut seperti Gambar 1b. Hubungan antara
beban dan penurunan ditunjukkan pada kurva I pada Gambar 1b. Untuk keadaan ini, qu didefinisikan sebagai
daya dukung batas dari tanah

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


PONDASI DANGKAL DATA SPT

Persamaan Mayerhoof Persamaan BOWLES

untuk pondasi < 1 m untuk pondasi < 1 m

Qa = (N/4) / K Qa = (N/2.5) / K

untuk pondasi > 1 m untuk pondasi > 1 m

Qa = (N/6) [(B+1)/B^2 ]/ K Qa = (N/4) [(B+1)/B^2 ]/ K

K = 1+0.33 (D/B) 1.33

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


Contoh PONDASI DANGKAL DATA SPT

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


GENERAL SHEAR FAILURE
Keruntuhan geser umum (General Shear
Failure)
Kondisi kesetimbangan plastis terjadi
penuh diatas failure plane
Muka tanah di sekitarnya mengembang
(naik)
Keruntuhan terjadi di satu sisi sehingga
pondasi miring
Terjadi pada tanah dengan
kompresibilitas rendah (padat dan
kaku)
Kapasitas dukung batas (qu) bisa
diamati dengan baik

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


Keruntuhan geser setempat (Local Shear Failure)

Muka tanah disekitar pondasi tidak


terlalu mengembang, karena dorongan
kebawah dasar pondasi lebih besar
Kondisi kesetimbangan plastis hanya
terjadi pada sebagian tanah saja
Miring yang terjadi pada pondasi tidak
terlalu besar terjadi
Terjadi pada tanah dengan
kompresibilitas tinggi yang ditunjukkan
dengan penurunan yang relatif besar
Kapasitas dukung batas (qu) sulit
dipastikan sulit dianalisis, hanya bisa
diamati penurunannya saja

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


Punching Shear Failure

Terjadi desakan di bawah dasar pondasi


disertai pergeseran arah vertikal sepanjang
tepi
Tidak terjadi kemiringan pondasi dan
pengangkatan di permukaan tanah
Penurunan yang terjadi cukup besar
Terjadi pada tanah dengan kompresibilitas
tinggi dan kompresibilitas rendah jika
kedalaman pondasi agak dalam

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


Zona I
Bagian ACD adalah bagian yang tertekan ke bawah dan menghasilkan suatu keseimbangan plastis
dalam bentuk zona segitiga di bawah pondasi dengan sudut ACD = CAD = = 45o + /2. Gerakan
bagian tanah ACD ke bawah mendorong tanah disampingnya ke samping.
Zona II
Bagian ADF dan CDE disebut radial shear zone (daerah geser radial) dengan curve DE dan DF yang
bekerja pada busur spiral logaritma dengan pusat ujung pondasi.
Zona III
Bagian AFH dan CEG dinamakan zona pasif Rankine dimana bidang tegangannya merupakan bidang
longsor yang mengakibatkan bidang geser di atas bidang horisontal tidak ada dan digantikan dengan
beban sebesar q = . Df.
Terzaghi (1943), memberikan beberapa rumus sesuai dengan bentuk geometri pondasi tersebut.
Rumus-rumus yang dimaksud antara lain:

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


Untuk tanah dengan keruntuhan geser umum (general shear
failure)
1. Kapasitas daya dukung pondasi menerus dengan lebar B
qu = c Nc + Df Nq + 1/2 B N
2. Kapasitas daya dukung pondasi lingkaran dengan jari-jari R
qu = 1,3 c Nc + Df Nq + 0,6 R N
3. Kapasitas daya dukung pondasi bujur sangkar dengan sisi B
qu = 1,3 c Nc + Df Nq + 0,4 B N
4. Kapasitas daya dukung pondasi segi empat (B x L)
qu = c Nc (1 + 0,3 B/L) + Df Nq + 1/2 B N (1-0,2 . B/L)

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


Untuk tanah dengan keruntuhan geser setempat (local shear failure)
Untuk harga c diganti c = 2/3 c dan harga diganti = tan-1 (2/3 tan ). Dari
nilai c dan didapatkan faktor-faktor daya dukung untuk kondisi
keruntuhan lokal: Nc; Nq; N (Tabel 1 atau Gambar 1.8).
1. Kapasitas daya dukung pondasi menerus dengan lebar B
qu = c Nc + Df Nq + 1/2 B . N
2. Kapasitas daya dukung pondasi lingkaran dengan jari-jari R
qu = 1,3 c Nc + Df Nq + 0,6 R N
3. Kapasitas daya dukung pondasi bujur sangkar dengan sisi B
qu = 1,3 c Nc + Df Nq + 0,4 B N
4. Kapasitas daya dukung pondasi persegi empat (BxL)
qu = c Nc (1 + 0,3 B/L) + Df Nq + 1/2 B Ny (1-0,2.BL)

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


Pengaruh Permukaan Air Tanah Terhadap Kapasitas Dukung

Kasus I : jika letak muka air tanah, 0 < D1 Df :


q = D1. + D2(sat - w) dan
nilai dibawah pondasi menjadi : = sat w

Kasus II : jika letak muka air tanah, 0 < d B :


q = .Df dan nilai dibawah pondasi
menjadi : d ( )
B

Kasus III : jika letak muka air tanah, d B :

Muka air tanah tidak berpengaruh terhadap


kapasitas dukung tanah.

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


Rumus Kapasitas Dukung Secara Umum (Meyerhof)

Meyerhof (1963) telah mengembangkan rumus-rumus


perhitungan kapasitas daya dukung dengan mempertimbangkan
faktor : kedalaman, bentuk dan kemiringan beban. Rumus daya
dukung secara umum dari Meyerhof adalah :
qu = c.Nc.Fcs.Fcd.Fci + .Df.Nq.Fqs.Fqd.Fqi + ..B.N.Fs.Fd.F

Nc Nq N Nq/Nc tan Nc Nq N Nq/Nc tan


qu = daya dukung maksimum 0 5,14 1,00 0,00 0,20 0,00 26 22,25 11,85 12,54 0,53 0,49
c = kohesi tanah 1 5,38 1,09 0,07 0,20 0,02 27 23,94 13,20 14,47 0,55 0,51
2 5,63 1,20 0,15 0,21 0,03 28 25,80 14,72 16,72 0,57 0,53
B = lebar pondasi 3 5,90 1,31 0,24 0,22 0,05 29 27,86 16,44 19,34 0,59 0,55
= berat isi tanah 4 6,19 1,43 0,34 0,23 0,07 30 30,14 18,40 22,40 0,61 0,58
Df = kedalaman pondasi 5 6,49 1,57 0,45 0,24 0,09 31 32,67 20,63 25,99 0,63 0,60
6 6,81 1,72 0,57 0,25 0,11 32 35,49 23,18 30,22 0,65 0,62
Fcs, Fqs, Fs = faktor bentuk 7 7,16 1,88 0,71 0,26 0,12 33 38,64 26,09 35,19 0,68 0,65
Fcd, Fqd, Fd = faktor kedalaman 8 7,53 2,06 0,86 0,27 0,14 34 42,16 29,44 41,06 0,70 0,67
9 7,92 2,25 1,03 0,28 0,16 35 46,12 33,30 48,03 0,72 0,70
Fci, Fqi, Fi = faktor kemiringan beban 10 8,35 2,47 1,22 0,30 0,18 36 50,59 37,75 56,31 0,75 0,73
N c; N q ; N = faktor daya dukung, Berdasar tabel 11 8,80 2,71 1,44 0,31 0,19 37 55,63 42,92 66,19 0,77 0,75
12 9,28 2,97 1,69 0,32 0,21 38 61,35 48,93 78,03 0,80 0,78
13 9,81 3,26 1,97 0,33 0,23 39 67,87 55,96 92,25 0,82 0,81
14 10,37 3,59 2,29 0,35 0,25 40 75,31 64,20 109,41 0,85 0,84
15 10,98 3,94 2,65 0,36 0,27 41 83,86 73,90 130,22 0,88 0,87
16 11,63 4,34 3,06 0,37 0,29 42 93,71 85,38 155,55 0,91 0,90
17 12,34 4,77 3,53 0,39 0,31 43 105,11 99,02 186,54 0,94 0,93
18 13,10 5,26 4,07 0,40 0,32 44 118,37 115,31 224,64 0,97 0,97
19 13,93 5,80 4,68 0,42 0,34 45 133,88 134,88 271,76 1,01 1,00
20 14,63 6,40 5,39 0,43 0,36 46 152,10 158,51 330,35 1,04 1,04
21 15,82 7,07 6,20 0,45 0,38 47 173,64 187,21 403,67 1,08 1,07
22 16,88 7,82 7,13 0,46 0,40 48 199,26 222,31 496,01 1,12 1,11
23 18,05 8,66 8,20 0,48 0,42 49 229,93 265,51 613,16 1,15 1,15
24 19,32 9,60 9,44 0,50 0,45 50 266,89 319,07 762,89 1,20 1,19
25 20,72 10,66 10,88 0,51 0,47
Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal
Pondasi Dangkal metoda Hansen
Dalam mendesain pondasi dangkal, Hansen (1970) menyarankan persamaan
daya dukung sebagai berikut :

Untuk desain pondasi dengan nilai () > 0 formula dari Hansen sebagai berikut

Untuk desain pondasi dengan nilai () = 0 formula dari Hansen sebagai berikut

Untuk mendapatkan nilai-nilai koefisien di atas mayerhoff menggunakan


persaman sebagai berikut

Untuk nilai () = 0, desain pondasi dilakukan pendekatan hubungan


nilai Df/B dengan nilai dc sebagai berikut

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


Pondasi Dangkal metoda Vesic

Metode Vesic (1973, 1974) yang pada dasarnya merupakan pengembangan metode
Hansen, memiliki perbedaan pada pemakaian N. menggunakan persamaan N =
2(Nq + 1) tan, dan variasi atas beberapa faktor ii, bi, dan gi. Beberapa faktor Vesic itu
kurang konservatif daripada faktor-faktor Hansen dan kedua metode tersebut tidak
ada yang telah diuji kebenarannya secara luas memakai pengujian-pengujian
lapangan berskala penuh, maka harus sangat berhati- hati dalam pemakaiannya

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


q0 = 20 kN/m2

Contoh 1= 19 kN/m3
Df = 1 m c1 = 20 kN/m2
1 = 21 0

2= 19.9 kN/m3
B= 1.8 m c2 = 50 kN/m2
2 = 30 0

Berapa kapasitas dukung ultimte (qu), dan kedalaman muka air tanah sangat dalam.
Bagaimana pengaruhnya terhadap kapasitas dukung ultimate jika tidak terdapat beban terbagi rata

Bila dianggap terjadi keruntuhan geser umum, sehingga diperoleh nilai kapasitas dukung Terzaghi:
Nc = 37.16
Nq = 22.46
N = 19.13

Kapasitas dukung pondasi memanjang dihitung dengan persamaan:


qu = c 2Nc + (p0 + q0) Nq + 0.52 BN

p0 = Df 1
p0 = 1 x 19
2
p0 = 19 kN/m

Maka kapasitas dukung ultimate bila terdapat beban terbagi rata q 0 :


qu = 50 37.2 +( 19 + 20 ) 22.46 + 0.5 19.9 1.8 19.13
qu = 3076.56 kN/m2

Bila tidak terdapat beban terbagi rata:


qu = ( 50 37.2 )+( 19 x 22.46 ) + ( 0.5 19.9 1.8 19.13 )
qu = 2627.36 kN/m2 < 3076.5583 kN/m2

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


Contoh
Keruntuhan Geser Umum
PONDASI DANGKAL TERZAGHI
Nc Nq N
PONDASI DIANGGAP GENERAL SHEAR FAILURE 26 27.09 14.21 9.84
q0 = 20 kN/m2 27 29.24 15.9 11.6
28 31.61 17.81 13.7
29 34.24 19.98 16.18
30 37.16 22.46 19.13
1= 19 kN/m3 31 40.41 25.28 22.65
Df = 1 m c1 = 20 kN/m2 32 44.04 28.52 26.87
33 48.09 32.23 31.94
1 = 21 0
34 52.64 36.5 38.04
35 57.75 41.44 45.41
2= 19.9 kN/m3 36 63.53 47.16 54.36
B= 1.8 m c2 = 50 kN/m2
37 70.01 53.8 65.27
2 = 30 0
38 77.5 61.55 78.61
39 85.97 70.61 95.03
Berapa kapasitas dukung ultimte (qu), dan kedalaman muka air tanah sangat dalam.
40 95.66 81.27 115.31
Bagaimana pengaruhnya terhadap kapasitas dukung ultimate jika tidak terdapat beban terbagi rata
41 106.81 93.85 140.51
Kapasitas dukung pondasi memanjang dihitung dengan persamaan: 42 119.67 108.75 177.99
qu = c2Nc +Y Df Nq + 0.52BN 43 134.58 126.5 211.56
44 151.95 147.74 261.6
45 172.28 173.28 325.34
qu =( 50 37.2 )+( 19 x 22.46 ) + ( 0.5 19.9 1.8 19.13 ) 46 196.22 204.19 407.11
2
qu = 2627.36 kN/m 47 224.55 241.8 512.84
48 258.28 287.85 650.67
49 298.71 344.63 831.99
50 347.5 415.14 1072.8

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


TEORI KAPASITAS DUKUNG PONDASI DALAM
Kedalaman tanah kuat untuk pondasi dalam minimal mencapai D > 4 sampai 5B dibawah
permukaan tanah. Pondasi yang cocok pada kedalaman ini ialah pondasi tiang pancang.
Pondasi tiang pancang dibuat dari bahan kayu, besi, profit, pipa baja maupun beton
bertulang, yang dapat dipancang sampai kedalaman kurang lebih 60,00 m dibawah
permukaan tanah. Daya dukung aksial pondasi dalam umumnya digambarkan sebagai
berikut:
Qult = Qs + Qb

Dimana :
Qult = Daya dukung batas tiang
Qs = Daya dukung akibta gesekan sepanjang tiang
Qb = Daya dukung ujung tiang

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


Daya dukung Pondasi Dalam Metoda SPT

Meyerhoff (1956) menganjurkan formula daya dukung untuk tiang pancang sebagai berikut :

Qu = 40 Nb . Ap + 0.2 N . As
dimana :
Qu = daya dukung ultimit pondasi tiang pancang (ton)
Nb = harga N-SPT pada elevasi dasar tiang
Ap = luas penampang dasar tiang (m2)
As = luas selimut tiang (m2)
N = harga N-SPT rata rata hingga 4D dr dasar tiang
Untuk tiang dengan desakan tanah yang kecil seperti tiang bor dan tiang baja H, maka daya dukung selimut hanya
diambil separuh dari formula diatas, sehingga menjadi:

Qult = 40 Nb. Ap + 0.1 N . As

Harga batas untuk Nb adalah 40 dan harga batas untuk 0.2 N adalah 10 ton/m2

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


CONTOH

Diketahui data penyelidikan tanah hasil SPT sampai kedalaman 16 m


seperti pad tabel berikut. Hitung daya dukung tiang pancang pada
kedalaman 16 m dengan diameter tiang pancang 0.8 m.
Depth N1 (60)
2 16
4 18
Tiang pancang beton 0.8 m 6 22
8 27
10 32
12 38
2 16 14 50
16 50
4 18

6 22
FORMULA
8 27
Qu = 40 Nb . Ap + 0.2 N . As
10 32
Perhitungan
12 38
Qu = 40. 50 .(. 0.25. D.D) + 0.2 . (Nrata2) . ( . D . L)
= 1004.8 + 602.88
14 50
= 1607.68 kN
4D 3.2
16 50

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


LATIHAN

Diketahui data penyelidikan tanah hasil SPT sampai kedalaman 16 m


seperti pad tabel berikut. Hitung daya dukung tiang bor pada kedalaman
16 m dengan diameter tiang pancang 1 m.

Depth N1 (60)
2 22
4 24
6 16
8 26
10 38
12 47
14 50
16 50

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


Daya Dukung Ujung Pondasi Dalam
TANAH LEMPUNG
Qb = Su Nc Ab
Dimana :
Su = Kekutan geser undrained tanah,
Nc = faktor daya dukung tiang (9 untuk tanah lempung)
Ab = Luasan dasar tiang

TANAH PASIR
Untuk tanah Pasir, persamaan daya dukung ujung tanah digunakan sebagai berikut

Qb = q (Nq-1) Ab
Dimana :
q = Tegangan efektif ujung tiang,
Nq = Faktor daya dukung yang tergantung nilai
Ab = Luasan dasar tiang

TANAH Tidak Lempung & Tidak Pasir


Qb = c Nc Ab + q (Nq 1) Ab
Dimana :
C = Kohesi / kuat geser efektif
Nc = Faktor daya dukung
Ab = Luas dasar / ujung tiang
q = Tegangan efektif ujung tiang
Ns = FAktor dukung yang tergantung
Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal
Daya Dukung Gesek Pondasi Dalam

Qs = f.As
f = koefisien gesek sepanjang badan tiang
As = Luas badan tiang

Untuk tanah pasir formula yang digunakan merupakan hubungan antara parameter koefisien tekanan tanah lateral
dengan tegangan vertical efektif tanah dan sudut gesekan antara tiang dengan tanah. Perumusan tersebut
sebagaimana berikut:
f = K va tan
Dimana :
K = Koefisien tekanan tanah lateral pada tiang
va= Tegangan vertical efektif tanah
= Sudut gesekan antara tiang dengan tanah

Untuk tiang bor nilai K = Ko Tipe Tiang Kondisi Tanah K/Ko Catatan
Untuk tiang pancang K > KO dan mendekati Jetted Pile Padat/Keras 1/2
nilai Kp Tiang dipasanga dengan teknik injeksi air
Ko = koefisien tekanan tanah dalam keadaan Lepas/Lunak 2/3 bertekanan tinggi
diam
Ko = 1 Sin Tiang Bor Cor Ditempat Lempung Kaku + 1
Lumpur bentonite Untuk tiang bor dengan full casing, nilai
Kp = koefisien tekanan tanah pasif. 2/3 K/Ko berada diantaranya

Kp = (1 + Sin ) / (1 Sin ) Tiang Pancang Baja Padat / Keras 3/4


Bisa berupa Baja H atau Pipa Baja
Lepas / Lunak 5/4

Patokan nilai (simon & menzies 1997) Tiang Pancang Beton Padat/Keras 1
Tiang baja = 20 0 Tanah mengalami pergeseran yang besar

Tiang beton = 3/4 Lepas /Lunak 2 saat pemancangan

Tiang kayu
Simple, Inspiring, = 2/3
Performing,
Phenomenal
Daya Dukung Gesek Pondasi Dalam
Daya dukung Gesek untuk tanah Lampung
A Metode Alpha BM DAS 1990
Perkiraan besar gaya gesekan dengan
menggunakan metoda alpha ini merupakan
metoda yang paling sering digunakan dengan
menggunakan rumusan sebagai berikut
f = Su
Dimana :
= Faktor lekatan / adhesi antara tiang dengan
tanah
Su = nilai kuat geser / kohesi undrained
Penentuan nilai dapat ditentukan dari
bermacam- macam rekomendasi seperti :
American petroleum institute (API, 1984) yang diperoleh Dari nilai Su dan PI
Rekomendasi B.M DAS (1990)
yang diperoleh Dari nilai Su dan PI
Rekomendasi Tomlinson

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


Nilai Tomlinson
Kasus Keadaan tanah Rasio Penetrasi
PR
Pasir yang didasari oleh lempung kakau < 20 1.25
1
(Stiff) > 20 Kurva 1
Lempung lunak atau lanau didasari 8 < PR < 20 0.40
2
oleh lempung kaku >20 Kurva 2
8 < PR < 20 0.40
3 Lempung kaku yang uniform
>20 Kurva 3

B Metode Lambda (Desain Off Shore)


Metode ini ditemukan oleh Vijayvergiya dan Focht, 1972). Metode ini
menggunakan dasar pendekatan menggunakan tegangan vertical dan
kuat geser tanah undrained tanah.
f = (v + 2 Su)
Dimana :
= Koefisien Lekatan
v= Tegangan vertical efektif tanah
Su = Kuat geser undrained

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


Daya Dukung Pondasi Dalam Metode Betha

Metoda ini ditemukan oleh Burland (1973, 1993). Metode in menggunakan pendekatan asumsi sebagai
berikut:

Paling tidak skala mikroskopis permukaan tiang adalah kasar

Pada bidang kontak tiang dengan tanah, hingga derajad tertetu tanah selalu dalam keadaaan terganggu
sehingga menghilangkan kohesi yang diturunkan dari lingkaran mohr, artinya kohesi sama dengan nol.

Kekasaran permukan tiang menyebabkan bidang keruntuhan selalu berada sedikit di luar permukaan
tiang, dan ini merupakan fenomena yang sering terlihat nyata.

Tegangan air pori yang timbul akibat pemasangan tiang terdisipasi, tegangan efektif yang bekerja pada
permukaan tiang tidak akan sama dengan tegangan horizontal efektif tanah (kondisi ko) sebelum tiang
di pasang.

Pada umumnya tiang dipasang sebelum beban bekerja dan biasanya pembebanan akan terjadi dalam
proses yang lambat sehingga tegangan air pori yang timbul pada saat pemasangan tiang sudah hampir
terdisipasi seluruhnya, sehingga cukup realistik bia pada saat beban bekerja penuh, dianggap tanah
dalam keadaan drained.

Untuk lempung dengan konsolidasi normal (normally consolidated clay) formula yang digunakan adalah
f = v
Untuk lempung yang sudah terkonsolidasi (over consolidated) formula yang digunakan adalah
f = v(OCR)0.5

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


CONTOH
Diketahui data pondasi sebagaimana kondisi di bawah ini hitung daya dukung dengan metode alpha

Tiang pancang beton 0.6 m

a. Mencari Nilai Alpha


Tanah lempung

20 m
y= 17 kN/m3
= 20 kN/m3
Su= 60 kN/m3

Tanah Pasir
1m
y= 20 kN/m3
= 40

= 0.77
c. Daya dukung gesek tanah Lapis 1
Qs1 = f x As
= x Su x As
= 1740.816 kN
Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal
CONTOH
Diketahui data pondasi sebagaimana kondisi di bawah ini hitung daya dukung dengan metode alpha

b. Hitung tegangan vertikal efektif e. Menentukan Daya Dukung Ujung

' = H . (Ysat- Yw)


20 m

143.8 kN/m2

1m
' = H . (Ysat- Yw)

153.99 kN/m2

d. Daya Dukung Gesek Tanah Lapis 2


untuk pancang beton K/Ko=1
Qs2= K . Tan . 'v . As
= (1 - sin 40) . Tan (3/4.40) . (143.8 + 153.9)/2 . (.0.6.1) Qb = Nb . 'v. Ab
= 57.85314 kN = 330 . 153 . (1/4 . 3.14 . 0.6.0.6)
= 14360.8 kN

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal Qult = Qs1 + Qs2 + Qb


16159.47 KN
CONTOH
Diketahui data pondasi sebagaimana kondisi di bawah ini hitung daya dukung dengan metode alpha

Tiang pancang beton 0.6 m


a. Menghitung Daya dukung lapisan tanah 1

Tanah lempung Qs1 ==. 'v . As


20 m = 0.4 . (143.8/2 ). (.0.6.20)
20 m
y= 17 kN/m3 l = 1083.677 KN
= 20 kN/m3
Su= 60 kN/m3

143.8 kN/m2

Tanah Pasir 1m
1m
y= 20 kN/m3
= 40 153.99 kN/m2

b. Daya Dukung Gesek Tanah Lapis 2 c. Menentukan Daya Dukung Ujung


untuk pancang beton K/Ko=1
Qs2 = K . Tan . 'v . As
= (1 - sin 40) . Tan (3/4.40) . (143.8 + 153.9)/2 . (.0.6.1) Qb = Nb . 'v. Ab
= 57.85314 kN = 330 . 153 . (1/4 . 3.14 . 0.6.0.6)
= 14360.8 kN

Qult = Qs1 + Qs2 + Qb


15502.33 KN
Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal
CONTOH
Diketahui data pondasi sebagaimana kondisi di bawah ini hitung daya dukung dengan metode alpha

Tiang pancang beton 0.6 m

a. Menghitung Daya dukung lapisan tanah 1


Tanah lempung

20 m
y= 17 kN/m3
= 20 kN/m3 20 m
Su= 60 kN/m3 l

Tanah Pasir
1m 143.8 kN/m2
y= 20 kN/m3
= 40 1m

153.99 kN/m2

Qs1 ==. 'v . As


= 0.4 . (143.8/2 ). (.0.6.20)
= 1083.677 KN
Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal
LATIHAN

Tiang pancang beton 0.8 m

Tanah lempung

25 m
y= 19 kN/m3
= 22 kN/m3
Su= 50 kN/m3

Tanah Pasir
4m
y= 22 kN/m3
= 38

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


Daya Dukung Uplift Pondasi Dalam

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


Daya Dukung Uplift Pondasi Dalam

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


Daya Dukung Lateral Pondasi Dalam FIXED HEAD PILE

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


Daya Dukung Lateral Pondasi Dalam

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal


Daya Dukung Lateral Pondasi Dalam FIXED HEAD PILE

Simple, Inspiring, Performing, Phenomenal