Anda di halaman 1dari 21

SPONDILITIS TUBERKULOSIS

POTT's DISEASE
Oleh :
dr. Ani Riani Sunarto

Pendamping:
dr. Andriany Putri
dr. Elvira Thaher

KONSULEN PEMBIMBING:
dr. Yopi Tri Putra Sp. B

RSUD AROSUKA
KABUPATEN SOLOK
2017
Definisi

Spondilitis tuberkulosa (Potts disease)


merupakan penyakit infeksi disebabkan
Mycobacterium tuberculosa yang
mengenai tulang belakang.
Spondilitis tuberkulosa adalah
peradangan granulomatosa di tulang
vertebrae yg bersifat kronis destruktif
oleh Mycobacterium tuberculosis
Epidemiologi

World Health Organization (WHO)


memperkirakan bahwa jumlah kasus TB baru
terbesar terdapat di Asia Tenggara (34 persen
insiden TB secara global) termasuk Indonesia.
1 hingga 5 % penderita TB mengalami TB
osteoartikular.
Separuh dari TB osteoartikular adalah
spondilitis TB.
negara berkembang, penderita TB usia muda
diketahui lebih rentan terhadap spondilitis TB
daripada usia tua. Sedangkan di negara maju,
usia munculnya spondilitis TB biasanya pada
dekade kelima hingga keenam.
Etiopatogenesis
Stadium Spondilitis
Tuberkulosa
1. Stadium Implantasi
Daya tahan tubuh Duplikasi kuman 6- 8
minggu
Biasanya terjadi pada daerah paradiskus
Pada anak terjadi pada daerah sentral
vertebra
2. Stadium Destruksi Awal
Berlangsung 3 6 minggu
Terjadi destruksi pada corpus vertebra dan
penyempitan pada diskus
3. Stadium Destruksi Lanjut
Destruksi masif - Kolaps vertebra
Masa kaseosa dan cold abses yang terjadi 2-3 bulan
setelah stadium destruksi awal
Sekuestrum + kerusakan diskus vertebralis
Wedging anterior kifosis / gibbus
4. Stadium Gangguan Neurologis
Tekanan abses kekanalis spinalis.
Vertebra torakalis mempunyai kanalis spinalis yang kecil
Kerusakan medulla spinalis akibat penyakit Pott
terjadi melalui kombinasi 4 faktor yaitu :
Penekanan oleh cold absces
Iskemia akibat penekanan pada arteri spinalis
Endarteritis tuberkulosa setinggi blokade
spinalnya
Penyempitan kanalis spinalis akibat angulasi
korpus vertebra yang rusak
Derajat I:Kelemahan pada anggota gerak bawah terjadi
setelah melakukan aktivitas atau setelah berjalan jauh. Pada
tahap ini belum terjadi gangguan saraf sensoris.
Derajat II:Terdapat kelemahan pada anggota gerak bawah
tapi penderita masih dapat melakukan pekerjaannya.
Derajat III: Terdapat kelemahan pada anggota gerak bawah
yang membatasi gerak atau aktivitas penderita serta
terdapat hipestesia sampai anastesia
Derajat IV :Terjadi gangguan saraf sensoris dan motoris
disertai gangguan defekasi dan miksi.

5. Stadium Deformitas Residual


Stadium ini terjadi lebih kurang 3-5 tahun
setelah terjadi stadium implantasi.
Kifosis atau gibbus bersifat permanen
karena kerusakan vertebra yang masif
disebelah depan.
Klasifikasi
Tipe Keterlibatan Mekanisme Gambaran
Radiologis
Peridiskal Menyebar melalui Melibatkan batas 2
arteri vertebra yang
berdekatan. Diskus
intervertebralis akan
menyempit

Central Infeksi menyebar Melibatkan bagian


sepanjang plexus tengah dari salah satu
Batson vertebra, proksimal
dan diskus
intervertebralis intak.

Anterior marginal Perluasan abses Dimulai dengan lesi


melalui ligament destruktif pada salah
longitudinal anterior satu margin anterior
dan periosteum dari corpus vertebrae,
hanya sedikit
melibatkan diskus
intervertebralis.
Manifestasi Klinis
Nyeri punggung
Deformitas tulang belakang (kifosis)
Defisit neurologis (paraplegia, paresis, impaired
sensation)
Cold abscess
Nyeri tekan
Spasme otot
Gerakan spinal yang terbatas
Gejala umum ( demam, keringat malam,
penurunan berat badan, lemah, cepat lelah)
Penegakkan Diagnosa
Anamnesa
Keluhan paling awal: Nyeri punggung
Riwayat TB paru
Adanya gejala sistemik seperti demam,
nafsu makan turun, keringat malam
Riwayat batuk lama >3 minggu
Adanya paraparesis/kekakuan otot sampai
nyeri yang tergantung pada lokasi infeksi
Adanya perubahan pola jalan
Kebas, baal, gangguan defekasi & miksi
Pemeriksaan Fisik
Inspeksi
pada pasien spondilitis kelihatan lemah, pucat,
terdapat benjolan di punggung (gibbus) ,dan
tulang belakang terlihat bentuk kifosis
(membungkuk)
Palpasi
Gibbus pada area tulangyang mengalami infeksi.
Abses paravertebra
Abses terbentuk di anterior rongga dada atau
abdomen
Perkusi
Nyeri ketok pada tempat infeksi
Auskultasi
Pada Infi ltrat paru akan terdengar sebagai ronkhi
dengan predileksi di apeks paru.
Pemeriksaan Penunjang

Laboratorium
Peningkatan LED dan mungkin disertai
leukositosis
Uji Mantoux positif
Kultur (+)
Biopsi jaringan granulasi atau kelenjar limfe
regional
Pemeriksaan histopatologi dapat ditemukan
tuberkel
PCR (Polymerase Chain Reaction)
Radiologi
Rontgen
Foto toraks -> tuberkulosis paru
Foto polos vertebra-> osteoporosis, osteolitik dan destruksi
korpus vertebra, disertai penyempitan discus intervertebralis
yang berada di antara korpus tersebut, massa abses
paravertebral.
Pada foto AP -> abses paravertebral di daerah servikal
berbentuk sarang burung (birds net), di daerah torakal
berbentuk bulbus dan pada daerah lumbal abses terlihat
berbentuk fusiform.
Pada stadium lanjut terjadi destruksi vertebra yang hebat
sehingga timbul kifosis.
Pemeriksaan CT scan :
CT scan dapat memberi gambaran tulang secara lebih detail dari
lesi irreguler, skelerosis, kolaps diskus dan gangguan
sirkumferensi tulang.
Pemeriksaan MRI :
Mengevaluasi infeksi diskus intervertebra dan osteomielitis
tulang belakang.
Menunjukkan adanya penekanan saraf.
Diagnosa Banding

1. Osteititis pyogenik
2. Kifosis senilis
3. Skoliosis idiopatik
4. Infeksi enterik (contoh typhoid,
parathypoid).
5. Tumor/penyakit keganasan .
6. Scheuermanns disease
Komplikasi

Cedera corda spinalis (spinal cord injury).


Empyema tuberkulosa karena rupturnya abses
paravertebral di torakal ke dalam pleura
Penatalaksanaan

Terapi Konservatif
Tirah baring (bed rest).
Memberi korset yang mencegah
gerakan vertebra/ membatasi gerak
vertebra.
Memperbaiki keadaan umum
penderita.
Pengobatan antituberkulosa
Lanjutan...
Obat Anti Tuberkulosis (OAT)
Kategori-1 : 2(HRZE) / 4(HR)3
Paduan OAT ini diberikan untuk pasien baru:
Pasien TB paru terkonfirmasi bakteriologis.
Pasien TB paru terdiagnosis klinis
Pasien TB ekstra paru
Terapi Operasi
Indikasi operasi :
1) defisit neurologis akut, paraparesis, atau paraplegia.
2) deformitas tulang belakang yang tidak stabil atau
disertai nyeri, dalam hal ini kifosis progresif (30
untuk dewasa, 15 untuk anak anak).
3) tidak responsif kemoterapi selama 4 minggu.
4) abses luas.
5) biopsi perkutan gagal untuk memberikan diagnosis.
6) nyeri berat karena kompresi abses.
Kontra-indikasi operasi :
Kegagalan pernapasan dengan kelainan jantung yang
membahayakan operasi
Lanjutan...

Tindakan bedah yang dapat dilakukan

1. drainase abses
2. debridemen radikal
3. penyisipan tandur tulang
4. artrodesis/fusi
5. osteotomi.
TERIMA
KASIH