Anda di halaman 1dari 58

KEBIJAKAN PELAYANAN KEFARMASIAN

DALAM ANALISIS FARMAKOEKONOMI


DI FASILITAS KESEHATAN

Direktorat Pelayanan Kefarmasian


Direktorat Jenderal Kefarmasian dan Alat Kesehatan

Bengkulu, 5 April 2017


Tata Saji
1. Latar Belakang
2. Farmakoekonomi
3. Peran Yanfar dalam Penerapan Farmakoekonomi
4. Evaluasi Penggunaan Obat (EPO)
5. Penutup
LATAR BELAKANG
Latar Belakang

Indikator Tahun 2017


3 (tiga) Analisis Farmakoekonomi Obat dan/
Alat Kesehatan dalam Pelayanan JKN

Sasaran
Kemenkes, Dinas Kesehatan Prov/Kab/Kota,
Perguruan Tinggi dan Fasilitas Pelayanan
Kesehatan
Tujuan
Stakeholder memiliki acuan dalam mengembangkan sistem
pelayanan kesehatan melalui penerapan analisis
farmakoekonomi dalam rangka pemilihan dan penggunaan obat
dan alkes yang efektif
LATAR BELAKANG

Berdasarkan Permenkes No. 71/2013 tentang


Pelayanan Kesehatan pada JKN, bahwa dalam
rangka menjamin kendali mutu dan biaya,
menteri berwenang melakukan Penilaian
Teknologi Kesehatan (HTA)
Penerapan kaidah farmakoekonomi dalam rangka
peningkatan efektivitasbiaya obat (kendali mutu
dan kendali biaya) untuk menurunkan biaya
perawatan kesehatan secara nasional
SISTEM KESEHATAN NASIONAL BERBAGAI NEGARA

Source: Singapores ISPOR Meeting, 2016


FARMAKOEKONOMI
PENGERTIAN FARMAKOEKONOMI
Analisis dari biaya terapi dalam suatu sistem
pelayanan kesehatan
atau
Penelitian tentang proses identifikasi, mengukur
dan membandingkan biaya, resiko dan
keuntungan dari suatu program pelayanan dan
terapi serta determinasi suatu alternatif terbaik

Vogenberg FR, 2001, Introduction to applied Pharmacoeconomy


PRINSIP FARMAKOEKONOMI
Interpretasi dan
Kesimpulan

Identifikasi Menilai
& mengukur biaya dan
outcome efektivitas
Penentuan
hubungan dari
antara alternatif
Identifikasi income dan intervensi
alternatif outcome
intervensi
Penetapan
masalah &
Tujuan

Sumber daya terbatas

Vogenberg FR, 2001, Introduction to applied Pharmacoeconomy


Seleksi Obat di Era UHC

AFFORDABILITY

COST
EFFECTIVENESS FARMAKOEKONOMI
SAFETY Analisis dari biaya terapi dalam
suatu sistem pelayanan kesehatan.
EFFICACY
QUALITY
Perspektif Farmakoekonomi

Pasien Asuransi Kesehatan


- Kualitas hidup - Keberhasilan terapi
Kepuasan

Employer/ Masyarakat
Rumah Sakit Keberhasilan terapi
- Keberhasilan terapi waktu kerja
Keuntungan produktivitas
TUJUAN ANALISIS FE

01 02 03 04
Mendapatkan Mengetahui Meningkatkan Meningkatk
data biaya perbanding kualitas hidup an kendali
obat dan alat an biaya pasien mutu dan
kesehatan dan biaya
manfaat

11
Mengapa Analisis Farmakoekonomi
dibutuhkan?
Sumber daya terbatas
Mendapatkan cara terbaik untuk
mengalokasikan sumber daya yang
terbatas.
Kepentingan yang sering tidak sama
(pasien, profesional kesehatan,
pengelola)
PERAN YANFAR
DALAM
PENERAPAN
FARMAKOEKONOMI
Farmakoekonomi dalam Yanfar
COST MINIMISATION Kendali
ANALYSIS (CMA),
COST EFFECTIVENESS Mutu dan
ANALYSIS (CEA), Biaya SELEKSI
COST UTILITY ANALYSIS
(CUA), ANALISIS OBAT FORNAS
COST BENEFIT ANALYSIS
(CBA)
FARMAKO DAN
EKONOMI ALKES
Pelatihan
Penelitian

HTA

YANFAR
MANAJEME
N FARMASI
POR
KLINIK
STRATEGI IMPLEMENTASI
ANALISIS FARMAKOEKONOMI

Penguatan jejaring
Penyusunan kerja melalui
dan revisi Koordinasi Lintas
NSPK sektor dengan stake
holder terkait
Peningkatan Analisis
kapasitas SDM Farmakoekonomi
kefarmasian di Fasilitas
dalam analisis Tersedianya data Kesehatan
farmakoekonomi hasil analisis
farmakoekonomi

REKOMENDASI/USULAN
DENGAN EFEKTIFITAS-BIAYA PALING TINGGI
Sasaran Analisis
Farmakoekonomi
Pemegang Profesional di
Kebijakan di
Daerah/Dinkes
Bidang
Prov/Kab/Kota Kesehatan
Lembaga Pemegang
Kebijakan di (dokter,
Asuransi
Seleksi obat Pusat/Kemenkes apoteker,
Kesehatan
dalam rangka paramedis,
milik
pengadaan obat Seleksi obat utk DOEN Pengambil dll)
Pemerintah Industri
kebijakan di
dan Swasta dan FORNAS serta
Peneliti Fasyankes/RS Farmasi (swa
seleksi alkes untuk
dan Kompendium Alkes kajian utk
Yang terlibat
Pengamat di daya saing
dalam
Bidang produk, dll)
penyusunan
Ekonomi
Formularium RS
Kesehatan

16
Kriteria pemilihan topik dalam
melakukan analisis farmakoekonomi

High cost
High volume
High risk
High variability
FORMULARIUM NASIONAL merupakan daftar obat terpilih yang dibutuhkan dan
harus tersedia di fasilitas pelayanan kesehatan dalam rangka pelaksanaan jaminan
kesehatan nasional (JKN)

FORNAS 2015
SK Menkes No.
HK.02.02/Menkes/523/2015
-562 item obat/zat aktif
(terdiri dari 983
kekuatan dan bentuk
sediaan)
-Obat Rujuk Balik : 75
FORNAS 2013 + ADENDUM PERUBAHAN
item dalam 151 Bentuk
ADENDUM 2014 2016
SK Menkes No. 328/ Menkes/
sediaan.
SK/ VIII/2013 -573 item obat/zat aktif (terdiri
-540 item dalam 968 dari 1018 kekuatan dan bentuk
sediaan/ kekuatan sediaan)
-Obat Rujuk Balik : -Perubahan Restriksi 123 Item
82 item dalam 155 dalam 194 kekuatan/sediaan
sed/kek -Perubahan Faskes 32 item
dalam 46 bentuk
kekuatan/sediaan
Metode Analisis Farmakoekonomi
Cost Minimization Analysis (CMA)
Membandingkan dua atau lebih intervensi kesehatan, termasuk obat, yang
memberikan hasil yang sama, serupa, atau setara atau dapat diasumsikan
setara
Cost Benefit Analysis (CBA)
Mengidentifikasi semua manfaat yang diperoleh dari program / intervensi dan
mengubahnya menjadi rupiah ditahun intervensi dilakukan
Cost Effectiveness Analysis (CEA)
Membandingkan dua atau lebih jenis obat dari kelas terapi yang sama tetapi
memberikan besaran hasil pengobatan yang berbeda atau Membandingkan dua
atau lebih terapi yang diukur dengan unit alamiah yang sama, walaupun
mekanisme kerjanya berbeda
Cost Utility Analysis (CUA)
Membandingkan 2 atau lebih pilihan alternatif baik dari segi biaya dan hasil,
di mana hasil diukur dalam satuan utilitas atau preferensi
QALYs (Quality-Adjusted Life Year)
19
Metode Analisis Farmakoekonomi* (2)

Komponen
Metode Analisis Komponen Luaran (Outcome)
Biaya
Cost Minimization Unit moneter Efektifitas setara (ekuivalen),
Analysis (Analisis (rupiah) tidak dilakukan analisis
Minimalisasi Biaya)

Cost Effectiveness Unit moneter Efektifitas berbeda, luaran


Analysis (Analisis (rupiah) diukur dalam unit
Efektifitas Biaya) alamiah/indikator kesehatan

Cost Utility Analysis Unit moneter Efektifitas berbeda, luaran


(Analisis Utilitas Biaya) (rupiah) diukur dalam QALY (Quality
Adjusted Life Years) atau unit
utilitas lainnya
Cost Benefit Analysis Unit moneter Efektifitas berbeda, luaran
(Analisis Manfaat-Biaya) (rupiah) diukur dalam unit moneter
(rupiah)
*Diadaptasi dari Essential of Pharmacoeconomics, Karen L.
Rascati, 2009 dan Principles of Pharmacoeconomics, 3rd ed, J.
Lyle Bootman et al, 2005
Kajian Analisis Farmakoekonomi yang
sudah dilakukan tahun 2016
1. ANALISIS EFEKTIVITAS BIAYA KOMBINASI REGIMEN BERBASIS TRASTUZUMAB
PADA KANKER PAYUDARA HER2+ STADIUM METASTASIS
Tujuan: membandingkan efektifitas biaya kombinasi ACTHH, FACDH, dan TCH
untuk kanker payudara HER2+ metastase

2. ANALISIS EFEKTIFITAS BIAYA NILOTINIB TERHADAP IMATINIB SEBAGAI TERAPI


LINI PERTAMA PADA PASIEN LEUKEMIA GRANULOSITIK FASE KRONIK
Tujuan: mengetahui ICER per disease respon dari Nilotinib terhadap Imatinib
untuk terapi CML pada fase kronis di Rumah Sakit
Evaluasi Penggunaan Obat

Evaluasi Penggunaan Obat (EPO) merupakan


program evaluasi penggunaan Obat yang
terstruktur dan berkesinambungan secara
kualitatif dan kuantitatif.
METODE ATC-DDD
Klasifikasi dengan Kode ATC
ATC adalah klasifikasi obat yang direkomendasi oleh WHO untuk
evaluasi penggunaan obat.

Anatomic
Organ atau sistem tempat bekerjanya obat

Therapeutic
Efek terapi dari obat

Chemical
Bahan kimia obat dimaksud
ATC diklasifikasi dalam 5 Kelompok
Tingkatan
pembagian obat dalam 14 kelompok utama tempat kerja
Tingkat 1 obat

Subkelompok Terapi
Tingkat 2

Subkelompok Farmakologi
Tingkat 3

Subkelompok Kimia
Tingkat 4

Senyawa Kimia
Tingkat 5
A Alimentary tract and metabolism

B Blood and blood forming organs


C Cardiovascular system
D Dermatologicals
G Genito urinary system and sex hormones
H Systemic hormonal preparations, excl. Sexhormones and
insulins
J Antiinfectives for systemic use
L Antineoplastic and immunomodulating agents
M Musculo-skeletal system
N Nervous system
P Antiparasitic products, insecticides and repellents
R Respiratory system
S Sensory organs
V Various
Contoh Kode ATC
Saluran Pencernaan dan Metabolisme (Tingkat ke-1,
A
kelompok anatomi)

A10 Obat untuk diabetes (Tingkat ke-2, subkelompok terapi)

Obat penurun glukosa darah, kecuali insulin (Tingkat ke-3,


A10B
subkelompok farmakologi)

A10BA Biguanida (tingkat ke-4, subkelompok kimia)

A10BA02 Metformin (tingkat ke-5, substansi kimia)


Satuan Defined Daily Dose
(DDD)
Defined Daily Dose (DDD)
Dosis pemeliharaan rata-rata/hari yang
diperkirakan, untuk pengobatan indikasi
utama pada orang dewasa.
DDD ditetapkan hanya untuk obat yang telah
mempunyai kode ATC.
Prinsip penetapan: indikasi utama,dosis
pemeliharaan, dosis terapi dan dosis dewasa
rata-rata
Nilai DDD ditentukan oleh WHOCC
Keuntungan menggunakan
DDD
Unit tetap yg tidak dipengaruhi perubahan
harga dan mata uang serta bentuk
sediaan.
Mudah diperbandingkan, antar instutusi,
nasional, regional, internasional

(standar WHO)
PENGOLAHAN
DATA EPO
Form Data Puskesmas
(Data Kab/Kota)
Nama Kab/Kota : Bulan : Jan Mar
Propinsi: Apr Jun
Jumlah Puskesmas Perawatan : Tahun : 2014
Jumlah Puskesmas Non Perawatan :

NO NAMA KELAS BENTUK KESESUAIAN STOK JUMLAH JUMLAH PENDISTRIBUSIAN


OBAT TERAPI SEDIAAN DENGAN AWAL PENGADAA (satuan terkecil)
FORNAS (PER 1 N TAHUN
(Ya/Tidak) JAN 2014
Puskesmas Puskes Total
2014)
Perawatan mas
Non
Perawat
an

KETERANGAN
Nama obat : ditulis dengan nama generik atau nama dagang
Fornas : diisi bila data tersedia dalam sistem
Jumlah Pendistribusian diisi total jika belum ada pemisahan Puskesmas Perawatan/ Puskesmas
Non Perawatan
Satuan terkecil adalah tablet, kaplet, kapsul, botol, tube.
Form Pengumpulan Data Rumah Sakit
Nama Rumah Sakit : Tahun: 20....
Kelas RS :
Tipe RS:
Jenis RS : Umum/Khusus
Kab/Kota :
Propinsi:
Kepemilikan : Pemerintah Pusat/Pemda/Swasta

No Nama Bentuk Sediaan Satuan Penggunaan Bulan


Obat dan Kekuatan terkecil

RJ RI Total
0 1 2 3 4 5 6

KETERANGAN
Nama obat : ditulis dengan nama generik atau nama dagang dengan huruf kapital
Rawat jalan mencakup rawat jalan dan IGD
Rawat inap mencakup rawat inap, ICU, ICCU, NICU, PICU
Satuan terkecil adalah tablet, kaplet, kapsul, botol, tube.
II. Pengolahan data :
1. Kolom nama generik
2. Kolom kekuatan obat/content (g)
3. Kolom kuantitas
Kekuatan x
penditribusian/penggunaan
4. Kolom ATC
Berisi kode obat yang mengacu pada Anatomical Therapeutic
Chemical/Defined Daily Dose (ATC/DDD) yang didapat melalui website
:www.whocc.no/atc_ddd_indexhpx/atau buku ATC index with DDDs tahun
2015

5. Kolom DDD

6. Kolom ddd

7. Kolom Total DDD


Kuantitas/ddd = Total DDD

8. Hitung DU90%
Total DDD x 90% = DU90%
Pengkodean ATC & Nilai DDD
Kode ATC dapat dilihat di website:
whocc.no/atc_ddd_index/

Untuk obat-obat branded akan lebih cepat menemukan di: mims.com/Indonesia/home/index

(untuk website MIMS membutuhkan akun)


Pengkodean ATC & Nilai DDD

Kode H untuk Systemic hormonal


preparations
Pengkodean ATC & Nilai DDD

Rute pemberian

Nilai DDD dan


satuannya
total obat 228 item
yang digunakan 176 item
yang tidak digunakan 52 item
yang masuk DU90% 19 item
yang masuk DU10% 158 item
Contoh Perhitungan Total DDD

Misal : Amoxicillin yang tersedia adalah Amoxicillin tablet 500 mg dan sirup 125
mg/5 ml.
Kuantitas penggunaan Amoxicilin tablet 500 mg adalah 621 tablet perbulan,
kuantitas Amoxicillin Sirup 125 mg/5ml dalam botol 60 ml, adalah 100 botol
perbulan.
Kode ATC Amoxicillin adalah J01CA04, Nilai DDD Amoxicillin diketahui 1 g
Maka DDD Amoxicilin tablet (J01CA04) :

DDD untuk Amoxicillin sirup (J01CA04) :


Konversi ke DDD:

Total DDD didapatkan dengan menjumlahkan nilai DDD dari beberapa jenis
sediaan dengan kode ATC yang sama

Total DDD untuk Amoxicillin tablet dan sirup (J01CA04) :


ANALISA DATA
ANALISA DATA
Analisis data yang dapat dilakukan diantaranya adalah :
1. Gambaran pola penggunaan 20 obat terbanyak. Diambil dari
data penggunaan obat perbulan dalam satu tahun. Pola
penggunaan 20 obat terbanyak ideal memiliki korelasi dengan
pola penyakit di fasyankes. Jika ada penyimpangan antara pola
penggunaan obat dengan pola penyakit, maka perlu ditelusuri
lebih lanjut.
2. DU90% menggambarkan jumlah item obat yang termasuk dalam
pemakaian 90% dari total item obat yang ada.
3. DU10% menggambarkan jumlah item obat yang termasuk dalam
pemakaian 10% dari total item obat yang ada (jumlah
pemakaiannya sedikit).
ANALISA DATA (2)
4. Persentase kesesuaian penggunaan obat dengan
Formularium Nasional.
5. Pola penggunaan obat untuk penyakit kronis
tertentu (contoh: asma, diabetes dan
kardiovaskular).
6. Antibiotik yang paling banyak digunakan
Contoh analisa data
Kabupaten Bima NTB
Analisa Kuantitatif
Data Obat 2013 2014

Jumlah Item Obat 95 111

Jumlah Item Obat yang tidak memiliki kode 6 6


ATC

Jumlah Item Obat yang tidak memiliki DDD 25 26

Jumlah Item Obat yang memiliki kode ATC dan 64 79


DDD

Kesesuian obat IF.Kab/Kota dengan Fornas 76,76 77,38


(dalam persen)
Analisa Kualitatif
No. KODE ATC NAMA GENERIK Total DDD %ddd %Kumulatif

B03AA07 315000,00
1 Ferrous sulfas 22,3083% 22,3083%

A03BA04 Belladonna Extract 262000,00


2 18,5549% 40,8632%

J01CA04 Amoxicillin 193700,00


3 13,7178% 54,5810%

M01AG01 Mefenamic Acid 157900,00


4 11,1825% 65,7635%

R06AB04 86333,33
5 chlorphenamine 6,1141% 71,8776%

H02AB02 Dexamethasone 61300,00


6 4,3413% 76,2189%

N02BE01 Paracetamol 57746,24


7 4,0896% 80,3085%

M01AC01 Piroxicam 41600,00


8 2,9461% 83,2546%

M01AE01 Ibuprofen 35600,00


9 2,5212% 85,7758%

C09AA01 Captopril 25975,00


10 1,8396% 87,6154%

H02AB07 Prednisone 24850,00


11 1,7599% 89,3753%

A11DA01 22340,00
12 thiamine (vit B1) 1,5821% 90,9574%
Pola penyakit terbanyak

NO. KODE NAMA PENYAKIT JUMLAH

1 1302 INFEKSI AKUT LAIN PADA SALURAN PERNAPASAN BAGIAN ATAS 9303

2 21 MIALGIA 6629

3 2001 PENYAKIT KULIT INFEKSI 4742

4 1303 PENYAKIT LAIN PADA SALURAN PERNAPASAN BAG ATAS 4095

5 22 ANEMI 4041

6 2002 PENYAKIT KULIT ALERGI 3119

7 102 DIARE 2480

8 104 INFEKSI PENYAKIT USUS LAIN 2283

9 1901 KECELAKAAN DAN RUDAPAKSA 2265

10 12 PENYAKIT DARAH TINGGI 1675


1400

1200

1000
DU90%

DDD
800

600

400

200

Produk dalam urutan DDD


1400

1200

1000
DDD

800

600

400

200

Produk dalam urutan DDD

Gambar pertama memperlihatkan sejumlah obat yang diurut berdasarkan


volume DDD .
Tanda panah menunjukkan obat-obat yang termasuk dalam segmen DU90%.
Gambar kedua adalah segmen DU90% yang diperbesar .
Catatan dalam EPO menggunakan ATC-DDD

Tidak semua obat memiliki kode ATC dan DDD


Beberapa obat memiliki kode ATC tetapi tidak memiliki
DDD
Dalam pengolahan, obat-obat ini tidak ikut dihitung.
Tetapi tetap menjadi catatan
Biasanya obat yang tidak memiliki kode ATC penggunaanya
sedikit, apabila cukup banyak, akan diusulkan ke WHOCC
untuk dimasukkan
Kode ATC ditentukan oleh faktor anatomis dan terapetik
lebih dulu dibanding kimia. Karena itu, satu zat aktif yang
sama bisa jadi memiliki banyak kode ATC, tergantung pada
rute pemberian dan dosis
PENUTUP
PENUTUP
Hasil Analisis Farmakoekonomi bermanfaat dalam
menyediakan data untuk tindak lanjut melalui proses
HTA (budget impact) dan seleksi obat serta alkes pada
Formularium Nasional dan Kompendium Alkes di dalam
JKN
Pentingnya peran Fasilitas Pelayanan Kesehatan
dalam melakukan analisis farmakoekonomi dan
memiliki data analisis yang terintegrasi
Perlunya Fasilitas Pelayanan Kesehatan meningkatkan
Sumber Daya Manusia yang memiliki kemampuan
dalam melakukan Analisis Farmakoekonomi.
PENUTUP (2)
Agar Dinas Kesehatan/Prov/Kab/Kota bisa melaksanakan
fungsi pengawasan dan pembinaan di rumah sakit dalam
mengoptimalkan evaluasi penggunaan obat dalam rangka
kendali mutu dan kendali biaya
Agar rumah sakit dapat melaksanakan analisis
farmakoekonomi obat dan alkes serta menjadi bagian dalam
kerja sama di bidang analisis farmakoekonomi (sentinel)
serta menambah poin akreditasi bagi rumah sakit itu sendiri.
Agar Dinas Kesehatan dan rumah sakit melakukan evaluasi
dan pelaporan terkait pelaksanaan analisis farmakoekonomi
(termasuk EPO di dalamnya) kepada Kementerian
Kesehatan (c.q. Ditjen Farmalkes)
RENCANA ANALISIS FARMAKOEKONOMI TAHUN 2017
DIREKTORAT PELAYANAN KEFARMASIAN
Judul:
Analisis Efektivitas Biaya Penggunaan Antibiotik Cephalosporin
Generasi 3/4 Vs Carbapenem Pada Pasien Sepsis Dengan/Tanpa
Kultur
Analisis Efektivitas Biaya Penggunaan Angiotensin II Receptor
Blocker (ARB) vs Angiotensin Converting Enzyme (ACE) Inhibitor
Pada Pasien Gagal Jantung Kronik.
Analisis Efektivitas Biaya Alteplase vs Streptokinase Pada Pasien
ST Segmen Elevation Myocardial Infarction (STEMI).

Lokasi:
RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta, RSUP Fatmawati Jakarta
dan RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung
Terima Kasih