Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PRAKTIKUM FITOFARMAKA

PENETAPAN SENYAWA MARKER EPMS


DALAM KAPSUL

Dinda Oni Tsarah F.G 201310410311135


TUJUAN

Mahasiswa mampu melakukan penetapan


kadar senyawa marker dalam kapsul
TINJAUAN PUSTAKA
Tanaman Kencur (Kaemferia galanga L)
Kencur (Kaempferia galanga L.) adalah salah satu jenis umbi-umbian atau
tanaman obat yang tergolong dalam suku temu-temuan (Zingiberaceae). Rimpang
atau rizoma tanaman ini mengandung minyak atsiridan alkaloid yang dimanfaatkan
sebagai stimulan.
Klasifikasi :
Kerajaan : Plantae
Divisi : Magnoliophyta
Kelas : Liliopsida
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Kaempferia
Spesies : K. Galanga
Kencur (Kaempferia galanga L) merupakan tanaman tropis yang banyak tumbuh
diberbagai daerah di Indonesia sebagai tanaman yang dipelihara. Tanaman ini banyak
digunakan sebagai ramuan obat tradisional dan sebagai bumbu dalam masakan
sehingga para petani banyak yang membudidayakan tanaman kencur sebagai hasil
pertanian yang diperdagangkan dalam jumlah yang besar. Bagian dari tanaman kencur
yang diperdagangkan adalah buah akar yang tinggal didalam tanah yang disebut
dengan rimpang kencur atau rizoma (Soeprapto,1986).
Kencur merupakan temu kecil yang tumbuh subur di daerah dataran
rendah atau pegunungan yang tanahnya gembur dan tidak terlalu banyak
air. Jumlah helaian daun kencur tidak lebih dari 2-3 lembar (jarang 5)
dengan susunan berhadapan, tumbuh menggeletak di atas permukaan
tanah. Bunga majemuk tersusun setengah duduk dengan kuntum bunga
berjumlah antara 4 sampai 12 buah, bibir bunga (labellum) berwarna
lembayung dengan warna putih lebih dominan. Tumbuhan ini tumbuh
baik pada musim penghujan. Kencur dapat ditanam dalam pot atau di
kebun yang cukup sinar matahari, tidak terlalu basah dan setengah
ternaungi.
Kencur (Kamferia galanga L) adalah salah satu jenis temu-temuan yang
banyak dimanfaatkan oleh rumah tangga dan industri obat maupun
makanan serta minuman dan industri rokok kretek yang memiliki prospek
pasar cukup baik. Kandungan etil p-metoksisinamat (EPMS) didalam
rimpang kencur menjadi bagian yang penting didalam industri kosmetik
karena bermanfaat sebagai bahan pemutih dan juga anti eging atau
penuaan jaringan kulit (Rosita,2007).
Ekstrak Etil Para Metoksi Sinamat (EPMS)
EPMS adalah satu senyawa hasil isolasi rimpang
kencur (Kaempferia galanga). EPMS termasuk dalam
golongan senyawa ester yang mengandung cincin
benzene dan gugus metoksi yang bersifat non polar dan
juga gugus karbonil yang mengikat etil yang bersifat
sedikit polar sehingga dalam ekstraksinya dapat
menggunakan pelarut-pelarut yang mempunyai variasi
kepolarannya yaitu etanol, etil asetat, methanol, air, n-
heksana, dan lain-lain.
Alat dan Bahan

Alat Bahan
Timbangan analit Sampel ekstrak kencur
Labu ukur 5,0 ml dalam kapsul
Pipet volume Etanol 96 %
Vial Pelarut (n-heksana ;
Ultrasonic etil asetat ; asam
formiat) (90;10;1)
Densitometer
PROSEDUR KERJA
1. Pembuatan eluen (fase gerak)
Eluen yang digunakan: n-heksana etil asetat asam formiat
(90:10:1). Buatlah eluen sebanyak 101 ml. masukkan dalam
chamber. Homogenkan didalam chamber dengan cara digoyang-
goyang. Apabila volume eluen terlalu banyak, maka kurangi.
Jangan sampai totolan awal pada plat KLT tercelup didalam
eluen.
2. Pembuatan larutan baku
Pembuatan larutan induk
Ditimbang standar EPMS dengan seksama
sebanyak 250,0 mg ditambah dengan 20 ml etanol
96%, diultrasonik selama 5 menit kemudian
ditambah dengan etanol 96% sampai tepat 50,0 ml.
diperoleh larutan induk 1 dengan konsentrasi
5000 ppm (LI 1).
Pembuatan baku kerja
Larutan Konsentrasi Baku Induk atau Baku Jumlah yang Digunakan
Baku Kerja yang diambil
Baku 1 200 ppm 5.0 ml Baku 3 Ditambah etanol ad 10.0 ml

Baku 2 300 ppm 5.0 ml Baku 5 Ditambah etanol ad 10.0 ml

Baku 3 400 ppm 5.0 ml Baku 6 Ditambah etanol ad 10.0 ml

Baku 4 500 ppm 5.0 ml LI 1 Ditambah etanol ad 50.0 ml

Baku 5 600 ppm 3.0 ml LI 2 Ditambah etanol ad 10.0 ml

Baku 6 800 ppm 4.0 ml LI 2 Ditambah etanol ad 10.0 ml


3. Preparasi sampel (sediaan kapsul eksatrak kencur)
a. Sampel untuk penetapan kadar sampel
b. Diambil secara acak 3 buah kapsul sediaan kapsul ekstrak
kencur.
c. Dikeluarkan isi dari masing-masing cangkang, kemudian
masing-masing dimasukkan ke dalam labu ukur 10.0 ml
d. Masing-masing ditambahakan pelarut masing-masing
sebanyak 5.0 ml, diultrasonik selama 5 menit, kemudian
tidambah etanol 96% sampai 10.0 ml. kemudian disaring,
filtratnya ditampung (beri identitas sampel).
e. Hasil no.c dipipet sebanyak 1.0 ml, dimasukkan ke dalam
vial bersih dan kering.
f. Hasil no.d ditambah etanol 96% sebanyak 2.0 ml.
diultrasonik selama 5 menit.
4. Sampel untuk penentuan recoveri
a. Diambil secara acak 3 buah kapsul sediaan kapsul ekstrak
kencur.
b. Dikeluarkan isi dari masing-masing cangkang, kemudian
masing-masing dimasukkan ke dalam labu ukur 10.0 ml.
c. Masing-masing ditambah pelarut sebanyak 5.0 ml,
diultrasonik selama 5 menit.
d. Perlakuan no.c ditambah standar EPMS 500 ppm sebanyak
1.0 ml.
e. Ditambahakan etanol 96% sampai 10.0 ml, diultrasonik
selama 10 menit. Kemudian disaring, filtrate ditampung (beri
identitas sampel).
f. Hasil no.c dipipet sebanyak 1.0 ml, dimasukkan ke dalam vial
bersih dan kering.
g. Hasil no.d ditambah etanol 96% sebanyak 3.0 ml, diultrasonik
selama 5 menit.
5. Penotolan sampel dan standar pada plat KLT
Ditotol masing-masing sampel (sampel sediaan kapsul dan
sampel sediaan kapsul untuk recoveri) sebanyak 2 L,
sedangkan standar EPMS sebanyak 2 L pada plat KLT.

6. Cara kerja analisis dengan Thin Layer Chromatography (TLC) scanner


a. Penetapan panjang gelombang maksimum
Plat KLT yang sudah discan pada panjang gelombang 254 dan 365
nm, kemudian discan panjang gelombang 200-400 nm. Dari sini dapat
diketahui pada panjang gelombang berapa EPMS memberikan absorban
maksimum. Panjang gelombang maksimum tersebut yang akan
digunakan untuk pengukuran.
b. Penentuan linieritas
Linieritas ditentukan dari larutan standar EPMS pada lempeng KLT,
kemudian dianalisis dengan KLT-densitometer pada panjang gelombang
maksimum. Dihitung berapa regresi linier antara kadar dan luas area
noda.
c. Penentuan presisi
Untuk menghitung presisi, ditotolkan sampel masing-masing 2 L dan
larutan standar EPMS masing-masing 2 L pada plat KLT. Plat ini kemudian
dieluasi dengan fase gerak da dianalisis menggunakan KLT-densitometer
pada panjang gelombang maksimum. Sehingga dapat dihitung berapa
standar deviasi (SD) dan koefisien variasinya (KV).

d. Penetuan akurasi
Untuk menetnukan persen recoveri, ditotolkan sampel recoveri masing-
masing 2 L (lihat preparasi sampel untuk recoveri) dan larutan standar
EPMS masing-masing 2 L pada plat KLT. Plat ini kemudian dieluasi
dengan fase gerak dan di analisis menggunakan KLT- densitometer pada
panjang gelombang maskimum.
% recoveri = = x 100%

Dimana Ct = Kadar EPMS yang diperoleh


Cp = Kadar EPMS dalam sampel
Cst = Kadar standar EPMS yang ditambahakan
Hasil yang diperoleh kemudian dihitung standar deviasi (SD) dan koefisien
variasinya (KV).
HASIL PERHITUNGAN
KELOMPOK METODE % RENDEMEN % Kadar Rata-rata % Kadar Rata-rata
EPMS Dalam Serbuk EPMS Dalam
Kapsul
Kel 1 Kinetika 10,925 % 36,63 % 11,60 %

Kel 2 Ultrasonik 11,46 % 33,68 % 5, 79 %

Kel 3 Perendaman 12,11 % 35,11 % 6,41 %

Kel 4 Kinetika 11,46 % 39,92 % 7,11 %

Kel 5 Perendaman 11,82 % 35,38 % 6,75 %

Kel 6 Perendaman 11,26 % 31,04 % 14,79 %

Kel 7 Perendaman 11,27 % 34,89 % 8%

Kel 8 Pengadukan 12,19 % 28,40 % 8,62 %

Kel 9 Ultrasonik 11,82 % 30,37 % 17,05 %


PEMBAHASAN
Pada praktikum kali ini dilakauakn penetapan kadar senyawa marker EPMS dalamsediaan kapsul
dengan metode KLT-densitometer. Pada TLC scanner dilakukan scanong pada panjang gelombang 309
nm (panjang gelombang maksimum yang didapatkan pada scaning penetapan kadar senyawa marker
EPMS dalam ekstrak kering). Setelah dilakukan scaning didapatkan kurva baku danluas area yang
nantinya akan digunakan untuk perhitungan.
Berdasarkan hasil perhitungan yang dilakukan kelompok kami didapatkan persamaan kurva baku y=
19,4042x + 12245,51 dengan nilai r = 0,9939. Nilai r yang didapatkan setelah melakukan reject data
pada baku kerja 1 dan 6. Kadar EPMS dalam kapsul yang didapatkan antara lain 13,3942 mg , 13,3865 mg, dan
12,5443 mg dengan rata-rata kadar EPMS 13,1083 mg sedangkan kadar yang diinginkan adalah 15mg/kapsul. .
Perbedaan jumlah kadar yang didapatkan perkapsul bisa saja dikarenakan kurangteliti
dalampencampuran ekstrakkering dengan bahan tambahan (avicel dan cab-o-sil) sebelum dimasukkan
kedalam kapsul. Hal lain yang juga dapat menyebabkan perbedaan antara lain kurang telitinya
praktikan dalam memasukkan ekstrak kedalam kapsul, karena yang memasukkan sediaan tidak hanya
5 praktikan saja.
Selain penetapan kadar EPMS dalam kapsul, pada praktikum kali ini juga dilakukan perhitungan % recoveri,
standar deviasi, koefisien variasi dari kapsul yang dibuat. Perhitungan % recoveri didapatkan hasil 97,06 %,
73,77% , dan 50,29% dengan rata-rata recoveri 73,76%. Untuk analisa sediaan obat % recoveri berkisaran antara
95 105%(indrianto, 1994). Perhitungan % recoveri dilakukan untuk melihat akurasi dari sampel. Dimana
akurasi sendiri adalah ukuran yang menunjukkan kedekatan hasil analisis dengan nilai yang
sebenarnya. Apabila dikaitkan dengan akurasi, sampel memiliki akurasi yang kurang baik .
Selanjutnya dilakuan perhitungan standar deviasi dan koefisien variasi . standar deviasi berhubungan
dengan presisi dimana presisi dalam suatu metode analisa menyatakan kedekatan hasil dari beberapa
seri pengukuran dengan multiple sampling pada suatu sampel yang homongen dibawah kondisi
tertentu. Standar deviasi didapatkan hasil untuk sampel 0,4885 dan koefisien variasi 3,76% dan standar deviasi
untuk recoveri 23,39 dan koefisien variasi 31,73 %. Hal ini bisa saja dikarenakan kesalahan saat praktikan
dimana penotolan sampel yang kurang konsisten dan pada saat dilakukan eluasi.
KESIMPULAN

Kurva baku yang didapatkan : y = 19,4042x +


12245,51 dengan nilai r = 0,9939. Nilai r yang
didapatkan setelah melakukan reject data pada baku
kerja 1 dan 6.
SD sampel : 0,4885
KV sampe : 3,76%
SD recoveri : 23,39
KV recoveri : 31,73 %