Anda di halaman 1dari 56

PENGARUH JARAK DAN PANJANG KOLOM DIAMETER 4

CM PADA STABILISASI TANAH LEMPUNG EKSPANSIF


MENGGUNAKAN METODE DSM BERPOLA TRIANGULAR
TERHADAP DAYA DUKUNG TANAH

RESA BAGUS DHARMA PRANA


105060107111032
BAB 1 PENDAHULUAN
LATAR BELAKANG
Maraknya pembangunan
pada masa ini

Perilaku tanah
lempung ekspansif

Perlu adanya perbaikan


menggunakan DSM
IDENTIFIKASI MASALAH

Sifat kembang susut pada tanah lempung


ekspansif dapat menyebabkan kerusakan
pada sturktur Oleh karena itu :
Perbaikan tanah dengan campuran 15% fly ash menggunakan metode
DSM diharapkan dapat memperbaiki sifat kembang susut tanah lempung
ekspansif.

Dengan variasi jarak dan panjang kolom DSM diharapkan dapat diketahui
RUMUSAN MASALAH
Bagaimana pengaruh variasi jarak dan panjang kolom tipe
triangular dengan diameter 4 cm terhadap nilai daya dukung (qu)
pada tanah lempung ekspansif dari daerah Ngasem, Bojonegoro,
Jawa Timur dengan pencampuran 15% fly ash?
Berapa jarak dan kedalaman kolom maksimum untuk
meningkatkan nilai daya dukung (qu) pada tanah lempung
ekspansif dari daerah Ngasem, Bojonegoro, Jawa Timur dengan
pencampuran 15% fly ash?
Bagaimana pengaruh stabilisasi tanah lempung ekspansif pada
metode Deep Soil Mix dengan bahan aditif 15% fly ash terhadap
nilai pengembangan (swelling) tanah?
BATASAN MASALAH
Sampel tanah yang digunakan adalah tanah lemung yang diambil dari kecamatan Ngasem,
Bojonegoro, Jawa Timur.
Proses pelaksanaan dan pengujian dari penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mekanika
Tanah dan Geologi Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Brawijaya.
Fly ash yang digunakan didapat dari toko bangunan di Malang.
Prosentase fly ash yang digunakan sebanyak 15% dari berat kering tanah kolom stabilisasi.
Kadar air optimum (OMC) untuk tanah asli adalah 27,9 % dan d = 1,28 gram/cm3.
Kadar air optimum (OMC) untuk pencampuran tanah dengan fly ash adalah 25,824 % dan d
= 1,488 gram/cm3.
Waktu perawatan (curing) sebelum pengujian adalah 4 hari.
Metode stabilisasi yang digunakan adalah metode Deep Soil Mixing dengan konfigurasi tipe
Triangular dengan diameter 4 cm.
Variasi jarak antar kolom adalah 1 D, 1,25 D, dan 1,5 D, sedangkan variasi kedalaman kolom
adalah 1 B, 2 B, dan 3 B, dimana D adalah diameter kolom 4 cm dan B adalah lebar pondasi
5 cm.
Pencampuran tanah dengan tambahan fly ash dianggap tidak berpengaruh dan
homogen serta dilakukan di luar boks.
Pengujian laboratorium yang dilakukan adalah uji beban hidrolik (loading test) dengan
penentuan keseragaman penurunan 50 digit pada pembacaan alat sensor linear variable
differential transformers ( LVDT) yang dipasang di atas pelat baja ukuran 5 x 5 x 2 cm
sebagai penyalur beban. Pembebanan dihentikan ketika pembacaan beban pada load
cell menunjukkan beban tiga kali sama berturut-turut pada penurunan yang berbeda.
Perubahan terhadap karakteristik tanah akibat adanya pencampuran tidak dianalisis.
Pada penelitian ini tidak dibahas mengenai analisa kimia dan ekonomi secara khusus.
TUJUAN PENELITIAN
Untuk mengetahui pengaruh variasi jarak dan kedalaman kolom tipe
Triangular dengan diameter 4 cm pada metode Deep Soil Mixing terhadap
nilaidaya dukung (qu) tanah lempung ekspansif di daerahNgasem,
Bojonegoro,Jawa Timur dengan pencampuran 15% fly ash dalam studi
laboratorium.

Untuk mengetahui pengaruh variasi jarak dan kedalaman kolom


yangoptimum untuk menghasilkan nilai daya dukung (qu) terbesar pada
tanahlempung ekspansif di daerah Ngasem, Bojonegoro, Jawa Timur
denganpencampuran 15% fly ash studi laboratorium.

Untuk mengetahui pengaruh stabilisasi tanah lempung ekspansif pada


metode Deep Soil Mix dengan bahan aditif 15% fly ash terhadap nilai
pengembangan (swelling) tanah.
MANFAAT PENELITIAN

Memberikan informasi mengenai stabilisasi tanah lempung


ekspansif dari daerah Ngasem, Bojonegoro, Jawa Timur
dengan aditif fly ash pada metode Deep Soil Mixingdalam
studi laboratorium.
Memberikan informasi mengenai perbedaan nilai daya
dukung (qu) tanahlempung ekspansif dari daerah Ngasem,
Bojonegoro, Jawa Timur akibatpencampuran aditif fly ash
beserta variasi jarak dan kedalaman pada metodeDeep Soil
Mixing dalam studi laboratorium
Sebagai acuan untuk penelitian selanjutnya.
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
Tanah
Tanah merupakan hasil pelapukan batuan karena proses fisika
(panas, dingin, membeku, dan mencair) maupun kimia (hidrasi dan
oksidasi).
Dalam klasifikasi secara garis besar, tanah dibagi menjadi beberapa
macam berdasarkan ukuran partikel tanah yang sangat beragam
dengan variasi yang cukup besar. Pada umumnya pembagian
tersebut adalah sebagai berikut:
Kerikil (gravel), yaitu kepingan-kepingan batuan yang kadang juga
termasuk partikel mineral quartz dan feldspar.
Pasir (sand), yaitu sebagian besar terdiri dari mineral quartz dan
feldspar.
Lanau (silt), yaitu sebagian besar fraksi mikroskopis (yang
berukuran sangat kecil) dari tanah yang terdiri dari butiran-butiran
quartz yang sangat halus, dan dari pecahan-pecahan mika.
Lempung (clay), yaitu sebagian besar terdiri dari partikel
mikroskopis (berukuran sangat kecil) dan submikroskopis (tak
dapat dilihat dengan kasat mata, hanya dengan mikroskop) yang
ukurannya lebih kecil dari 2 mikron
Tanah Lempung
Tanah lempung merupakan suatu jenis tanah yang memiliki
partikel-partikel mineral tertentu dan menghasilkan sifat-sifat
plastis pada tanah bila dicampur dengan air (Grim, 1953)
Kandungan mineral lempung utamanya montmorillonite, illite,
kaolinite
Berdasar kandungan mineral didalamnya tanah lempung dapat
digolongkan menjadi dua yaitu lempung ekspansif dan non-
ekspansif

Tanah Lempung Ekspansif


Tanah lempung ekspansif merupakan jenis lempung yang
memiliki sensitifitas tinggi terhadap perbuahan kadar air
sehingga sifat kembang susutnya juga besar.
Stabilisasi Tanah
Stabilisasi merupakan upaya untuk meningkatkan dan
memperbaiki kualitas material agar dapat memenuhi standart
yang ditetapkan.
Stabilisasi pada tanah dapat dilakukan secara mekanis maupun
dengan penggunaan bahan aditif.

Stabilisasi Tanah dengan Fly Ash


Penambahan fly ash pada tanah ekspansif dimaksudkan agar
terjadi reaksi pozzolanic, yaitu reaksi antara kalsium yang
terdapat dalam fly ash dengan alumina dan silikat yang terdapat
dalam tanah, sehingga manghasilkan masa yang keras dan
kaku.
Penambahan fly ash selain memperkaya kandungan alumina dan
silika tanah, juga memperbaiki gradasi tanah. (Budi et al., 2005)
Metode Pencampuran Tanah Dalam
(Deep Soil Mix Method)
Deep Soil Mixing adalah metode pencampuran dengan bahan
aditif pada tanah agar terjadi pengikatan antara bahan aditif
dengan tanah hingga kedalaman tertentu untuk meningkatkan
stabilitas tanah.

Konfigurasi bentuk kolom stabilisasi (Mirja Kosche, 2004)


Uji Pembebanan
Uji pembebanan dilakukan untuk mengetahui atau
menyelidiki perilaku dari suatu benda uji.

Skema uji pembebanan (Muntohar, 2009)


Daya Dukung Tanah
Daya dukung tanah merupakan suatu kekuatan tanah dalam
menahan beban yang terjadi yang biasanya disalurkan
melalui pondasi. Daya dukung menyatakan kuat geser tanah
untuk melawan penurunan yang diakibatkan dari
pembebanan.

Bearing Capacity Improvement (BCI)


BCI merupakan suatu metode yang menggambarkan
perbandingan daya dukung tanah yang dilakukan perbaikan
terhadap daya dukung tanah tanpa perlakuan perbaikan.
Kembang Susut (Swelling)
Swelling adalah bertambahnya volume tanah secara perlahan-
lahan akibat tekanan air pori berlebih negatif.
Tanah yang banyak mengandung lempung khususnya tanah
lempung ekspansif mengalami perubahan volume yang ekstrim
ketika kadar air berubah. Perubahan itulah yang dapat
membahayakan konstruksi di atasnya.
BAB 3 METODE PENELITIAN
DIAGRAM PENELITIAN
Mulai

Studi literatur

Pengambilan Sampel Tanah dan Fly Ash

Persiapan Benda Uji Tanah Asli

Pemodelan Benda Uji Tanah Asli

Uji Pembebanan Tanah Asli

Pemodelan Benda Uji Tanah Asli + 15% Fly Ash Kondisi OMC

Pengeraman Benda Uji Selama 4 Hari

Uji Pembebanan

Pembahasan dan Analisa Data

Kesimpulan

Selesai
Kembang Susut (Swelling)
Jarak kolom Panjang Kolom Luas Pondasi
Pu qu Penurunan
Jenis Sampel (L) (Df) (A)

cm Cm cm2 kg kg/cm2 mm

Tanah Asli 25

1B = 5 cm 25

1D (4 cm) 2B = 10 cm 25

3B = 15 cm 25

Tanah Asli + 1B = 5 cm 25
Kolom DSM
1,25D (5) 2B = 10 cm 25
15% fly ash
3B = 15 cm 25

1B = 5 cm 25

1,5D (6) 2B = 10 cm 25

3B = 15 cm 25
BAHAN PENELITIAN

1. Tanah lempung yang berasal dari daerah Ngasem, Bojonegoro,


Jawa Timur
2. Fly ash yang didapat dari took bangunan di Malang, Jawa
Timur
PENGUJIAN BENDA UJI
1. Pemodelan Benda Uji
2. Menentukan titik tengah permukaan tanah dengan
menggunakan penggaris dan tali
3. Meratakan permukaan tanah untuk meletakkan pelat pondasi
dengan bantuan waterpass
4. Peletakan plat baja ukuran 5x5 cm pada titik tengah
permukaan tanah.
5. Menyiapkan dan meletakkan satu set alat uji pembebanan.
6. Uji pembebanan benda uji dengan hydraulicpump.
7. Pembebanan dilakukan dengan menetapkan keseragaman
penurunan 50 digit pada pembacaan LVDT. Pembebanan
dihentikan ketika pembacaan beban pada Load Cell
menunjukkan tiga kali sama berturut-turut pada penurunan
yang meningkat.
8. Mencatat penurunan dan beban yang terjadi.
Gambar 3.1 Skema uji pembebanan sampel (Ahya, 2014)
HASIL DAN
BAB 4 PEMBAHASAN
Hasil Specific Gravity (Gs)
Labu Ukur 1 2 3
Specific
2,713 2,754 2,724
Gravity (Gs)
Rata-rata (Gs) 2,73

Hasil Analisa Saringan Dan Hidrometer

100

PERCENT FINER (%)


80
60
40
20
0
10 1 0.1 0.01 0.001

PARTICLES DIAMETER (MM)


Hasil Pemeriksaan Batas-Batas Atterberg
Bahan LL (%) PL (%) SL (%) PI (%)
Tanah
73,92 30,41 2,8 43,51
Asli

Hasil Klasifikasi Tanah Sistem Unified


Hasil Klasifikasi Tanah Berdasarkan Potensi Mengembang

Hasil Pemadatan standar tanah asli


Hasil Uji Pembebanan Sampel Tanah Asli

BEBAN (KG)
0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100110120130140150160170180
0
2
4

PENURUNAN (MM)
6
8
10
12
14
16
18
Tanah Asli
Hubungan Tegangan dengan Penurunan Tanah Asli

TEGANGAN (KG/CM2)
0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5 5 5.5 6 6.5 7
0
2

PENURUNAN (MM)
4
6
8
10
12
14
16
18
Tanah Asli
Hasil Uji Pembebanan Sampel Tanah Stabilisasi DSM

Prosentase
Pu qu
Jenis Benda Uji Variabel Stabilisasi
% kg kg/m kN/m

Tanah Asli - 0.00 165 66000 660

L = 4 cm ; Df = 5 cm 10.210 291 116400 1164

L = 5 cm ; Df = 5 cm 6.283 262 104800 1048

L = 6 cm ; Df = 5 cm 3.927 190.5 76200 762

L = 4 cm ; Df = 10 cm 20.420 355 142000 1420


Tanah Asli + Kolom
L = 5 cm ; Df = 10 cm 12.566 282.5 113000 1130
DSM 15% Fly Ash
L = 6 cm ; Df = 10cm 7.854 222 88800 888

L = 4 cm ; Df = 15 cm 30.631 423 169200 1692

L = 5 cm ; Df = 15 cm 18.850 402.5 161000 1610

L = 6 cm ; Df = 15 cm 11.781 291 116400 1164


Perbandingan Nilai Daya Dukung
Terhadap Prosentase Stabilisasi Tanah
20

18 16.92
16.1
16
14.2
14
11.64
11.64
11.3
12
10.48
10 8.88
y = -0.005x2 + 0.4995x + 6.6
7.62 R = 0.923
8
6.6
6 TrendLine 1B 1D
1B1.25D 1B 1,5D
2B 1D 2B 1,25D
4
2B 1,5D 3B 1D
3B 1,25D 3B 1,5D
2 Tanah Asli Poly. (TrendLine)
Linear (Tanah Asli)
0
0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00 30.00 35.00
Nilai Daya Dukung Hasil Uji Beban Dengan Variasi
Panjang Kolom Terhadap Jarak Antar Kolom

Jarak Kolom kedalaman Luas Pondasi


Pu qu
Jenis Sampel (L) Kolom (Df) (A)

cm cm cm2 kg kg/cm

Tanah Asli - - 25 165 6.6

5 25 291 11.64
4
10 25 355 14.2

15 25 423 16.92

Tanah Asli + 5 25 262 10.48


5
Kolom DSM 10 25 282.5 11.3
15% Fly Ash 15 25 402 16.1

5 25 190 7.62
6
10 25 222 8.88

15 25 291 11.64
Perbandingan Nilai Daya Dukung dengan Variasi
Panjang Kolom (Df) Terhadap Jarak Antar Kolom (L)

18 16.92
16.1
16
14.2
14

11.64 11.3 11.64


12
10.48
QU (KG/CM3)
10 8.88
7.62
8

4
Jarak Kolom (L) = 1D Jarak Kolom (L) = 1.25D Jarak Kolom (L) = 1,5D

0
0 5 10 15 20
KEDALAMAN KOLOM (CM)
Nilai Daya Dukung Hasil Uji Beban Dengan Variasi
Panjang Kolom Terhadap Jarak Antar Kolom
Kedalaman Jarak Kolom Luas Pondasi
Pu qu
Jenis Sampel Kolom (Df) (L) (A)
cm cm cm2 kg kg/cm
Tanah Asli - - 25 165 6.6
4 25 291 11.64
5 5 25 262 10.48
6 25 190.5 7.62

Tanah Asli + 4 25 355 14.2


Kolom DSM 10 5 25 282.5 11.3
15% Fly Ash 6 25 222 8.88
4 25 423 16.92
15 5 25 402.5 16.1
6 25 291 11.64
Perbandingan Nilai Daya Dukung dengan Variasi Jarak
Antar Kolom (L) Terhadap Panjang Kolom (Df)
18 16.92
16.1
16
14.2
14
11.64 11.3 11.64
12
10.48

QU (KG/CM3)
10 8.88
7.62
8

2 Kedalaman (Df) = 1B Kedalaman (Df) = 2B Kedalaman (Df) = 3B

0
3.5 4 4.5 5 5.5 6 6.5
JARAK KOLOM (CM)
Analisis Penurunan Tanah

Penurunan Tanah yang Distabilisasi Kolom DSM


pada Variasi Jarak Antar Kolom (L) terhadap
Panjang Kolom (Df)
Q (KG/CM)
0 1 2 3 4 5 6 6.6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
0
0.8

3.5
5 4.8
PENURUNAN (MM)

10

15

16.57

20

Triangular Jarak 1D = 4cm Kedalaman 5cm Triangular Jarak 1.25D = 5cm Kedalaman 5cm
25 Triangular Jarak 1.5D = 6cm Kedalaman 5cm Tanah Asli

Grafik Hubungan Tegangan dengan Penurunan Terhadap Panjang Kolom


(Df) = 5 cm
Penurunan Tanah yang Distabilisasi Kolom DSM
pada Variasi Jarak Antar Kolom (L) terhadap
Panjang Kolom (Df)

Q (KG/CM)
0 1 2 3 4 5 6 6.6 7 8 9 10 11 12 13 14 15
0
1,1
3

5
7.1

PENURUNAN (MM)
10

15
16.57
Triangular Jarak 1D = 4 cm Kedalaman
20 10cm
Triangular Jarak 1.25D = 5cm Kedalaman
10cm
Triangular Jarak 1.5D = 6cm Kedalaman
10cm
25

Grafik Hubungan Tegangan dengan Penurunan Terhadap Panjang Kolom


(Df) = 10 cm
Penurunan Tanah yang Distabilisasi Kolom DSM
pada Variasi Jarak Antar Kolom (L) terhadap
Panjang Kolom (Df)

Q (KG/CM)
0 1 6.6
2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20
0
1.85 6.6
2.7 4.2

PENURUNAN (MM)
10

15
16.57

20 Triangular Jarak 1D = 4cm Kedalaman 15cm

Triangular Jarak 1.25D = 5cm Kedalaman 15cm

25 Triangular Jarak 1.5D = 6cm Kedalaman 15cm

Tanah Asli
30

Grafik Hubungan Tegangan dengan Penurunan Terhadap Panjang Kolom


(Df) = 15 cm
Penurunan Akibat Variasi Jarak Antar Kolom
Kedalaman Jarak Kolom Luas
Jenis qu Penurunan
Kolom (Df) (L) Pondasi (A)
Sampel
cm cm cm2 kg/cm mm
Tanah Asli - - 25 6.6 16.57
4 25 11.64 0.8

5 5 25 10.48 3.5

6 25 7.62 4.8
Tanah Asli + 4 25 14.2 1.1
Kolom DSM 11.3 3
10 5 25
15% Fly
Ash 6 25 8.88 7.1

4 25 16.92 1.85

15 5 25 16.1 2.7

6 25 11.64 4.2
Grafik Hubungan Penurunan terhadap Variasi
Jarak antar Kolom
8
7.1
7

PENURUNAN (MM)
4.8
5
4.2
4 3.5
3
3 2.7

1.85
2
1.1
0.8
1

0
3.5 4 4.5 5 5.5 6 6.5
JARAK KOLOM (CM)

Kedalaman (Df) = 1B Kedalaman (Df) = 2B Kedalaman (Df) = 3B


Penurunan Tanah yang Distabilisasi Kolom DSM
pada Variasi Kedalaman Kolom (Df) terhadap Jarak
Antar Kolom (L)

Q (KG/CM)
0 2 4 6 6,6 8 10 12 14 16 18
0
1,1
1,3 1,9

PENURUNAN (MM)

10

15
16,57

20

L=1D Df=1B L=1D Df=2B L=1D Df=3B TANAH ASLI

25

Grafik Hubungan Tegangan dengan Penurunan


Terhadap Jarak Kolom (L) = 4 cm
Penurunan Tanah yang Distabilisasi Kolom DSM
pada Variasi Kedalaman Kolom (Df) terhadap Jarak
Antar Kolom (L)

Q (KG/CM)
0 5 6.6 10 15 20
0
2.2
3

3.95
5

PENURUNAN (MM)
10

15
16.57

20

25

30 L=1.25D Df=1B L=1.25D Df=2B L=1.25D Df=3B TANAH ASLI

Grafik Hubungan Tegangan dengan Penurunan


Terhadap Jarak Kolom (L) = 5 cm
Penurunan Tanah yang Distabilisasi Kolom DSM
pada Variasi Kedalaman Kolom (Df) terhadap Jarak
Antar Kolom (L)

Q (KG/CM)
0 2 4 6 6,6 8 10 12 14
0

4,3
5
5.2

PENURUNAN (MM)
6,7

10

15

16.57

20 L=1.5D Df=1B L=1.5D Df=2B L=1.5D Df=3B TANAH ASLI

Grafik Hubungan Tegangan dengan Penurunan


Terhadap Jarak Kolom (L) = 6 cm
Penurunan akibat Variasi Panjang Kolom

Jarak Kolom Panjang Luas


Jenis qu Penurunan
(L) Kolom (Df) Pondasi (A)
Sampel
cm cm cm2 kg/cm mm
Tanah Asli - - 25 6.6 16.57
1B 25 11.64 1.1

1D 2B 25 14.2 1.3

3B 25 16.92 1.9

Tanah Asli + 1B 25 10.48 3.95

Kolom DSM 1.25D 2B 25 11.3 3

15% Fly Ash 3B 25 16.1 2.2

1B 25 7.62 4.3

1.5D 2B 25 8.88 6.7

3B 25 11.64 5.2
Grafik Hubungan Penurunan terhadap
Variasi Panjang Kolom

7 6.7

6
5.2

PENURUNAN (MM)
5
4.3
3.95
4
3
3
2.2
1.9
2
1.3
1.1
1

0
3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16
KEDALAMAN KOLOM (CM)

Jarak (L) = 4 cm Jarak (L) = 5 cm Jarak (L) = 6 cm


Analisis pengaruh variasi jarak dan kedalaman
kolom DSM 15 % fly ash berdasarkan BCI
Perbandingan BCIu pada Variasi Jarak Antar Kolom (L) Terhadap
Panjang Kolom (Df)

Panjang Jarak Prosentase Peningkatan


Jenis qu
Kolom (Df) Kolom (L) BCI Daya Dukung
Sampel
cm cm kg/cm (%)
Tanah Asli - - 6.6 1
4 11.64 1.764
11.069
5 5 10.48 1.588
37.533
6 7.62 1.155
Tanah Asli
4 14.2 2.152
+ Kolom 25.664
10 5 11.3 1.712
DSM 15% 27.252
6 8.88 1.345
Fly Ash
4 16.92 2.564
5.093
15 5 16.1 2.439
38.316
6 11.64 1.764
Perbandingan BCIu pada Variasi Jarak Antar Kolom
(L) Terhadap Panjang Kolom (Df)
3.000

2.564
2.439
2.500
2.152

2.000
1.764 1.712 1.764
1.588
BCI

1.500 1.345
1.155

1.000

0.500

Kedalaman (Df) = 1B Kedalaman (Df) = 2B Kedalaman (Df) = 3B


0.000
3.5 4 4.5 5 5.5 6 6.5
JARAK KOLOM (CM)
Perbandingan BCIu pada Variasi Kedalaman Kolom (Df)
Terhadap Jarak antar Kolom (L)
Prosentase
Jarak Kedalaman
Jenis qu Peningkatan Daya
Kolom (L) Kolom (Df) BCI
Sampel Dukung

cm cm kg/cm (%)
Tanah Asli - - 6.6 1
5 11.64 1.76
21.99
4 10 14.2 2.15
19.15
15 16.92 2.56
Tanah Asli 5 10.48 1.59
+ Kolom 7.82
5 10 11.3 1.71
DSM 15% 42.48
Fly Ash 15 16.1 2.44
5 7.62 1.15
16.54
6 10 8.88 1.35
31.08
15 11.64 1.76
Perbandingan BCIu pada Variasi Kedalaman Kolom (Df)
Terhadap Jarak antar Kolom (L)
3.00

2.56
2.44
2.50

2.15

2.00
1.76 1.71 1.76
1.59
BCI
1.50 1.35
1.15

1.00

0.50

Jarak Kolom (L) = 1D Jarak Kolom (L) = 1.25D Jarak Kolom (L) = 1.5D

0.00
0 5 10 15 20
KEDALAMAN KOLOM (CM)
Pengaruh Variasi Jarak Antar Kolom (L) dan Panjang
Kolom (Df) Terhadap Nilai Daya Dukung dan
Penurunan Tanah
Perbandingan Peningkatan BCIu pada Variasi Jarak dan Panjang Kolom

Variasi Jarak Variasi Panjang


Peningkatan BCIu Peningkatan BCIu
Df L L Df
cm cm % % cm cm % %
4 15
11.0687 19.15493
5 5 4 10
37.53281 21.99313
6 5
4 15
25.66372 42.47788
10 5 5 10
27.25225 7.824427
6 5
4 15
5.093168 31.08108
15 5 6 10
38.31615 16.53543
6 5
Perbandingan Penurunan Nilai Settlement pada Variasi Jarak dan
Panjang Kolom Stabilisasi saat (q) Kolom Stabilisasi = (qu) Tanah asli

Variasi Jarak Variasi Panjang


Selisih Penurunan Selisih Penurunan
Df L L Df
cm cm mm mm cm cm mm mm
6 5
1.3 0.2
5 5 4 10
2.7 0.6
4 15
6 5
4.1 0.95
10 5 5 10
1.9 0.8
4 15
6 5
1.5 2.4
15 5 6 10
0.85 1.5
4 15
Pengembangan (swelling) Terhadap Prosentase Tanah Stabilisasi
Prosentase pengembangan terhadap prosentase kolom tanah
stabilisasi penelitian DSM

Penurunan
Volume Volume Persentase Pengembangan
Df L Swelling dari
Sampel Kolom Benda Uji Stabilisasi (swelling)
tanah Asli

(cm) (cm) (cm3) (cm3) (%) (%) (%)


4 816.81 10.21 3.60 -12.88
5 5 502.66 6.28 3.81 -7.93
Tanah
6 314.16 3.93 3.90 -5.74
Asli +
4 1633.63 20.42 1.41 -65.87
Kolom
10 5 1005.31 8000.00 12.57 3.37 -18.41
DSM
6 628.32 7.85 3.74 -9.51
15% Fly
4 2450.44 30.63 0.00 -100.00
Ash
15 5 1507.97 18.85 2.00 -51.68
6 942.48 11.78 3.46 -16.26
BAB 5 Kesimpulan dan Saran
Kesimpulan
Variasi jarak dan kedalaman kolom stabilisasi pada metode DSM konfigurasi
Triangular diameter 4 cm dengan penambahan fly ash sebagai bahan stabilisasi
tanah mempengaruhi nilai daya dukung (qu) dan penurunan (settlement)
dibandingkan tanpa stabilisasi.
Meningkatnya panjang kolom (Df) maka daya dukung yang diperoleh semakin
besar dan penurunan yang terjadi semakin kecil.
Bertambahnya jarak antar kolom (L) maka daya dukung yang diperoleh semakin
kecil dan penurunan yang terjadi semakin besar.
Variabel yang paling dominan dalam penelitian ini adalah pada variasi jarak
antar kolom (L).
Stabilisasi dengan bahan aditif fly ash pada metode DSM dapat mengurangi nilai
pengembangan (swelling) seiring dengan meningkatnya prosentase volume
tanah yang distabilisasi.
Saat prosentase volume tanah stabilisasi 30,63% dapat menghentikan
pengembangan (swelling) yang terjadi.
Saran
Perlu adanya penelitian lanjutan mengenai pengaruh lama perawatan
pada salah satu variasi.
Perlu ditambahkannya metode khusus untuk perawatan (curing) pada
benda uji agar kondisi benda uji tetap sesuai dengan ketentuan tertentu.
Perlu pemasangan angkur pada frame yang digunakan pada
pembebanan agar beban balik tidak terjadi.
Perlu dilakukan perbaikan pada box benda uji agar lebih kokoh saat
dilakukan pemadatan tanah ataupun saat pembebanan
Perlu adanya perbaikan pada hydraulic pump sebagai alat untuk
memberikan tekanan atau beban pada benda uji agar tekanan atau
beban yang disalurkan tetap konstan.
Perlu adanya penambahan box untuk benda uji agar waktu pelaksanaan
lebih singkat.
Terimakasih
EarthBender and The Last Wolfs