Anda di halaman 1dari 35

ADJUNCTS TO

ANESTHESIA

Oleh :
Rafli Ilman Muttaqin
Anugrah Ramdhani
Pitry Herwidianti
Vicky Fransiska
Angky Naditha Pratiwi
Lena Anggraeni
ASPIRASI

Aspirasi isi lambung jarang terjadi, dapat berakibat fatal dan


dapat mempersulit anesthesia
Beberapa intervensi seperti mempertahankan tekanan krikoid
(maneuver Sellick) dan induksi obat secara cepat, hanya
memberikan proteksi yang terbatas.
Antagonis Reseptor Histamin

Kardiovaskular
Stimulasi reseptor H1 meningkatkan kemampuan
permeabilitas kapiler dan meningkatkan iritabilitas ventrikular,
sedangkan stimulasi reseptor H 2 meningkatkan denyut jantung
dan kontraktilitas miokardial.

Respirasi
Reseptor H 1 memperantarai vasodilatasi otot polos bronkus,
sedangkan reseptor H 2 memperantarai vasokonstriksi otot
polos bronkus
Gastrointestinal
Aktivasi reseptor H 2 pada sel parietal meningkatkan sekresi
asam lambung. Stimulasi reseptor H 1 menyebabkan kontraksi
otot usus halus.

Dermal
Aktivasi reseptor H 1 & H 2 menyebabkan peningkatan
permeabilitas kapiler dan vasodilatasi

Immunologi
Stimulasi reseptor H 1 menarik leukosit dan merangsang sintesis
prostaglandin. Sebaliknya, reseptor H 2 mengaktivasi suppressor
limfosit T.
1 Antagonis Reseptor H 1

Mekanisme kerja
Obat antagonis reseptor H 1 memiliki efek antimuskarinik
atau efek antiserotonergik (antiemetic). Difenhidramin
(etanolamin) merupakan salah satu kelompok obat yang
memblok reseptor H 1 secara kompetitif
Tabel 1. Antagonis reseptor H 1 yang sering digunakan
Interaksi Obat
Efek sedative dari antagonis reseptor H1 dapat
meningkatkan efek depresan sistem saraf yang lain seperti
barbiturate, benzodiazepine dan opioid.
1 Antagonis Reseptor H 2

Mekanisme kerja
Menghambat perlekatan histamine ke reseptor H 2 secara
kompetitif, serta mengurangi produksi asam lambung dan
meningkatkan pH lambung.
Penggunaan Klinis
Efek samping
Komplikasi dari terapi jangka panjang simetidin yaitu
hepatotoksisitas (peningkatan transaminase serum), nefritis
interstisial (peningkatan kreatinin serum), granulositopenia,
trombositopenia, ginekomastia dan impotensi.
Tabel 2. Farmakologi profilaksis pneumonia aspirasi
Antasida

Mekanisme Kerja
Antacid menetralisir keasaman cairan lambung dengan
memberikan agen (hidroksida, karbonat, bikarbonat, sitrat,
trisilikat) yang bereaksi dengan ion hydrogen membentuk air.

Penggunaan Klinis
Dalam bidang anestesi, antasida memberikan proteksi
terhadap efek buruk dari pneumonia aspirasi dengan cara
meningkatkan pH lambung.
Dosis
Dosis dewasa untuk solusio natrium sitrat 0,3 M yaitu
Bicitra (sodium sitrat dan asam sitrat) atau Polycitra (natrium
sitrat, kalium sitrat, asam sitrat) adalah 15-30 ml per oral,
diminum 15-30 menit sebelum induksi.
Metoklopramid

Mekanisme Kerja
Metoklopramid bekerja secara perifer sebagai
kolinomimetik (memfasilitasi transmisi asetilkolin pada
reseptor muskarinik selektif) dan secara sentral sebagai
antagonis reseptor dopamine

Penggunaan Klinis
Dengan meningkatkan efek stimulasi dari asetilkolin pada
otot polos usus, metoklopramid meningkatkan tonus sfingter
esofagus inferior, mempercepat pengosongan lambung dan
mengurangi volume lambung.
Efek Samping
Injeksi IV secara cepat dapat menyebabkan kram perut dan
metoklopramid tidak boleh diberikan pada pasien dengan
obstruksi usus total.
Dosis
Dosis dewasa dari 10-20 mg (0,25 mg/kg) metoklopramid
efektif per ral, IM atau IV (injeksi dalam 5 menit).
Interaksi Obat
Metoklopramid menurunkan absorpsi simetidin per oral.
Penggunaan fenotiazin atau butirofenon (droperidol) secara
bersamaan dengan metoklopramid akan meningkatkan
kemungkinan terjadinya efek samping ekstrapiramidal.
Proton Pump Inhibitor (PPI)

Mekanisme Kerja
Kelompok obat ini terikat pada proton pump di sel parietal
mukosa lambung dan menghambat sekresi ion hydrogen.

Penggunaan Klinis
PPI digunakan untuk terapi ulkus duodenum, GERD dan
sindrom Zollinger-Ellison. PPI dapat menyembuhkan ulkus
peptikum dan GERD erosive lebih cepat daripada penghambat
reseptor H 2
Efek Samping
Efek samping terutama terjadi pada sistem gastrointestinal
(mual, nyeri perut, konstipasi, diare). Dapat juga menyebabkan
myalgia, anafilaksis, angioderma dan reaksi kulit yang parah,
tetapi kejadian-kejadian tersebut sangat jarang.

Dosis
Dosis dewasa untuk omeprazole adalah 20 mg, lansoprazol
15 mg, rabeprazol 20mg dan pantoprazole 40 mg.
POSTOPERATIVE NAUSEA & VOMITING
(PONV) / MUAL & MUNTAH PASCAOPERASI

Obat yang digunakan sebagai profilaksis dan terapi PONV


adalah antagonis 5-HT 3 , butirofenon, deksametason, antagonis
reseptor neurokinin-1 (aprepitant, Emend), antihistamin dan
skopolamin transdermal.
Tabel 3. Faktor risiko PONV
Tabel 4. Guideline untuk menurunkan risiko PONV (SAMBA)
Antagonis Reseptor 5-HT 3

Mekanisme Kerja
Ondansetron (Zofran), granisetron (Kytril) dan dolasetron
(Anzemet) memblok reseptor serotonin 5-HT 3 secara selektif,
tanpa atau dengan sedikit efek reseptor dopamin.

Efek samping
. Efek samping yang paling sering terjadi adalah nyeri kepala.
Butirofenon

Droperidol (0,625-1,25mg) dahulu digunakan secara rutin


untuk profilaksi PONV. Diberikan pada akhir prosedur untuk
memblok reseptor dopamine yang berkontribusi terhadap
perkembangan PONV.
Dexametason

Deksametason (Decadron) dalam dosis 4 mg menunjukkan


efektivitas yang sama dengan ondansetron dalam menurunkan
insidensi PONV. Deksamtason harus diberikan pada awal
operasi, dan mekanisme kerjanya masih belum diketahui
dengan jelas.
Antagonis Reseptor Neurokinin-1

Antagonis NK 1 menghambat substansi P pada reseptor


sentral dan perifer. Substansi P adalah neuropeptide yang
berinteraksi dengan reseptor neurokinin-1 (NK 1 ).
Strategi PONV lainnya

Skopolamin transdermal telah digunakan secara efektif,


meskipun dapat menyebabkan efek antikolinergik
(kebingungan, penglihatan buram, mulut kering).
Karena tidak ada agen tunggal yang dapat secara
bersamaan mengobati dan mencegah PONV, maka pusat
manajemen perioperatif memutuskan bahwa pada pasien
dengan risiko tinggi, diperlukan profilaksis dengan beberapa
agen.
OBAT-OBAT LAIN YANG DIGUNAKAN
SEBAGAI TAMBAHAN PADA ANESTESI

Ketorolac
Mekanisme Kerja
Ketorolac merupakan NSAID parenteral yang memberi efek
analgesic dengan menghambat sintesis prostaglandin.

Penggunaan Klinis
Ketorolac yang merupakan obat yang bekerja di perifer,
menjadi alternative opioid yang popoler untuk analgesia
pascaoperasi karena efek samping ssistem saraf pusatnya yang
minimal.
Efek Samping
Sama dengan NSAID lainnya, ketorolac menghambat
agregasi trombosit dan memperpanjang waktu perdarahan
Dosis
Dosis ketorolac yang direkomendasikan yaitu 60 mg IM
atau 30 mg IV (loading dose), 15-30 mg setiap 6 jam
(maintenance dose).
Interaksi Obat
Aspirin menurunkan pengikatan ketorolac oleh protein,
sehingga meningkatkan jumlah ketorolac yang beredar bebas.
Clonidin

Mekanisme Kerja
Menurunkan aktivitas simpatis, meningkatkan aktivitas
parasimpatis dan mengurangi katekolamin serum.

Penggunaan Klinis
Dalam bidang anesthesia, klonidin digunakan sebagai obat
tambahan pada anesthesia blok epidural, kaudal dan saraf
perifer serta analgesia
Efek Samping
Sedasi, pusing, bradikardi dan mulut kering adalah efek
samping yang sering terjadi.
Dosis
Klonidin epidural biasanya dimulai pada 30 mcg/jam dalam
campuran dengan opioid atau anestesi lokal
Interaksi Obat
Klonidin meningkatkan dan memperpanjang blok sensorik
dan motoric dari anestesi lokal.
Dexmedetomid

Mekanisme Kerja
Deksmedetomidin (Precedex) merupakan agonis 2 selektif
dengan efek sedative.
Penggunaan Klinis
Deksmedetomidin menyebabkan sedasi ansiolisis
ketergantungan dosis dan analgesia serta menurunkan respon
simpatis terhadap operasi dan stress lainnya.
Dosis
Dosis inisial yang direkomendasikan adalah 1mcg/kg
secara IV dalam waktu 10 menit dengan maintenance dose 0,2-
0,7 mcg/kg/jam.
Doxapram

Mekanisme Kerja
Doksapram (Dopram) merupakan stimulant sistem saraf
pusat dan perifer. Aktivasi kemoreseptor carotid secara selektif
oleh doksapram dosis rentah menstimulasi keadaan hipoksia,
menyebabkan peningkatan volume tidak dan frekuensi napas.
Dosis
Penggunaan bolus IV (0,5-1 mg/kg) menghasilkan
peningkatan waktu ventilasi (onset kerja 1 menit, durasi kerja
5-12 menit). Penggunaan IV secara terus-menerus (1-3
mg/menit) memberikan efek yang lebih lama (dosis maksimal
4 mg/kg).
Naloxon

Mekanisme Kerja
Nalokson (Narcan) merupakan antagonis reseptor opioid
kompetitif.

Dosis
Nalokson IV (0,4 mg/ml yang dilarutkan dalam 9 ml NaCl
menjadi 0,04 mg/ml) dapat dititrasikan dalam dosis 0,5-1
mcg/kg setiap 3-5 menit sampai ventilasi adekuat dan pasien
sadar
Interaksi Obat
Nalokson dapat menghambat efek antihipertensi dari klonidin.
Naltrexone

Naltrekson digunakan secara oral untuk terapi maintenance


pada ketergantungan opioid dan penyalahgunaan etanol.
Naltrekson juga dapat menghambat efek alkohol pada
beberapa orang.
Flumazenil

Mekanisme Kerja
Flumazenil (Romazicon) merupakan imidazobenzodiazepin
yang spesifik dan antagonis kompetitif terhadap
benzodiazepine pada reseptor benzodiazepine.

Penggunaan Klinis
Flumazenil berguna untuk melawan sedasi akibat
nenzodiazepin dan dapat digunakan dalam terapi overdosis
benxodiazepin.
Efek Samping
Dosis
Interaksi Obat
Dosis
Titrasi gradual flumazenil biasanya terpenuhi dengan
penggunaan 0,2 mg/menit secara IV. Dosis total biasanya 0,6-
1,0 mg. Karena ekskresinya yang cepat oleh hepar,
pengulangan dosis diperlukan setelah 1-2 jam untuk
menghindari sedasi ulang atau memulangkan pasien terlalu
cepat.