Anda di halaman 1dari 18

KOLABORASI DAN RUJUKAN

PADA KASUS YANG MEMERLUKAN


PENANGANAN
DI LUAR WEWENANG BIDAN

Disusun
oleh : Ade Tuntesy
Citra Mawarni A.
Fitri Pebrianti
Lelih Amaliah
Sri Wahyuni
Pengertian Kolaborasi
Kolaborasi dalam tim kesehatan adalah
hubungan kerja diantara tenaga kesehatan
dalam memberikan pelayanan kepada
pasien/klien.
Kolaborasi dapat berjalan dengan baik jika :
semua profesi memiliki visi dan misi yang
sama
masing-masing profesi mengetahui batas-
batas dari pekerjaannya
anggota profesi dapat bertukar informasi
dengan baik
masing-masing profesi mengakui keahlian
dari profesi lain yang bergabung dalam tim.
Elemen kunci kolaborasi dalam kerjasama tim, seperti :
a. Memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas
dengan menggabungkan keahlian unik profesional.
b. Produktivitas maksimal serta efektifitas dan efesiensi
sumber daya.
c. Meningkatnya profesionalisme dan kepuasan kerja.
d. Kejelasan peran dalam berinteraksi antar professional.
e. Menumbuhkan komunikasi, kolegalitas, menghargai dan
memahami orang lain.
Dasar-dasar Komperensi
Kolaborasi
a. Komunikasi
b. Respek dan kepercayaan
c. Memberikan dan menerima feed
back
d. Pengambilan keputusan
e. Manajemen konflik
Beberapa kriteria agar terwujudnya
suatu kolaborasi, yaitu:
a. Adanya saling percaya dan menghormati
b. Saling memahami dan menerima
c. Memiliki citra diri positif
d. Memiliki kematangan professional yang setara (yang
timbul dari pendidikan dan pengalaman)
e. mengakui sebagai mitra kerja bukan bawahan, dan
f. keinginan untuk bernegoisasi
Pengertian Rujukan
Sistem rujukan upaya keselamatan adalah suatu
sistem jaringan fasilitas pelayanan kesehatan yang
memungkinkan terjadinya penyerahan tanggung
jawab secara timbal-balik atas masalah yang
timbul baik secara vertikal maupun horizontal ke
fasilitas pelayanan yang lebih kompeten,
terjangkau, rasional, dan tidak dibatasi oleh
wilayah administrasi.
(SK Menkes RI No.32/1972), Sistem
penyelenggaraan pelayanan kesehatan
yang melaksanakan tanggung jawab
timbal balik terhadap satu kasus
penyakit/ masalah secara
Vertikal
Horizontal
Jenis Rujukan
Berikut adalah kasus-kasus yang harus dirujuk:

Asfiksia dan gangguan nafas


Bayi berat lahir rendah (BBLR)
Hipotermi berat
Ikterus progresif
Hipoglikemia yang tidak teratasai
Infeksi/sepsis yang tidak teratasi
Bayi dari ibu diabetes mellitus
Kasus renjatan (syok/kegagalan sirkulasi dalam memenuhi kebutuhan
oksigen dan nutrisi) yang tidak teratasi
Penyakit hemolisis
Bayi yang menyandang kelainan bawaan
Bayi yang mengalami kajang-kejang
Bayi mengalami gangguan pencernaan disertai muntah-muntah, diare
atau tidak buang air besar sama sekali dengan perut membuncit.
Bentuk Pelayanan Kesehatan
Pelayanan kesehatan tingkat pertama
(primary healt care)

Pelayanan kesehatan tingkat kedua


(secondary health services)

Pelayanan kesehatan tingkat tiga


(tertiary health services)
Sistem Rujukan
Jalur Rujukan Kasus Kegawatdaruratan

2. Dari Posyandu
1. Dari Kader Dapat langsung merujuk ke :
Dapat langsung merujuk ke : a. Puskesmas pembantu
a. Puskesmas pembantu b. Pondok bersalin / bidan desa
b. Pondok bersalin / bidan desa c. Puskesmas / puskesmas rawat
c. Puskesmas / puskesmas rawat inap
inap d. Rumah sakit pemerintah /
d. Rumah sakit pemerintah / swasta
swasta

3. Dari Puskesmas Pembantu


Dapat langsung merujuk ke rumah sakit tipe D/C atau rumah sakit swasta
4. Dari Pondok bersalin / Bidan Desa
Dapat langsung merujuk ke rumah sakit tipe D/C atau rumah sakit swasta
Langkah-Langkah Rujukan dalam
Pelayanan Kebidanan
1. Menentukan kegawatdaruratan penderita
2. Menentukan tempat rujukan
3. Memberikan informasi kepada penderita
dan keluarga
4. Mengirimkan informasi pada tempat
rujukan yang dituju
5. Persiapan penderita (BAKSOKUDA)
Faktor yang mempengaruhi
keberhasilan pelaksanaan rujukan :
Berfungsinya mekanisme rujukan dari tingkat masyarakat
dan puskesmas hingga rumah sakit tempat rujukan.
Adanya komunikasi 2 arah antara yang merujuk dan tempat
rujukan.
Tersedianya tenaga kesehatan yang mampu, terampil dan
siaga dalam 24 jam.
Tersedianya alat kesehatan dan obat-obatan sesuai
kebutuhan ditempat yang merujuk dan ditempat rujukan.
Tersedianya sarana transportasi/angkutan selama 24 jam
Begi keluarga yang tidak mampu tersedia dana untuk
transport, perawatan dan pengobatan dirumah sakit.
Tersedianya dana insetif bagi petugas kesehatan yang siaga
selama 24 jam
Keterlibatan Keluarga

Apa sajakah peran keluarga dalam rujukan?


ANY QUESTION ?
TERIMA KASIH