Anda di halaman 1dari 16

OM SWASTIASTU

Hukum Ketiga Thermodinamika


&
Kesetimbangan Kimia

NAMA KELOMPOK:
I Made Karya Artana (1313031013)
I Putu Suamba Yoga (1313031034)
Ida Bagus Ngurah Yudhi D. (1313031075)
HUKUM III
TERMODINAMIKA

Perumusan entropi dan cara


HUKUM II TERMODINAMIKA menentukan (S) pada
berbagai jenis proses.

Tidak bisa

Memberikan nilai
HUKUM TERMODINAMIKA III entropi mutlak
suatu zat

Memungkinkan untuk menentukan nilai entropi mutlak suatu


zat sehingga dapat disusun tabel nilai entropi dari berbagai zat.
Latar Belakang dan Rumusan Hukum III Termodinamika

Pada 1900 William Richards Datanya


Nernst : Menjelaskan
mengukur G sebagai fungsi slope/tangen kurve G vs T
suhu dalam reaksi elektrokimia untuk suatu reaksi mendekati
nilai 0 jika T mendekati 0
absolut

Untuk T mendekati nol pada


postulat beberapa reaksi berlaku (G/T)p =
Pada 1907 Nernst 0
Limit (G/T)p = 0
T 0

Karena (G/T)p = -S, maka (G/T)p = -S


Limit S = 0
T 0
Simon dalam eksperimennya

Untuk proses atau perubahan yang


melibatkan keadaan metastabil seperti
Postulat Nersnt cairan lewat dingin atau belerang
monoklin

untuk proses yang melibatkan zat murni


dalam keadaan stabil atau dalam
kesetimbangan internal

Rumusan Hukum III Termodinamika


(Penyataan Nernst dan Simon)

Untuk perubahan atau reaksi yang melibatkan zat murni dan


masing-masing dalam keadaan stabil maka perubahan entropinya
adalah 0 pada suhu 0 absolut
Pada 0 absolut perubahan entropi reaksi (S) adalah nol

S = vSproduk - vSreaktan maka pada suhu 0 absolut


Jumlah entropi produk Jumlah entropi reaktan = 0
Entropinya = 0 pada suhu 0 absolut berlaku untuk semua zat baik unsure maupun
senyawa yang dalam keadaan kesetimbangan internal

Hukum III Termodinamika


Memungkinkan untuk
Keadaan standar menyusun tabel nilai
untuk besaran entropi mutlak dari
entropi yaitu nilai berbagai zat pada
entropi zat pada 0 Setiap zat keadaan tertentu yang
absolut = 0 memiliki nilai diinginkan
entropi positif
tertentu di
atas 0 absolut
Menentukan Nilai Entropi zat Pada Temperatur Tertentu

Perubahan entropi pada P tetap dinyatakan :


T2 T2
dH CP
S S 2 S1 T T dT CP d ln T
T1
T 1

Jika rentangan suhu 0 298 K tidak terjadi perubahan fasa maka perbedaan
entropi zat pada 0 K dengan entropinya pada 298K pada tekanan tetap 1 atm
adalah :

298 298 298


dH CP
S 0 S 0 298 S 0 0
0
T

0
T
dT CP d ln T
0

298 298 298


dH CP
Karena So = 0 S 0 298
0
T

0
T
dT C
0
P d ln T
Grafik Cp vs logT untuk gas Nitrogen

Nilai entropinya sama dengan luas permukaan di bawah kurve


antara rentangan suhu 0 298 K. Cp pada rentangan suhu 0-15 K
sulit didapat sehingga integrasinya dilakukan dengan cara
ekstrapolasi.
Jika antara rentangan suhu 0 S=H/T harus diperhitungkan
298 K terjadi perubahan fasa

Misalnya antara 0-298 K terdapat perubahan fasa padat-cair dan pada suhu 298 K
dalam keadaan cair maka entropinya menjadi :

H ( m)
T( m ) 298
CP ( s ) CP ( l ) H(m) = entalpi
S 298 dT dT
0
T T( m) T( m )
T peleburan
T(m) = titik lebur
normaladalah gas ideal
Jika zat pada T ada dalam keadaan gas maka yang menjadi standar
sehingga harus diperhitungkan perubahan entropi dari gas nyata ke gas ideal
Tabel hasil perhitungan entropi untuk SO2
Rentangan Suhu (K) Cara Penentuan S (kal K-1mol-1)
0 15 Ekstrapolasi 0,3
15 197,64 Grafik 20,12
197,64 Peleburan 8,95
197,64 263,08 Grafik 25,96
263,08 Penguapan 22,66
263,08 298 Cp (gas) 1,25
S298 89,24

Dengan nilai entropi ini kita dapat mengetahui nilai perubahan entropi dari berbagai reaksi
pada keadaan standar dan dapat digunakan untuk menghitung tetapan kesetimbangan.

S = (viSi (produk) viSi(reaktan)) vi =koefisien reaksi


KESETIMBANGAN
KIMIA Dimana:
a, b, g, h : koefisien
reaksi
A, B, G, H : zat pereaksi
k1 dan hasil reaksi
Secara Umum aA + bB gG + hH k1 : tetapan
k2 kecepatan
reaksi ke kanan
k2 : tetapan
kecepatan
reaksi ke
kiri

k1 [A]a [B]b = k2 [G]g [H]h Kc adalah tetapan


kesetimbangan yang
= KC = dinyatakan dengan
konsentrasi (mol/L). [ ]
adalah konsentrasi zat
setelah keadaan
Berbeda pada suhu yang setimbang.
berbeda
Jika zat-zat yang terlibat ada
dalam fasa gas maka konsentrasi
dapat diganti dengan tekanan
parsial

Hubungan
P = nRT/V = CRT
antara Kc dan PV = nRT
Kp :
C merupakan
konsentrasi dalam
mol L-1

P = CRT

Dimana n = jumlah koefisien


reaksi untuk produk-jumlah
koefisien reaksi untuk reaktan
Hubungan Tetapan Kesetimbangan (K) dengan
Perubahan Energy Bebas (G)

Hubungan ini dapat diturunkan dari rumus dG G


= VdP SdT pada suhu tetap akan berlaku : V
P T
Untuk gas ideal V= RT/P
sehingga :

G
2
RT dP
2
P2 RT / P
G = G2 G1 = P RT d ln P RT ln
P1
P T
1 1

Jika P1 = 1 atmosfer, G1 = Go dan jika ditulis


G, P2 ditulis P maka
G-Go = RT ln P/1 = RT ln P
G-Go = RT ln P
G = Go + RT ln P
Misal Reaksi
Umum ditulis aA + bB hH + gG

Untuk masing masing zat berlaku

aGA = aG oA + aRT ln
bGB = bG oB + gGG = gG oG + hGH = hG oH +
PA
bRT ln PB gRT ln PG hRT ln PH
( PG ) g ( PH ) h
G = gGG + hGH + aGA + bGB G = gG0 G+ hG0 H + aG0 A + bG0 B+ RT ln
( PA ) a ( PB ) b

Go = -RT ln Kp G = 0 (setimbang) G = Go + RT ln Kp

Persamaan diatas merupakan salah satu hasil penting dari termodinamika.


Dengan persamaan ini nilai tetapan kesetimbangan reaksi dihubungkan
dengan besaran termodinamika. Nilai Go suatu reaksi dengan mudah dapat
ditentukan berdasarkan nilai Go yang ada pada tabel. Dengan mengetahui nilai
Go suatu reaksi maka dengan mudah dapat ditentukan nilai tetapan
kesetimbangan reaksinya.
OM SHANTI, SHANTI, SHANTI OM