Anda di halaman 1dari 20

PENGERTIAN KEPUTUSAN ETIS DAN

MORAL
Keputusan etis adalah keputusan tentang apa yang benar dan apa
yang salah. Karenanya, ia adalah keputusan yang sering sulit dan
rumit. Sementara sikap dan keputusan etis mau tidak mau harus
dilakukan, dan tidak bisa dihindari. Karena ia bagian hidup manusia.
Sedangkan Moral Secara kebahasaan perkataan moral berasal
dari ungkapan bahasa latin mores yang merupakan bentuk jamak
dari perkataan mos yang berarti adat kebiasaan. Dalam kamus
umum bahasa Indonesia dikatakan bahwa moral adalah penetuan
baik buruk terhadap perbuatan dan kelakuan. Istilah moral biasanya
dipergunakan untuk menentukan batas-batas suatu perbuatan,
kelakuan, sifat dan perangkai dinyatakan benar, salah, baik, buruk,
layak atau tidak layak, patut maupun tidak patut. (fauziah, 2012)
Moral dalam istilah dipahami juga sebagai :
a. Prinsip hidup yang berkenaan dengan benar dan
salah, baik dan buruk.
b. Kemampuan untuk memahami perbedaan benar dan
salah.
c. Ajaran atau gambaran tentang tingkah laku yang baik
MEMAHAMI KONSEP MORAL DALAM KEPERAWATAN

Prinsip moral merupakan masalah umum dalam melakukan


sesuatu sehingga membentuk suatu sistem etik. Prinsip
moral berfungsi untuk membuat secara spesifik apakah
suatu tindakan dilarang, diperlukan atau diizinkan dalam
situasi tertentu.( John Stone, 1989 ).
Fry (1991) menjelaskan bahwa dalam praktik keperawatan,
ada beberapa konsep penting yang harus termaktub dalam
standar praktik keperawatan, diantaranya yaitu:
a. Advokasi
b. Responsibilitas dan Akuntabilitas
c. Loyalitas
KERANGKA PEMBUATAN KEPUTUSAN
Kemampuan membuat keputusan masalah etis
merupakan salah satu persyaratan bagi perawat untuk
menjalankan praktek keperawatan professional dan dalam
membuat keputusan etis perlu memperhatikan beberapa
nilai dan kepercayaan pribadi, kode etik keperawatan,
konsep moral perawatan dan prinsip-prinsip etis. Berbagai
kerangka model pembuatan keputusan etis telah dirancang
oleh banyak ahli etika, di mana semua kerangka tersebut
berupaya menjawab pertanyaan dasar tentang etika, yang
menurut Fry meliputi:
1. Hal apakah yang membuat tindakan benar adakah
benar?
2. Jenis tindakan apakah yang benar?
3. Bagaimana aturan-aturan dapat diterapkan pada
situasi tertentu?
4. Apakah yang harus dilakukan pada situasi tertentu?
Beberapa kerangka pembuatan keputusan etis
keperawatan dikembangkan dengan mengacu pada
kerangka pembuatan keputusan etika medis. Beberapa
kerangka disusun berdasarkan posisi falsafah praktik
keperawatan, sementara model-model lain dikembangkan
berdasarkan proses pemecahan masalah seperti yang
diajarkan di pendidikan keperawatan. Berikut ini merupakan
contoh model yang dikembangkan oleh Thompson dan
Thompson dan model oleh Jameton: Metode Jameton dapat
digunakan untuk menyelesaikan permasalahan etika
keperawatan yang berkaitan dengan asuhan keperawatan
pasien. Kerangka Jameton, seperti yang ditulis oleh Fry
(1991), terdiri dari beberapa tahap :
1. Identifikasi masalah. Ini berarti mengklasifikasi
masalah dilihat dari nilai-nilai, konflik dan hati nurani.
Perawat juga harus mengkaji keterlibatannya terhadap
masalah etika yang timbul dan mengkaji parameter waktu
untuk protes pembuatan keputusan. Tahap ini akan
memberikan jawaban pada perawat terhadap pernyataan:
Hal apakah yang membuat tindakan benar adalah benar?
Nilai-nilai diklasifikasi dan peran perawat dalam situasi yang
terjadi diidentifikasi.
2. Perawat harus mengumpulkan data tambahan.
Informasi yang dikumpul-kan dalam tahap ini meliputi: orang-
orang yang dekat dengan pasien yang terlibat dalam
membuat keputusan bagi pasien, harapan/keinginan dari
pasien dan orang yang terlibat dalam pembuatan keputusan.
Perawat kemudian membuat laporan tertulis kisah dari konflik
yang terjadi. Perawat harus mengindentifikasi semua pilihan
atau alternatif secara terbuka kepada pembuat keputusan.
Semua tindakan yang memung-kinkan harus terjadi termasuk
hasil yang mungkin diperoleh beserta dampaknya. Tahap ini
memberikan jawaban: Jenis tindakan apa yang benar?
3. Perawat harus memikirkan masalah etis secara
berkesinambungan. Ini berarti perawat mempertimbangkan
nilai-nilai dasar manusia yang pen-ting bagi individu, nilai-
nilai dasar manusia yang menjadi pusat dari masalah, dan
prinsip-prinsip etis yang dapat dikaitkan dengan masalah.
Tahap ini menjawab pertanyaan: Bagaimana aturan-aturan
tertentu diterapkan pada situasi tertentu?
4. Pembuat keputusan harus membuat keputusan. Ini
berarti bahwa pem-buat keputusan memilih tindakan yang
menurut keputusan mereka paling tepat. Tahap ini
menjawab pertanyaan etika: Apa yang harus dilaku-kan
pada situasi tertentu?
5. Tahap akhir adalah melakukan tindakan dan
mengkaji keputusan dan hasil.
Sedangkan Pembuatan keputusan/pemecahan dilema etik
menurut, Kozier, erb (1989), adalah sebagai berikut:
1. Mengembangkan data dasar; untuk melakukan ini
perawat memerlukan pengumpulan informasi sebanyak
mungkin, dan informasi tersebut meliputi: Orang yang
terlibat, Tindakan yang diusulkan, Maksud dari tindakan,
dan konsekuensi dari tindakan yang diusulkan.
2. Mengidentifikasi konflik yang terjadi berdasarkan
situasi tersebut
3. Membuat tindakan alternative tentang rangkaian
tindakan yang direncanakan dan mempertimbangkan
hasil akhir atau konsekuensi tindakan tersebut.
4. Menentukan siapa yang terlibat dalam masalah
tersebut dan siapa pengambil keputusan yang tepat.
5. Mendefinisikan kewajiban perawat.
6. Membuat keputusan.
Disamping beberapa bentuk kerangka pembuatan
keputusan dilema etik yang terdapat diatas, penting juga
diperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi pembuatan
keputusan etik. Diantaranya adalah factor agama dan adat
istiadat, social, ilmu pengetahuan/tehnologi,
legislasi/keputusan yuridis, dana/keuangan, pekerjaan/posisi
pasien maupun perawat, kode etik keperawatan dan hak-
hak pasien (Priharjo, 1995).
Beberapa kerangka pembuatan dan pengambilan
keputusan dilema etik diatas dapat diambil suatu garis
besar langkah-langkah kunci dalam pengambilan
keputusan, yaitu:
a. Klarifikasi dilema etik, baik pertanyaan fakta dan
komponen nilai etik yang seharusnya
b. Dapatkan informasi yang lengkap dan terinci,
kumpulkan data tambahan dari berbagai sumber, bila
perlu ada saksi ahli berhubungan dengan pertanyaan etik
dan apakah ada pelanggaran hukum/legal
c. Buatlah beberapa alternatif keputusan dan
identifikasi beberapa alternative tersebut dan diskusikan
dalam suatu tim (komite etik).
d. Pilih dari beberapa alternative dan paling diterima
oleh masing-masing pihak dan buat suatu keputusan atas
alternative yang dipilih
e. Laksanakan keputusan yang telah dipilih bila
perlu kerjasama dalam tim dan tentukan siapa yang harus
melaksanakan putusan.
Observasi dan lakukan penilain atas tindakan/keputusan
yang dibuat serta dampak yang timbul dari keputusan
tersebut, bila perlu tinjau kembali beberapa alternative
keputusan dan bila mungkin dapat dijalankan
LANGKAH-LANGKAH PEMBUATAN KEPUTUSAN

Ada tiga langkah yang biasa digunakan dalam pengambilan


keputusan moral. Mereka adalah utilitarianisme, intuisionisme, dan
situasional. Paham utilitarianisme adalah paham yang berpendapat
bahwa yang baik itu adalah yang berguna, menguntungkan,
berfaedah, dan yang jahat atau buruk adalah yang tidak bermanfaat,
tak berfaedah, merugikan. Berasal dari kata Latin utilis tersusunlah
teori tujuan perbuatan ini. Secara umum, utilitarianisme menilai
sebuah tindakan berdasarkan hasil yang dicapainya, apakah mereka
membawa kebaikan bagi manusia atau tidak. Paham ini juga disebut
dengan paham teleologis, bahwa semua sistem terarah kepada
tujuan. Ends justifies means. (pemerintah: menggusur, demi
kepentingan orang banyak, sedikit dikorbankan).
Salah satu kekuatan utilitarianisme adalah bahwa
mereka menggunakan sebuah prinsip dengan jelas dan
rasional. Dengan prinsip ini, pemerintah sering membangun
pegangan mereka atas pembentukan kebijakan untuk
mengatur masyarakat. Kekuatan lain dari teori ini adalah
hasil perbuatan yang dihasilkan.
Intuisionisme adalah sistem etika lainnya yang tidak
mengukur baik tidaknya sesuatu perbuatan berdasarkan
hasilnya melainkan semata-mata berdasarkan maksud si
pelaku dalam melaksanakan perbuatan tersebut. Sistem ini
menyoroti wajib tidaknya perbuatan dan keputusan ini.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGAMBILAN
KEPUTUSAN SECARA ETIS DALAM PELAYANAN
KEPERAWATAN

PEMBUATAN KEPUTUSAN TERHADAP MASALAH ETIS


Pada saat menghadapi masalah yang menyangkut etika,
perawat harus mempunyai kemampuan yang baik untuk
pasien maupun dirinya. Beberapa ahli menyatakan bahwa
dalam kehidupan sehari-hari, perawat sebenarnya telah
menghadapi permasalahan etis, bahkan Thompson dan
Thompson menyatakan semua keputusan yang dibuat
dengan, atau tentang pasien mempunyai dimensi etis.
Setiap perawat harus dapat mendeterminasi dasar-dasar
yang ia miliki dalam membuat keputusan misalnya agama,
kepercayaan atau falsafah moral tertentu yang menyatakan
hubungan kebenaran atau kebaikan dengan keburukan.
Beberapa orang membuat keputusan dengan
mempertimbangkan segi baik dan buruk dari keputusannya,
ada pula yang membuat keputusan berdasarkan
pengalamannya. Dalam membuat keputusan etis,
seseorang harus berpikir secara rasional, bukan emosional.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pembuatan keputusan
Faktor-faktor ini antara lain : faktor agama, sosial, ilmu
pengetahuan/teknologi, legislasi/keputusan juridis,
dana/keuangan, pekerjaan/posisi pasien maupun perawat,
kode etik keperawatan dan hak-hak pasien.
FAKTOR TERSEBUT ANTARA LAIN :
a. Faktor agama dan adat istiadat
b. Faktor sosial
c. Faktor ilmu pengetahuan dan teknologi
d. Faktor legislasi dan keputusan juridis
e. Faktor dana/keuangan
f. Faktor pekerjaan
g. Kode etik keperawatan