Anda di halaman 1dari 27

BELLS PALSY

disusun oleh :
Lutfi Abdulah Mustofa

Pembimbing:
dr. H. DENNY RAHARJONO, Sp.S

Kepanitraan Klinik Neurologi RSUD Ciamis


Fakultas Kedokteran Univ.Malahayati
PENDAHULUAN

Bell,s palsy adalah paralisis


nervus fasialis unilateral akut yg
memiliki nama lain idiopatic
fasial paralysis.

Gejala parese nervus fasialis ini


mulai diperkenalkan oleh dr
Charles Bell pada tahun 1829
Epidemiologi
Bells palsy

Risiko
di Amerika tidak ada Insiden
wanita
Serikat 23 perbedaan paling
hamil dan
kasus per distribusi tinggi pada
penderita
100.000 jenis usia 15-45
DM 4,5 kali
orang. kelamin tahun
lebih tinggi
Anatomi dan fisiologi nervus VII
Serabut somato otot-otot wajah kec m. levator palpebrae (N.III), otot
platisma, stilohioid, digastrikus bagian posterior dan
motorik stapedius di telinga tengah

Serabut visero- glandula dan mukosa faring, palatum, rongga


motorik hidung, sinus paranasal, dan glandula submaksilaris
(parasimpatis) serta sublingual dan lakrimalis

Serabut visero- menghantar impuls dari alat pengecap di 2/3 bagian


sensorik depan lidah

Serabut somato- rasa nyeri, suhu dan raba dari sebagian daerah kulit
sensorik dan mukosa yang dipersarafi oleh nervus trigeminus
etiologi
edema dan iskemia akibat penekanan (kompresi) pada nervus fasialis
Patofisiologi

Mc Groven tahun 1955


Teori Ketidakstabilan otonomik dg respons
iskemi simpatis yg berlebihan menyebabkan
vaskular spasme pd arteriol dan stasis pada vena
pd bagian bawah kanalis spinais
Otitis media, meningitis bakterial, Penyakit
Teori lime, Infeksi hiv dll
Pd th 1972Mc Cromick mnybutkan pd fase
infeksi latent VHS tipe 1 ditemukan di ganglion
virus genikulatum dan dapat reaktivasi saat imun
menurun, mnybbkan neuropati n.VII
Zalvan menyebutkan bahwa bells palsy
disebabkan Infeksi atau reaktivasi virus
Teori Herpes simpleks dan merupakan reaksi
kombinasi imunologis sekunder atau karena proses
vaskuler sehingga mnybbkan inflamasi dan
penekanan nervus fasialis perifer ipsilateral
Gejala klinis

Kerusakan setinggi foramen stilomastoideus

kelumpuhan otot-otot wajah pada sebelah lesi


Sudut mulut sisi lesi jatuh dan tidak dapat diangkat
Makanan berkumpul diantara pipi dan gusi pada sebelah lesi
Tidak dapat menutup mata dan mengerutkan kening pada sisi lesi
Kelumpuhan ini adalah tipe flaksid, LMN. Pengecapan dan sekresi
air liur masih baik
Lesi setinggi diantara (a) dengan gangguan
khorda tympani dg pengecapan 2/3 depan lidah dan
n.stapedeus (didlm
gangguan salivasi
kanalis fasialis)

Lesi setinggi diantara (b) dengan gangguan


n.stapedeus dgn ganglion pendengaran yaitu hiperakusis
genikulatum

(c) dengan gangguan sekresi


Lesi setinggi ganglion kelenjar hidung dan gangguan
genikulatum
kelenjar air mata (lakrimasi)

(d) ditambah dengan gangguan


Lesi di porus akustikus pada N.VIII
internus
Diagnosis

Pemeriksaan
fisik
Anamnesis

Pemeriksaan
penunjang

Bells palsy
House brack classification of fascial function
Differensial
Diagnosis

tumor, infeksi herpes zoster pd ganglion genikulatum


(Ramsay Hunt syndrom), penyakit Lyme, AIDS, infeksi
TB pd mastoid/ telinga tengah, GBS.
The quality standar subcommite of
the America of Neurology 1966 -2000

Kortikosteroid : Asiklovir oral:


1mg/kgBB/hari 1000 mg/hari Vitamin B12
dibagi 2 dosis
selama 6 hari dan selama 5 hari Metilkobalamin
diturunkan bertahap 2400 mg/hari 3 X 500 ug/hari
berhenti 10 hari selama 10 hari
Prognosis
Secara keseluruhan prognosis baik, waktu penyembuhan
bervariasi antara beberapa minggu sampai 12 bulan.

70% sembuh
sempurna dlm 6
minggu

30% mengalami
degenerasi yg
akan mendasari
terjadi kelemahan
menetap
Kesimpulan
Bells palsy adalah paresis nervus fasialis
akut dengan penyebab idiopatik sekitar 70%
sembuh sempurna dg atau tanpa terapi

Pengobatan pasien dengan Bells palsy


adalah dengan kombinasi obat- obatan
antiviral dan kortikosteroid serta perawatan
mata yang berkesinambungan.

Prognosis pasien dengan Bells palsy relative


baik meskipun pada beberapa pasien, gejala
sisa dan rekurensi dapat terjadi
discusion