Anda di halaman 1dari 50

KEBIJAKAN KEMENTERIAN KESEHATAN

DALAM PELAYANAN KEBIDANAN

Subdit Bina Pelayanan Kebidanan


Kementerian Kesehatan RI

Disampaikan pada Pertemuan Pelatihan Jabatan Fungsional Bidan


Pusdiklat, 4 Juni 2012
Tahapan Pembangunan dalam Rencana
Pembangunan Jangka Panjang Nasional
(RPJPN) 2005-2025

2
ARAH PEMBANGUNAN KESEHATAN
Agenda:
MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN RAKYAT

PENINGKATAN KUALITAS SDM

Peningkatan Akses Masyarakat


terhadap
Layanan Kesehatan yang Berkualitas
(Perpres No. 7/2005)
TUJUAN RENSTRA KEMKES
Terselenggaranya pembangunan 2010-2014
kesehatan secara berhasil-guna
dan berdaya-guna dalam rangka
mencapai derajat kesehatan masy
yang setinggi-tingginya Meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat, melalui pemberdayaan
masyarakat, termasuk swasta dan
masyarakat madani

Melindungi kesehatan masyarakat


dengan menjamin tersedianya
upaya kesehatan yang paripurna,
merata, bermutu, dan berkeadilan

Menjamin ketersediaan dan


VISI pemerataan sumberdaya kesehatan
MASYARAKAT SEHAT
YANG MANDIRI
DAN BERKEADILAN Menciptakan tata kelola
kepemerintahan yang baik
4
8 FOKUS PRIORITAS NASIONAL
BIDANG KESEHATAN
1. Peningkatan KIA & KB
2. Perbaikan gizi masyarakat
3. Pengendalian penyakit menular & tidak menular dan
kesling
4. Pemenuhan SDM Kesehatan
5. Peningkatan ketersediaan, keterjangkauan, safety,
mutu, penggunaan obat/makanan
6. Jamkesmas
7. Pemberdayaan masyarakat, penanggulangan bencana
dan krisis
RPJMN 2010
VISI
8. Peningkatan pelayanan kesehatan primer, sekunder
dan tersier - 2014 MASYARAKAT
SEHAT YANG
8 PRIORITAS REFORMASI KESEHATAN MANDIRI DAN
1. Jamkesmas
MDG 2015 BERKEADILAN
2. Pelayanan Kesehatan di Daerah Tertinggal
Perbatasan dan Kepulauan (DTPK)
3. Ketersediaan Obat
4. Saintifikasi Jamu
5. Reformasi Birokrasi
6. Bantuan Operasional Kesehatan (BOK)
7. Penangananan Daerah Bermasalah Kesehatan
(PDBK)
8. Rumah Sakit Indonesia Kelas Dunia (World Class
Hospital)
TARGET MDGs
Sasaran yang disepakati secara global dalam MDGs meliputi:

Menanggulangi kemiskinan dan kelaparan

Mencapai pendidikan dasar untuk semua orang

Mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan


perempuan
Menurunkan angka kematian anak

Meningkatkan kesehatan ibu

Memerangi HIV/AIDS, malaria, dan penyakit menular lainnya

Memastikan kelestarian lingkungan hidup

Membangun kemitraan global untuk pembangunan


6
MILLENIUM DEVELOPMENT GOALS
(MDGs)

Tantangan target pencapaian MDGs di bidang kesehatan


sampai dengan tahun 2015 mencakup penurunan angka
kematian ibu dan bayi, serta penurunan angka penyakit
menular seperti HIV/AIDS.
Diharapkan AKI dari 228/100.000 kelahiran hidup menjadi
102/100.000 kelahiran hidup pada tahun 2015, sementara
AKB dari 34/1000 kelahiran hidup menjadi 23/1000
kelahiran hidup pada tahun 2015.
Keberhasilan pencapaian target tersebut di atas sangat
dipengaruhi oleh ketersediaan SDM dan Fasilitas pelayanan
kesehatan yang berkualitas
Millenium Development Goals 2015
Sektor Kesehatan Pelayanan Kebidanan

Menghapuskan kemiskinan
yang berat dan kelaparan

Menurunkan
angka kematian anak
Mendorong kesetaraan gender
dan pemberdayaan perempuan MDGs 2015

Meningkatkan
kesehatan ibu
Memberantas HIV/AIDS,
Malaria dan
penyakit menular lainnya
Mengurangi angka kematian bayi &
balita 2/3 dari AKB pada tahun
MDG 1990 menjadi 23/1000 kelahiran
(Millenium hidup
Development Mengurangi angka kematian ibu
Goals) 2015 3/4 dari AKI pada tahun 1990
Propinsi
menjadi 102/100.000 : 78kelahiran
hidup

RENCANA
PEMBANGUNAN Menurunkan AKB dari 34 menjadi
JANGKA MENENGAH 24 / 1000 kelahiran hidup
NASIONAL Menurunkan AKI dari 228 menjadi
2010-2014 118 / 100.000 kelahiran hidup

9
9
TUJUAN 4: KEMATIAN BAYI dan BALITA
120
Kematian per 1.000 kelahiran hidup

91
90 81 MDG
2015
68
57 58
60
46 46 44

32 30 35 34
26 32
30 20 19
23

0
1991 1994 1997 2000 2003 2006 2009 2012 2015

Target AKBA World Summit for Children (65 per 1.0000 kh) th 2000 telah
tercapai dan Target MDG diperkirakan dapat tercapai
Kesenjangan capaian antar propinsi masih tinggi
TUJUAN 5: ANGKA KEMATIAN IBU
600

500

390
400 334
307
300
228 226
200
118
100 102

0
1980 1985 1990 1995 2000 2005 2010 2015 2020

SDKI Target Linear (SDKI)

Penurunan melambat; Target MDG mungkin tidak tercapai


Persalinan oleh nakes meningkat 38,5 % (1992) 73,4 % (2007)
Dipengaruhi faktor sosial, ekonomi, budaya
Kesulitan pengukuran AKI di tingkat daerah
Sebab Tidak Langsung
Kematian Ibu, Bayi & Balita
DEMAND SUPPLY
Pendididkan perempuan masih Jumlah dan sebaran sarana,
rendah fasilitas dan SDM kesehatan
untuk pelayanan KIA belum
merata
Sosial ekonomi rendah Kesinambungan pelayanan KIA
berkualitas, termasuk rujukan
belum memadai
Kondisi sosial budaya tidak Pembiayaan pelayanan KIA
mendukung berkualitas belum memadai
Kedudukan dan peranan
perempuan tdk menguntungkan
Transportasi tidak mendukung
Perilaku perawatan KIA di rumah MASALAH KIA
dan seeking care
Risiko kematian ibu & anak terjadi paling
banyak pada periode kelahiran
INDONESIA ADALAH SALAH SATU DARI 68 NEGARA
YANG MEMILIKI KEMATIAN IBU DAN NEONATAL YANG BURUK

LAHIR MATI
KEMATIAN BBL

KEMATIAN IBU
KEMATIAN ANAK

13
Kondisi yang Ingin Dicapai (2015)

Supply Side: Demand Side:


Semua RS UMUM Prov dan
Kab/kota (500 RSU) mampu
Semua ibu hamil telah
PONEK 24 jam mengikuti Program
Perencanaan Persalinan
Semua Puskesmas TT (3000) dan Pencegahan
mampu PONED
Komplikasi (P4K) dg
Semua Puskesmas Stiker (4,7 jt/tahun)
menyediakan pelayanan
pertolongan persalinan (9700) Setiap ibu hamil memiliki
Semua desa menjadi desa buku KIA (4,7 jt/tahun)
Siaga Semua desa menjadi
Semua Yan ANC, Persalinan Desa Siaga
Nifas, Penanganan Komplikasi,
KB berkualitas dan terstandar
Semua Bumil bersalin di
fasilitas kesehatan yg
berkualitas & terstandar
Fokus PENURUNAN AKI DAN AKB
90% KEMATIAN IBU PD SAAT
MELAHIRKAN ATAU BBRP SAAT
SETELAHNYA
Kompli Trau Embo
Perdar kasi Partu ma li 3%
Infeksi Abort
ahan Eklamsi Pueperi us
s Obst dan
(28%) a (24%) (11%) macet etric lain-
um (5%)
(8%) (5%) (5% lain
) 11%
NON NAKES SUPPLY BUDAYA KELUARGA
PENGETAHUAN
BIAYA KES SISTEM RUJUKAN
LINGKUNGAN PENDIDIKIN
KEMISKINAN
POLITIK

3T+4T
J AMINAN PERSALINAN DAN KELUARGA
BERENCANA
Upaya penurunan AKI dan AKB

Pelayanan obstetri dan neonatal


esensial sesuai standar
Pelayanan persalinan yang
berkualitas
Deteksi dini kasus risiko tinggi
Penanganan kegawatdaruratan &
komplikasi
Jampersal
Kebijakan
Pengelolaan pelayanan rujukan
Obstetri & Neonatal Dasar dan Komprehensif
( PONED & PONEK )

Lembaga dimana rujukan kasus diharapkan


dapat diatasi dengan baik, artinya tidak boleh
ada kematian karena keterlambatan dan
kesalahan penanganan
UPAYA PENANGANAN TERPADU
KEGAWATDARURATAN

1. Dimasyarakat
Peningkatan kemampuan bidan terutama di desa dlm
memberikan pelayanan esensial, deteksi dini dan
penanganan kegawatdaruratan (PPGDON)
2. Di Puskemas
Peningkatan kemampuan dan kesiapan puskesmas dlm
memberikan Penanganan Obstetri Neonatal Emergensi
Dasar ( PONED )
3. Di Rumah Sakit
Peningkatan kemampuan dan kesiapan RS kab / kota
dlm PONEK
4. Pemantapan jarigan pelayanan rujukan obstetri &
neonatal
Koordinasi lintas program, AMP kab / kota dll
Puskesmas PONED

Puskesmas yang memiliki kemampuan


untuk memberikan pelayanan obstetri
neonatal emergensi dasar langsung
terhadap ibu hamil, bersalin, nifas dan
neonatal dengan komplikasi yang
mengancam jiwa ibu dan neonatus
1. Pelayanan Obstetri Emergensi
Dasar :

Pemberian oksitosin parenteral


Pemberian antibiotik parenteral
Pemberian sedatif parenteral pada
tindakan kuretase digital dan plasenta
manual
Melakukan kuretase, plasenta manual,
dan kompresi bimanual
Partus dengan tindakan ekstraksi
vacum,ekstraksi forcep
2. Pelayanan Neonatal Emergensi
Dasar

Resusitasi bayi asfiksia


Pemberian antibiotik parenteral
Pemberian anti konvulsan
parenteral
Pemberian Phenobarbital
Kontrol suhu
Penanggulangan gizi
RUMAH SAKIT PONEK 24 JAM

Rumah sakit yang memiliki tenaga dengan


kemampuan serta sarana dan prasarana
penunjang yang memadai untuk memberikan
pertolongan kegawatdaruratan obstetri dan
neonatal dasar dan komprehensif dan
terintergrasi selama 24 jam secara langsung
terhadap ibu hamil, nifas dan neonatus, baik
yang datang sendiri atau atas rujukan kader,
bidan, Puskesmas PONED, dll
Upaya Pelayanan PONEK

Stabilisasi di UGD & persiapan


pengobatan definitif
Penanganan kasus gawatdarurat oleh
tim di ruang tindakan
Penanganan operatif cepat
Perawatan intesif ibu dan bayi
Pelayanan ANC risti
Kemampuan PONEK meliputi :

1. Pelayanan obstetri
komprehensif
Pelayanan obstetri emergensi dasar
(PONED)
Transfusi darah
Bedah Caesar
2. Pelayanan Neonatal
Komprehensif
Pelayanan neonatal emergensi
dasar
Pelayanan neonatal intensif
Kriteria RS PONEK 24 jam
1. Memberikan pelayanan PONEK 24 jam secara efektif
(cepat, tepat-cermat dan purnawaktu) bagi bumil/bulin,
bufas, BBL ada SOP
2. Memiliki kelengkapan sarana dan tenaga terampil untuk
melaksanakan PONED/PONEK (sesuai dengan standar
yang dikembangkan) tim PONEK terlatih
3. Kemantapan institusi dan organisasi, termasuk
kejelasan mekanisme kerja dan kewenangan unit
pelaksana/tim PONEK- ada kebijakan
4. Dukungan penuh dari Bank Darah / UTD RS, Kamar
Operasi, HCU/ICU/NICU, IGD dan unit terkait lainnya
5. Tersedianya sarana/peralatan rawat intensif dan
diagnostik pelengkap (laboratorium klinik, radiologi, RR
24 jam, obat dan penunjang lain. )
JAMPERSAL

Program Jaminan Persalinan adalah


Program pemeriksaan kehamilan
(Antenatal), persalinan dan Pemeriksaan
masa nifas (Postnatal) bagi seluruh ibu
hamil yang menggunakan fasilitas
kesehatan yang bekerjasama dengan
program dan pembiayaannya ditangung
pemerintah
Jaminan Persalinan TERINTEGRASI
dengan program JAMKESMAS.
Penyelenggaraan program mengacu pada
Pedoman Pengelolaan Program KIA.
Kebijakan operasional (1)
Pengelolaan Jaminan Persalinan dilakukan pada
setiap jenjang pemerintahan (pusat, provinsi, dan
kabupaten/kota) menjadi satu kesatuan dengan
pengelolaan Jamkesmas.
Kepesertaan Jaminan Persalinan merupakan
perluasan kepesertaan dari Jamkesmas, yang
terintegrasi dan dikelola mengikuti tata kelola dan
manajemen Jamkesmas
Sasaran program Jaminan Persalinan adalah
seluruh sasaran yang belum memiliki jaminan
persalinan.
Kebijakan operasional (2)
Peserta Jaminan Persalinan dapat memanfaatkan
pelayanan di seluruh jaringan fasilitas pelayanan
kesehatan tingkat pertama dan tingkat lanjutan
(Rumah Sakit) di kelas III
Pelaksanaan pelayanan Jaminan Persalinan
mengacu pada standar pelayanan Kesehatan Ibu
dan Anak (KIA).
Pembayaran atas pelayanan jaminan persalinan
dilakukan dengan cara klaim oleh fasilitas
kesehatan. Untuk persalinan tingkat pertama di
fasilitas kesehatan pemerintah (Puskesmas dan
Jaringannya) dan fasilitas kesehatan swasta yang
bekerjasama dengan Tim Pengelola
Kabupaten/Kota.
Kebijakan operasional (3)

Prinsip Portabilitas, Pelayanan terstruktur


berjenjang berdasarkan rujukan dengan
demikian jaminan persalinan tidak mengenal
batas wilayah
Pusat dapat melakukan realokasi dana antar
kabupaten/kota,
STRUKTUR ORGANISASI
DIREKTORAT BINA PELAYANAN KEPERAWATAN
DAN KETEKNISIAN MEDIK (KEPMENKES 1144/2010)

DIREKTUR

Kasubag TU

Kasubdit Bina Kasubdit Bina Kasubdit Bina Kasubdit Bina Kasubdit Bina
Yanwat Yanwat Yanwat Pelayanan Pelayanan
Dasar RS Umum RS Khusus Kebidanan KMKF

Kasie Kasie Kasie Kasie Kasie


Standarisasi Standarisasi Standarisasi Standarisasi Standarisasi

Kasie Kasie Kasie


Kasie Kasie
Evaluasi Evaluasi Evaluasi
Evaluasi Evaluasi
30
RUANG LINGKUP
SUBDIT BINA PELAYANAN KEBIDANAN

Pengelolaan dalam pengembangan


pelayanan kebidanan meliputi : kesehatan
reproduksi remaja, pra nikah, hamil,
bersalin, nifas, bayi baru lahir, anak balita
sehat, pelayanan KB, klimakterium pada
kasus normal dan abnormal/bermasalah
sesuai kewenangan bidan

31
TUPOKSI SUBDIT BINA
PELAYANAN KEBIDANAN

PERUMUSAN KEBIJAKAN TEKNIS


PENYUSUNAN NORMA, STANDAR
TEKNIS, PEDOMAN, KRITERIA,
PROSEDUR
BIMBINGAN TEKNIS
EVALUASI

32
PELAYANAN KEBIDANAN

Merupakan bagian integral dari sistem pelayanan


kesehatan yang diberikan oleh bidan, dilakukan secara
mandiri, kolaborasi, konsultasi dan rujukan bagi kesehatan
reproduksi perempuan sepanjang siklus kehidupannya,
termasuk bayi dan anak Balita.
Pelayanan kebidanan diselenggerakan mulai dari tingkat
primer, sekunder, dan tersier yang tersusun dalam suatu
mekanisme rujukan timbal-balik.

33
Pelayanan Kebidanan
di tingkat Pelayanan Primer
Meliputi : Puskesmas dan jaringannya termasuk
Polindes / Poskesdes, Bidan Praktik Mandiri, Klinik
Bersalin serta fasilitas kesehatan lainnya milik
pemerintah maupun swasta.

Memberikan pelayanan kebidanan essensial,


melakukan promotif, preventif, deteksi dini dan
memberikan pertolongan pertama pada kegawat-
daruratan obstetri neonatal (PPGDON) untuk
tindakan pra rujukan dan PONED di Puskesmas
serta pembinaan UKBM termasuk Posyandu.

34
Pelayanan Kebidanan
di tingkat Pelayanan Sekunder

Meliputi : Rumah Sakit Umum dan Khusus baik milik


Pemerintah maupun Swasta yang setara dengan RSU
Kelas D, C dan B Non Pendidikan, termasuk Rumah
Sakit Bersalin (RSB), serta Rumah Sakit Ibu dan Anak
(RSIA).

Memberikan pelayanan kebidanan essensial, melakukan


promotif, preventif, deteksi dini, melakukan penapisan
(skrining) awal kasus komplikasi mencegah terjadinya
keterlambatan penanganan dan kolaborasi dengan
nakes lain dalam penanganan kasus (PONEK).

35
Pelayanan Kebidanan
di tingkat Pelayanan Tersier

Meliputi : Rumah Sakit yang setara dengan Rumah Sakit


Umum dan Rumah Sakit Khusus Kelas A, kelas B
pendidikan, milik Pemerintah maupun swasta.

Memberikan pelayanan kebidanan essensial, melakukan


promotif, preventif, deteksi dini, melakukan penapisan
(skrining) awal kasus komplikasi mencegah terjadinya
keterlambatan penanganan, kolaborasi dg nakes lain
dalam penanganan kasus PONEK dan asuhan
kebidanan/penatalaksaaan kegawat-daruratan pada
kasus-kasus kompleks sebelum mendapat penanganan
lanjut.

36
HASIL PENELITIAN & EVALUASI

37
Hasil penelitian Pusdiknakes dengan WHO
(1999) menunjukan; bahwa bidan tidak
percaya diri dalam melakukan asuhan
kebidanan karena tidak terampil, hal ini
merupakan dampak dari kesempatan praktik
yang kurang selama pendidikan, 80 % bidan
tidak pernah mengikuti pelatihan dalam
5 tahun terakhir.
Hasil penelitian Direktorat Keperawatan
dengan WHO (2000) menunjukkan; bahwa
70,9% tenaga bidan tidak pernah mendapat
training dalam 3 tahun terakhir.

38
Hasil Kajian SMPFA tentang
layanan kasus rujukan
di 10 Kabupaten tahun 2000

Penerimaan pasien bukan oleh tenaga medis


Dokter & bidan sbg tenaga terlatih justru ada dilini belakang
Prosedur penerimaan rujukan lambat karena birokrasi administrasi
Bank darah RS belum berfungsi sbg antara penyimpanan darah
Belum tersedia UTD RS
Keterbatasan pelayanan pemeriksaan penunjang
Keterbatasan SDM, sarana dan prasarana
Keterbatasan keterampilan Puskesmas dalam melakukan pelayanan
emergensi obstetri dan neonatal
Umpan balik rujukan belum berjalan dengan baik
Juklak sistem rujukan belum baku
Persepsi terhadap protap pelayanan emergensi belum sama
Pengetahuan masyarakat tentang kegawatdaruratan masih rendah
Kemampuan ibu dalam pengambilan keputusan yang rendah
Faktor geografis, transportasi dan finansial yang masih rendah

39
Hasil bimtek Subdit kebidanan Direktorat
keperawatan ke Rumah Sakit dan
Puskesmas di 5 Provinsi (2004), a.l.
ditemukan bahwa semua rumah sakit dan
puskesmas belum menerapkan standar dan
pedoman Asuhan kebidanan, kondisi
tersebut berdampak pada kualitas
pelayanan kebidanan.

40
Isu Pendidikan dan Pelatihan Bidan (WHO, 2006)

*Kualitas institusi pendidikan


belum memadai

*Infrastruktur *Kurikulum tidak


termasuk lahan praktek
menjawab kebutuhan
& jumlah kasus

*Jumlah dosen yang kompeten


dan terkualifikasi
MASALAH
PELAYANAN KEBIDANAN

AKI & AKB Masih tinggi


Kualitas pendidikan dan pelayanan
kebidanan belum optimal
Kualitas SDM bidan masih rendah
Sarana prasarana belum memadai
Distribusi bidan belum merata

42
KEBIJAKAN PENGEMBANGAN
PELAYANAN KEBIDANAN

43
Standar Profesi Bidan
(Permenkes No. 369/Menkes/SK/III/2007)

Bertujuan:
Menjamin pelayanan yang aman dan berkualitas dan
sebagai landasan untuk standarisasi dan perkembangan
profesi.
Sebagai acuan untuk melakukan segala tindakan dan
asuhan yang diberikan bidan dalam seluruh aspek
pengabdian profesinya kepada individu, keluarga dan
masyarakat, baik dari aspek input, proses dan output
dalam menjalankan praktik / pekerjaannya.
Berisikan antara lain tentang standar kompetensi, standar
pendidikan bidan, standar pendidikan berkelanjutan bidan,
kode etik bidan Indonesia, standar praktik dan standar
pelayanan kebidanan.

44
Standar Asuhan Kebidanan
(Permenkes No. 938/Menkes/SK/VIII/ 2007)

Berisikan tentang standar pengkajian kebidanan,


perumusan diagnosa dan atau masalah kebidanan,
perencanaan, implementasi, evaluasi dan pencatatan
asuhan kebidanan

Bertujuan sebagai :
1. Acuan dan landasan dalam melaksanakan
tindakan/kegiatan dalam lingkup tanggung jawab bidan.
2. Mendukung terlaksananya Asuhan Kebidanan berkualitas
3. Parameter tingkat kualitas dan keberhasilan asuhan yang
diberikan bidan
4. Perlindungan hukum bagi Bidan dan Klien/Pasien

45
Kepmenpan No. 1/PER/M.PAN/1/2008 tentang
Jabfung Bidan dan Angka Kreditnya
(hasil revisi Kepmenpan No. 93 /KEP/M.PAN/11/2001)

Merupakan pengembangan karier seorang tenaga kesehatan


dalam hal ini kebidanan yang ditentukan oleh banyaknya
pelaksanaan kegiatan yang diperhitungkan dalam satuan kredit.
Bertujuan :
1. Meningkatkan mutu pelayanan
2. Meningkatkan profesionalisme kebidanan
3. Menumbuhkan professional pride
4. Meningkatkan motivasi kerja
Kepmenpan No. 1 /PER/M.PAN/1/ 2008 berisikan Klasifikasi
Jenjang Jabatan Fungsional Bidan yaitu :
1. Bidan Terampil (gol. II.a s.d III.d) dengan pendidikan bidan, D1 & D3
Kebidanan
2. Bidan Ahli (gol.III.a s.d IV.c) dengan pendidikan D4, S1 & S2
Kebidanan

46
Izin dan Penyelenggaraan Praktik Bidan
(Permenkes No.1464/Menkes/SK/X/2010)

Berisikan :
Area kewenangan bidan :
1. Pelayanan Kesehatan Ibu
2. Pelayanan Kesehatan Anak
3. Pelayanan Kesehatan Reproduksi dan Keluarga Berencana
Pemberlakuan Uji Kompetensi sebagai syarat
registrasi, proses perizinan dan penyelenggaraan praktik
1. Bidan dapat menjalankan praktik mandiri dan/atau
bekerja di semua fasilitas pelayanan kesehatan.
2. Bidan yang menjalankan praktik mandiri harus
berpendidikan minimal Diploma III (D III) Kebidanan

47
Pedoman Asuhan Kebidanan
Pada Masa Perimeopause
(Kepmenkes No. 229/Menkes/SK/II/2010)

Berisikan tentang tinjauan teori kebutuhan pada masa


perimenopause dan asuhan kebidanan pada masa
perimenopause

Bertujuan sebagai :
1. Acuan dan pedoman bagi bidan dalam melaksanakan
asuhan kesehatan reproduksi pada masa
perimenopause,
2. Mendukung terlaksananya asuhan kebidanan berkualitas
pada masa perimenopause,
3. Parameter tingkat kualitas dan keberhasilan asuhan
yang diberikan bidan pada asuhan perimenopause,
4. Perlindungan hukum bagi Bidan dan Klien.
Pedoman Rawat Gabung
(Kepmenkes No. 230/Menkes/SK/II/2010)

Berisikan tentang konsep rawat gabung dan langkah langkah


pelaksanaan rawat gabung

Bertujuan :
1. Memenuhi hak ibu dan bayi untuk selalu berada disamping ibu
setiap saat,
2. Bayi segera memperoleh colocstrum dan ASI,
3. Bayi memperoleh stimulasi mental dini untuk tumbuh kembang
anak,
4. Bayi bisa memperoleh ASI setiap saat,
5. Ibu memperoleh dukungan dari suami dan keluarga dalam
pemberian ASI,
6. Ibu memperoleh pengalaman dalam merawat payudara dan
cara menyusui yang benar,
7. Ibu dan keluarga memperoleh pengalaman cara merawat bayi
baru lahir,
8. Ibu dapat mengamati dan menjaga bayinya setiap saat.
Siti Romlah, SKM, MKM
Jl. HR. Rasuna Said Blok X5 No. 4 9.
Jakarta 12950
Gedung B Lantai 4, Ruang 410.
Hp. 081514690887
* E mail: sraamy_oke@yahoo.com
sraamy.oke@gmail.com

50