Anda di halaman 1dari 40

REFERAT

Te t a n u s

Pramusetya Suryandaru
20120310168
!LETS BEGIN NOW








2
SECTION 1

PENDAHULUAN
Tetanus merupakan penyakit yang
disebabkan eksotoksin bakteri Gram positif
Clostridium tetani yang bersifat obligat anaerob
dan membentuk spora. Spora tanah dan
feses hewan dan infeksi terjadi akibat kontak
dengan jaringan melalui luka.

4
Dikenal sejak zaman Mesir Kuno
Imunisasi pasif tetanus pertama kali Nocard
pada tahun 1897 dan digunakan selama
Perang Dunia I.
Imunisasi aktif tetanus toksoid Descombey
Pada tahun 1924 dan digunakan secara luas
selama Perang Dunia II

Ditemukan pada negara-negara kurang dan


berkembang dengan iklim hangat dan lembap
yang padat penduduk.
Brazil, Filipina, Vietnam, Indonesia, dan negara-
negara di Afrika.
Insidensi tahunan tetanus di dunia adalah
0,5-1 juta kasus dengan tingkat mortalitas
sekitar 45%.
Di negara berkembang populasi neonatus
dan merupakan salah satu penyebab
mortalitas bayi yang penting.
Di negara maju luka tusuk yang tidak
disengaja, misalnya saat bertani atau
berkebun, yang tidak mendapatkan
perawatan luka yang adekuat
SECTION 2

TINJAUAN PUSTAKA
TETANUS

Penyakit yang mengenai sistem saraf yang


disebabkan oleh tetanospasmin yaitu
neurotoksin yang dihasilkan oleh Clostridium
tetani.

DEFINISI Penyakit ini ditandai oleh adanya trismus,


disfagia, dan rigiditas otot lokal yang dekat
dengan tempat luka. Sering progresif menjadi
spasme otot umum yang berat serta diperberat
dengan kegagalan respirasi dan ketidak
stabilan kardiovaskular.

8
Tetanus berasal dari bahasa Yunani teinein meregang. Penyakit ini telah
dikenal sejak zaman Mesir kuno lebih dari 3000 tahun yang lalu.

Hipokrates kemudian mendeskripsikan tetanus sebagai penderitaan manusia


yang tiada akhir.

9
Carle dan Rattone, berhasil Nocard, membuktikan efek protektif
menimbulkan tetanus pada kelinci antibodi yang ditransfer secara pasif.
dengan menginjeksi nervus skiatik Imunisasi pasif ini digunakan untuk
dengan pus dari manusia pengobatan dan profilaksis tetanus
penderita tetanus selama Perang Dunia I.

1884 1889 1897

Kitasato, membuktikan bahwa


organisme tersebut menimbulkan
penyakit apabila diinjeksikan pada
hewan. Kitasato melaporkan bahwa
toksin C. tetani dapat dinetralisir oleh
antibodi spesifik yang dibentuk tubuh.

10
1924
Descombey, mengembangkan
imunisasi aktif tetanus toksoid dan
digunakan secara luas selama
Perang Dunia II.

11
Terdapat 1jt/Tahun kasus tetanus di dunia,
terutama ditemukan di negara kurang
berkembang.

40-50% terjadi pada Tetanus neonatorum


EPIDEMIOLOGI Angka kejadian dan kematian karena tetanus
di Indonesia masih tinggi. Indonesia
merupakan negara ke-5 diantara 10 negara
berkembang yang angka kematian tetanus
neonatorumnya tinggi.

12
1988 jumlah kematian neonatus 54633
1992 berjumlah 33264
1988 sebesar 10,9 dan tahun 1992
sebesar 7,3 .
2016
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO)
mendeklarasikan bahwa Indonesia telah berhasil
melakukan eliminasi terhadap tetanus maternal
dan neonatal.

13
Clostridium tetani yang memiliki dua bentuk,
yaitu bentuk vegetatif dan spora

a. Vegetatif C. tetani adalah basil, Gram


positif, tidak berkapsul, motil, dan bersifat
ETIOLOGI obligat anaerob. Rentan terhadap efek
bakterisidal dari proses pemanasan,
desinfektan kimiawi, dan antibiotik.

b. Spora C. tetani relatif resisten terhadap


desinfeksi kimiawi. Rentan terhadap
pemanasan AIR mendidih 15 menit
dan Uap panas tersaturasi (120C)

14
Transformasi terjadi akibat penurunan
lokal kadar oksigen akibat:
(a) terdapat jaringan mati dan benda
asing,
(b) crushed injury, dan
(c) infeksi supuratif

15
Germinasi spora dan produksi toksin terjadi
pada kondisi anaerobik.
Bentuk vegetatif C. tetani menghasilkan dua
macam toksin, yaitu tetanolisin dan
tetanospasmin.
Tetanosilin Infeksi Patogenesis
tetanus blm jelas.
Tetanospasmin berperan penting dalam
patogenesis tetanus
Spora bentuk vegetatif bila ling. Sesuai
toksin membentuk 2 macam eksotoksin :
Tetanolisin dan Tetanospasmin.

Tetanolisin menyebabkan eritosit lisis


PAT O G E N E S I S penurunan eritosit dalam darah anemia,
dengan adanya anemi pertahanan dalam
tubuh menurun resiko infeksi sekunder.

Tetanospasmin Toksik thd sel syaraf

17
Masuk ke dalam otot
Toksin masuk ke dalam otot yang terletak dibawah atau sekitar luka,
kemudian ke otot-otot sekitarnya dan seterusnya secara ascenden melalui
sinap ke dalam susunan saraf pusat.

Penyebaran melalui sistem limfatik


Toksin dalam jaringan nodus limfatikus masuk ke peredaran darah
sistemik .

Toksin masuk ke susunan saraf pusat (SSP)


Toksin SSP dengan penyebaran melalui serabut saraf secara retrograd
toksin mencapai SSP melalui sistem saraf motorik , sensorik dan autonom
Mekanisme kerja tetanospasmin

Tempat kerja utama toksin sinaps inhibisi dari SSP, mencegah pelepasan neurotransmitter
inhibisi seperti glisin, (GABA), dopamin dan noradrenalin.
GABA neuroinhibitor yang paling utama berfungsi mencegah pelepasan impuls saraf yang
eksesif.
Toksin tetanus secara spesifik menghambat pelepasan kedua neurotransmitter di daerah sinaps
mempengaruhi sensitifitas terhadap kalsium dan proses eksositosis.

19
Tempat infeksi yang paling umum, luka pada :

ekstremitas bawah,
infeksi uterus post-partum atau post-abortus,
M A N I F E S TA S I injeksi intramuskular nonsteril, dan
KLINIS OPEN fraktur
Ciidera jaringan, injeksi intravena dan
intramuskular, akupunktur, tindik telinga, dan
bahkan luka akibat tusuk gigi.

20
Tetanus Lokal
mengalami spasme dan peningkatan tonus otot
terbatas pada otot-otot di sekitar tempat infeksi
tanpa tanda-tanda sistemik. dapat berlanjut
menjadi tetanus general.
Mortalitas akibat tetanus lokal hanya 1%
Tetanus sefalik
mempengaruhi otot-otot nervus kranialis
terutama di daerah wajah. Akibat cidera kepala
(kulit kepala, mata dan konjungtiva, wajah, telinga,
atau leher).
Timbul dalam 1-2 hari pasca cidera A.L :
fasial palsi akibat paralisis nervus VII (paling
sering), disfagia, dan paralisis otot-otot
ekstraokuler serta ptosis akibat paralisis nervus III.
Tetanus general
trismus (lockjaw) Gejala lain :kekakuan leher,
kesulitan menelan, rigiditas otot abdomen, dan
peningkatan temperatur 2-4C di atas suhu normal.
Spasme otot-otot wajah (sardonic smile).
Pada tetanus kesadaran penderita tidak terganggu
dan penderita mengalami nyeri hebat pada setiap
episode spasme

Kontraksi Otot yg
Sardonic smile Opistotonus nyeri
Tetanus Neonatorium
infeksi C. tetani pertolongan persalinan yang
tidak steril melalui tali pusat sewaktu proses
pertolongan persalinan.
serupa dengan tetanus general.
Gejala awal ditandai dengan ketidakmampuan
untuk menghisap 3-10 hari setelah lahir. Gejala lain
termasuk iritabilitas dan menangis terus menerus
(rewel), risus sardonikus, peningkatan rigiditas,
dan opistotonus

Tetanus Noenatorium
Diagnosis tetanus dapat diketahui dari
pemeriksaan fisik pasien sewaktu istirahat
Gejala klinik

- Kejang tetanic, trismus, dysphagia, risus


DIAGNOSIS sardonicus ( sardonic smile ).

Adanya luka yang mendahuluinya.


Kultur: C. tetani (+).
Lab : SGOT, CPK meninggi serta dijumpai
myoglobinuria.

24
Beberapa sistem skoring tetanus dapat
digunakan, diantaranya adalah

skor Phillips,
Dakar,
Ablett,
dan Udwadia.
Sistem skoring tetanus juga sekaligus bertindak
sebagai penentu prognosis
Sistem skoring menurut Phillips
Skor dari keempat parameter tersebut dijumlahkan dan interpretasinya
sebagai berikut:

(a) skor < 9 tetanus ringan, (b) skor 9-18 tetanus sedang, dan (c) skor >
18 tetanus berat.
Grade I (ringan) Trismus ringan hingga sedang, spastisitas general, tidak ada distres
pernapasan, tidak ada spasme dan disfagia.

Grade II (sedang) Trismus sedang, rigiditas yang tampak, spasme ringan hingga
sedang dengan durasi pendek, takipnea 30 kali/menit, disfagia
ringan.
Grade III A (berat) Trismus berat, spastisitas menyeluruh, spasme spontan yang
memanjang, distres pernapasan dengan takipnea 40 kali/menit,
apneic spell, disfagia berat, takikardia 120 kali/menit.
Grade III B (sangat Keadaan seperti pada grade III ditambah disfungsi otonom berat
berat) yang melibatkan sistem kardiovaskuler. Hipertensi berat dan
takikardia bergantian dengan hipotensi relatif dan bradikardia, salah
satunya dapat menjadi persisten.

Sistem skoring menurut Ablett juga dikembangkan pada tahun 1967


dan menurut beberapa literatur merupakan sistem skoring yang paling
sering digunakan
Faktor
Skor 1 Skor 0
prognostik
Masa inkubasi < 7 hari 7 hari atau tidak diketahui
Periode onset < 2 hari 2 hari
Umbilikus, luka bakar,
Penyebab lain dan
uterus, fraktur terbuka, luka
Tempat masuk penyebab yang tidak
operasi, injeksi
diketahui
intramuskular
Spasme Ada Tidak ada
Demam > 38.4oC < 38.4oC
Dewasa > 120 kali/menit Dewasa < 120 kali/menit
Takikardia
Neonatus > 150 kali/menit Neonatus < 150 kali/menit
Sistem skoring Dakar
Skor total mengindikasikan keparahan dan prognosis penyakit sebagai
berikut:
Skor 0-1 : tetanus ringan dengan tingkat mortalitas < 10%
Skor 2-3 : tetanus sedang dengan tingkat mortalitas 10-20%
Skor 4 : tetanus berat dengan tingkat mortalitas 20-40%
Skor 5-6 : tetanus sangat berat dengan tingkat mortalitas > 50%
Penyakit Gambaran diferensial
INFEKSI
Meningoensefalitis Demam, trismus ridak ada, penurunan kesadaran,
cairan serebrospinal abnormal.
Polio Trismus tidak ada, paralisis tipe flasid, cairan
serebrospinal abnormal.
Rabies Gigitan binatang, trismus tidak ada, hanya spasme
orofaring.
Lesi orofaring Bersifat lokal, rigiditas atau spasme seluruh tubuh
tidak ada.
Peritonitis Trismus dan spasme seluruh tubuh tidak ada.

DIAGNOSIS KELAINAN METABOLIK


Tetani Hanya spasme karpo-pedal dan laringeal,
hipokalsemia.

BANDING Keracunan striknin Relaksasi komplit diantara spasme.


Reaksi fenotiazin Distonia, menunjukkan respon dengan difenhidramin.
PENYAKIT SSP
Status epileptikus Penurunan kesadaran.
Perdarahan atau tumor Trismus tidak ada, penurunan kesadaran.
(SOL)
KELAINAN PSIKIATRIK
Histeria Trismus inkonstan, relaksasi komplit antara spasme.
KELAINAN
MUSKULOSKELETAL
Trauma Hanya lokal.

29
kontrol jalan napas dan mempertahankan ventilasi
yang adekuat

P E N ATA L A K S A N A A N Rawat Luka

Pemberian HTIG

30
Merawat dan membersihkan luka sebaik-baiknya,
berupa:
1. membersihkan luka, irigasi luka, debridement luka
(eksisi jaringan nekrotik),Sekitar luka disuntik ATS.
2. Hila ada trismus, makanan dapat diberikan personde
atau parenteral.
3. Isolasi untuk menghindari rangsang luar seperti suara
dan tindakan terhadap penderita
4. Oksigen, pernafasan buatan dan trachcostomi bila
perlu.
5. Mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit.
ANTIBIOTIKA
Diberikan parenteral Peniciline 1,2juta unit / hari selama 10
hari, IM. Penisilin G merupakan antagonis reseptor GABA sehingga
dapat bekerja secara sinergis dengan tetanospasmin
Metronidazole 500 mg setiap 6 jam diberikan IV atau per oral
selama 10-14 hari. Metronidazole merupakan antibiotik pilihan
pertama untuk tetanus karena relatif murah dan penetrasi lebih baik ke
jaringan anaerobik
ANTITOKSIN
Human Tetanus Immunoglobulin ( TIG) dengan dosis 3000-6000 U
Secara IV
Jika tidak ada TIG, dapat menggunakan ATS yang berasal dari serum
hewan

Obat lain
Magnesium Sulfat Untuk mengontrol spasme loading
dose 5 mg diberikan selama 20 menit diikuti maintenance dose
2 gram/jam.
Baklofen agonis GABA mengembalikan inhibisi fisiologis
motorneuron. 1000 mcg bolus intermiten pada interval 10-20
jam
komplikasi primer atau efek langsung dari toksin
seperti

aspirasi, spasme laring, hipertensi, dan henti


jantung,
KOMPLIKASI komplikasi sekunder akibat imobilisasi yang lama
maupun tindakan suportif seperti

ulkus dekubitus, pneumonia akibat ventilasi jangka


panjang, stress ulcer, dan fraktur serta ruptur tendon
akibat spasme otot

33
Sistem organ Komplikasi
Jalan napas Aspirasi, spasme laring, obstruksi terkait penggunaan sedatif.
Respirasi Apneu, hipoksia, gagal napas tipe I dan II, ARDS, komplikasi akibat
ventilasi mekanis jangka panjang (misalnya pneumonia), komplikasi
trakeostomi.
Kardiovaskular Takikardia, hipertensi, iskemia, hipotensi, bradikardia, aritmia, asistol,
gagal jantung.
Renal Gagal ginjal, infeksi dan stasis urin.
Gastrointestinal Stasis, ileus, perdarahan.

Muskuloskeletal Rabdomiolisis, myositis ossificans circumscripta, fraktur akibat spasme.

Lain-lain Penurunan berat badan, tromboembolisme, sepsis, sindrom disfungsi


multiorgan.

PROGNOSIS
Faktor yang mempengaruhi mortalitas pasien tetanus adalah masa
inkubasi, periode awal pengobatan, status imunisasi, lokasi fokus
infeksi, penyakit lain yang menyertai, serta penyulit yang timbul.
Ada dua cara mencegah tetanus, yaitu

PENCEGAHAN 1. perawatan luka yang adekuat dan

2. imunisasi aktif dan pasif

35
Bayi dan anak normal. Imunisasi DPT pada usia 2,4,6, dan 15-18 bulan.
Dosis ke-5 diberikan pada usia 4-6 tahun.
Sepuluh tahun setelahnya (usia 14-16 tahun) diberikan injeksi TT dan diulang setiap
10 tahun sekali.
Bayi dan anak normal DPT diberikan pada kunjungan pertama, kemudian 2 dan 4 bulan setelah injeksi
sampai usia 7 tahun yang pertama.
tidak diimunisasi pada Dosis ke-4 diberikan 6-12 bulan setelah injeksi pertama.
masa bayi awal. Dosis ke-5 diberikan pada usia 4-6 tahun.
Sepuluh tahun setelahnya (usia 14-16 tahun) diberikan injeksi TT dan diulang setiap
10 tahun sekali.
Usia 7 tahun yang belum Imunisasi dasar terdiri dari 3 injeksi TT yang diberikan pada kunjungan pertama, 4-8
pernah diimunisasi. minggu setelah injeksi pertama, dan 6-12 bulan setelah injeksi kedua.
Injeksi TT diulang setiap 10 tahun sekali.

Ibu hamil yang belum 2 dosis injeksi TT dengan jarak 2 bulan (lebih baik pada 2 trimester terakhir).
pernah diimunisasi. Setelah bersalin, diberikan dosis ke-3 yaitu 6 bulan setelah injeksi ke-2 untuk
melengkapi imunisasi.
Injeksi TT diulang setiap 10 tahun sekali.
Apabila ditemukan neonatus lahir dari ibu yang tidak pernah diimunisasi tanpa
perawatan obstetrik yang adekuat, neonatus tersebut diberikan 250 IU human
tetanus immunoglobulin. Imunitas aktif dan pasif untuk ibu juga harus diberikan.

Imunisasi aktif dapat dimulai sejak anak berusia 2 bulan dengan


pemberian imunisasi DPT atau DT. Untuk orang dewasa digunakan
tetanus toksoid (TT).
Tampilan klinis Luka rentan tetanus Luka tidak rentan
tetanus
Usia luka > 6 jam < 6 jam
Konfigurasi Bentuk stellate, avulsi Bentuk linier, abrasi
Kedalaman > 1 cm 1 cm
Mekanisme cidera Misil, crush injury, luka Benda tajam (pisau,
bakar, frostbite kaca)
Tanda-tanda infeksi Ada Tidak ada
Jaringan mati Ada Tidak ada
Kontaminan (tanah, Ada Tidak ada
feses, rumput, saliva,
dan lain-lain)
Jaringan Ada Tidak ada
denervasi/iskemik

Klasifikasi luka TETANUS menurut American College of Surgeon


Committee on Trauma
SECTION 3

KESIMPULAN
Tetanus disebabkan oleh basil Clostridium tetani.

Tetanus dapat dicegah melalui pemberian imunisasi aktif


tetanus toksoid, higiene persalinan yang baik, dan manajemen
perawatan luka yang adekuat.

Pemberian imunitas pasif tetanus dengan antitetanus serum


(ATS) sudah tidak dianjurkan karena risiko reaksi alergi tinggi,

Skor Phillips masih merupakan pilihan dalam menentukan


derajat keparahan penyakit tetanus pada saat pasien masuk
dan juga dapat digunakan untuk menilai kemajuan perjalanan
penyakit selama perawatan karena menilai banyak parameter
dan penilaian unsur-unsurnya bersifat objektif.
T H A N K YO U !