Anda di halaman 1dari 19

BRONKIOLITIS

Pembimbing:
dr. Nur Hidayah, Sp.A

Penulis:
Rose Tio Bunga
030.12.241

K E PA N IT R A A N K L I N I K I L M U K E S E H ATA N A N A K
R U M A H S A K I T A N G K ATA N U DA R A D R . E S N AWA N A N TA R I KSA
FA KU LTA S K E D O K T E R A N U N I V E RS I TA S T R I S A K T I
PERIODE 8 MEI 2017 22 JULI 2017
PENDAHULUAN

ISPA-atas (faringitis, tonsillitis) dan


ISPA-bawah (bronchitis, bronkiolitis dan pneumonia)

Pneumonia dan bronkiolitis banyak menimbulkan kematian


Setiap tahun, 4 juta anak balita meninggal akibat ISPA (terutama akibat
pneumonia dan bronkiolitis) di negara berkembang

Bronkiolitis
penyakit infeksi akut tersering pada usia kurang dari 2 tahun yang
menimbulkan obstruksi inflamasi pada saluran napas kecil (bronkiolus)
DEFINISI

Penyakit infeksi respiratorik akut (IRA)-


bawah yang ditandai dengan adanya
inflamasi pada bronkiolus

Usia 2 tahun pertama dengan insidens


puncaknya pada sekitar usia 6-8 bulan

Klinis : wheezing, nafas cepat dan


retraksi dada, dan didahului dengan
gejala IRA.
EPIDEMIOLOGI

Infeksi saluran respiratori tersering


pada bayi
Usia 2-24 bulan, puncaknya pada usia
6-8 bulan
Laki-laki >>
17 % dari semua kasus perawatan di
RS pada bayi
4500 kematian setiap tahunnya
Insidens terbanyak terjadi pada
musim dingin atau musim hujan di
negara-negara tropis
ETIOLOGI

Respiratory
Syncytical Virus
(RSV)

Penyebab lain: Adenovirus, virus influenza, virus parainfluenza,


Rhinovirus dan mikoplasma
FAKTOR RISIKO

Anak usia dibawah 2 tahun


Prematuritas
Tidak mendapat ASI
Status sosial ekonomi
rendah
Pajanan asap rokok
Lingkungan yang padat
penduduk
Immunocompromised
PATOFISIOLOGI

Infeksi virus pada epitel bersilia bronkiolus respons inflamasi akut


obstruksi bronkiolus akibat edema, sekresi mukus, timbunan debris
selular/ sel-sel mati yang terkelupas kemudian diikuti dengan infiltrasi
limfosit peribronkial dan edema submukosa penebalan mukosa
hambatan aliran udara yang besar air tapping dan hiperinflasi.

Proses patologis mengganggu pertukaran gas normal di


paru penurunan kerja ventilasi paru ketidakseimbangan
ventilasi perfusi hipoksemia hipoksia jaringan.
PATOFISIOLOGI
KLASIFIKASI

Menilai kegawatan skor Respiratory Distress Assessment


Instrument (RDAI). Skor > 15 : kategori berat, skor < 3 : kategori
ringan.
Respiratory Distress Assessment Instrument (RDAI)
DIAGNOSIS

Anamnesis:
Awal (gejala IRA-atas): pilek ringan, batuk, dan demam.
Satu hingga dua hari kemudian timbul batuk, disertai
dengan sesak napas.
Selanjutnya dapat ditemukan merintih (grunting), napas
berbunyi, muntah setelah batuk, rewel, dan penurunan
napsu makan.
DIAGNOSIS

Pemeriksaan fisik
Takipnea, Takikardi,
Peningkatan suhu (>38,5C)
Ekspirasi memanjang
Napas cuping hidung
Retraksi interkostal
Wheezing, Ronki
Perkusi paru: hipersonor
Sianosis
Apnea
Hepar dan lien dapat teraba
DIAGNOSIS

Pemeriksaan penunjang:

Pemeriksaan darah rutin Gambaran radiologi


Pemeriksaan elektrolit paru mengembang
Analisis gas darah (AGD) (hyperaerated)
Kultur virus hiperinflasi dan infiltrat
Direct immunofluoresence (patchy infiltrates, pneumonia)
assay, ELISA (enzyme-linked atelectasis (patchy atelectasis)
immunosorbent assays), diameter AP bertambah
Polymerase chain reaction diafragma tertekan ke
(PCR) bawah,lebih rendah dan
mendatar
lebih lusen, iga horisontal
KOMPLIKASI

Sangat minimal dan tergantung dari


penatalaksanaan penyakit sebelumnya.
Gangguan fungsi paru yang menetap, wheezing
berulang dan hiperaktifitas bronkial.
Studi kohort: menemukan bahwa 23 % bayi dengan
riwayat bronkhiolitis berkembang menjadi asma
pada usia 3 tahun.
PENATALAKSANAAN

Suportif: pemberian oksigen,


pengaturan cairan, nutrisi

Medikamentosa: Antivirus,
Bronkodilator, Kortikosteroid,
Antibiotik
PENATALAKSANAAN
PENCEGAHAN

Pemberian ASI
Hindari faktor paparan asap
rokok dan polusi udara,
Batasi penularan terutama
dirumah sakit: cuci tangan,
penggunaan sarung tangan dan
masker,
Hindari bayi/anak kecil dari
tempat keramaian umum dan dari
kontak dengan penderita ISPA
Pemberian imunisasi aktif
(Vaksinasi) dan pasif
(Immunoglobulin).
PROGNOSIS

Tergantung berat ringannya penyakit, cepatnya


penanganan, dan penyakit latar belakang (penyakit
jantung, defisiensi imun, prematuritas).
Anak biasanya dapat mengatasi serangan tersebut
sesudah 48 72 jam.
Mortalitas kurang dari 1 %.
KESIMPULAN

Bronkhiolitis merupakan penyakit IRA bawah, berupa inflamasi


pada bronkiolus, paling sering di derita bayi dan anak kecil,
terutama usia < 2 tahun, umumnya disebabkan oleh Respiratory
syncytial virus(RSV). Faktor resiko bronkiolitis adalah jenis
kelamin laki-laki, status sosial ekonomi rendah, pajanan asap
rokok, berada di tempat umum yang ramai, bayi yang tidak
mendapatkan ASI. Secara klinis ditandai dengan pernafasan
cepat, retraksi dinding dada dan whezing. Diagnosis ditegakkan
melalui anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang.
Tatalaksana bronkiolitis berupa tatalaksana suportif dan
medikamentosa. Komplikasi dari bronkiolitis sangat minimal dan
tergantung dari penatalaksanaan penyaki sebelumnya. Prognosis
tergantung berat ringannya penyakit, cepatnya penanganan, dan
penyakit latar belakang (penyakit jantung,defisiensi imun,
prematuritas).