Anda di halaman 1dari 70

GIZI PADA BALITA

DEFINISI GIZI
suatu proses menggunakan makanan yang
dikonsumsi secara normal melalui proses digesti,
absorpsi, transportasi, penyimpanan, metabolisme
dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk
mempertahankan kehidupan, pertumbuhan dan
fungsi normal dari organ-organ serta menghasilkan
energi

Sumber : Almatsier, Prinsip Dasar Ilmu Gizi, 2004


DEFINISI BALITA

anak usia dibawah lima tahun yang berumur 0-4 tahun 11 bulan

Sumber : DepKes, 2005


Gizi Pada Balita
Pengertian Gizi Balita
Gizi adalah elemen yang terdapat dalam
makanan dan dapat dimanfaatkan secara
langsung oleh tubuh seperti halnya
karbohidrat, protein, lemak, vitamin, mineral,
dan air.
Balita atau anak bawah lima tahun adalah
anak usia kurang dari lima tahun sehingga bayi
usia dibawah satu tahun juga termasuk dalam
golongan ini.
Dimasa tumbuh kembang balita yang
berlangsung secara cepat dibutuhkan
makanan dengan kualitas dan kuantitas yang
tepat dan seimbang.
Gizi Balita adalah hal paling utama yang harus
diperhatikan oleh orang tua jika ingin tumbuh
kembang putra dan putrinya maksimal.
Karakteristik Balita

Balita

Batita Pra sekolah


(konsumen (konsumen
pasif) aktif)

Laju Jumlah Perilaku makan


masa keras
pertumbuhan makanan diengaruhi
kepala
sedikit banyak faktor
Pemenuhan Kebutuhan Gizi Pada
Balita

Kebutuhan
Kebutuhan
Zat
Energi
Pengatur

Kebutuhan Zat
Pembangun
PRINSIP GIZI SEIMBANG
BAGI BALITA
PESAN GIZI SEIMBANG
BAGI BALITA

Anak usia 6-24 bulan

Anak usia 2-5 tahun


Anak usia 6-24 bulan

Lanjutkan pemberian ASI sampai umur


2 tahun.
Cara memerah ASI
Cara menyimpan ASI perah
Cara memberikan ASI perah

Berikan Makanan Pendamping ASI (MP-


ASI) mulai Usia 6 bulan
Cara Memerah ASI
Pilih cangkir, gelas atau kendi bermulut lebar

Cuci cangkir tersebut dengan sabun dan air

Tuangkan air mendidih ke dalam cangkir tersebut,


dan biarkan beberapa menit. Air mendidih akan
membunuh sebahagian besar bakteri

Bila telah siap memerah ASI, tuangkan air dari


cangkir tersebut
Cara Menyimpan ASI Perah

TEMPAT PENYIMPANAN JANGKA WAKTU


Suhu Ruang 6-8 jam
Lemari Pendingin 3-8 hari
Freezer 3-6 bulan
Termos berisi es 24 jam
Cara Memberikan ASI Perah
ASI perah dingin dihangatkan dengan cara
merendam wadah ASI perah kedalam baskom berisi
air hangat.
ASI perah beku perlu dicairkan di lemari pendingin
dahulu sebelum dihangatkan
Jangan merebus ASI perah atau menghangatkan ASI
menggunakan air mendidih.
Jangan membekukan kembali ASI perah yang sudah
mencair
Tidak ada alasan untuk membuang ASI kecuali bayi
menolak.
Cara Memberikan ASI Perah
ASI perah dingin dihangatkan dengan cara
merendam wadah ASI perah kedalam baskom berisi
air hangat.
ASI perah beku perlu dicairkan di lemari pendingin
dahulu sebelum dihangatkan
Jangan merebus ASI perah atau menghangatkan ASI
menggunakan air mendidih.
Jangan membekukan kembali ASI perah yang sudah
mencair
Tidak ada alasan untuk membuang ASI kecuali bayi
menolak.
Klasifikasi MP-ASI

MP-ASI lengkap
terdiri dari makanan pokok, lauk
hewani, lauk nabati, sayur dan buah

MP-ASI sederhana
terdiri dari makanan pokok, lauk
hewani atau nabati dengan sayur atau
buah.
MP-ASI yang Baik

Padat energi, protein dan zat gizi mikro yang sudah kurang
pada ASI (Fe, Zinc, Kalsium, Vit. A, Vit. C dan Folat)

Tidak berbumbu tajam, menggunakan gula, garam, penyedap


rasa, pewarna dan pengawet secukupnya

Mudah ditelan dan disukai anak dan

Tersedia lokal dan harga terjangkau


Anak usia 2-5 tahun
Biasakan makan 3 kali sehari (pagi, siang dan malam)
bersama keluarga
Perbanyak mengonsumsi makanan kaya protein seperti ikan,
telur, tempe, susu dan tahu
Perbanyak mengonsumsi sayuran dan buah-buahan.

Batasi mengonsumsi makanan selingan yang terlalu manis,


asin dan berlemak.
Minumlah air putih sesuai kebutuhan.

Biasakan bermain bersama dan melakukan aktivitas fisik


setiap hari
PENGUKURAN STATUS GIZI
BALITA
PENILAIAN STATUS GIZI
Baik
Kurang
Buruk
Overweight/gizi lebih
Obesitas
ANTROPOMETRI

BB TB

LLA LK
BERAT BADAN
Pengukuran :
Tanpa pakaian
Tanpa sepatu
Timbangan beam balance (dacin) atau
timbangan pegas
BB/U
BB/U (CDC 2000) :
80 120 % : gizi baik
60 80 % : gizi kurang
< 60% : gizi buruk
STANDAR NORMAL DISTRIBUSI
STATUS GIZI AMBANG BATAS

GIZI LEBIH >+2SD

GIZI BAIK -2SD sampai + 2SD

GIZI KURANG <2SD sampai -3SD

GIZI BURUK <-3SD


TINGGI BADAN/PANJANG BADAN
(TB/PB)
Bayi dan anak < 2 tahun
o Posisi berbaring
o Menggunakan papan pengukur
o Panjang badan paralel dengan panjang papan
o Bahu harus menempel permukaan papan
o Sepatu atau alas kaki dilepas
TINGGI BADAN/PANJANG BADAN
(TB/PB)
Anak 2 tahun dewasa
o Berdiri tegak dan mata menatap lurus
kedepan
o Punggung menempel pada alat pengukur
tinggi badan pada tembok
o Kedua lengan disisi badan
o Kedua tungkai menghadap kedepan
o Tidak menggunakan alas kaki
TB/U (CDC 2000) :
90 - 110 % : tinggi baik
70 90 % : tinggi kurang
< 70 % : tinggi sangat kurang
BB menurut TB (BB/TB)
Mencerminkan proporsi tubuh
Dapat membedakan wasting dan stunting
Indeks ini digunakan :
Perempuan sd TB 138 cm
Laki-laki sd TB 145 cm
Keuntungan : tidak memerlukan umur
BB/TB (KLASIFIKASI WATERLOW)
> 90 110 % : gizi baik
70 90 % : gizi kurang
< 70% : gizi buruk
> 110 120 % : gizi lebih/ overweight
> 120 % : obes
KEBUTUHAN ENERGI
UMUR ENERGI
(kkal/kgBB)
0-1 110-120
1-3 100
4-6 90
7-9 80
10+ 70-60
LINGKAR KEPALA (LK)
Dipengaruhi oleh status gizi anak sd umum 36
bulan
Pengukuran rutin mendeteksi gangguan
pertumbuhan dan perkembangan
Menggunakan pita ukur yang tidak melar
Tepat di atas supra orbita melingkar melalui
oksiput
INTERPRETASI
o LK < - 2 SD

o Kemungkinan malnutrisi kronik masa


intrauterin atau pada masa bayi/anak.
o Gangguan perkembangan otak.
LINGKAR LENGAN ATAS (LLA)
Bermanfaat bila :
o Tidak ada data BB atau TB.
o BB dan TB tidak dapat diukur dengan tepat
misalnya pada pasien dengan :
1. Organomegali
2. Edema
3. Hidrosefalus
LLA
Anak umur 1 5 thn LLA saja sudah dapat
menentukan status gizi.
Pengukuran :
Lengan kiri, pertengahan akromion dan
olekranon.
Menggunakan non elastic band (WHO/CARE)
terbagi atas 3 warna : hijau, kuning, merah
Interpretasi
< 11,5 cm : malnutrisi berat (merah)
11,5 12,5 cm : mild-mod (kuning)
>12,5 cm : normal (hijau)

LLA/U :
85-100 % : normal
70-85 % : mild-mod malnutrition
<70% : malnutrisi berat
Penyakit Akibat Kekurangan
Gizi
Penyakit Masalah Gizi Utama
Kekurangan Gizi
Kurang Energi Protein (KEP)
Anemia Gizi
Kurang Vitamin A
Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI)
PENYEBAB MASALAH GIZI
STATUS GIZI

ASUPAN INFEKSI Penyebab


GIZI PENYAKIT LANGSUNG

Ketersediaan Perilaku/asuhan Pelayanan


Penyebab
Pangan tingkat Ibu dan Anak kesehatan TAK
Rumah Tangga LANGSUNG

KEMISKINAN, PENDIDIKAN RENDAH, Masalah


KETERSEDIANAN PANGAN, KESEMPATAN KERJA UTAMA

Masalah
KRISIS POLITIK DAN EKONOMI DASAR
DAMPAK KURANG GIZI

Gizi kurang & Gizi cukup &


infeksi sehat

Otak Kosong bersifat permanen Anak cerdas


Tak terpulihkan dan produktif

MUTU SDM RENDAH MUTU SDM TINGGI

BEBAN ASET

Sumber : FKM UI & Unicef, 2002


1. Kurang Energi Protein

Kurang Kalori Protein


Gizi Kurang/Gizi Buruk
Malnutrisi :
Marasmus Kwashiorkor
Besar dan Luas Masalah
Dampak:
fisik
Intelektual
Kekebalan tubuh

Kesakitan
Kematian
Prevalensi Gizi Kurang dan Buruk

1989 1992 1995 1998 1999 Tar


get
2000
GK & 37.5 35.6 31.6 29.5 26.4 19 %
GB % % % % %
GK 31.2 28.4 20.0 19.0 18.0 16.0
% % % % % %
GB 6.3 7.2 11.6 10.5 8.1 3.0
% % % % % %
Penyebab:
Tingkat Makro:
KEP erat hub. dengan keadaan status ekonomi
Penurunan KEP = penurunan kelompok dibawah
garis kemiskinan
Ketersediaan pangan
Tingkat Mikro:
Tingkat kesehatan (infeksi)
Sanitasi lingkungan
Program intervensi
Program UPGK:
penimbangan balita
KIE/promkes
pemanfaatan pekarangan
PMT
oralit
kapsul vit A
Posyandu
2. Anemia Gizi
Terbanyak: defisiensi zat besi

Akibat:
Kemampuan intelektual
Produktifitas kerja
Morbiditas anak
Mortality ibu
BBLR dan keguguran
Penyebab Anemia Gizi
Jumlah Fe tidak cukup dalam makanan
Absorbsi Fe rendah
Kebutuhan naik
Kehilangan darah
Prevalensi Anemia Gizi
Wanita dewasa: 30 40%
Wanita hamil: 50 70%
Anak balita: 30 40%
Anak sekolah: 25 35%
Pria dewasa: 20 30%
Program intervensi
Pemberian tablet besi pada ibu hamil
(Posyandu dan Puskesmas)
KIE (penyuluhan gizi)
Fortifikasi makanan: dalam taraf penelitian
Garam dan mie diproduksi dibanyak produsen
3. Kekurangan Vit. A
Prevalensi : 0.7%
Akibat KVA :
Tingkat mortalitas tinggi
Anak rentan infeksi
Biaya kesehatan tinggi
Perkembangan mental terganggu
Penyakit degeneratif menyerang usia dini
Kekurangan Vitamin A
Klinis: xerophthalmia
KVA: gangguan epitelisasi
gampang infeksi ( diare dan
ISPA )
Apa bahaya Xeroftalmia?

Bila tidak segera diobati


dapat menyebabkan
kebutaan
Epidemiologi
250 juta anak pra sekolah menderita kekurangan
vit A subklinik
3 juta menunjukkan gejala klinik kekurangan vit A
300.000 anak buta karena kekurangan vit A (10%
dari seluruh kebutaan pada anak)
Indonesia: ~ 50% anak pra sekolah
kekurangan vit A
subklinik
~ 34% wanita hamil keku
rangan vit A subklinik
Kekurangan Vitamin A
Sebab:
Keadaan sosial ekonomi
Ketidaktahuan
Akibat infeksi
Kekurangan ASI
Program intervensi

Distribusi kapsul vitamin A pada anak-anak


kematian berkurang
Fortifikasi makanan: dalam taraf penelitian
Perubahan warna makanan
4. Gangguan Akibat Kekurangan
Iodium (GAKY)
Akibat GAKI:
Pembesaran kelenjar gondok
Gangguan pertumbuhan (cebol, bisu, tuli)
Gangguan mental
Gangguan neuro motor
Besarnya masalah

Didaerah endemik: pegunungan di beberapa


propinsi di Indonesia
Didaerah pesisir
Program intervensi
Program iodisasi garam
Program penyuntikan preparat beriodium
Penyuluhan
Program lain (taraf penelitian)
Iodisasi air
Tetes iodium
Masalah Gizi lain
Transisi epidemiologis
Masalah gizi ganda
Defisiensi masih tetap ada
Penyakit Kronik Non Infeksi telah muncul
Masalah gizi ganda

Gizi lebih

DI INDONESIA TAHUN 2002,


165.000 ANAK BALITA DENGAN
GIZI BURUK TINGKAT BERAT
Gizi kurang
Masalah Gizi lain
Muncul Obesitas
Prevalensi:
wanita diatas usia 40 tahun mencapai 30%
overweight dan obese
Akibat obesitas:
PJK
Kanker
diabetes melitus
hipertensi
Angkanya meningkat tajam setelah tahun
1992