Anda di halaman 1dari 42

TRAUMA HEMATOM EPIDURAL,

HEMATOM SUBDURAL DAN


TRAUMA MEDULLA SPINALIS

Pembimbing
dr. Usman G. Rungkuti, Sp. S

Oleh :

Garinda Chaesaria PH 112011101005


Arief Karimauv 112011101077
Ulya Auniyah Sucinda I 16710282

LAB/SMF ILMU PENYAKIT SARAF


RSD dr. SOEBANDI JEMBER
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS JEMBER
2016
TRAUMA KEPALA
DEFINISI
Brain Injury Association of America, trauma kepala
adalah kerusakan pada kepala, bukan bersifat kongenital
ataupun degeneratif, disebabkan oleh serangan atau
benturan fisik dari luar, dapat mengurangi atau mengubah
kesadaran yang menimbulkan kerusakan kemampuan
kognitif dan fungsi fisik
KLASIFIKASI
Tumpul - Kecepatan
tinggi
(tabrakan
mobil)
Mekanisme - Kecepatan
rendah (jatuh
dipukuli)

Tembus - Cedera peluru


- Cedera tembus
lain

Beratnya - Ringan - GCS 14-15


- Sedang - GCS 9-13
- Berat - GCS 3-8
Morfologi - Fraktur - Kalvaria - Garis
Tengkorak - Depresi non
depresi
- Terbuka-
tertutup

- Dasar - Dengan/tanpa
Tengkorak Kebocoran
CSS
- Dengan atau
tanpa parese
n. VII

- Lesi - Fokal - Epidural


Intrakranial - Subdural

- Difus - Komonsio
ringan
- Komonsio
klasik
- Cedera akson
difus
KLASIFIKASI

Tingkat kesadaran dapat dinilai


Kualitatif
Kompos mentis

Derilium

Somnolen

Stupor

Soporokoma

Koma

Kuantitatif
GCS
KRITERIA
Berdasarkan berat ringan :
1. Minimal = simple head injury (SHI)
- Nilai skala koma Glasgow 15 (normal)
- Kesadaran baik
- Tidak ada amnesia
2. Cedera otak ringan (COS)
- Nilai skala koma Glasgow 14
- Nilai skala koma Glasgow 15
- amnesia pasca cedera < 24 jam
- hilang kesadaran < 10 menit
- Dapat disertai gejala klinik lainnya, misalnya :
mual, muntah, sakit kepala dan vertigo, tidak ada
defisit neurologis
3. Cedera otak sedang (COS)
- Nilai skala koma Glasgow 9 - 13
- Hilang kesadaran > 10 menit tetapi kurang dari 6 jam
- Dapat atau tidak ditemukan adanya defisit neurologis
- Ada atau tidak adanya amnesia pasca cedera selama
< 7 hari
4. Cedera otak berat (COB)
- Nilai skala koma Glasgow 5 - 8
- Hilang kesadaran > 6 jam
- Ditemukan defisit neurologis
- Amnesia pasca cedera > 7 hari
5. Kondisi kritis
- Nilai skala koma Glasgow 3 4
- Hilang kesadaran > 6 jam
- Ditemukan defisit neurologis
GEJALA DAN TANDA KLINIS

Primer :
Timbul pada saat rudapaksa

Dapat menimbulkan kerusakan pada :

Kulit dan jaringan subkutan

Tulang tengkorak

Jaringan otak

Saraf otak

Pembuluh darah

Sekunder :
Terjadi setelah rudapaksa akan timbul edema serebri,

rusaknya BBB, nekrosis jaringan, hipertermi, dan lain-lain


PRINSIP UMUM PENATALAKSANAAN

Penatalaksanaan awal trauma kepala berat,


meliputi :
- Evaluasi ABC, Airway, Breathing dan
Circulation
- Pemeriksaan status interna
- Pemeriksaan status neurologi
- Pemeriksaan tingkat kesadaran dengan skala
koma glasgow (GCS)
EPIDURAL HEMATOM
- Akumulasi darah antara dura dan tulang tengkorak (skull)
- Onset beberapa menit sampai beberapa jam dari trauma
- Biasanya (85-95%) pasien EDH mengalami fraktur yang berat
pada cranium
- Laserasi A. Meningea Media dan atau cabangnya
- + 70-80% EDH berlokasi di regio temporo parietal + 10% di regio
frontal dan occipital
- Gambaran CT-Scan berbentuk
biokonveks seperti lensa
Lucid Interval
EPIDEMIOLOGI

Mortalitas lebih tinggi pada :


- Usia < 5 th / > 55 th
- Intradural lesi
- Progressinya cepat
- Gejala tekanan intracranial : TIK meningkat
- GCS rendah
- Lokasi di temporal
- Pupil annisokor
PATOFISIOLOGI
Dari arteri onsetnya cepat
Bertambah besar sampai puncaknya 6-8 jam setelah
trauma
Perdarahan yang besar melepas duramater dari
cranium. Gejala : nyeri kepala hebat

Dari vena
Robekan sinus venosus terutama pada regio occipital
atau fossa posterior
Jalannya lebih benigna
Biasanya dari depressed skull fracture duramter lepas
dari tulangnya perdarahan
Gejalanya lambat
Terapi non operatif
Perluasan volume yang besar dari EDH
Menyebabkan :
- Midline shiff dan herniasi subfalcine

- Tekanan pada otak dapat mengenai N III terjadi


midriasis pupil ipsilateral dan hemiparese kontra lateral

Progresifitas :
Biasanya stabil, mencapai puncaknya dalam beberapa menit
dari trauma
9% : dalam 24 jam pertama

Bisa beberapa hari setelah trauma


GEJALA KLINIS

Menunjukkan Lucid Interval


Gangguan nervus III oleh karena herniasi tentorii
dengan gejala : ptosis, pupil midriasis, refleks
cahaya negatif (pupil anisokor)
Hemiparesis

Gangguan pernafasan karena tekanan pada


batang otak
Pemeriksaan Fisik

Cushing respon tanda-tanda kenaikan TIK :


- Hipertensi
- Bradikardi
- Bradipnea
Tingkat kesadaran menurun dan fluktuatif

Pada tempat trauma terdapat contusio, laserasi atau


depressed pada tulang
Pupil dilatasi, refleks melemah atau fixed, ipsilateral
dengan trauma atau bilateral menunjukkan kenaikan
TIK
DIAGNOSIS BANDING

- Subarachnoid hemorage
- Subdural hematom
- Cerebral contusion
- Diffuse axonal injury
PENATALAKSANAAN

Farmakologi
- Mannitol
- Dexamethasone
Operasi
- Borr Hole
- Craniotomy
Non Operasi
- Pada pasien-pasien yang perjalanannya lambat
Venous EDH
PROGNOSIS

- Lebih baik bila ada Lucid Interval daripada yang


lansung koma
- EDH dengan GCS < 3, jika segera dioperasi
outcome baik
SUBDURAL HEMATOM
- Terdapat perdarahan antara duramater dan
arachnoid
- Biasanya dihasilkan oleh pecahnya bridging
veins yaitu vena yang menyebrang dari
duramater ke jaringan otak
- Karena perdarahan vena maka trauma dan
timbulnya gejala ada waktu selangnya yang lama
nya dapat beberapa jam, hari, minggu
KLASIFIKASI

Subdural Hematom Akut


- Kurang dari 72 jam dari onset
- CT- Scan : Hiperden
- Paling berat dibanding yang lain
- Angka mortalitas 60% - 80%

Subdural Hematom Sub Akut


- 3 20 hari dari onset
- CT- Scan : Isodense
Subdural Hematom Kronis
- 3 minggu atau lebih dari onset
- CT- Scan : Hipodense
- Sering terjadi setelah trauma ringan, pada +50%
causanya tidak diketahui
- Sering terjadi pada usia lanjut
GEJALA KLINIS
Onset SDH lebih lama daripada EDH
Gangguan kesadaran : floating consciousness, gangguan
kesadaran yang hilang timbul (oscilating)
Papiledema
Hemiparesis
CT Scan : tampak gambaran clot berbentuk bulan sabit
(half moon atau crescentic)
Arteriografi : foto AP tampak gambaran cabang arteri tidak
sampai perifer, tetapi antara ujung pembuluh darah dan
dinding bagian dalam tengkorak terdapat zona bebas
(half moon
atau crescentic)
PATOFISIOLOGI

- Darah dalam ruangan subdural akan menarik air


akibat osmosis pembesaran gumpalan
menekan otak dan menyebabkan perdarahan
baru dengan merobek pembuluh darah lainnya

- Dalam beberapa perdarahan subdural lapisan


arachnoid dari meninges ada yang terkoyak
sehingga keluarlah cairan serebro spinalis ke
dalam ruang sub arachnoid, sehingga tekanan
intrakranial meningkat
- Darah dalam ruangan subdural dapat melepaskan
zat vasokon striktor sehingga menyebabkan iskemi
otak dan dapat menimbulkan kaskade biokimia
yang dikenal dengan kaskadeiskemi dan akhirnya
dapat menyebakan matinya jaringan otak

- Tubuh secara perlahan dapat meresorbsi bekuan


darah dan menggantinya dengan jaringan granulasi
DIAGNOSIS

Subdural hematom paling sering terdapat di :


Lobus Parietal
Bisa juga terjadi di :
- Fossa cranial posterior
- Dekat Falks serebri
- Tentorium Serebelli

Pada CT Scan ~ hematom subdural yang klasik


berbentuk bulan sabit.
TATA LAKSANA

- Pada SDH yang kecil dapat diterapi konservatif


atau dengan Borr Hole
- Pada SDH yang besar dilakukan kraniotomi
- Komplikasi pasca operasi yaitu :
Peningkatan tekanan intrakranial
Oedem otak
Perdarahan baru atau berulang
Infeksi
Kejang
PERBEDAAN EDH DAN SDH
JENIS EDH SDH
PERDARAHAN
Tempat Antara tengkorak dan Antara dura dan
dura arachnoid
Pembuluh darah yang A. Meningea media Bridging vena
terlibat

Gejala Lucid Interval diikuti Secara bertahap sakit


tidak sadar kepala meningkat dan
kebingungan

Penampilan pada CT Lensa Bulan sabit


TRAUMA MEDULLA SPINALIS

Cedera pada tulang belakang yang


menyebabkan penekanan pada medula
spinalis sehingga menyebabkan myelopati dan
merupakan keadaan darurat neurologi yang
memerlukan tindakan yang cepat, cermat, dan
tepat untuk mengurangi kecacatan.
PATOFISIOLOGI
Cedera dapat mengenai medula spinalis melalui 3 cara :
Dari dorsal mendorong vertebra ke ventral. Trauma ini
akan menyebabkan kelainan lokal pada vertebra (fraktur
kolumna vertebra)
Dari kranial ke caudal. Misalnya pada jatuh duduk, akan
menyebabkan fraktur kompresi di daerah thorako-lumbal
Dari fleksi dan ekstensi yang hebat (terutama di daerah
servical) akan menyebabkan kerusakan lamina dan
jaringan ikat/ ligamen di sekitar vertebra
GEJALA KLINIS
1. Lesi transversa komplit
Gangguan traktus piramidalis
- menyebabkan paraplegi
- permulaan flasid, kemudian spastik.
Pada fase akut, terdapat arefleksia (spinal shoc)
Gangguan sensibilitas
- gangguan sensibilitas untuk semua kualitas
(eksteroseptif dan
proprioseptif)
Gangguan saraf otonom
- gangguan BAK, gangguan pada rektum, dan
gangguan ereksi
2. Lesi transversa inkomplit
Brown Sequard Syndrome
Kelumpuhan pada satu sisi dan gangguan sensibilitas
untuk rasa raba didaerah perbatasan terdapat
hiperpati
Sisi kontralateral : terdapat gangguan traktus
sphenotalamikus lateralis yaitu gangguan sensibilitas
pada nyeri dan suhu
Sisi homolateral : terdapat gangguan traktus
corticospinalis (gangguan motoris) dan gangguan
columna posterior
3. Kontusio servikal posterior
Terutama terjadi karena trauma langsung dari
belakang dan
mendorong vertebra ke ventral
Biasanya karena tabrakan mobil
Kelainan terutama di funikulus posterior
Gejala :
- Tidak ada kelainan motorik
- Gangguan sensibilitas di daerah C5-6-7,
dimana rasa nyeri
segmental yang sangat hebat
- Penderita akan menjerit bila kulit diraba atau
disentuh pelan
pelan oleh karena nyeri yang hebat. Namun
3. Kontusio servikal posterior
Terapi
Penderita harus dirujuk ke pusat untuk operasi,
bila :
- trauma akut dan terdapat blok
- trauma akut dan didapatkan fraktur vertebra
yang sesuai letak lesi
- permulaan baik setelah beberapa hari
keadaan menjadi lebih
buruk
4. Lesi pada medulla spinalis bagian
bawah
A. Sindroma Epikonus (L4-S2)
- paresis/paralisis flaksid yg mengakibatkan
gangguan gerakan-gerakan: eksorotasi
(L4-S1), dorsofleksi (L4-L5), sendi panggul,
fleksi lutut (L4-S2), fleksi dan ekstensi kaki
dan ibu jari kaki (L4-S2)
- refleks tendon achilles negatif
- gangguan sensibilitas dermatom L4-S5
- retensi urin dan alvi, priapismus dg
impotensia
B. Sindroma Konus Medularis
- tak ada kelumpuhan otot-otot anggota
gerak
- tak ada gangguan refleks tendon
- anestesi dermatom S3-S5
- inkontinensia urin dan alvi, impotensia

C. Sindroma Kauda Ekuina (lesi pada radiks


spinalis L4-C)
- paresis/paralisis flaksid otot-otot disertai
hilangnya refleks
tendon Achilles, gangguan sensibilitas
dermatom L4-S5
- inkontinensia urin dan alvi, impotensia
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium
DL, GDS, RFT
Radiologi
- foto vertebra posisi AP/lat dg fokus
sesuai dg letak
lesi
- CT scan atau MRI jika diperlukan
tindakan operasi
Neurofisiologi klinik
EMG, NCV, dan SSEP
PENATALAKSANAAN
UMUM
- Jika ada fraktur atau dislokasi kolumna vertebralis
servikalis segera pasang collar fiksasi leher , jangan
gerakan kepala atau leher
- Jika ada fraktur kolumna vertebra thorakalis , angkut
pasien dalam keadaan tertelungkup , lakukan fiksasi
thorakal (memakai korset)
- Fraktur daerah lumbal , fiksasi dengan korset lumbal
- Kerusakan medulla spinalis dapat menyebabkan tonus
pembuluh darah menurun karena paralisis fungsi
sistem saraf ortosimpatik , akibatnya tekanan darah
turun , beri infus bila mungkin plasma atau darah ,
dekstran 40 atau ekspafusin
PENATALAKSANAAN

- Gangguan pernafasan kalau perlu beri bantuan


dengan respirator atau jalan lain agar jalan
nafas tetap lapang
- Jika lesi diatas C-8 , termoregulasi tidak ada ,
mungkin terjadi hiperhidrosis usahakan suhu
badan tetap normal
- Jika ada gangguan miksi , pasang kondom
kateter atau DC dan jika ada gangguan
defekasi berikan laksan atau klisma
PENATALAKSANAAN
MEDIKAMENTOSA
- Kortikosteroid
- Simptomatis
Bila terjadi spastisitas otot berikan

diazepam 3 x 5-10 mg/hari atau


bakloven 3 x 5 mg atau 3 x 20 mg
perhari
Bila nyeri berikan analgetik

Bila terjadi hioertensi akibat gangguan


saraf otonom pertimbangkan pemberian
obat anti hipertensi
TERIMA KASIH