Anda di halaman 1dari 12

PEMERIKSAAN THORAX

Pemeriksaan PARU
INSPEKSI

Perhatikan bentuk dada/toraks dalam keadaan tidak bergerak (statis).


Bentuk dada :
Normal
Dada paralitikum
Dada kecil, diameter sagital pendek.
Sela iga sempit, iga lebih miring
Angulus costae < 90
Terdapat pada pasien malnutrisi tuberkulosis.
Dada emfisema (Barrel-shape)
Dada mengembung, diameter sagital besar
Tulang punggung melengkung (kifosis)
Angulus costae > 90
PALPASI

Palpasi Dalam Keadaan Dinamis


Minta pasien menarik napas dalam sekuatnya dan kemudian melepaskan. Sambil
meletakkan kedua telapak tangan pada permukaan dinding dada, rasakanlah
dengan teliti getaran suara napas yang ditimbulkannya. Pemeriksaan ini disebut
fremitus.
Pasien diminta menyebutkan angka 77 sehingga getaran suara yang ditimbulkan
akan lebih jelas. Pemeriksaan ini dimulai secara bertingkat-tingkat dari atas ke
tengah dan seterusnya ke bawah pada bagian depan dan belakang dada. Hasil yang
didapat dari fremitus ini adalah normal, melemah atau mengeras.
PERKUSI

Perkusi dilakukan dengan meletakkan jari tengah ke dinding lain, dengan sendi pergelangan
tangan sebagai penggerak.
Perkusi dada dilakukan secara beraturan dari dada kiri ke kanan dan ke bawah (zig-zag)
sehingga sampai ke batas dada bawah dengan perut. Kemudian dibuat perbandingan dari
perkusi tiap-tiap sisi paru tersebut.
Bunyi ketokan yang didapat adalah :
1. sonor (resonant), terjadi bila udara cukup banyak dalam jaringan (alveolus), terdapat
pada orang normal.
2. pekak (dull) terjadi pada jaringan tanpa udara di dalamnya, misalnya tumor paru,
penebalan pleura.
3. redup (stony-dull), bila bagian padat jaringan lebih banyak dari udara di dalamnya,
misalnya : infiltrat, konsolidasi, cairan di rongga pleura,
4. hipersonor (hiperresonant) bila udara lebih banyak dari pada jaringan padat, misalnya
pada emfisema paru, kavitas besar
Di samping menentukan kelainan pada paru dengan perkusi dapat
ditentukan batas-batas paru dengan organ sekitarnya.
Batas paru jantung:
a. Batas paru-hati, bunyi sonor dari paru selanjutnya menjadi redup pada
garis midklavikula yaitu pada sela iga 6. Peranjakan antara ekspirasi dan
inspirasi yang normal adalah 2 jari.
b. Batas paru lambung: perubahan sonor ke timpani pada garis aksilaris
anterior, biasanya pada sela iga 8, batas ini sangat tergantung dari ada
tidaknya isi lambung.
AUSKULTASI

Pada auskultasi terdapat 2 bunyi :


Bunyi napas pokok :
- Vesikular, terdapat pada paru normal, di mana suara inspirasi lebih keras dan
lebih tinggi nadanya serta 3 kali lebih panjang dari pada ekspirasi.
- Bronkial, terdapat alveoli yang terisi eksudat atau konsolidasi tapi lumen
bronkus atau bronkial masih terbuka. Baik suara inspirasi maupun
ekspirasi sama atau lebih panjang dari inspirasi. Dalam keadaan normal
dapat terdengar di daerah interskapular
- Bronkovesikular, bunyi yang terdengar antara vesikular dan bronkial di
mana ekspirasi menjadi lebih keras, lebih tinggi nadanya dan lebih
memanjang hingga hampir menyamai inspirasi.
Bunyi napas tambahan:
- Bunyi napas tambahan ini merupakan suara getaran (vibrasi) dari jaringan
paru yang sakit. Pada paru sehat suara tambahan ini tidak ditemukan.
Bentuk suara napas tambahan tersebut adalah:
Ronki kering, adalah bunyi yang terputus, terjadi oleh getaran dalam
lumen saluran napas akibat penyempitan. Wheezing adalah ronki kering
yang tinggi nadanya dan panjang yang biasa terdengar pada serangan
asma.
Ronki basah (rales) adalah suara yang berisik dan terputus akibat aliran
udara yang melewati cairan.
INSPEKSI

Bentuk dada :
- Pada orang dewasa normal perbandingan diameter
transversal terhadap diameter
anteroposterior adalah kurang lebih dua berbanding satu
(2:1) dan simetris.
- Pada orang dewasa normal yang agak kurus, seringkali
tampak dengan mudah pulsasi yang disebut iktus
kordis pada ruang sela iga 5, biasanya tampak di sela
iga sedikit sebelah medial garis midklavikula kiri,
sesuai dengan letak apeks kordis.
PERKUSI
Tempat ketukan sebaiknya tepat di atas proksimal dari
pangkal kuku jari tengah tangan kiri (falang 1)

1. Tentukan batas jantung kanan

Tentukan batas paru hati pada garis midclavivula


kanan, kemudian 2 jari di atas tempat tersebut
dilakukan perkusi lagi ke arah sternum sampai
terdengar suara sonor redup
Perubahan yang normal terjadi pada tempat di antara
garis midsternum dan sternum kanan
2. Batas jantung kiri

Tentukan dulu batas paru kiri pada garis aksilaris


anterior kiri
kemudian, 2 jari diatasnya dilakukan perkusi ke
arah sternum sampai terdengar perubahan bunyi
ketukan dari sonor redup
3. Pinggang jantung

Dilakukan perkusi dari atas ke bawah pada garis


parasternum kiri,
Batas normal terdapat pada ruang sela iga 3
kiri
AUSKULTASI
Dengan menggunakan stetoskop
Lokalisasi:
1. Pada iktus kordis untuk bunyi jantung 1 yang
berasal dari katup mitral
2. Pada ruang sela iga 2 di tepi kiri sternum untuk
bunyi jantung yang berasal dari katup pulmonal
3. Pada ruang sela iga 2 di tepi kiri sternum untuk
bunyi jantung yang berasal dari katup aorta
4. Pada ruang sela iga 4 dan 5 di tepi kanan dan kiri
sternum untuk mendengarkan bunyi jantung yang
berasal dari katup trikuspidal