Anda di halaman 1dari 15

Kata Euthanasia berasal dari bahasa Yunani

yang berarti Kematian yang baik(mudah).

Kematian dilakukan untuk membebaskan


seseorang dari penderitaan yang amat berat
dan dapat menimbulkan masalah moral seperti
bunuh diri.

Euthanasia melibatkan orang lain, baik yang


melakukan penghilangan nyawa maupun yang
1. Dilihat dari segi pelakunya
Compulsary Euthanasia (Mercy Killing)
Orang lain yang memutuskan kapan hidup seseorang
akan berakhir. Orang itu mungkin kerabat, dokter atau
masyarakat. Misalnya dilakukan pada penderita sakit yang
mengerikan(cacat parah).

Voluntary Euthanasia
Orang itu sendiri yang meminta untuk mati karena
penderitaan yang dihadapi sangat berat dan menderita
penyakit yang sangat berat. Pasien biasanya diminta untuk
menandatangani dokumen legal sebagai bukti
permintaannya dan disaksikan satu orang sebagai saksinya.
2. Dilihat dari segi caranya
Euthanasia Aktif
Mempercepat kematian seseorang secara aktif dan
terencana, atau secara medis tidak dapat lagi disembuhkan
dan atas permintaan pasien itu sendiri.

Euthanasia Pasif
Pengobatan yang sia-sia dihentikan/tidak dimulai atau
diberi obat penangkal sakit yang memperpendek hidupnya,
karena pengobatan apapun tidak dapat berguna lagi.
Tidak seorangpun diperkenankan meminta
perbuatan pembunuhan , baik untuk dirinya sendiri
ataupun untuk orang lain yang dipercayakan
kepadanya (kongregasi untuk ajaran iman ,
deklarasi mengenai euthanasia, 5 mei , 1980).

Penderitaan harus diringankan bukan dengan


pembunuhan , melainkan dengan pendampingan
oleh seorang teman karena dengan memikul
penderitaan dan solidaritas , kita juga ikut
menebus penderitaan.
Gereja mengakui adanya makna dalam
setiap penderitaan seseorang , sebab Allah
tidak meninggalkan orang yang
menderita.
Hak asasi manusia selalu dikaitkan dengan
hak hidup, damai dan sebagainya. Tapi
tidak tercantum dengan jelas adanya hak
seseorang untuk mati. Mati sepertinya justru
dihubungkan dengan pelanggaran hak
asasi manusia. Hal ini terbukti dari aspek
hukum euthanasia, yang cenderung
menyalahkan tenaga medis dalam
euthanasia dari segala penderitaan yang
hebat.
Sebetulnya dengan dianutnya hak untuk
hidup layak dan sebagainya, secara
tidak langsung seharusnya terbersit
adanya hak untuk mati, apabila dipakai
untuk menghindarkan diri dari segala
ketidak nyamanan atau lebih tegas lagi
Kelahiran dan kematian merupakan hak dari
Tuhan sehingga tidak ada seorang pun di
dunia ini yang mempunyai hak untuk
memperpanjang atau memperpendek umurnya
sendiri. Pernyataan ini menurut ahli ahli
agama secara tegas melarang tindakan
euthanasia, apapun alasannya. Dokter bisa
dikategorikan melakukan dosa besar dan
melawan kehendak Tuhan yaitu memperpendek
umur
Orang yang menghendaki euthanasia, walaupun
dengan penuh penderitaan bahkan kadang-kadang
dalam keadaan sekarat dapat dikategorikan
putus asa, dan putus asa tidak berkenan
dihadapan Tuhan. Tapi putusan hakim dalam
pidana mati pada seseorang yang segar bugar,
dan tentunya sangat tidak ingin mati, dan
tidak dalam penderitaan apalagi sekarat, tidak
pernah dikaitkan dengan pernyataan agama yang
satu ini. Aspek lain dari pernyataan
memperpanjang umur, sebenarnya bila dikaitkan
dengan usaha medis bisa menimbulkan masalah
lain. Mengapa orang harus ke dokter dan
berobat untuk mengatasi penyakitnya, kalau
memang umur mutlak di tangan Tuhan, kalau
belum waktunya, tidak akan mati.
Rasa putus asa (terutama pada pasien dengan
depresi mayor), ketidakberdayaan, kesepian, letih,
nyeri psikologis yang dirasakan tidak
tertangguhkan.
Gangguan psikiatrik
Kesehatan yang menurun, bila sebelumnya hidup
tidak mandiri, hambatan medis kronis, HIV / AIDS.
Intoksikasi, penggunaan aktif (penyalahgunaan)
alkohol dan obat-obatan.
Pengendalian inpuls yang terganggu karena
alasan apapun, hostilitas.
Riwayat percobaan bunuh diri.
Duda / janda, bercerai, berpisah, hidup sendiri,
pengangguran, pension.
Pasien medis yang menjalani dialisis ginjal.
Perubahan status sosial naik atau turun.
Kehilangan ataupun penolakan yang dialami
baru-baru ini.
Kematian orang tua selama masa kanak-kanak.
Kenali dan obati kondisi-kondisi psikiatrik dan medis
Kembangkan ikatan terapeatik dengan pasien
Hadapkan pasien pada hal-hal realita
Jangan mengucilkan keseriusan pasien dalam
usaha bunuh diri
Jangan pernah setuju untuk merahasiakan
rencana bunuh diri
Bantulah pasien melewati masa berduka karena
kehilangan
Jangan beri alasan untuk membenarkan gejala-
gejala yang dialami pasien
Nilailah kembali kondisi fikiran pasien dengan
sharing
Gunakan sumber daya dari komunitas, misal
keluarga, dan orang yang bermakna dalam
pengobatan pasien
Jangan kehilangan kontak dengan pasien
Bersikap aktif tetapi tetap menuntut pasien untuk
bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri.
Kisah Para Rasul 17:25