Anda di halaman 1dari 18

Pemicu 1

Etika
Evania / 405130088
4 Dasar Etika Kedokteran
Tidak merugikan
Berbuat baik
Menghormati otonomi
Keadilan
Peraturan mengenai SIP PERMENKES NOMOR
2052 TAHUN 2011
Peraturan mengenai STR PERMENKES NOMOR
46 TAHUN 2013
Peraturan mengenai SOP PERMENKES NOMOR
1438 TAHUN 2010
Peraturan mengenai STR PERMENKES NOMOR
46 TAHUN 2013
Peraturan mengenai Rekam Medis PERMENKES
NOMOR 269 TAHUN 2008
Pasal 46 UU RI no 29 tahun 2004 tentang Praktik
Kedokteran :
Setiap dokter atau dokter gigi dalam menjalankan
praktik kedokteran wajib membuat rekam medis
Rekam medis sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
harus segera dilengkapi setelah pasien selesai
menerima pelayanan kesehatan
Setiap catatan rekam medis harus dibubuhi nama,
waktu, dan tanda tangan petugas yang memberikan
pelayanan atau tindakan
Pasal 47 UU RI no 29 tahun 2004 tentang Praktik
Kedokteran :
Dokumen rekam medis sebagaimana dimaksud dalam
pasal 46 merupakan milik dokter, dokter gigi, atau sarana
pelayanan kesehatan, sedangkan isi rekam medis
merupakan milik pasien
Rekam medis sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus
disimpan dan dijaga kerahasiannya oleh dokter atau dokter
gigi dan pimpinan sarana pelayanan kesehatan
Ketentuan mengenai rekam medis sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) dan ayat (2) diatur dengan Peraturan Menteri
Pasal 512a KUHP : Barangsiapa sebagai mata
pencaharian, baik khusus maupun sebagai
sambilan menjalankan pekerjaan dokter atau
dokter gigi dengan tidak mempunyai surat izin,
di dalam keadaan yang tidak memaksa,
diancam dengan pidana kurungan paling lama
dua bulan atau pidana denda setinggi-
tingginya seratus lima puluh ribu rupiah.
Sanksi pidana pelanggaran Rekam Medis
Pasal 79 UU Praktik Kedokteran Isinya :
1. Setiap dokter atau dokter gigi yang sengaja tidak
membuat rekam medis dapat dipidana dengan
pidana kurungan paling lama 1 (satu) tahun atau
denda paling banyak Rp 50.000.000,- (lima puluh
juta rupiah).
2. Dokter dan dokter gigi yang tidak membuat
rekam medis juga dikenakan sanksi perdata.
3. Sanksi disiplin dan etik diberikan berdasarkan
baik dari undang-undang maupun kodek etik
profesi:UU Praktik Kedokteran, Peraturan KKI, Kode
Etik Kedokteran Indonesia (KODEKI) dan Kode Etik
Kedokteran Gigi Indonesia (KODEKGI).
Dalam Konsil Kedokteran Indonesia Nomor
16/KKI/PER/VIII/2006 tentang Tata Cara
Penanganan Kasus Dugaan Pelanggaran Disiplin
MKDKI dan MKDKIP, menyebutkan beberapa sanksi
disiplin antara lain:
1. Dokter maupun dokter gigi yang melanggar kodek
etik akan diberikan peringatan tertulis.
2. Surat tanda registrasi atau surat izin praktik
dokter akan dicabut dalam waktu sesuai ketentuan.
3. Dokter dan dokter gigi diwajibkan mengikuti
pendidikan atau pelatihan untuk meningkatkan
kompetensi masing-masing keahliannya.
KODEKI Tahun 2012 Berdasarkan Kasus Pemicu
Surat Keterangan Dokter
Surat-surat keterangan dokter yang sering
dimintakan antara lain adalah :
Surat keterangan lahir
Surat keterangan meninggal
Surat keterangan sehat
Surat keterangan sakit untuk istirahat
Surat keterangan cacat
Surat keterangan pelayanan medis untuk
penggantian biaya dari Asuransi Kesehatan
Surat keterangan cuti melahirkan
Surat keterangan ibu hamil bepergian dengan
pesawat udara
Visum et Repertum
Laporan penyakit menular
Kuitansi
Penyimpangan dalam pembuatan surat
keterangan, selain tidak etis merupakan
pelanggaran terhadap pasal 267 KUHP sebagai
berikut :
Seorang dokter yang dengan sengaja memberikan
surat keterangan plasu tentang ada atau tidaknya
penyakit, kelemahan atau cacat diancam dengan
hukuman penjara paling lama empat tahun
Jika keterangan diberikan dengan maksud untuk
memasukkan seseorang dalam rumah sakit gila
atau untuk menahannya di situ, dijatuhkan
hukuman penjara paling lama delapan tahun
enam bulan
Diancam dengan pidana yang sama, barang siapa
dengan sengaja memberikan surat keterangan
palsu itu seolah-olah isinya sesuai dengan
kebenaran