Anda di halaman 1dari 15

Evidence-Based Case Report

Gambaran Hasil Magnetic Resonance Imaging


dalam Mengidentifikasi Karsinoma Tuba
Fallopii Prime
Andy, Artetha Mutiara Pujiantana, Budiani Christina,
Hario Tri Hendroko, Isna Ayu Rizaty
Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif,
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Pendahuluan
Karsinoma tuba fallopii primer ( primary fallopian tube carcinoma,PFTC)
merupakan jenis kanker yang langka pada traktus genitalia wanita,
terhitung hanya sebanyak 0.1-1.8% dari kasus kanker ginekologi

, Keberadaan PFTC kurang diperhitungkan secara substansial karena


kelangkaan jenis penyakit , kemiripan presentasi klinis dan non-spesifik,
serta kemiripan histologi, PFTC terlihat seperti tumor adneksa padat atau
massa kistik padat yang menyerupai tumor ovarium, sehingga sulit untuk
melakukan diagnosa preoperatif dan meningkatkan kemungkinan
kesalahan mendiagnosa PFTC sebagai tumor ovarium.

. CT scan dan MRI memiliki kemampuan melakukan karakterisasi massa


adneksa kompleks dan mungkin berkontribusi untuk mengoreksi
identifikasi PFTC. Selainitu, CT scan dan MRI terbilang tindakan yang
mudah, murah dan tidakinvasif. Sehingga pada evidence-based case report
ini, kami berusaha mengevaluasi karakteristiknya dari hasil pencitraan.
DeskripsiKasus
Seorang perempuan berumur 47 tahun, paritas 3, datang
kerumah sakit karena adanya massa di regio abdomen bawah sejak 1
tahun yang lalu. Dia tidak merasakan sakit pada abdomen, tidak ada
perdarahan pada vagina, dant tidak mengalami kesulitan dalam buang
air kecil maupun buang air besar. Dia tidak pernah menggunakan
kontrasepsi. Tanda vital dalam keadaan stabil. Pada pemeriksaan USG
pelvis ditemukan adanya massa adneksa dengan ukuran 16 cm, tidak
nyeri, mobile, uterus normal.

Pemeriksaan ultrasonografi, ditemukan massa kistik dengan


bagian padat, bersepta, ukuran 100x59x138 mm, dengan aliran darah
ketahanan rendah di bagian padat (RI 0.19), sesuai dengan neoplasma
ovarium kistik bilateral. CT scan abdomen ditemukan massa kista
berlobulasi dan bersepta dan proyeksi papillar di adneksa kiri, ukuran
13,5x11,8x7,6 cm. Massa diduga melekat pada rektum, kandung kemih,
dan uterus, diperkirakan ganas. Uterus dalam batas normal. Tidak
ada limfadenopati juga tidak ada metastasis intra abdomen.Kadar
CA125 adalah 360,5 U/mL. Pasien didiagnosis dengan neoplasma
ovarium kistik yang diduga ganas, dan menjalani operasi laparotomi
dan potong beku.
Pada durante operasi ditemukan massa
kistik padatdengan permukaan rata, tanpa
perlengketan, ukuran 20x10x10 cm dari tuba
kanan dan ukuran 10x2x2 cm dari tuba kiri.
Tidak ditemukan asites.Uterus dan kedua
ovarium dalam batas normal. Pada pasien
dilakukan tindakan salpingektomi bilateral
dan dilakukan pemeriksaan patologi
anatomi. Hasil patologi anatomi didapatkan
karsinoma tuba fallopi kanan dan sel
atipikal pada tuba fallopi kiri.
Prosedur dilanjutkan dengan tahap operasi komplit
(histerektomi total, oophorektomi total, limfadenektomi
pelvik dan para-aortik, dan omentektomi).

Pasien dipulangkan dalam kondisi stabil. Pada pemeriksaan


mikroskopik blok parrafin ditemukan karsinoma serosa di
tuba kanan, dan kista para tuba kiri. Tidak ada massa pada
omentum, peritoneum, uterus, dan semua panggul dan
kelenjar limfepara-aortik.

Pasien didiagnosis dengan karsinoma tuba fallopii primer


stadium I1, dan telah direncanakan kemoterapi adjuvan.
Pertanyaan Klinis dan Pembuatan PICO
Pada pasien dengan massa adneksa, apakah gambaran MRI atau CT scan dapat
mengidentifikasi karsinoma tuba fallopii primer?
Hasil pencarian disaring oleh sesuai dengan kriteria sebagai
berikut: artikel yang diterbitkan dalam 5 tahun terakhir,
spesies manusia, wanita dewasa, dan bahasa Inggris.
Seleksi
Judul dari hasil penyaringan dari Pubmed dan Science Direct disaring menggunakan
kriteria inklusi. Artikel disaring untuk lima tahun terakhir. Skrining kedua dilakukan
dengan membaca teks lengkap, dan akhirnya ada 2 artikel yang dipilih untuk dinilai
lebih lanjut.
Tabel. Critical appraisal
Artikel 1 Artikel 2
Kriteria
Ma, et al (2014)4 Mao, et al (2015)5
Validity (Validitas)
1. Was the diagnostic test evaluated in a Ya Ya
representative spectrum of patients? Ya Ya
2. Was the reference standard applied regardless of Ya Tidak
the index test result?
3. Was there an independent, blind comparison
between the index test and an appropriate
reference (gold) standard of diagnosis?
Importancy / Result (Hasil)
1. Are test characteristics presented? (sensitivity, Ya Tidak
specificity, positive predictive value, negative
predictive value)
Applicability (Aplikasi)
1. Were the methods for performing the test Ya Ya
described in sufficient detail to permit replication?
Hasil
Dari critical appraisal terhadap2 artikel, hanya ada 1 artikel
yang memenuhi semuakriteria V-I-A yaitu artikelpertama
Dilakukan tes diagnostik pada spektrum pasien yang
representatif (sesuai dengan kriteria inklusi), baik MRI
maupun pemeriksaan histopatologi dilakukan pada semua
pasien,
Ada uji perbandingan yang independen dan menggunakan
blinding
Terdapat nilaisensitivitas, spesifisitas, positive predictive
value, dan negative predictive value.
Dapat direplikasi untuk penelitianselanjutnya.

Maka artikel yang cukup valid dan reliable adalah artikel


pertama.
Ma, dkk membandingkan potensi gambaran
diskriminatif MRI dari PFTC dan karsinomaepitel
ovarium primer.Studi retrospektif inidilakukan pada27
pasien PFTC dan 42 pasien karsinoma epitel ovarium
primer.
Gambaran MRI dariPFTC yang telah signifikan
berbeda dari karsinoma epitel ovarium primer adalah
diameter maksimum (p <0,001),
gambaran massa berbentuk sausage-like (p <0,001),
konfigurasi solid (p = 0,015),
homogenisitas pada T2WI (p = 0,001),
enhancement ringan atau sedang (p <0,001),
hidrosalfing (p <0,001),
akumulasi cairan intrauterin (p = 0,001).
Selain itu, implan peritoneal, limfadenopati, dan asites
secara statistik tidak signifikan antara keduakelompok.
Tabel .Gambaran diagnostik dari karakteristik MRI massa
adneksa mirip karsinoma tuba fallopii primer

Gambaran MRI Sensitivitas Spesifisitas PPV NPV

Ukuran kecil ( 6 cm) 63% 93% 85% 80%

Massa berbentuk sausage- 70% 100% 100% 84%


like
Tumor solid 74% 57% 53% 77%

Homogenisitaspada T2WI 78% 64% 58% 82%

Enhancement ringan dan 78% 69% 62% 83%


sedang
Hidrosalpings 52% 100% 100% 76%

Akumulasi cairan intrauterin 30% 100% 100% 68%


Diskusi
Pada pemeriksaan pencitraan, karsinoma tuba fallopii primer
menyerupai campuran massa solid dan kistik sehingga biasanya
diagnosis preoperatif sulit ditegakkan dan dibedakan dengan tumor
ovarium.

Gambaran pada MRI yang dinyatakan Ma, dkk dapat membantu


membedakan PFTC dengan karsinoma epitel ovarium primer, yaitu
massa sausage-like memiliki spesifisitas 100%
sangat membantu dalam membedakannya dengan karsinoma
epitel ovarium primer.
Hidrosalpings dan akumulasi cairan intrauterin.
Cairan intrauterin dapat berakumulasi oleh karena dekompresi
cairan tuba melalui corneal end ke dalam uterus.

MRI juga lebih baik daripada CT scan atau ultrasonografi dalam


mendeteksi infiltrasi tumor ke organ sekitar, dengan akurasi
sekitar 83% hingga 92%, dan sensitivitas 87% serta spesifisitas 91%
dalam mendeteksi infiltrasi pada daerah seperti miometrium dan
limfo nodi.
Pada ilustrasi kasus, ultrasonografi dan CT
scan menunjukkan massa kistik dengan
komponen solid dari adneksa. Pemeriksaan
MRI tidak dilakukan.
Pada pemeriksaan CT scan, dapat dilihat
adanya massa besar berbentuk seperti sosis
dengan proyeksi papiler. Walau demikian,
oleh karena kedua ovarium sulit untuk
divisualisasi pada gambaran tersebut,
diagnosis awal massa tersebut dibuat sebagai
neoplasma ovarium kistik sangkaan maligna.
Kesimpulan
Dari EBCR ini didapatkan bahwa gambaran MRI dapat
menjadi membantu diagnosis dengan sensitivitas dan
spesifisitas tinggi dalam mengidentifikasi PFTC yaitu dari
gambaran massa berbentuk seperti sosis, hidrosalpings,
dan akumulasi cairan intrauterin.

Walaupun pada ilustrasi kasus MRI tidak dilakukan,


temuan jurnal ini dapat diaplikasikan secara klinis karena
MRI dapat menjadi penunjang yang baik dalam
mendiagnosis PFTC secara preoperatif, walaupun belum
dapat menggantikan peran utama baku emas, yaitu
pemeriksaan histopatologi yang jelas hasilnya didapat
pasca operasi.
Daftar Pustaka
1. Goswami PK, Kerr-Wilson R, McCarthy K. Cancer of the fallopian tube. The Obstetrician & Gynaecologist. 2006;8:147-
52.
2. Pectasides D, Pectasides E, Economopoulos T. Fallopian tube carcinoma: a review. The oncologist. 2006;11(8):902-12.
3. Haratz-Rubinstein N, Russell B, Gal D. Sonographic diagnosis of Fallopian tube carcinoma. Ultrasound ObstetGynecol
2004;24(1):868.
4. Kawakami S, Togashi K, Kimura I, et al. Primary malignant tumor of the fallopian tube: appearance at CT and MR
imaging. Radiol- ogy 1993;186:503508
5. Ma FH, Cai SQ, Qiang JW, Zhao SH, Zhang GF, Rao YM. MRI for differentiating primary fallopian tube carcinoma from
epithelial ovarian cancer. Journal of magnetic resonance imaging : JMRI. 2015;42(1):42-7.
6. Mao XF, Hu CH, Hu S, Zhu YM, Zhao YY, Shen J. Magnetic resonance imaging features of fallopian tube carcinoma.
International journal of gynaecology and obstetrics: the official organ of the International Federation of Gynaecology
and Obstetrics. 2015;130(2):204-6.
7. Stewart SL, Wike JM, Foster SL, Michaud F. The incidence of primary fallopian tube cancer in the United States.
Gynecologic oncology. 2007;107(3):392-7.
8. Shaaban A, Rezvani M. Imaging of primary fallopian tube carcinoma. Abdom Imaging. 2013;38:608-18.
9. Van Trappen PO, Rufford BD, Mills TD, Sohaib SA, Webb JAW, Sahdev A, Carroll MJ, BrittonKE, Reznek RH, Jacobs IJ.
Differential diagnosis of adnexal masses: risk of malignancy index, ultrasonography,magnetic resonance imaging, and
radioimmunoscintigraphy.Int J Gynecol Cancer 2007;17:6167
10. Sohaib SA, Reznek RH. MR Imaging in Ovarian Cancer. International Cancer Imaging Society. Cancer
Imaging(2007)7,S119-S129
11. Gomes FV, Dias JL, Lucas R, Cunha TM. Primary fallopian tube carcinoma: review of MR imaging findings.Insights
Imaging (2015) 6:431439