Anda di halaman 1dari 43

Anemia Hemolitik + Gizi

Buruk Tipe Marasmus +


Perawakan Pendek +
Dekompensasi Kordis pada
seorang Anak
Rita Yuliana
Pembimbing : dr. Diane M Supit, Sp.A
Identitas Pasien

Nama : AN
Jenis kelamin : Perempuan
Umur : 9 Tahun
Alamat : RE Martadinata gg. Madu
Anak ke : 2 dari 2 saudara
MRS : 8 Mei 2015
Keluhan utama : Sesak

Pasien mengalami sesak sejak 2 hari sebelum masuk


rumah sakit. Sesak menyebabkan pasien sulit untuk tidur
secara terlentang dan nafsu makan pasien menurun
karena sesak. Sesak dirasakan bertambah berat setiap
kali pasien batuk. Ibu pasien juga mengeluhkan perut
pasien yang betambah besar disertai bengkak pada
kedua tungkai pasien. Pasien juga sering terlihat pucat
dan gampang lelah setiap kali bermain terlalu lama.
Ketika di bawa ke IGD Pasien juga mengeluhkan mual
dan muntah.
Riwayat penyakit dahulu

Pasien pernah mengalami keluhan serupa sejak pasien berusia 3


tahun, saat itu pasien juga mengeluhkan sesak yang disertai
dengan batuk. Pasien segera dibawa ke rumah sakit Dirgahayu
dan dilakukan pemeriksaan darah lengkap. Hasil pemeriksaan
menunjukan kadar Hb yang rendah, lalu pasien di transfusi PRC.
Saat itu ibu pasien memutuskan untuk pulang paksa karena nenek
pasien sedang sakit. walaupun kadar Hb pasien belum naik.
Ketika pasien berusia 5 tahun, pasien juga mengalami keluhan
serupa, dan ketika dilakukan pemeriksaan darah lengkap. Hb
pasien juga turun, namun setelah di transfusi kondisi pasien
membaik dan diizinkan untuk rawat jalan.
Riwayat Penyakit Keluarga :
Tidak ada riwayat penyakit serupa pada keluarga pasien.
Riwayat Saudara-Saudaranya :
Pasien anak tunggal, dari pengakuan ibu pasien. Ibu pasien sempat
mengandung dan keguguran.
Riwayat Tumbuh Kembang pada anak

Berat badan lahir : 1600 Duduk : Lupa


gram Merangkak : Lupa
Panjang badan lahir : 47 cm Berdiri : 2 tahun 3
Berat badan sekarang : 12,2 bulan
kg Berjalan : 2 tahun 6
Panjang badan sekarang : 91 bulan
cm Berbicara 2 suku kata : lupa
Gigi keluar : 3 bulan Masuk TK : 5 tahun
Tersenyum : Lupa Masuk SD : 7 Tahun
Miring : Lupa Sekarang Kelas : 2 SD
Tengkurap : Lupa
Riwayat makan dan minum anak

ASI : 0 bulan 2 tahun 6 bulan


Susu sapi : 2 tahun 6 bulan hingga sekarang
Bubur susu : 6 bulan
Tim saring : 6 bulan
Buah : semua jenis/ umur 6 bulan
Lauk dan makan padat : 6 bulan
Riwayat pre natal, natal dan post natal

Ibu pasien saat mengandung rutin memeriksa


kehamilan di Puskesmas, selama hasmil ibu pasien tidak
sakit dan hanya mengkonsumsi obat obatan vitamin
dan zat besi.
Pasien lahir di RSIA aisyah secara saecar dengan indikasi
letak sungsang dan ditolong oleh dokter spesialis obgyn
Pasien rutin memeriksakan di posyandu, keadaan anak
sering sakit dan pucat.
Imunisasi Usia saat imunisasi

I II III IV Booster I Booster II

BCG - //////// /////// /////// /////// ///////

Polio - + + + - -

Campak + + /////// /////// /////// ///////

DPT - + + /////// - -

Hepatitis - + + /////// - -
B
Pemeriksaan fisik

Kesan umum : sakit sedang


Kesadaran : E4v5M6
Tanda vital
Frekuensi nadi : 108 x/menit, isi cukup,
reguler
Frekuensi napas : 32
Temperatur : 36,8o C per axila
Antopometri

Berat badan : 13 kg
Panjang Badan : 93 cm
Status Gizi : Gizi buruk
Kepala
Rambut : Hitam
Mata : konjungtiva anemis (+/+), sklera ikterik (-/-), Refleks Cahaya (+/+),
Pupil Isokor (3mm), mata cowong (-/-)
Mulut : Lidah kotor (-),faring Hiperemis (-), mukosa bibir basah,
pembesaran Tonsil (-/-), gusi berdarah
Leher
Pembesaran Kelenjar : Pembesaran KGB submandibular (+/+),
Thoraks
Inspeksi : Bentuk dan gerak dinding dada simetris dextra = sinistra, retraksi
(+), Ictus cordis tidak tampak
Palpasi : Fremitus raba dekstra = sinistra, Ictus cordis teraba icv V MCLS
Perkusi : Sonor di semua lapangan paru
Batas jantung
Kiri : ICS V midclavicula line sinistra
Kanan : ICS III para sternal line dextra
Auskultasi : vesikuler (+/+), Rhonki (-/-), S1S2 tunggal reguler, bising (-)
Abdomen
Inspeksi : Tampak datar
Palpasi : Distanded, nyeri tekan epigastrium (-), hepatomegali (+) 3 jari
dibawah arcus costa dextra splenomegali (+) Schuffner II - III, turgor kulit
kembali cepat
Perkusi : Timpani
Auskultasi : Bising usus (+) normal
Ekstremitas : Akral hangat (+), oedem (+), capillary refill test < 2 detik,
sianosis (-), pembesaran KGB aksiler (-/-), pembesaran KGB inguinal (-/-)
Darah lengkap (8/5/15) Darah lengkap (11/5/15) Nilai normal
Leukosit 142.000 Leukosit 10.040 4.800-10.800 /uL

Hb 3.2 Hb 5.8 11,3-14,1 gr/dl


MCV 65.6 MCV 69.9 80-100
MCH 22.4 MCH 24.3 27-34
MCHC 34.1 MCHC 31 32-36
Hematokrit 9.4 % Hematokrit 18.7% 33-41 %

Platelet 306.000 Platelet 71.000 150.000-450.000

Darah lengkap (13/5/15) Darah lengkap (19/5/15) Nilai normal

Leukosit 2740 Leukosit 7400 4.800-10.800 /uL

Hb 6.6 Hb 10.4 11,3-14,1 gr/dl


MCV 78.8 MCV 75.8 80-100
MCH 24.1 MCH 26.1 27-34
MCHC 30.6 MCHC 34.4 32-36
Hematokrit 21.6 % Hematokrit 30.2% 33-41 %

Platelet 95.000 Platelet 225.000 150.000-450.000


Hapusan Darah Tepi (25/1/15)
Eritrosit Hipokrom anisopoikolositosis, mikrosit (+),
tear drop cells (+), fragmentosit (+), makrosit
polikromasi (+) normoblast6/100 leukosit
Leukosit Jumlah sedikit meningkat didominasi netrofil
segmen, sel muda toksik granule-
neutrophil stab meningkat
Trombosit Jumlah normal
Kesan Anemia hemolitik ec ?
Leukositosis ringan / neutrofilia shift to the left
Saran Retikulosit, bilirubin, CRP
Kimia Darah (8/515) 19 /5/15

GDS 93

SGOT 81
SGPT 103
UR 20.1

CR 0.5

Elektrolit

Na 135 136
K 2.9 3.3
Cl 100 94
Diagnosis Kerja : Anemia Hemolitik + Gizi buruk tipe
marasmus
Diagnosis Lain : Perawakan pendek
Diagnosis Komplikasi: Dekompensasi kordis
Penatalaksanaan IGD
Transfusi PRC 60 cc habis dalam 4 jam, pre Lasix 1
mg/Kgbb
IVFD RL 15 tpm
Inj. Cefotaxim 3 x 400 mg
Tanggal Subjektif & Objektif Assesment & Planning
11/5/15 S: Pucat (+) demam (+) A: anemia pro evaluasi,
Melati batuk berdahak (+) BAB suspek thalassemia dd ALL
dan BAK dbn sesak (+) P:

O: N : 116 RR : 48 T:37.4 - O2 nasal kanul 1 lpm

Ane (+), ikt (-), Rh (+), Wh (-), - IVFD RL 1125 cc/24 jam

BU(+)N, NT(-), organomegali - Inj cefotaxim 3x400 mg

(+) hepatomegaly (+) 4 cm - Paracetamol syrup 3x

dibawah arkus kosta. cth

Splenomegaly (+) schuffner - Ambroxol syrup 3x2,1 ml

III-IV edema (+) - KCl 7,46 % 1x2,5 ml.


12-05-2015 S: Pucat (<<) demam (-) A: anemia pro evaluasi,
Melati batuk berdahak (+) BAB suspek thalassemia dd ALL
dan BAK dbn sesak (<<) + RVH + hipokalemi

O: N : 100 RR : 36 T:36,7 P:

Ane (+), ikt (-), Rh (+), Wh (-), - O2 nasal kanul 1 lpm

BU(+)N, NT(-), - IVFD RL 1125 cc/24 jam

organomegali (+) - Inj cefotaxim 3x400 mg

hepatomegaly (+) 4 cm - Inj. Gentamisin 1x50mg

dibawah arkus kosta. - Paracetamol syrup 3x

Splenomegaly (+) schuffner cth

III-IV edema (+) - Ambroxol syrup 3x2,1 ml


- KCl 7,46 % 1x2,5 ml.
- Furosemide 2 x 20 mg.
- Transfuse PRC 120 cc
15-05-2015 S: Pucat (<<) demam (-) batuk A: Decompensasi cordis + Gizi
Melati berdahak (+) BAB dan BAK buruk + anemia hemolitik +
dbn sesak (<<) perawakan pendek

O: N : 100 RR : 48 T:37.6 P:

Ane (-), ikt (-), Rh (-), Wh (-), - O2 nasal kanul 1 lpm

BU(+)N, NT(-), organomegali - IVFD RL 900 cc/24 jam

(+) hepatomegaly (+) 4 cm - Inj cefotaxim 3x400 mg

dibawah arkus kosta. - Paracetamol syrup 3x cth

Splenomegaly (+) schuffner - Ambroxol syrup 3x2,1 ml

III-IV edema (+) - KCl 7,46 % 1x2,5 ml.


- Furosemide 2 x 20 mg.
- Nebulizer ventolin flash
- Post transfuse PRC 60 cc
18-05-2015 S: Pucat (-) demam (-) batuk A: Decompensasi cordis + Gizi
Melati berdahak (+) BAB dan BAK buruk + anemia hemolitik +
dbn sesak (-) nafsu makan perawakan pendek
(>>), pasien sudah dapat P:
tidur. - O2 nasal kanul 1 lpm

O: N : 120 RR : 32 T:36,8 - IVFD RL 900 cc/24 jam

Ane (-), ikt (-), Rh (-), Wh (-), - Inj cefotaxim 3x400 mg

BU(+)N, NT(-), organomegali - Paracetamol syrup 3x cth

(+) hepatomegaly (+) 4 cm - Ambroxol syrup 3x2,1 ml

dibawah arkus kosta. - KCl 7,46 % 1x2,5 ml.

Splenomegaly (+) schuffner - Furosemide 2 x 20 mg.

III-IV edema (-) - Nebulizer ventolin flash


19-05-2015 S: Pucat (<<) demam (-) batuk A: Decompensasi cordis + Gizi
Melati berdahak (+) BAB dan BAK buruk + anemia hemolitik +
dbn sesak (<<) perawakan pendek

O: N : 88 RR : 28 T:35.6 P:

Ane (-), ikt (-), Rh (-), Wh (-), - O2 nasal kanul 1 lpm

BU(+)N, NT(-), organomegali - IVFD RL 900 cc/24 jam

(+) hepatomegaly (+) 4 cm - Inj cefotaxim 3x400 mg

dibawah arkus kosta. - Paracetamol syrup 3x cth

Splenomegaly (+) schuffner III- - Ambroxol syrup 3x2,1 ml

IV edema (-) - KCl 7,46 % 1x2,5 ml.


- Furosemide 2 x 20 mg.
- Nebulizer ventolin flash
20-05-2015 S: Pucat (<<) demam (-) batuk berdahak A: Decompensasi cordis + Gizi buruk +
Melati (+) BAB dan BAK dbn sesak (<<) anemia hemolitik + perawakan pendek

O: N : 90 RR : 32 T:35.6 P:

Ane (-), ikt (-), Rh (-), Wh (-), BU(+)N, NT(-), - O2 nasal kanul 1 lpm

organomegali (+) hepatomegaly (+) 4 - IVFD RL 900 cc/24 jam

cm dibawah arkus kosta. Splenomegaly - Inj cefotaxim 3x400 mg

(+) schuffner III-IV edema (-) - Paracetamol syrup 3x cth


- Ambroxol syrup 3x2,1 ml
- KCl 7,46 % 1x2,5 ml.
- Furosemide 2 x 20 mg.
- Nebulizer ventolin flash
- Terapi Gizi sesuai RDA
Kalori 1000-1250 kkal/hari
Protein 12,5 gr - `8,75 gr/ hari
Cairan 1250 cc/ hari.
F 75 12 x 42 cc.
Tinjauan Pustaka
Definisi

Anemia hemolitik adalah suatu kelainan pada darah


yang ditandai dengan lisisnya sel darah merah kurang
dari usia normalnya yaitu 120 hari. Selama terjadi
hemolysis, sel darah merah yang bertahan usianya
berkurang dan menyebabkan peningkatan aktivitas
dari sumsum tulang, akibatnya terjadi peningkatan
jumlah retikulosit.
Anemia hemolitik dapat diklasifikasikan menjadi 1.
Corpuscular, adalah hasil dari abnormalitas pada
membrane, enzim atau hemoglobin, dan 2.
Extracorpuscular adalah hasil dari antibodi imun atau
non imun. Anemia hemolitik korpuskular umumnya
diturunkan, sedangkan anemia hemotik
ekstrakorpuskular umumnya didapat.
Etiologi

Defek korpuskular
Defek membrane
Defek enzim
Defek pada hemeglobin
Defek ekstrakorpuskular
Imun
Isoimun
Autoimun
Non imun
Idiopatik
sekunder
patogenesis
Intravaskuler
ekstravaskuler
Faktor etnik berperan dalam menentukan diagnosis anemia hemolisis.
Insiden terjadinya anemia sel sabit lebih sering pada populasi afrika
amerika. Insiden tertinggi talasemia adalah pada populasi mediterania dan
insiden defisiensi enzim G6PD terbanyak pada bangsa Yahudi.
Anemia dan ikterik pada bayi Rh (+) yang lahir dengan ibu Rh (-) atau bayi
golongan darah A atau B yang lahir pada ibu golongan darah O.
Riwayat anemia, ikterik atau batu empedu pada keluarga
Anemia persisten atau berulang yang ditandai dengan retikulositosis
Hiperbilirubinemia indirek yang persisten.
Splenomegaly
Hemoglobinuria
Munculnya batu empedu
Kencing yang berwarna gelap.

MANIFESTASI KLINIS
Pemeriksaan penunjang
Darah lengkap : peningkatan dari mean corpuscular volume (MCV) akibat
munculnya retikulositosis dan peningkatan dari red cell distribution (RDW)
seiring dengan penurunan jumlah hemoglobin.
Pemeriksaan urin : hemoglobinuria, hemosiderinuria
Peningkatan bilirubin tak terkonjugasi
Peningkatan urobilinogen feces dan urin
Peningkatan produksi karbon monoksida.
Hapusan darah tepi : Peningkatan normoblast, anemia normositik
normokrom, hipokrom mikrositik,
Morfologis abnormal spesifik : target sel, sel sabit, basofilik,
Coombs test positif.

PENUNJANG
Penatalaksanaan

Hingga sekarang tidak ada obat yang dapat menyembuhkan anemia


hemolitik. Transfuse darah yang diberikan bila kadar Hb telah rendah (kurang
dari 6gr/dl) atau bila anak mengeluh tidak mau makan dan lemah. Tidak ada
manfaat mempertahankan kadar hemoglobin yang tinggi, karena dengan
transfuse darah yang terlampau sering, akan timbul depresi terhadp sumsum
tulang atau dapat menyebabkan timbulnya reaksi hemolitik akibat transfusi.
Transfuse darah hanya diberikan bila diperlukan. Pada keadaan yang sangat
gawat (perdarahan massif, perdarahan otak dan sebagainya) dapat diberikan
suspense trombosit.
Pada anemia hemolitik autoimun atau akibat dari reaksi toksik-imunologik,
yang dapat diberikan adalah kortikosteroid. Prednisone diberikan dengan dosis
2-5 gr/kgbb/ hari peroral. Pengobatan biasanya jangka panjang, bila terlah
terdapat remisi, dosis obat diberikan separuhnya dan jumlah sel darah diawasi
setiap minggu. Bila kemudian terjadi relaps, dosis obat harus diberikan penuh
kembali.
Jantung pada anemia

Semua anemia apapun sebabnya akan menimbulkan gangguan


fungsional maupun anatomis pada jantung. Berat ringannya
kelainan yang ditemukan bergantung pada beberapa faktor.
Anemia akan menyebabkan keadan hiperkinetik, insufisiensi
coroner dan berkurangnya cadangan jantung. Bila kadar Hb
kurang dari 7gr/dl, akan terjadi peninggian curah jantung yang
akan membebani kerja jantung. Peninggian curah jantung disertai
menurunnya resistensi perifer, menurunnya jumlah volume darah
dan meningkatnya tekanan vena. Pembesaran jantung tanpa atau
disertai komplikasi gagal jantung umumnya terjadi berupa dilatasi
dan hipertrofi atau keduanya, pada anemia yang kronis lebih
banyak faktor dilalatasi dan hipertrofi atau keduanya. Pembesaran
jantung bersifat individual, tidak sejajar dengan derat beratnya
anemia.
Pembahasan
TEORI KASUS
ANAMNESIS

Sesak nafas, pasien kesulitan


Anemia yang berat dapat
untuk tidur terlentang.
menyebabkan gagal jantung.
Pasien bertambah sesak
Pada anemia hemolitik
tiap kali batuk.
destruksi sel darah terus
Bengkak pada tungkai
berlanjut, sehingga dapat
bawah.
terjadi relaps.
Pasien sering pucat.
Manifestasi dari gagal jantung
Riwayat transfuse darah (+)
: edema pada tungkai, sesak
nafas, edema paru.
PEMERIKSAAN FISIK
Manifestasi fisik yang diperoleh sesuai Status gizi : gizi buruk
dengan yang didapat pada kasus. K/L : pasien tampak anemis, tidak ikterik.
Tidak terdapat pembesaran KGB.
Tho : tampak retraksi suprasternal dan
subkosta pada hari pertama hingga hari
ke 7 pasien dirawat di RS. perkusi dan
palpasi dalam batas normal. Auskultasi
didapatkan ronki (+) selama 7 hari
pasien dirawat di RS.
Abd : distanded (+), bising usus (+) nyeri
tekan (+), terdapat splenomegali dan
hepatomgali.
Eksterimitas : terdapat edema pada
tungkai bawah kaki pasien.
DIAGNOSIS
Anemia hemolitik + dekompensasi kordis Anak anemis, tampak pucat, lemas.
+ gizi buruk tipe marasmus + perawakan Tampak retraksi suprasternal dan
pendek subkosta pada hari pertama hingga
hari ke 7 pasien dirawat di RS. perkusi
dan palpasi dalam batas normal.
Auskultasi didapatkan ronki (+)
selama 7 hari pasien dirawat di RS.
Abdomen distanded (+), bising usus
(+) nyeri tekan (+), terdapat
splenomegali dan hepatomgali
Eksterimitas : terdapat edema pada
tungkai bawah kaki pasien.
PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan anemia hemolitik adalah berupa a. IVFD D5 NS 1125 cc/ 24jam
transfusi darah ketika pasien mulai timbul gejala. b. Inj cefotaxim 3x400 mg.
Pemberian antibiotik dapat digunakan untuk c. Inj. Gentamisin 1x50mg
menurunkan risiko terkena infeksi. d. Paracetamol 3x cth
Furosemide diberikan sebagai terapi gagal jantung e. Ambroxol 3x2,1 ml
dengan tujuan menurunkan beban jantung. f. Aspar K 3 x 300 mg
Terapi gizi sesuai dengan 10 langkah terapi gizi g. Furosemid 3 x 20 mg.
WHO. h. Nebulizer ventolin / 8 jam
i. Terapi gizi sesuai RDA
j. Terapi Gizi sesuai RDA
Kalori 1000-1250 kkal/hari
Protein 12,5 gr - `8,75 gr/ hari
Cairan 1250 cc/ hari.
F 75 12 x 42 cc.
Terima kasih