Anda di halaman 1dari 29

Tutorial Klinik

Orthodonsi

Preceptor :
drg. Djoko Priyanto, Sp. Orth, MARS

Presented by:
Rhea Zarna
DATA PASIEN

Nama Penderita : Shafannisa Putri


Tanggal Lahir : 8 Maret 2003 Umur : 13 thn
Alamat : Megantara Regency blok F
Kelamin : Perempuan
Pekerjaan : Pelajar
Nama Ayah : Adhi Nugroho
Suku : Jawa
Nama Ibu : Wulan Apriyanti
Suku : Jawa
Keluhan utama Anamnesa

Pasien merasa gigi depan atas tidak


Pasien datang dengan
rapi dan maju. Pasien datang dengan
keluhan gigi depan atas motivasi untuk dilakukan perawatan
tidak rapi. kawat karena ingin giginya rapi. Tidak
ada keluhan rasa sakit hanya pasien
merasa gigi depannya mengganggu
penampilan.
Riwayat menyusu dengan dot selama
2 tahun.
HIPOTESIS

Maloklusi angle kelas II subdivisi dental


disertai dengan crowding anterior.
DOKUMENTASI
Analisa foto profil

Dari analisa foto profil tampak depan pasien memiliki wajah simetris,
serta tampak samping pasien memiliki wajah yang cembung.
RIWAYAT INDIVIDU

Lahir : Normal
Anak ke :1 ( dari 2 bersaudara )
Nutrisi : ASI Lamanya 2 tahun
Susu botol lamanya 4 tahun 2 bulan
Keadaan Umum: baik
Penyakit infeksi berat pada masa anak-anak : Tidak ada
Kelainan
PEMERIKSAAN KLINIS

EKSTRA ORAL
Bentuk wajah dari depan : Simetris
Bentuk wajah dari samping : cembung
Kedudukan Bibir terhadap gigi depan
Gigi Atas : normal
Gigi Bawah : normal
INTRA ORAL
Ginggiva : normal
Frenulum Labii : normal
Palatum : Sedang
Kedudukan lidah waktu menelan normal
Kedudukan lidah waktu istirahat normal
Foto Rontgen
Analisa Foto Sefalometri
perempuangl Hasil Ukuran Keterangan
Jenis Pengukuran
Nilai Normal
SNA0 81 91 Maksila prognatik
SNB0 79 84 Mandibular prognatik
ANB0 2 5 Kelas II skeletal
NAPog 5 12 Cembung
NSGN0 66 64 Mandibula horizontal
MP : SN0 32 33 Tulang wajah vertikal
1 : 10 135 105 Relasi insisivus protrusive
1 : SN0 102 128 Inklinasi I atas protrusive
1 : MP0 90 93 Inklinasi I bawah retrusif
1 : APog mm 9 11 Protrusif
1 : NB mm 8 6 Retrusif
Pog : NB Pog mm 1 - -
Bidang E : LS mm 0 -1,5 Tipis
Bidang E : LI mm 2 -1 Tipis
Sumber : Arnus / Susanto
Kesimpulan

Pasien memiliki maloklusi skeletal klas II, profil


wajah cembung, pertumbuhan maksila dan
mandibular lebih ke anterior dari basis cranii.
Relasi insisivus protrusive, relasi I atas dengan
basis cranii protusif, relasi I bawah dg mandibular
plane retrusif. Bibir atas dan bibir bawah tipis.
Foto Panoramik

Fraktur : Tidak ada


Supernumerary : Tidak ada
Agenesis : Gigi 42
Non Vital : Tidak ada
Lain-lain : Terdapat benih pada gigi 17, 28, 38, dan 48
Anomali dalam oklusi
Sagital :
Overjet : 11 = 2 mm 21 = 7,2 mm
41 31
relasi molar pertama permanen = kanan (klas II) , kiri (klas I)
relasi kaninus = kanan (klas I) , kiri (klas 1)
klasifikasi angle = klas II Subdivisi
Gigitan terbalik Anterior : Tidak ada
Transversal
Garis median : Rahang Atas : normal Rahang bawah : normal
Gigitan terbalik posterior : Tidak ada
Vertikal
Overbite : 11 = 1,6 mm 21 = 5,2 mm
41 31
Gigitan terbuka : Tidak ada
Gigitan dalam : Tidak ada
LEBAR MESIODISTAL GIGI-GELIGI (MM)

Gigi Kanan Kiri Normal Ket


1 9,2 8,8 7.40 9.75 Normal
2 7,2 6,4 6.05 8.10 Normal
3 7,4 7,8 7.05 9.32 Normal
4 7,5 7,4 6.75 9.00 Normal
5 6,8 6,6 6.00 8.10 Normal
6 10 9,9 9.95 12.10 Normal

Gigi Kanan Kiri Normal Ket


1 5,5 5,8 4.97 6.60 Normal
2 - 6 5.45 6.85 -
3 6,2 6,4 6.15 8.15 Normal
4 7,6 7,4 6.35 8.75 Normal
5 6,9 6,9 6.80 9.55 Normal
6 10,7 10,8 10.62 13.05 Normal
7 9,9 9,6 8.90 11.37 Normal
Analisis Howes

Indeks fossa canina


Basis Apikal X 100% = 39,6 mm X 100 % = 42,1 %
Mesiodistal 16 - 26 94 mm

Lebar Lengkung gigi (puncak bonjol bukal 14 24 ) = 40,6 mm


Lebar lengkung rahang (basis apikal) = 39,6 mm
Selisih = 1 mm
Indeks premolar
PMD X 100% = 38,6 mm X 100 % = 41,06 %
TTM 94 mm

Kesimpulan:
Lengkung basal tidak dapat menampung gigi kedalam lengkung ideal karena
indeks pasien FC < 44%
Lengkung gigi tidak dapat menampung gigi kedalam lengkung ideal karena
indeks P pasien < 43%
Analisis Pont
Lebar Mesiodistal 12 11 21 22 = 31,6 mm
Jarak distal pit 14 24 (pasien) = 36,4 mm
Jarak sentral fossa 16 26 (pasien) = 47,6 mm

Indeks Pont 14 24 = jml MD 12 11 21 22 X 100= 31,6 X 100=39,5 mm


80 80

Indeks Pont 16 -26 = jml MD 12 11 21 22 X 100 = 31,6 X100= 49,3 mm


64 64
Penderita Pont Selisih

14 24 36,4 mm 39,5 mm -3,1 mm (kontraksi)

16 26 47,6 mm 49,3 mm - 1,7 mm (kontraksi)


DETERMINASI LENGKUNG

RA:
Lengkung Ideal = 61,7 mm
Lengkung Individual = 71,6 mm -
= -9,8 mm

RB:
Lengkung Ideal = 48,9 mm
Lengkung Individual = 53,3 mm -
= -4,4 mm
Penapakan Lengkung Rahang Atas

Rahang atas
Penapakan Lengkung Rahang Bawah

Rahang bawah
DIAGNOSA ORTHODONTI

Maloklusi skeletal klas II dengan maloklusi angle klas II subdivisi


disertai crowding anterior atas bawah.

Malposisi gigi individual :


12 : Distolabiotorsiversi 25 : Bukoversi
14: Mesiolabiotorsiversi 41 : Distoversi
21 : Labioversi 42 : Linguoversi
22: Labioversi 43 : Rotasi
ETIOLOGI MALOKLUSI

Etiologi malposisi gigi :


12 : Persistensi gigi 52 33 : Persistensi gigi 63
14 : Persistensi gigi 54 41 : Persistensi gigi 81
21 : Prematur loss gigi 61 42 : Persistensi gigi 82
22 : Persistensi gigi 62 43 : Persistensi gigi 83
PROGNOSA

Sedang
Alasan :
Pasien kooperatif terhadap perawatan
Riwayat kesehatan baik
Usia pasien muda
Keadaan sosial ekonomi baik

RETAINER : Perlu
Alasan : Mempertahankan lengkung gigi yang telah
terkoreksi sampai terjadi kestabilan dalam lengkung gigi
yang baru.
TUJUAN PERAWATAN

Rahang Atas
- Mengoreksi malposisi gigi individual
- Mengoreksi lengkung gigi
Rahang Bawah
- Mengoreksi malposisi gigi individual
- mengoreksi lengkung gigi
DESIGN ALAT

Rahang atas Rahang bawah

1. Labial arch 0,7 mm


1.Labial arch 0,7 mm
2. Skrue ekspansi
2.Skrue ekspansi 3. Adam klamer 0,7 mm
3.Adam klamer 0,7 mm 4. Finger spring
RENCANA PERAWATAN

Rahang Atas
Tahap 1 : Membuat maxilla plane
Adam klamer dengan ukuran 0,7 mm U loop pada gigi 17 dan 27 untuk
mempertahankan retensi dan stabilitas alat.
Labial arch dengan ukuran 0,7 mm, U loop pada mesial gigi 14 dan 24 sebagai
alat aktif dan mempertahankan lengkung gigi, diaktifkan dengan tang
setengah bulat
Skrue ekspansi pada rahang atas untuk mendorong maksila ke lateral.

Tahap 2 : Pencarian ruang RA


Berdasarkan determinasi lengkung didapatkan kekurangan ruang pada RA
sebesar 9,8 mm.
Pengaktifan ekspansi pada rahang atas sekali kontrol dengan melebarkan
skrue ekspansi rahang atas sebanyak 2 putaran, dengan 2 putaran dapat
mendorong kearah lateral sebanyak 0,4 mm
Tahap 4 : Membuat mandibula plane
Adam klamer dengan ukuran 0,7 mm U loop pada gigi 36 dan 46
untuk mempertahankan retensi dan stabilitas alat.
Labial arch dengan ukuran 0,7 mm, U loop pada mesial gigi 34 dan 44
sebagai alat aktif dan mempertahankan lengkung gigi.
Skrue ekspansi pada rahang ata untuk mendorong maksila ke lateral.

Tahap 5 : Pencarian ruang rahang bawah


Berdasarkan perhitungan determinasi lengkung di dapatkan
kekurangan ruang sebesar 4,4 mm.
Pengaktifan ekspansi pada rahang atas sekali kontrol dengan
melebarkan skrue ekspansi rahang atas sebanyak 2 putaran ,
dengan 2 putaran dapat mendorong kearah lateral sebanyak 0,4
mm
Tahap 6 : Mengoreksi malposisi
Mengaktifkan labial arch 0,7 mm pada rahang atas
dengan mengecilkan U loop pada rahang atas
dengan menggunakan tang setengah bulat.
Tahap 7 : Retainer
Pemakaian retainer

Mencegah hasil perawatan relaps atau untuk mempertahankan


lengkung yang telah dikoreksi maka untuk RA dan RB digunakan
retainer yang berupa labial arch dengan U loop dan adam klamer.
Pemakaian 3 bulan I : retainer dipakai siang dan malam, dan pada
waktu tidur, baru dilepas pada waktu sikat gigi dan sehabis makan
untuk dibersihkan, dengan waktu kontrol sebulan sekali untuk
pengecekan apakah hasil perawatan berjalan dengan baik.
Pemakaian 3 bulan II : kontrol apakah retainer setiap dipakai masih
sesak, jika sudah tidak sesak pemakaian dihentikan
Pemakaian 3 bulan III : dikontrol kembali apakah retainer masih
terasa sesak jika masih pemakaian dilanjutkan 3 bulan berikutnya
Pemakaian 3 bulan IV : jika sudah tidak terasa sesak pemakaian
bisa dihentikan dan dilakukan pengontrolan akhir 3 bulan
berikutnya.
TERIMA KASIH