Anda di halaman 1dari 14

CLOSING

DASAR
PENGERTIAN

MAWARIS SYARAT
RUKUN dan WARISAN
SAYRAT

WASIAT dan RUKUN


SEBAB
HIBAH PEWARISAN
HOME

Secara etimologis Mawaris adalah bentuk jamak dari kata miras


( ,)yang merupakan mashdar (infinitif) dari kata : warasa
yarisu irsan mirasan. Maknanya menurut bahasa adalah ;
berpindahnya sesuatu dari seseorang kepada orang lain, atau dari
suatu kaum kepada kaum lain.
menurut istilah yang dikenal para ulama ialah, berpindahnya hak
kepemilikan dari orang yang meninggal kepada ahli warisnya yang
masih hidup, baik yang ditinggalkan itu berupa harta (uang), tanah,
atau apa saja yang berupa hak milik yang legal secara syari.
Jadi yang dimaksudkan dengan mawaris dalam hukum Islam adalah
pemindahan hak milik dari seseorang yang telah meninggal kepada
ahli waris yang masih hidup sesuai dengan ketentuan dalam al-
Quran dan al-Hadis.
HOME

QS. An-nisa (4): 7


QS. An-nisa (4): 11
HOME

Al-Muwaris (pewaris)
Al-Waris (Ahli Waris)
Tirkah

DETAIL
HOME

Adanya hubungan kekerabatan atau hubungan


nasab
Adanya hubungan pernikahan
Karena wala

DETAIL
HOME

Mati haqiqy.
Mati hukmy.
Mati taqdiry (menurut dugaan).

DETAIL
HOME

Pewaris, yakni orang yang meninggal dunia, dan ahli


warisnya berhak untuk mewarisi harta peninggalannya.
Ahli waris, yaitu mereka yang berhak untuk menguasai
atau menerima harta peninggalan pewaris dikarenakan
adanya ikatan kekerabatan (nasab) atau ikatan
pernikahan, atau lainnya.
Harta warisan, yaitu segala jenis benda atau kepemilikan
yang ditinggalkan pewaris, baik berupa uang, tanah, dan
sebagainya.
HOME

wasiat ( )
menurut istilah syari ialah, pemberian
kepemilikan yang dilakukan seseorang untuk orang
lain, sehingga ia berhak memilikinya ketika si
pemberi meninggal dunia.
(Definisi) hibah menurut istilah syari ialah, sebuah
akad yang tujuannya penyerahan seseorang atas hak
miliknya kepada orang lain semasa hidupnya tanpa
imbalan apapun .
1. Al-Muwaris (pewaris) Orang yang memiliki harta warisan yang telah
meninggal dunia dan mewariskannya kepada ahli warisnya. Syaratnya
adalah al-muwaris benar-benar telah dinyatakan meninggal baik secara
hukum maupun medis.
2. Al-Waris (Ahli Waris) adalah orang yang dinyatakan memiliki hubungan
nasab atau kekerabatan yang merupakan hubungan darah, hubungan
akibat perkawinan, atau akibat memerdekakan budak atau hamba
sahayanya. Syarat, ahli waris adalah ia dalam keadaan hidup pada saat al-
muwaris Atau orang yang memiliki harta waris meninggal dunia.
3. Tirkahadalah harta atau hak yang berpindah dari al muwaris atau
pewaris kepada ahli warisnya. Harta tersebut dapat dikatakan tirkah
apabila harta peninggalan almuwaris yang telah dikurangi biaya
perawatan, pengurusan jenazah, hutang dan wasiat yang sesuai syariat
agama islam untuk selanjutnya diberikan kepada ahli waris
1. Matinya muwaris.
Kematian muwaris dibedakan kepada tiga macam yaitu :
a. Mati haqiqy. ialah kematian seseorang yang dapat disaksikan oleh panca indra dan dapat dibuktikan dengan
alat pembuktian.
b. Mati hukmy ialah suatu kematian disebabkan adanya vonis hakim. Misalnya orang yang tidak diketahui kabar
beritanya, tidak diketahui domisilinya, maka terhadap orang yang sedemikian hakim dapat memvonis telah
mati. Dalam hal ini harus terlebih dahulu mengupayakan pencarian informasi keberadaannya secara maksimal.
c. Mati taqdiry (menurut dugaan). yaitu orang yang dinyatakan mati berdasarkan dugaan yang kuat. Semisal
orang yang tenggelam dalam sungai dan tidak diketem,ukan jasadnya, maka orang tersebut berdasarkan
dugaan kuat dinyatakan telah mati. Contoh lain, orang yang pergi kemedan peperangan, yang secara lahiriyah
mengancam jiwanya. Setelah sekian tahun tidak diketahui kabar beritanya, maka dapat melahirkan dugaan
kuat bahwa ia telah meninggal.
2. Hidupnya waris.
Dalam hal ini, para ahli waris yang benar-benar hiduplah disaat kematian muwaris, berhak mendapatkan harta
peninggalan. Berkaiatan dengan bayi yang masih berada dalam kandungan akan dibahas secara khusus.
3. Tidak adanya penghalang-penghalang mewarisi.
Tidak ada penghalang kewariosan, sebagaimana yang telah dijelaskan dalam hal-hal yang menjad penghalang
kewarisan.
1. Hubungan Kekerabatan.
Dasar hukum kekerabatan sebagai ketentuan adanya hak kewarisan adalah firman Allah :
Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya dan bagi wanita ada
hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak
menurut bahagian yang telah ditetapkan. (Q.S. An-Nisa : 7). Demikian pula dalam surat al-Anfal
ayat 75 : Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap
sesamanya (daripada yang bukan kerabat) didalam kitab Allah. (Q.S. Al-Anfal : 75).
2. Hubungan Perkawinan.
Hubungan perkawinan yang menyebabkan terjadinya saling mewarisi adalah perkawinan yang sah,
yaitu perkawinan yang syarat dan rukunnya terpenuhi. Dalam hal ini, terpenuhinya rukun dan syarat
secara agama. Tentang syarat administrative masih terdapat perbedaan pendapat. Hukum
perkawinan di Indonesia, memberikan kelonggaran dalam hal ini. Yang menjadi ukuran sah atau
tidaknya perkawinan bukan secara administrasi (hukum positif, Pen.) tetapi ketentuan agama.
3. Hubungan Karena sebab Al-Wala
Wala dalam pengertian syariat adalah ;
Kekerabatan menurut hukum yang timbul karena membebaskan (memberi hak emansipasi) budak.
Kekerabatan menurut hukum yang timbul karena adanya perjanjian tolong menolong dan sumpah
setia antara seseorang dengan seseorang yang lain.
Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta
peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, dan bagi
orang wanita ada hak bagian (pula) dari harta
peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, baik sedikit
atau banyak menurut bahagian yang telah
ditetapkan. (QS. An-nisa (4): 7)
Allah mensyariatkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anakanakmu.
Yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagian dua orang anak
perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, Maka bagi
mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang
saja, Maka ia memperoleh separo harta. dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi
masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal
itu mempunyai anak;n jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia
diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), Maka ibunya mendapat sepertiga; jika
yangmeninggal itu mempunyai beberapa saudara, Maka ibunya mendapat
seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat
yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan
anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat
(banyak) manfaatnya bagimu. ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah
Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.(QS. An-nisa (4): 11)