Anda di halaman 1dari 47

PARKINSON

Adhi Wardana
Definisi
Parkinsonisme merupakan kumpulan gejala dari tremor,
rigiditas, bradikinesia dan instabilitas postural.
Penyakit parkinson ialah kelainan gangguan gerak
neurodegeneratif yang bersifat progresif ditandai dengan
parkinsonisme.
Ditandai dengan gambaran patologis berupa degenerasi neuron
disertai adanya badan lewy (Lewy bodies) pada substansia nigra
pars kompakta
Presentasi Klinis (I)
Penyakit parkinson terjadi di seluruh dunia, PP lebih tinggi
pada laki-laki dibandingkan dengan perempuan dengan rasio
3:2

Prevalensi penderita PP meningkat pada usia 40-70 tahun,


menurun pada usia >80 tahun
Presentasi Klinis (II)
Penyakit Parkinson terjadi ketika sel saraf atau neuron di
dalam otak yang disebut substantia nigra menjadi lemah.

Substantia nigra menghasilkan dopamin. Dopamin merupakan


suatu bahan kimia yang dapat menghantarkan sinyal-sinyal
listrik diantara substantia nigra dan disepanjang jalur sel saraf
yang akan membantu menghasilkan gerakan tubuh yang
halus. Ketika kira-kira 80% sel yang memproduksi dopamin
rusak, gejala penyakit parkinson akan nampak.
Presentasi Klinis (III)
Faktor Risiko
Genetik.
Lingkungan : toksin, penggunaan pestisida.
Trauma kepala
Patofisiologi
Penyakit Parkinson terjadi karena penurunan
kadar dopamin akibat kematian neuron di pars
kompakta substansia nigra disertai adanya inklusi
sitoplasmik eosinofilik (Lewy bodies)
Substansia Nigra (black substance) suatu region
kecil di otak (brain stem) yang terletak sedikit di
atas medulla spinalis sebagai pusat
control/koordinasi dari seluruh pergerakan
Lewy bodies adalah inklusi sitoplasmik eosinofilik
konsentrik dengan halo perifer dan dense cores
Patofisiologi
Sel-sel substansia nigra menghasilkan neurotransmitter yang
disebut dopamine untuk mengatur seluruh gerakan otot
dan keseimbangan tubuh yang dilakukan oleh sistem saraf
pusat.
Dopamine diperlukan untuk komunikasi elektrokimia antara
sel-sel neuron di otak terutama dalam mengatur pergerakan,
keseimbangan dan refleks postural, serta kelancaran
komunikasi (bicara).
Parkinson sel-sel neuron di SNc mengalami degenerasi
produksi dopamine menurun semua fungsi neuron di
system saraf pusat (SSP) menurun dan menghasilkan :
Kelambatan gerak (bradikinesia),
Kelambatan bicara dan berpikir (bradifrenia),
Tremor
Kekauan (rigiditas)
Patofisiologi
Dalam Fungsi Motorik Inti Motorik medula spinalis diatur oleh
sel piramid korteks motorik
Dalam pengaturannya dapat bersifat DIRECT atau Non-Direct
melalui inti batang otak.
Pengendalian langsung oleh korteks motorik melalui traktus
piramidalis, sedangkan yang tidak langsung adalah melewati
sistem ekstrapiramidal ganglia basalis ikut berperan.
Komplementasi kerja traktus piramidalis dengan sistem
ekstapiramidal menimbulkan gerakan otot menjadi halus,
terarah, dan terprogram.
Pada Parkinson Disease, adanya gangguan pada sistem
ekstrapiramidal (ganglia basalis) menyebabkan gerakan otot
menjadi TIDAK halus, terarah, dan terprogram.
Patofisiologi
Ganglia Basalis (GB)tersusun dari beberapa
kelompok inti , yaitu :
1. Striatum (neostriatum dan limbic striatum)
Neostriatum terdiri dari putamen (Put) dan
Nucleus
Caudatus (NC)
2. Globus Palidus (GP)
3. Substansia Nigra (SN)
4. Nucleus Subthalami (STN)
Patofisiologi

Saraf
Degenerasi
Dopaminergik
Subs. Nigra
Nigristriatum

Rangsang
terhadap
reseptor D1
dan D2 (-)
Patofisiologi

D2 : Reseptor dopamin 2 bersifat inhibitorik


D1 : Reseptor dopamin 1 bersifat eksitatorik
SNc : Substansia nigra pars compacta
SNr : Substansia nigra pars retikulata
GPe : Globus palidus pars eksterna
GPi : Globus palidus pars interna
STN : Subthalamic nucleus
VL : Ventrolateral thalamus = talamus
Gejala Klinis
Diawali oleh Gejala Non-Spesifik
Kelemahan umum
Kekakuan pada otot
Pegal-pegal atau kram otot
Distonia fokal
Gangguan ketrampilan
Kegelisahan
Gejala sensorik (parestesia)
Gejala psikiatrik (ansietas atau depresi).
Gejala Klinis
GEJALA MOTORIK
Tremor/bergetar
Rigiditas/kekakuan
Akinesia/Bradikinesia
Freezing/Tiba-tiba berhenti
Start hesitation/Ragu-ragu untuk melangkah
Mikrografia
Sikap Parkinson Langkah & Gaya berjalan
Bicara Monoton
Demensia
Gejala Klinis
GEJALA MOTORIK
Tremor/bergetar
Tangan tremor (bergetar) jika sedang beristirahat
resting tremor
Tremor disebabkan oleh hambatan pada aktivitas gamma
motoneuron yang mengakibatkan menurunnya kontrol dari
gerakan motorik halus danmenimbulkan gerakan involunter
yang dipicu dari susunan saraf pusat.
Gejala Klinis
GEJALA MOTORIK
Tremor/bergetar
Tremor terdapat pada jari tangan
Sendi metakarpofalangis
Tremor berupa gerakan fleksi ekstensi yang melibatkan jari-jari atau
pronasi supinasi pergelangan tangan disebut (pill rolling) KHAS
Kaki Fleksi-Ekstensi
Kepala Fleksi-ekstensi ; rotasi
Mulut membuka menutup
Lidah terjulur-tertarik

Pada awalnya tremor hanya terjadi pada satu sisi,


namun semakin berat penyakit, tremor bisa terjadi
pada kedua belah sisi.
Gejala Klinis
GEJALA MOTORIK
Rigiditas/kekakuan
Rigiditas disebabkan oleh peningkatan tonus pada otot.
Jika kepalan tangan yang tremor tersebut digerakkan
(oleh orang lain) secara perlahan ke atas bertumpu
pada pergelangan tangan, terasa ada tahanan seperti
melewati suatu roda yang bergigi sehingga gerakannya
menjadi terpatah-patah/putus-putus (cogwheel
phenomenon).
Gejala Klinis

GEJALA MOTORIK
Rigiditas/kekakuan
Akibat kekakuan itu, gerakannya menjadi tidak halus
lagi.
Gerakan yang kaku membuat penderita akan berjalan
dengan postur yang membungkuk. (simian posture)
Untuk mempertahankan pusat gravitasinya agar
tidak jatuh & langkahnya menjadi cepat tetapi pendek-
pendek.
Gejala Klinis
GEJALA MOTORIK
Akinesia/Bradikinesia
Dalam pekerjaan sehari-hari akinesia/bradikinesia bisa
terlihat pada tulisan/tanda tangan yang semakin
mengecil, sulit mengenakan baju, langkah menjadi
pendek dan diseret, wajah seperti topeng (mask face),
sulit memulai berjalan, lambat mengambil suatu obyek,
bila berbicara gerak lidah dan bibir menjadi lambat,
kedipan mata berkurang,, dan berkurangnya gerak
menelan ludah.
Dengan keadaan tsb dan kesadaran pasien masih tetap
baik Memicu terjadinya Stress secara psikologik.
Gejala Klinis
GEJALA MOTORIK
Freezing & Start Hesitation (Instabilitas
Postural)
freezing, yaitu berhenti di tempat saat mau mulai
melangkah, sedang berjalan, atau berputar balik;
start hesitation, yaitu ragu-ragu untuk mulai melangkah.
Keadaan tersebut berimplikasi pada Hilangnya refleks
postural disebabkan kegagalan integrasi dari saraf
propioseptif dan labirin dan sebagian kecil impuls dari
mata, pada level talamus dan ganglia basalis yang akan
mengganggu kewaspadaan posisi tubuh penderita
mudah jatuh
Gejala Klinis
GEJALA NON MOTORIK
Disfungsi Otonom
Keringat berlebihan, air ludah berlebihan, gangguan
sfingter terutama inkontinensia dan hipotensi
ortostatik.
Pengeluaran urin yang banyak
Disfungsi seksual
Gangguan suasana hati, penderita sering
mengalami depresi
Ganguan kognitif, menanggapi rangsangan lambat
Gangguan tidur, penderita mengalami kesulitan
tidur (insomnia)
Gangguan sensasi
Diagnosis
BERDASARKAN KRITERIA :
Secara klinis
Didapatkan 2 dari 3 tanda kardinal gangguan motorik
: tremor, rigiditas, bradikinesia atau
3 dari 4 tanda motorik : tremor, rigiditas, bradikinesia
dan ketidakstabilan postural.
Diagnosis
Untuk kepentingan klinis diperlukan adanya penetapan berat
ringannya penyakit dalam hal ini digunakan stadium klinis berdasarkan
Hoehn and Yahr (1967) yaitu :
Stadium 1: Gejala dan tanda pada satu sisi, terdapat gejala yang
ringan, terdapat gejala yang mengganggu tetapi tidak menimbulkan
kecacatan, biasanya terdapat tremor pada satu anggota gerak
Stadium 2: Terdapat gejala bilateral, terdapat kecacatan minimal,
sikap/cara berjalan terganggu
Stadium 3: Gerak tubuh nyata melambat, keseimbangan mulai
terganggu saat berjalan/berdiri, disfungsi umum sedang
Stadium 4: Terdapat gejala yang berat, masih dapat berjalan hanya
untuk jarak tertentu, rigiditas dan bradikinesia, tidak mampu berdiri
sendiri, tremor dapat berkurang dibandingkan stadium sebelumnya
Stadium 5: Stadium kakhetik (cachactic stage), kecacatan total, tidak
mampu berdiri dan berjalan walaupun dibantu.
Pemeriksaan Penunjang
Laboratorium
Neuroimaging
Magnetik Resonance Imaging ( MRI )
Positron Emission Tomography ( PET )
Single Photon Emission Computed Tomography (SPECT)
Ultrasonografi transkranial
Tatalaksana
A. Bekerja pada sistem dopaminergik
Obat pengganti dopamine (Levodopa,
Carbidopa)
Agonis dopamin seperti Bromokriptin,
Pramipexol
Penghambat Monoamin oxidase (MAO
Inhibitor) Selegilin dan rasagilin
B. Bekerja pada sistem kolinergik
Antikolinergik thrihexyphenidyl (artane)
dan benztropin (congentin)
Tatalaksana
Terapi pembedahan
Bertujuan untuk memperbaiki atau mengembalikan seperti
semula proses patologis yang mendasari (neurorestorasi).
Tindakan pembedahan untuk penyakit parkinson dilakukan bila
penderita tidak lagi memberikan respon terhadap pengobatan
Ada 2 jenis pembedahan yang bisa dilakukan :
a. Pallidotomi , yang hasilnya cukup baik untuk menekan gejala :
- Akinesia / bradi kinesia
- Gangguan jalan / postural
- Gangguan bicara
b. Thalamotomi , yang efektif untuk gejala :
- Tremor
- Rigiditas
- Diskinesia karena obat.
Tatalaksana

Deep Brain Stimulation (DBS)


Memperbaiki waktu off dari levodopa dan
mengendalikan diskinesia.
PARKINSON CASE
Adhi Wardana
Identitas Pasien
a. Nama lengkap : Tn. B
b. Umur : 55 tahun
c. Jenis Kelamin : Laki-laki
d. Alamat : Tomang
e. Pekerjaan : Tidak bekerja
f. Pendidikan : SMA
g. Status Pernikahan : Menikah
h. Agama : Islam
i. Suku Bangsa : Jawa
Anamnesa
Tanggal : 8 Mei 2017 Jam : 10.00

Keluhan utama : Tangan kanan gemetar terus menerus


selama tiga bulan.

Riwayat penyakit sekarang :


Pasien datang ke poli saraf RSSW dengan keluhan tangan
kanan gemetar terus menerus selama tiga bulan sebelum
berobat ke poli saraf dan memburuk atau bertambah
semenjak satu bulan terakhir. Tangan bergetar terus tiada
berhenti. Pasien juga merasakan kekakuan jika kepalan
tangan yang bergetar tersebut digerakkan terasa ada
tahanan, pasien juga menjadi lambat jika berjalan. Pasien
juga merasa bergetar tanpa sadar dan tidak terkendali. BAB
dan BAK dalam keadaan normal.
Riwayat penyakit keluarga :
Tidak ada keluarga yang menderita seperti pasien.
Riwayat penyakit dahulu :
Pasien tidak pernah mengalami keluhan yang sama
sebelumnya.
Riwayat mengkonsumsi obat-obatan tertentu dalamjangka
waktu yg lama sebelumnya disangkal
Riwayat kencing manis disangkal.
Riwayat Hipertensi disangkal.
Riwayat trauma disangkal.
Riwayat stroke disangkal.
Riwayat penyakit jantung disangkal.
Riwayat Pengobatan :
Pasien sempat berobat ke dokter umum tetapi tidak ada
perubahan.
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Umum :
Keadaan umum : compos mentis, tampak sakit sedang
Tanda vital
Tekanan darah: 120/80 mmHg
Suhu: 36,4 C
Nadi: 82 x/menit (tekanan & isi cukup)
RR: 18 x/menit
Pemeriksaan Fisik
PEMERIKSAAN SISTEM
Kepala
Bentuk : Normochepal, rambut hitam panjang, distribusi
merata
Mata : Konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-
Hidung : sekret -/-, Bentuk normal, nafas cuping hidung (-)
Telinga : Normotia, sekret -/-
Visus: 6/6 (dengan menggunakan jari), diplopia (+)
Funduskopi: Tidak Dilakukan
Leher: Trakea di tengah, deviasi trakea (-), pembesaran KGB (-),
benjolan (-)
Thoraks
Cor :
Inspeksi: Ictus Cordis tidak terlihat
Palpasi: Ictus Cordis teraba 1 jari
Auskultasi: Bunyi Jantung I-II Reguler, Murmur(-), Gallop(-)
Pulmo :
Inspeksi: Bentuk dada simetris, Retraksi (-)
Palpasi: Stem Fremitus sama kuat
Perkusi: Sonor kedua lapang paru
Auskultasi: SDV +/+, RH -/-, WH -/-
Abdomen
Inspeksi : Datar, tidak ada masa
Palpasi : Supel, nyeri tekan (-)
Perkusi : Timpani seluruh kuadran paru
Auskultasi : bising usus (+), normal
Anus & Genitalia : Tidak dilakukan
Ekstremitas dan tulang belakang: Edema (-), Akral Dingin (-)
Kulit: Tugor baik.
KGB: Tidak ada pembesaran
Pemeriksaan Neurologis
GCS : E4 M6 V5
Tanda Rangsang Meningeal
Kaku kuduk (-), Brudinzky I-III (-), IV tidak dilakukan, Laseque (-),
Kernique (-)
Sistem Motorik
Tonus : Hipotonus tangan kanan
Trofi : Normotrofi
Kekuatan :
4/5
5/5
Sistem Sensorik : Sensasi nyeri (+), Sensasi raba halus (+), Sensasi
Suhu (+)
Koordinasi : Cara berjalan melambat
Refleks Fisiologis
Biceps ++/++, Triceps ++/++, Patella ++/++, Achilles ++/++, Radialis
++/++
Refleks Patologis
Hoffman Trommer -, Babinski -, Chaddock -, Gordon -, Schaefer -,
Oppenheim -, Clonus paha -, Clonus kaki -
Fungsi Luhur
Orientasi : baik
Kemampuan berbicara dan bahasa baik
Memori / daya ingat : baik
Pemeriksaan Saraf Kranialis
N.I Tidak dilakukan
N.II Lapang pandang sama dengan pemeriksa
Refleks Cahaya langsung +/+
Refleks Cahaya tidak langsung +/+
Visus 6/6 dengan jari, diplopia (-)
Tes buta warna & funduskopi tidak dilakukan
N.III Kedudukan bola mata simetris, tidak ada strabismus
IV,VI Ptosis -/-
Pergerakan bola mata baik, nistagmus (-)
Pupil isokor, berada ditengah dengan ukuran
3mm
Refleks Akomodasi dan Konvergensi baik
N. V Sensorik raba halus oftalmik, maksilaris dan
mandibularis baik
Motorik Membuka mulut +, Menggerakkan rahang +,
Menggigit +
N. VII
Raut Wajah simetris
Fisura Palpebra -/-
Mengangkat alis dapat
Mengerutkan dahi dapat
Memejamkan mata (Lagophtalmus) -/-
Mencucukan bibir dapat
Menggembungkan pipi dapat
Menyeringai dapat
Chovteks sign -/-
N.VIII
Tes Romberg dan Romberg yang dipertajam dalam batas normal
N.IX dan N.X
Kualitas suara baik
Disartria ()
Sengau ()
Menelan dapat
Mengejan dapat
Kedudukan palatum molle, arcus pharing, uvula saat relaksasi
& kontraksi dalam batas normal
N. XI
M. Sternocleidomastoideus normal
M.Trapezius normal
N.XII
Kedudukan lidah di tengah
Atrofi papil lidah (-)
Tremor lidah (-)
Fasikulasi (-)
Pergerakan lidah normal
RESUME
Anamnesa
Pasien seorang laki berumur 55 tahun
Tangan kanan gemetar: tremor
Kekakuan saat mengepalkan tangan: rigiditas
Lambat jika berjalan: bradikinesia
Hipotonus tangan kanan
Pemeriksaan Fisik
Kekuatan pada tangan kanan menurun
Diagnosis kerja dan Pengkajian
Diagnosa Kerja : Sindroma parkinson
Pengkajian
Clinical Reasoning:
Dari anamnesa didapatkan tangan gemetar, cara berjalan
melambat, ada kekauan otot saat mengepalkan tangan dan
hipotonus pada tangan kanan.
Diagnosa Banding : Distonia
Terapi
Farmakologis
Levopar 100 mg 3x1 selama 10 hari
Non Farmakologis & Edukasi
Jangan terlalu stress
Meminum obat dengan teratur
Tetap datang ke poli untuk mengontrol
Prognosis
Ad Vitam : Dubia ad Bonam
Ad Sanationam : Dubia ad Bonam
Ad Functionam : Dubia ad Bonam