Anda di halaman 1dari 18

PERENCANAAN SUMBER DAYA MANUSIA

Untuk menyelenggarakan proyek, salah satu


sumber daya yang menjadi faktor penentu
keberhasilannya adalah tenaga kerja.
Jenis dan intensitas kegiatan proyek berubah cepat
sepanjang siklusnya, sehingga penyediaan jumlah
tenaga, jenis ketrampilan, dan keahlian harus
mengikuti tuntutan perubahan kegiatan yang
sedang berlangsung.
Untuk merencanakan tenaga kerja proyek yang
realistis perlu diperhatikan bermacam-macam
faktor, di antaranya yang terpenting adalah seperti
berikut ini :

Produktivitas tenaga kerja


Tenaga kerja periode puncak (peak)
Jumlah tenaga kerja kantor pusat
Perkiraan jumlah tenaga kerja konstruksi di lapangan
Meratakan jumlah tenaga kerja guna mencegah gejolak
PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA

Salah satu pendekatan untuk mencoba mengukur


hasil guna tenaga kerja adalah dengan memakai
parameter indeks produktivitas. Definisi indeks
produktivitas dirumuskan sebagai berikut :

Jumlah jam-orang yang sesungguhnya digunakan


untuk menyelesaikan pekerjaan tertentu
IP = ___________________________________

Jumlah jam-orang yang diperlukan untuk


menyelesaikan pekerjaan identik pada kondisi
standar
PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA

NEGARA INDEKS JAM KERJA


TENAGA KERJA PER MINGGU
ITALIA 1,14 40

AUSTRIA 1,30 42

ALJAZAIR 1,82 40

NIGERIA 2,22 47

BRASILIA 1,76 48

KOLUMBIA 2,25 48

FLORIDA (USA) 1,12 -

TAIWAN 1,91 48
A. PRODUKTIVITAS TENAGA KERJA DAN QAB

Pada masa awal, kontraktor proyek yang masih asing


dengan lokasi proyek yang akan ditangani, dalam
menyusun perkiraan biaya, dipakai angka
produktivitas relatif terhadap angka standar Gulf
Coast USA atau standar dasar lain yang dapat
memenuhi. Namun bila implementasi fisik suatu
proyek telah dimulai, maka dapat disusun angka
yang sesungguhnya berdasarkan kenyataan di
lapangan. Angka ini kemudian dipakai sebagai
pegangan standar dasar untuk memantau
produktivitas tenaga kerja dan pengeluaran biaya.
Pendekatan ini sering dikenal sebagai QUANTITY
ADJUSTING BUDGET
B. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

Variabel yang mempengaruhi produktivitas tenaga


kerja lapangan dapat dikelompokkan menjadi :

Kondisi fisik lapangan dan sarana bantu,


Supervisi, perencanaan dan koordinasi,
Komposisi kelompok kerja,
Kerja lembur,
Ukuran besar proyek,
Kurva pengalaman (learning kurve),
Pekerja langsung versus subkontraktor, dan
Kepadatan tenaga kerja
PROFIL PRODUKTIVITAS

A. MOBILISASI
Pada tahap awal ini yang berlangsung 10-15%
dari masa konstruksi, produktivitas berkurang
(+/- 10%). Hal ini karena para pekerja
memerlukan masa pengenalan dan penyesuaian
pekerjaan. Juga pada masa menanjak (build-up)
seringkali sulit mengikuti secara tepat kenaikan
jumlah kegiatan dengan kenaikan jumlah pekerja
yang diperlukan, sehingga menimbulkan
pengaturan yang kurang efisien.
PROFIL PRODUKTIITAS

B. PERIODE PUNCAK
Pada masa ini dicapai produktivitas optimal,
jumlah tenaga kerja tidak bertambah dan telah
terbiasa (familiar) dengan pekerjaan maupun
kondisi medan atau lapangan yang dihadapi.

C. PERIODE MENURUN
Pada masa menjelang akhir konstruksi
produktivitas cenderung menurun, terutama
disebabkan oleh :
Kurang tepatnya perencanaan. Misalnya masa
kontrak kerja belum berakhir sedangkan
pekerjaan sudah menipis, sehingga terjadi
kelebihan tenaga kerja
PROFIL PRODUKTIVITAS

B. PERIODE MENURUN

Sikap mental atau semangat yang mengendur,


karena melihat pekerjaan mulai berkurang dan
belum tentu tersedia lapangan kerja berikutnya.
Terlambatnya demobilisasi. Sering dijumpai
penyelia ingin menahan pekerja yang
berlebihan dengan menunggu sampai hasil
kerjanya meyakinkan.
PERKIRAAN TENAGA KERJA PERIODE PUNCAK

Yang dimaksud dengan periode puncak (peak), adalah


periode yang paling sibuk dalam arti paling banyak
memerlukan tenaga kerja. Pengetahuan mengenai
seberapa besar tenaga kerja puncak dan periodenya,
berguna bagi merencanakan kapasitas penampungan,
transportasi dan akhirnya arus dana (cash-flow)
pembiayaan proyek.

A. GRAFIK LONCENG
Cara paling sederhana memperkirakan keperluan
tenaga kerja puncak ialah dengan metode empiris,
yaitu menghitung pertama-tama keperluan rata-rata
(garis lurus), kemudian memakai kurva lonceng atau
genta (bell) dimana puncaknya berada sekitar 1,5
1,7 kali keperluan rata-rata seperti gambar berikut
PERKIRAAN TENAGA KERJA PERIODE PUNCAK

B. Bila kurva lonceng memberikan indikasi berapa besar


keperluan tenaga kerja pada waktu puncak, maka
metode trapesium sering dipakai untuk
memperkirakan, di samping angka keperluan puncak,
juga memberikan keterangan berapa lama masa
puncak tersebut berlangsung. Dasar pemikiran
metode ini menganggap bahwa keperluan tenaga
kerja mengikuti pola sebagai berikut :
Mulai dari titik awal (nol) sebagai garis miring.
Periode ini disebut periode menanjak (build up
period)
Kemudian setelah sampai puncak, arahnya
menjadi mendatar, dan disebut periode puncak
(peak period)
Akhirnya menurun (run down) sampai proyek
selesai
B. METODE TRAPESIUM

B. Bila kurva lonceng memberikan indikasi berapa besar


keperluan tenaga kerja pada waktu puncak, maka
metode trapesium sering dipakai untuk
memperkirakan, di samping angka keperluan puncak,
juga memberikan keterangan berapa lama masa
puncak tersebut berlangsung. Dasar pemikiran
metode ini menganggap bahwa keperluan tenaga
kerja mengikuti pola sebagai berikut :
Mulai dari titik awal (nol) sebagai garis miring.
Periode ini disebut periode menanjak (build up
period)
Kemudian setelah sampai puncak, arahnya
menjadi mendatar, dan disebut periode puncak
(peak period)
Akhirnya menurun (run down) sampai proyek
selesai