Anda di halaman 1dari 81

DETEKSI DINI

KEGAWATDARURATAN MATERNAL
Dini Hidayat
Kehamilan
suatu hal yang
membahagiakan

Semua wanita
hamil
mempunyai
risiko komplikasi
Obstetri
Kematian Ibu di Dunia
Kematian Ibu di Indonesia

Setiap tahun terjadi sekitar 4.5 juta kelahiran di Indonesia


atau 12,329 kelahiran bayi setiap hari
SDKI Tahun 2012 AKI Indonesia 359/100.000 Kelahiran
Hidup
TREND JUMLAH KEMATIAN IBU DAN BAYI
PROVINSI JAWA BARAT TAHUN 2010 2014
6000

4982 5142
5000 4803
4306

4000 3979

3000 Ibu
Bayi
2000

804 850 804 781


1000 748

0
2010 2011 2012 2013 2014
JA
B
JA AR
TE 692
NG
JA
T 644
BA IM
NT 562
E
SU N
M 221
UT
AC 198
EH
N 138
SU TT
M 134
SE
L
LA IAR 132
M U
25%
PU 128
N
50%

KA G 113
LS
KA EL
LB 112
Kematian
Kematian

AR
SU 108
SU LSE
M 107
SU BAR
LT 107
EN
G
99
KA NTB
LT 97
EN
PA G 87
PU
A
DK KAL 79
I J TIM
AK
AR 72
TA
KE 70
M PR
25%

AL I 69

Sumber: Laporan Tahunan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat 2014


U
SU KU
LT 67
PA RA
61
Kematian

PB
A
SU R
LU
57
T
BA 49
L
J I 48
BE AM
NG BI
KU 45
LU
GO MA 43
RO LU
NT T
AL 41
O
39
D
SU IY
LB 39
A
Jumlah Kematian Ibu 2014

BA R 37
BE
L
18
JUMLAH KEMATIAN IBU PER KAB/KOTA PROV. JABAR
TEMPAT DAN PENYEBAB KEMATIAN IBU TAHUN 2014

Rumah
KAB. BOGOR 71 Perjalanan
10%
KAB. KARAWANG 59 5% Bidan
KAB. INDRAMAYU 54 1%
KAB. CIREBON 49
KAB. CIANJUR 49 Puskesmas
KAB. BANDUNG 48 2%
KAB. GARUT 45
KAB. SUKABUMI 37
KAB. TASIKMALAYA 31 RS
KOTA BANDUNG 30 82%
KAB. BEKASI 30 Tempat
KOTA TASIKMALAYA 29 Kematian
KAB. PURWAKARTA 28
KAB. BANDUNG BARAT 24
KAB. KUNINGAN 23
KOTA BEKASI 22 Penyebab Kematian
KAB. MAJALENGKA 21
KAB. CIAMIS 21
KOTA DEPOK 17 Perdarahan
Lain-lain
KAB. SUBANG 11 30%
34%
KAB. SUMEDANG 11
KOTA CIMAHI 10
KOTA SUKABUMI 7
KAB. PANGANDARAN 7
KOTA BOGOR 6 Partus Lama
KOTA BANJAR 4 1% HDK
Abortus 31%
KOTA CIREBON 4 0% Infeksi
4%
0 20 40 60 80
Penyebab
Kematian Ibu HOSPITAL
Kesiapan, kompetensi, pelayanan RS (petugas,
Tata Kelola Klinik yg baik manajemen), Ketersediaan sarana, SDM,
di Fasilitas Kesehatan Tatakelola pelayanan, Biaya, jejaring rujukan,
Audit medik, AMP, akuntabilita publik, monev,
dll
TRANSPORTASI
Efektifitas &
Efisiensi System 32,5 %
Rujukan
PUSKESMAS
Kesiapan, kompetensi, perilaku petugas,
Ketersediaan sarana, SDM, Protap,
Supervisi/pembinaan, biaya, monev,
Tingkat
jejaring dengan RS rujukan, dll
Pendidikan
TRANSPORTASI
Transportasi, akses jalan, Tingkat
waktu tempuh, Biaya, pendampingan, dll Ekonomi
64,2%
RUMAH Permasalahan
Sosial Budaya
Keputusan keluarga, KB,
Pengetahuan,
Biaya, budaya, Sarana Infra struktur
transportasi.
Penyebab Kematian IBU

Perdarahan
Hipertensi Dalam
Kehamilan
Infeksi
Partus Lama
TIGA TERLAMBAT
1.Terlambat mengenal tanda bahaya
dan mengambil keputusan
2.Terlambat mencapai fasilitas kesehatan
3.Terlambat mendapatkan pertolongan
di fasilitas kesehatan

EMPAT TERLALU
Terlalu muda punya anak (<20 th)
Terlalu banyak melahirkan (>3 anak)
Terlalu rapat jarak melahirkan (<2 th)
Terlalu tua untuk mempunyai anak
(>35 th)
Kegawatdaruratan
obstetri

Trimester Pertama
Trimester Kedua
Trimester Ketiga
Post Partum
12

PERDARAHAN

Trimester I
Abortus
KET
Mola Hidatidosa
13

PERDARAHAN

Trimester II
Perdarahan Midtrimester
Plasenta previa
Solutio plasenta
Perdarahan Antepartum
14

PERDARAHAN

Trimester III
Plasenta Previa
Solutio Plasenta
Perdarahan
Antepartum
15

PERDARAHAN

Persalinan dan
Pascasalin
Atoni Uteri
Retensio Plasenta
Sisa Plasenta
Perlukaan Jalan
Lahir
PERDARAHAN
PASCA PERSALINAN

Definisi: Perdarahan post partum adalah perdarahan melebihi


500 ml yang terjadi setelah bayi lahir

Perdarahan yang lebih dari normal yang telah menyebabkan


perubahan tanda vital (ibu mengeluh lemah, limbung,
berkeringat dingin, menggigil, hiperpnea, tekanan sistolik <
90 mmHg, nadi > 100/menit, Hb < 8 g%)
MASALAH
Perdarahan post partum dini yaitu
perdarahan setelah bayi lahir dalam 24 jam
pertama persalinan dan perdarahan post
partum lanjut yaitu perdarahan setelah 24
jam persalinan.
Perdarahan post partum dapat disebabkan
oleh atonia uteri, robekan jalan lahir,
retensio plasenta, sisa plasenta dan
kelainan pembekuan darah.
PENGELOLAAN UMUM
PENGELOLAAN SYOK
Selalu siapkan tindakan gawat darurat
Tata laksana persalinan kala III secara aktif
Minta pertolongan pada petugas lain untuk membantu
bila dimungkinkan
Lakukan penilaian cepat keadaan umum ibu meliputi
kesadaran nadi, tekanan darah, pernafasan dan suhu
Jika terdapat syok lakukan segera penanganan
Periksa kandung kemih, bila penuh kosongkan
Cari penyebab perdarahan dan lakukan pemeriksaan
untuk menentukan penyebab perdarahan
DIAGNOSIS
GEJALA & TANDA TANDA & GEJALA LAIN
KERJA
Uterus tidak berkontraksi Syok
dan lembek Bekukan darah pada
Perdarahan segera sete- serviks / posisi terlen- Atonia uteri
lah anak lahir tang akan menghambat
aliran darah keluar
Darah segar yang meng- Pucat
alir segera setelah bayi Lemah
lahir Menggigil Robekan
Uterus kontraksi dan jalan lahir
keras
Plasenta lengkap
Plasenta belum lahir Tali pusat putus akibat
setelah 30 menit traksi berlebihan
Retensio
Perdarahan segera (P3) Inversio uteri akibat
Uterus berkontraksi dan tarikan plasenta
keras Perdarahan lanjutan
TANDA & GEJALA
GEJALA & TANDA DIAGNOSIS KERJA
LAIN
Plasenta / sebagian Uterus berkontraksi
selaput (mengan- tetapi tinggi fundus Tertinggalnya
dung pembuluh da- tidak berkurang
rah) tidak lengkap
sebagian plasenta
Perdarahan segera atau ketuban
(P3)
Uterus tidak teraba Neurogenik syok
Lumen vagina terisi Pucat dan limbung
masa
Tampak tali pusat
Inversio uteri
(bila plasenta belum
lahir)
Sub-involusi uterus Anemia Endometritis atau sisa
Nyeri tekan perut Demam fragmen plasenta
bawah dan uterus Late postpartum
Perdarahan hemorrhage
Lokhia mukopurulen Perdarahan
dan berbau postpartum sekunder
ATONIA UTERI

Terjadi bila miometrium tidak berkontraksi


Uterus menjadi lunak dan pembuluh darah pada
daerah bekas perlekatan plasenta terbuka lebar
Penyebab tersering perdarahan postpartum (2/3 dari
semua perdarahan postpartum disebabkan oleh
atonia uteri)
Faktor risiko
Hal-hal yang menyebabkan uterus meregang lebih
dari kondisi normal :
Polihidramnion
Kehamilan kembar
Makrosomia
Persalinan lama
Persalinan terlalu cepat
Persalinan dengan induksi atau akselerasi oksitosin
Infeksi intrapartum
Paritas tinggi
MANAJEMEN AKTIF
KALA III

Suntikan Oksitosin 10 IU im
Peregangan Tali Pusat
Terkendali
Masase Uterus
Suntikan Oksitosin
Periksa fundus uteri untuk memastikan kehamilan
tunggal.
Suntikan Oksitosin 10 IU IM.

Peregangan Tali Pusat Terkendali


Klem tali pusat 5-10 cm dari vulva / gulung tali
pusat
Tangan kiri di atas simfisis menahan bagian bawah
uterus, tangan kanan meregang tali pusat 5-10 cm
dari vulva
Saat uterus kontraksi, tegangkan tali pusat
sementara tangan kiri menekan uterus dengan
hati-hati ke arah dorso-kranial
Mengeluarkan plasenta
Jika tali pusat terlihat bertambah panjang dan terasa
adanya pelepasan plasenta, minta ibu meneran
sedikit sementara tangan kanan menarik tali pusat ke
arah bawah kemudian ke atas sesuai dengan kurve
jalan lahir.

Bila tali pusat bertambah panjang tetapi belum lahir,


dekatkan klem 5-10 cm dari vulva.

Bila plasenta belum lepas setelah langkah diatas


selama 15 menit
Suntikan ulang 10 IU Oksitosin i.m.
Periksa kandung kemih, lakukan kateterisasi bila
penuh
Tunggu 15 menit, bila belum lahir lakukan tindakan
plasenta manual
Masase Uterus
Segera setelah plasenta lahir, melakukan masase
pada fundus uteri dengan menggosok fundus
secara sirkuler menggunakan bagian palmar 4 jari
tangan kiri hingga kontraksi uterus baik (fundus
teraba keras)
Memeriksa kemungkinan adanya perdarahan
pasca persalinan
Kelengkapan plasenta dan ketuban
Kontraksi uterus
Perlukaan jalan lahir
Masase fundus uteri
Segera sesudah plasenta lahir
(maksimal 15 detik)

Uterus kontraksi ? Ya Evaluasi rutin

Tidak

Evaluasi / bersihkan bekuan


darah / selaput ketuban
Kompresi Bimanual Interna
(KBI) maks. 5 menit
Pertahankan KBI selama 1-2 menit
Uterus kontraksi ? Ya Keluarkan tangan secara hati-hati
Lakukan pengawasan kala IV
Tidak

Ajarkan keluarga melakukan Kompresi


Bimanual Eksterna (KBE)
Keluarkan tangan (KBI) secara hati-hati
Suntikan Methyl ergometrin 0,2 mg i.m
Pasang infus RL + 20 IU Oksitosin, guyur
Lakukan lagi KBI
Uterus kontraksi ? Ya Pengawasa
n kala IV
Tidak

Rujuk siapkan laparotomi


Lanjutkan pemberian infus + 20 IU Oksitosin
minimal 500 cc/jam hingga mencapai
tempat rujukan
Selama perjalanan dapat dilakukan
Kompresi Aorta Abdominalis atau Kompresi
Bimanual Eksternal

Ligasi arteri uterina dan/atau Perdaraha Pertahankan


hipogastrika n berhenti uterus
B-Lynch method

Perdarahan
berlanjut

Histerektomi
KOMPRESI BIMANUAL INTERNAL
RETENSIO PLASENTA

Plasenta adhesiva
Plasenta akreta
Plasenta inkarserata
PENILAIAN KLINIK RETENSIO PLASENTA
SEPARASI / PLASENTA PLASENTA
GEJALA AKRETA INKARSERATA AKRETA
PARSIAL
KONSISTENSI
KENYAL KERAS CUKUP
UTERUS
TFU PUSAT 2 JR < PUSAT PUSAT

BENTUK UTERUS DISKOID AGAK GLOBULER DISKOID

SEDIKIT - TIDAK
PERDARAHAN SEDANG-BANYAK SEDANG
ADA
TALI PUSAT TERJULUR TERJULUR # TERJULUR

OSTIUM UTERI SEBAG TERBUKA KONSTRIKSI TERBUKA

SEPARASI MELEKAT
LEPAS SEBAGIAN SUDAH LEPAS
PLASENTA SELURUHNYA
SYOK SERING JARANG JARANG
Plasenta manual
Dengan narkosis

Pasang infus NaCl 0,9%

Tangan kanan

dimasukkan secara

obstetrik kedalam

vagina.

Tangan kiri menahan

fundus untuk mencegah

kolporeksis.

Tangan kanan menuju ke

ostium uteri dan terus ke

lokasi plasenta.

Tangan ke pinggir plasenta dan mencari bagian plasenta yang sudah lepas

Dengan sisi ulner, plasenta dilepaskan


SISA PLASENTA

Sisa plasenta dan ketuban yang masih


tertinggal dalam rongga rahim dapat
menimbulkan perdarahan postpartum
dini atau perdarahan pospartum
lambat (6 10 hari pasca persalinan).
Pengeluaran sisa plasenta
Pengeluaran sisa plasenta dilakukan
dengan kuretase.
Dalam memungkinkan, sisa plasenta
dapat dikeluarkan secara manual.
Kuretase harus dilakukan di rumah sakit.
Setelah tindakan pengeluaran,
dilanjutkan dengan pemberian obat
uterotonika melalui suntikan atau per oral.
Antibiotika dalam dosis pencegahan
sebaiknya diberikan.
35
HIPERTENSI DALAM
KEHAMILAN

Preeklamsi
Preeklamsi Ringan
Preeklamsi Berat
Eklamsi
Preeklamsi + Penurunan
kesadaran + Kejang
36
HIPERTENSI DALAM
KEHAMILAN

Preeklamsi
Preeklamsi Ringan
Preeklamsi Berat
Eklamsi
Preeklamsi + Penurunan
kesadaran + Kejang
TATA LAKSANA

Preeklamsi Berat dan Eklamsi


Rawat bersama dengan Departemen yang Terkait
(Penyakit Dalam, Penyakit Saraf, Mata, Anestesi,dll)
Tata Laksana Preeklamsia
Medikamentosa
Infus larutan ringer laktat
Pemberian obat:
1. MgSO4
Cara pemberian MgSO4 :
Pemberian melalui intravena secara kontinyu (infus
dengan infusion pump):
Dosis awal :
4 gram MgSO4 (10 cc MgSO4 40 %) dilarutkan
kedalam 100 cc ringer laktat, diberikan selama
15-20 menit
Tata Laksana Preeklamsia
Dosis pemeliharaan :
10 gram dalam 500 cc cairan RL, diberikan dengan
kecepatan 1-2 gram/jam (20-30 tetes per menit)

Syarat-syarat pemberian MgSO4


Harus tersedia antidotum MgSO4, yaitu kalsium glukonas
10% (1 gram dalam 10 cc) diberikan i.v dalam waktu 3-5
menit
Refleks patella (+) kuat
Frekuensi pernafasan > 16 kali per menit
Produksi urin > 30 cc dalam 1 jam sebelumnya (0,5 cc/kg
bb/jam)
Tata Laksana

Sulfas magnesikus dihentikan bila:


Ada tanda-tanda intoksikasi
Setelah 24 jam pascasalin
Dalam 6 jam pascasalin sudah terjadi perbaikan
tekanan darah (normotensif)
Tata Laksana Preeklamsia
Antihipertensi :
Tekanan darah:
Sistolik > 160 mmHg
Diastolik > 110 mmHg

Dapat diberikan :
Nifedipin: 10 mg per oral dan dapat diulangi setiap 30
menit (maksimal 120 mg/24 jam) sampai terjadi
penurunan MABP 20% .
Selanjutnya diberikan dosis rumatan 3x10mg (
pemberian nifedipine tidak boleh diberikan sub lingual)
Tata Laksana

Nikardipine diberikan bila tekanan darah


180/110 mmHg/ hipertensi emergensi
dosis 1 ampul 10 mg dalam larutan 50cc per jam
atau 2 ampul 10 mg dalam larutan 100cc tetes
per menit mikro drip
Pelarut yang tidak dapat digunakan adalah ringer
laktat dan bikarbonat natrikus.
PREEKLAMSI RINGAN

USG Antioksidan
KTG Antiagregasi
Laboratorium Kortikosteroid
Konsultasi

37 minggu < 37 minggu


PJT
Gawat janin
Rawat inap Rawat jalan

Menetap Membaik

Perawatan
PEB Membaik
antenatal

Kelola seperti
Terminasi PEB Kehamilan Aterm
PREEKLAMSI BERAT

34 Minggu >34 Minggu


Gawat janin < 34 Minggu
Gawat janin(-)
Gawat Janin (-)
Sindroma Hellp Sindroma Hellp
Sindroma Hellp (-) (-)
PJT PJT (-)
PJT (-)

Aktif
Konservatif
MgSO4
R/Antihipertensi
R/Suportif

Terminasi
48 Jam Membaik
Tidak membaik menjadi PER

Pervaginam Seksio sesarea Kelola seperti PER


45

INFEKSI

Unsafe Abortion
Persalinan yang tidak aman
Persalinan yang tidak bersih
Perawatan pascasalin yang
tidak memadai
DEMAM NIFAS
PRINSIP DASAR
Infeksi pada dan melalui traktus genitalis
setelah persalinan
Suhu 38C antara hari ke 2 10
postpartum dan diukur per oral
sedikitnya 4 kali sehari disebut sebagai
morbiding puerperalis.
Kenaikan suhu tubuh di dalam masa
nifas, dianggap sebagai infeksi nifas jika
tidak ditemukan sebab ekstragenital lain
FAKTOR PREDISPOSISI
kurang gizi atau malnutrisi
anemia
higiene
kelelahan
proses persalinan bermasalah:
partus lama/macet
korioamnionitis
persalinan traumatik
kurang baiknya proses pencegahan infeksi
periksa dalam yang berlebihan
MASALAH
Infeksi nifas merupakan morbiditas
dan mortalitas bagi ibu pasca
bersalin.
Derajat komplikasi bervariasi sangat
tajam, mulai dari mastitis hingga
adanya koagulasi intravaskular
diseminata
PENANGANAN UMUM

Antisipasi setiap faktor kondisi (faktor


predisposisi).
Pengobatan yang rasional dan efektif.
Lanjutkan pengamatan dan
pengobatan masalah / infeksi ulang
dikenali pada saat kehamilan /
persalinan.
Jangan pulangkan penderita bila masa
kritis belum terlampaui.
PENANGANAN UMUM

Beri catatan atau instruksi tertulis


untuk asuhan mandiri di rumah.
Lakukan tindakan dan perawatan
yang sesuai bagi bayi baru lahir.
Berikan hidrasi oral / IV
secukupnya.
Pemberian cairan
Suhu Basal kebutuhan cairan 2000 ml/24 jam
Tambahan 500 ml untuk setiap peningkatan suhu 1 C
Gejala dan tanda yang selalu Gejala lain yang mungkin didapat Kemungkinan diagnosis
didapat
Nyeri perut bagian bawah Perdarahan pervaginam Metritis
Lokhia purulen dan berbau Syok (Endometritis /
Uterus tegang dan subinvolusi Peningkatan sel darah putih, terutama Endomiometritis)
polimorfonuklear

Nyeri perut bagian bawah Dengan antibiotik tidak membaik Abses pelvik
Pembesaran perut bawah Pembengkakan pada adneksa atau kavum
Demam terus menerus Douglas

Nyeri perut bagian bawah Perut yang tegang (rebound tenderness) Peritonitis
Bising usus tidak ada Anoreksia/muntah

Nyeri payudara dan tegang Payudara yang mengeras dan membesar (pada Bendungan pada
kedua payudara) payudara
Biasanya terjadinya antara hari 3-5
pascapersalinan

Nyeri payudara dan tegang/bengkak Ada inflamasi yang didahului bendungan Mastitis
kemerahan yang batasnya jelas pada payudara
Biasanya hanya satu payudara
Biasanya terjadi antara 3 4 minggu
pascapersalinan
Gejala dan tanda yang Gejala lain yang mungkin Kemungkinan
selalu didapat didapat diagnosis

Payudara yang tegang dan Pembengkakan dengan adanya Abses payudara


padat kemerahan fluktuasi
Mengalir nanah
Nyeri pada luka / irisan dan Luka/irisan pada perut dan perineal Selulitis pada luka
tegang/indurasi yang mengeras/indurasi (perineal /
Keluar pus Abdominal)
Kemerahan

Luka yang mengeras Abses atau


disertai pengeluaran cairan hematoma pada
serous atau kemerahan dari luka insisi
luka; tidak ada / sedikit
erithema dekat luka insisi

Disuria Nyeri dan tegang pada daerah Infeksi pada


pinggang traktus urinarius
Nyeri suprapublik
Uterus tidak mengeras
Menggigil

Demam yang tinggi walau Ketegangan pada otot kaki Thrombosis vena
mendapat antibiotika Komplikasi pada paru, ginjal, dalam (deep vein
menggigil persendian, mata dan jaringan thrombosis)
subkutan Thromboflebitis:
-pelviotrombo-
flebitis
-Femoralis
Gejala dan tanda yang Gejala lain yang mungkin Kemungkinan
selalu didapat didapat diagnosis

Konsolidasi Kerongkongan yang terasa penuh Pneumonia


Batuk Keluar dahak
Peningkatan frekuensi nafas Kesukaran bernafas
Nyeri dada

Mengigil Pembesaran liver Malaria


Pembesaran limpa Tifoid (b)
Kuning Hepatitis (c)
Nyeri epigastrium
METRITIS

Metritis adalah infeksi uterus setelah


persalinan, merupakan salah satu
penyebab terbesar kematian ibu.
Dapat menjadi abses pelviks, peritonitis,
syok septik, thrombosis vena yang dalam,
emboli pulmonal, infeksi pelvik yang
menahun, dispareunia, penyumbatan
tuba dan infertilitas.
Penanganan

Transfusi PRC (Packed Red Cell) bila dibutuhkan


Berikan antibiotika spektrum luas dosis tinggi.
Ampisilin 2 g IV, kemudian 1 g setiap 6 jam
Gentamisin 5 mg/kg BB IV dosis tunggal/hari
Metronidazol 500 mg IV setiap 8 jam.
Lanjutkan antibiotika ini sampai ibu tidak panas selama 24
jam.
Antitetanus profilaksis.
Bila dicurigai ada sisa plasenta, lakukan
pengeluaran (digital atau dengan kuret tumpul
besar).
Catatan Tambahan
Bila metronidazol infus tidak tersedia, dapat
menggunakan metronidazol suppositoria
Untuk memperbaiki subinvolusio uteri, bisa
memanfaatkan misoprostol
Evakuasi sisa plasenta yang tidak terlalu banyak
bisa menggunakan teknik AVM
Penanganan
Bila ada pus lakukan drainase (kalau
perlu kolpotomi), ibu dalam posisi
Fowler.
Bila tak ada perbaikan dengan
pengobatan konservatif dan ada
tanda peritonitis generalisata lakukan
laparotomi dan keluarkan pus.
Bila pada evaluasi uterus nekrotik dan
septik lakukan histerektomi subtotal.
BENDUNGAN PAYUDARA
Peningkatan aliran vena dan limfe pada
payudara dalam rangka mempersiapkan diri
untuk laktasi.

Bukan disebabkan overdistensi dari saluran sistem


laktasi
Bila ibu menyusui
Susukan sesering mungkin.
Kedua payudara disusukan.
Kompres hangat payudara sebelum disusukan.
Bantu dengan memijat payudara untuk
permulaan menyusui.
Sangga payudara.
Kompres dingin pada payudara di antara waktu
menyusui.
Bila demam tinggi berikan Parasetamol 500 mg
per oral setiap 4 jam.
Lakukan evaluasi setelah 3 hari untuk
mengetahui hasilnya
Bila ibu tidak menyusui
Sangga payudara.
Kompres dingin payudara untuk
mengurangi pembengkakan dan
rasa sakit.
Bila diperlukan berikan Parasetamol
500 mg per oral setiap 4 jam.
Jangan dipijat atau memakai
kompres hangat pada payudara.
Pompa dan kosongkan payudara
INFEKSI PAYUDARA
Mastitis
Payudara tegang / indurasi dan
kemerahan
Kloksasilin 500 mg / 6 jam selama 10 hari.
Sangga payudara.
Kompres dingin.
Bila diperlukan Parasetamol 500 mg per
oral setiap 4 jam.
Ibu harus didorong menyusui bayinya
walau ada pus.
Pantau 3 hari setelah pengobatan.
Abses payudara
Terdapat masa padat, mengeras di bawah kulit
yang kemerahan.
Diperlukan anestesi umum (ketamin).
Insisi radial dari tengah dekat pinggir aerola, ke
pinggir supaya tidak memotong saluran ASI.
Pecahkan kantung pus dengan klem jaringan
(pean) atau jari tangan.
Pasang tampon dan drain, diangkat setelah 24
jam.
Berikan Kloksasilin 500 mg setiap 6 jam selama 10
hari.
Abses payudara
Sangga payudara.

Kompres dingin.

Berikan Parasetamol 500 mg setiap 4 jam bila


diperlukan.

Ibu dianjurkan tetap memberikan ASI walau ada


pus.

Follow up selama 3 hari.


67

PARTUS LAMA

Kejadiannya masih tinggi


Ibu datang dalam kondisi yang
buruk
68

SECARA UMUM

Kondisi yang dihadapi


Perdarahan
Penurunan kesadaran
Kejang
Kondisi umum yang
buruk
CHALLANGES
IS IT PREVENTABLE ?
IS HELP AVAILABLE ?
IS HELP AFFORDABLE ?
Every Pregnant Woman
Has a RIGHT
To Special Care
From the Health Services
From Her Family
From Her Community
BAGAIMANA
CARANYA
????
The Mother-Baby
Package Intervention
1. Before and

during pregnancy

2. During delivery

3. After delivery for Mother

4. After delivery for

Newborn
LANGKAH-LANGKAH RUJUKAN DALAM
PELAYANAN KEBIDANAN

1. Menentukan kegawatdaruratan penderita


Pada tingkat kader/dukun bayi terlatih ditemukan
penderita yang tidak dapat ditangani sendiri oleh
keluarga atau kader/dukun bayi, maka segera dirujuk ke
fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.

Pada tingkat bidan desa/puskesmas


pembantu/puskesmas tenaga kesehatan harus dapat
menentukan tingkat kegawatdaruratan kasus yang
ditemui, sesuai dengan wewenang dan tanggung
jawabnya, mereka harus menentukan kasus mana yang
boleh ditangani sendiri dan kasus mana yang harus dirujuk.
2. Menentukan tempat rujukan
Fasilitas pelayanan yang mempunyai kewenangan
dan terdekat
Tidak mengabaikan kesediaan dan kemampuan
penderita.
3. Memberikan informasi pada pasien & keluarga
Kaji ulang rencana rujukan bersama ibu dan keluarga.
Jika perlu dirujuk, siapkan dan sertakan dokumentasi
tertulis semua asuhan, perawatan dan hasil penilaian
(termasuk partograf) yang telah dilakukan untuk
dibawa ke fasilitas rujukan.

Jika ibu tidak siap dengan rujukan, lakukan konseling


terhadap ibu dan keluarganya.

Bantu mereka membuat rencana rujukan pada saat


awal persalinan.

(Purnama et al, 2010)


4. Mengirimkan informasi ke tempat rujukan
Akan ada penderita yang dirujuk.
Meminta petunjuk apa yang perlu dilakukan dalam rangka
persiapan dan selama dalam perjalanan ke tempat rujukan.
Meminta petunjuk dan cara penangan untuk menolong
penderita bila penderita tidak mungkin dikirim.
5. Persiapan penderita

6. Pengiriman penderita

7. Tindak lanjut penderita :


Rawat jalan pasca penanganan
Kunjungan rumah bila diperlukan
PROAKTIF KOORDINATIF
SPR bisa berhasil bila bekerja secara konsisten, berpegang pd
dua ciri yaitu proaktif - koordinatif

SIKAP PROAKTIF

PARA KADER PARA BIDAN RUMAH SAKIT


Aktif mencari berisiko Aktif melatih membina DAERAH
Hamil/ tdk hamil Kader Aktif membina

Memberi konseling Dukun puskesmas, bidan swasta


Posyandu Memberi asupan advokasi
Merujuk secara tepat
waktu/ tempat rujukan Tugas primer mengawasi, Pemda
mengamankan Mampu menangani
Kehamilan darurat obstetri terutama
Persalinan kasus rujukan
Nifas

KEGIATAN PROAKTIF BISA BERJALAN BILA ADA KERJASAMA KOORDINATIF


SESAMA UNIT KESEHATAN/ LINTAS SEKTORAL (ANTAR INSTANSI)
TERIMA KASIH