Anda di halaman 1dari 17

PRESENTASI UJIAN PROPOSAL

Presented by
ST Khadijah Tinni
20100510112
Daftar Isi

Latar
Belakang
Masalah

Tujuan
Referensi Penulisan

CONTENTS
Jangkauan,
Pokok
Metodologi,
Permasalaha
Sistematika
n
Penulisan

Kerangka
Hipothesis
Pemikiran
Latar Belakang Masalah

Perencanaan pembangunan merupakan jalur langsung


dan paling meyakinkan untuk mencapai kemajuan
ekonomi.

Asian Infrastruktur Investment Bank diinisiasi oleh


pemerintah Tiongkok pada oktober 2013

Indonesia bergabung dalam AIIB setelah


penendatanganan MoU pada tanggal 25 November 2014

AIIB akan menjadi salah satu opsi sumber pendanaan


dalam percepatan pembangunan infrastruktur Indonesia
Tujuan Penulisan

Mengetahui dinamika Indonesia dalam kanca


perdagangan internasional

Menganalisis kepentingan-kepentingan yang


mempengaruhi Indonesia bergabung dengan AIIB

Sebagai bahan referensi dan diskusi para pecinta ilmu


yang membahas Asia sebagai kekuatan baru dunia
Pokok Permasalahan

Mengapa Indonesia
berkepentingan
bergabung dalam Asian
Infrastruktur Investment
Bank (AIIB)?
Kerangka Pemikiran

Konsep Kepentingan Nasional


(National Interest Concept)

Politik Luar Negeri


(Model Aktor Rasional/Rational Actor Model)
Menurut Jack C. Plano dan Roy Olton, tujuan
mendasar serta faktor yang paling menentukan
yang memandu para pembuat keputusan
dalam merumuskan politik luar negeri adalah
kepentingan nasional. Kepentingan nasional
merupakan konsepsi yang sangat umum tetapi
merupakan unsur yang menjadi kebutuhan
sangat vital bagi negara. Unsur tersebut
mencakup kelangsungan hidup bangsa dan
negara, kemerdekaan, keutuhan wilayah,
keamanan militer dan kesejahteraan ekonomi.

Konsep Kepentingan
Nasional
Graham T. Allison mengemukakan bahwa Politik
luar negeri dipandang sebagai akibat tindakan-
tindakan aktor rasional, terutama suatu
pemerintah yang monolit, yang dilakukan dengan
sengaja untuk mencapai suatu tujuan. Pembuatan
keputusan politik luar negeri digambarkan sebagai
suatu proses intelektual. Perilaku pemerintah
dianalogikan dengan perilaku individu melalui
serangkaian tahap-tahap intelektual, dengan
menerapkan penalaran yang sungguh-sungguh
berusaha menerapkan pilihan atas alternatif-
alternatif yang ada dituangkan dalam terminologi
kepentingan nasional

Politik Luar Negeri


(Model Aktor Rasional)
Multilateral Development Banks

Asian development Bank (ADB) didirikan tahun


1966 sebagai respon banyak penduduk miskin di
kawasan Asian sebagai akibat perang.
ASEAN Infrastructure Fund (AIF) didirikan karena
adanya kebutuhan dalam penyediaan
infrastruktur untuk menopang pertumbuhan
perekonomian di kawasan ASEAN.
AIIB didirikan dilatarbelakangi adanya financing
gap untuk pembiayaan infrastruktur di kawasan
Asia, yang mana kebutuhan pembiayaan yang
tinggi tidak dapat dipenuhi oleh bank
pembangunan multilateral secara baik
Tabel Untung Rugi Keikutsertaan Indonesia Bergabung dalam
Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB)

Opsi Keuntungan Kerugian


Bergabung Memperkuat kerja sama Meningkatkan pengaruh
bilateral Indonesia dan Tiongkok sebagai pemilik
Tiongkok. saham mayoritas dalam
Meningkatkan bargaining AIIB terhadap
position Indonesia pada kepentingannya di
MDBs skala regional dan Indonesia.
global. Pemerintah Indonesia
AIIB menjadi salah satu perlu menyiapkan
solusi masalah pendanaan kebijakan terkait tax
infrastruktur. exemption berkaitan
Meningkatkan peran keikutsertaan swasta
swasta dalam dalam pembangunan
pembangunan infrastruktur.
infrastruktur.
Tidak Pembatasan pinjaman Berpotensi
Bergabung luar negeri yang meregangkan
membebani hubungan bilateral
APBN/APBD. Indonesia dan Tiongkok
Memberikan peluang yang merupakan salah
pendirian bank khusus satu mitra utama kerja
(bank infrastruktur) sama Indonesia.
yang sedang Meningkatkan
dicanangkan oleh Bank ketergantungan
Indonesia (BI) dan pinjaman luar negeri
Otoritas Jasa Keuangan dari bank multilateral
(OJK). lain.
Hipothesis

Bergabungnya Indonesia dalam Asian Infrastructure


Investment Bank (AIIB) adalah bentuk kebijakan luar
negeri Indonesia dalam mencapai kepentingan nasional
yang diputuskan secara rasional oleh pemangku
kekuasaan (pemerintah) setelah mempertimbangkan
alternatif-alternatif dan untung rugi yang akan diperoleh
Indonesia dalam beberapa hal tertentu, yaitu:
Meningkatkan bargaining position Indonesia pada
Multilateral Development Banks (MDBs) dalam skala
regional dan global.
Memperoleh dana pembangunan infrastruktur dalam
negeri.
Jangkauan Penelitian

Jangkauan penelitian ini dibatasi dari


penetapan Undang-undang Nomor 17 Tahun
2007 sebagai acuan penyusunan RPJMN
2015-019 yang merupakan rancangan
pembangunan pemerintahan Presiden
Jokowi, hingga tahun 2015 sebagai tahun
bergabungnya Indonesia dalam AIIB.
Metodologi Penilitian

Metode penilitian kualitatif yang menitik


beratkan pada analisa data-data yang sifatnya
non angka dan tanpa menggunakan rumus-
rumus statistik, data yang bersifat kuantitatif
seperti angka, tabel, grafik yang tersedia
diuraikan dan ditafsirkan ke dalam bentuk
kalimat atau paragraf.
Sistematika Penulisan

BAB I adalah pendahuluan

BAB II akan membahas mengenai profil Asian Infrastruktur Investment Bank (AIIB)

BAB III akan membahas mengenai perbandingan posisi Indonesia di beberapa


Multilateral Development Bank (MDB) seperti Asian Development Bank (ADB), ASEAN
Infrastructure Fund (AIF), dan World Bank (WB)

BAB IV akan membahas mengenai analisis kepentingan-kepentingan Indonesia bergabung


dalam Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB)

BAB IV berisi kesimpulan-kesimpulan yang didapatkan penulis dari bab-bab


sebelumnya.
Referensi

Jack C. Plano dan Roy Olton. Kamus Hubungan Internasional.


Edisi Ketiga. Putra A Bardin. Jakarta. 1999.
Kishore Mahbubani. Asian Hemisfer Baru Dunia: Pergeseran
Kekuatan Global Ke Timur Yang Tak Terelakkan. Kompas.
Jakarta. 2011.
Mochtar Masoed. Ilmu Hubungan Internasional: Disiplin dan
Metodologi. LP3ES. Jakarta. 1990.
Robert Jackson, Georg Sorensen. Pengantar Studi Hubungan
Internasional: Teori dan Pendekatan. Edisi Kelima. Pustaka
Pelajar. Yogyakarta. 2014.
Tulus Warsito. Teori-Teori Politik Luar Negeri. Bigraf.
Yogyakarta. 1998.