Anda di halaman 1dari 28

1

Al-Quran dan Hadits merupakan dua sumber


hukum Islam
Dalam al-Quran dan Hadits terdapat dalil-dalil
ajaran-ajaran Islam yang bersifat qathI (pasti) yang
menjelaskan hukum tertentu, semisal sholat, zakat,
haji, aturan mahram, dan lain-lain.
Dalam al-Quran dan Hadits terdapat juga dalil-
dalil yang bersifat zhanni (bersifat relatif dan tidak
menunjukkan secara pasti tentang hukumnya),
seperti merokok, jenis pakaian, jual-beli online,
donor mata, dan lain-lain.
2
Pada dalil-dalil yang bersifat qathI kita diharuskan
tunduk dan taat untuk melaksanakan, tidak ada
ruang untuk merubahnya
Untuk dalil-dalil yang bersifat zhanni masih
dimungkinkan untuk dilakukan pengkajian
hukum, dan disinilah lapangan ijtihad dapat
dilakukan
Berdasar ini dipahami bahwa proses ijtihad hanya
boleh dilakukan pada hal-hal yang secara eksplisit
tidak terdapat dalam al-Quran dan hadits, atau
masalah-masalah yang tidak pasti penunjukkan
hukumnya
Karena ijtihad dilakukan pada hal-hal yang zhanni,
maka hasilnya pun bersifat zhanni
3
Mencurahkan segenap kesanggupan mujtahid
dalam mendapatkan hukum syara amali
degan satu metode (Asymuni Abdurrahman)
Mengerahkan segala kemampuan akal dalam
menggali sumber ajaran Islam untuk
mendapatkan kepastian hukumnya
berdasarkan wahyu dengan metode dan
pendekatan tertentu (lihat Syakir Jamaluddin,
Kuliah Fiqh Ibadah, LPPI UMY)

4
Proses ijtihad telah berlangsung dari masa ke
masa. Proses ini telah menghasilkan berbagai
produk hukum terhadap permasalahan
kehidupan masyarakat saat itu, dan mungkin
juga saat ini
Proses ijtihad ulama zaman dulu telah
melahirkan berbagai tokoh terkenal, di
antaranya Imam Empat Madzhab (SyafiI,
Hanafi, Hambali, dan Maliki) yang sampai saat
ini masih menajdi rujukan umat Islam

5
Seiring berkembangnya masyarakat, maka
berkembang pula berbagai problematika
kehidupan yang perlu mendapat jawaban.
Yusuf Qardlawi menyatakan bahwa sebuah sikap
kepura-puraan dan tidak mengenal realita apabila
kita menyatakan bahwa buku-buku lama (produk
ijtihad ulama terdahulu) dapat memberikan
jawaban masalah saat ini, sebab setiap zaman
memiliki problematika dan kebutuhan yang
senantiasa muncul. Untuk inilah perlu
dilakukan proses ijtihad terhadap masalah
yang berkembang pada kehidupan saat ini
6
Permasalahan yang muncul pada zaman terdahulu
dan telah ada produk ijtihad oleh ulama terdahulu
juga sangat mungkin akan mirip atau sama dengan
masalah-masalah yang dibahas oleh ulama saat ini
Untuk hal ini, pendapat-pendapat ulama terdahulu
tidaklah boleh dikesampingkan, tetapi wajib untuk
mempelajari dan meninjau kembali pendapat-
pendapat tersebut, kemudian disesuaikan dengan
kondisi saat ini
Hal ini sesuai dengan kaidah fiqh:
al muhafadhatu ala al-qadiimi al-shaalih wa al-akhdzu bil
al-jadiidi al-ashlah
(mempertahankan yang lama yang baik, dan
mengambil yang baru yang lebih baik)
7
Sangat dimungkinkan pula bahwa permasalahan-
permasalahan yang ada saat ini adalah merupakan
masalah baru, sehingga ulama saat ini harus
mengetahui secara baik masalah yang dimaksud
kemudian membahasnya secara seksama, dengan
tetap merujuk pada jiwa hukum Islam yang
terkandung dalam al-Quran dan Hadits
Berdasar hal itu, maka model ujtihad yang dapat
dikembangkan/dilakukan saat ini adalah model
ijtihad tarjihi/intiqaI dan ijtihad insyai/ibtidai.

8
Ijtihad tarjihi adalah ijtihad yang dilakukan untuk
memilih pendapat para ahli fiqh terdahulu
mengenai masalah-masalah tertentu, kemudian
menyeleksi mana yang lebih kuat dalilnya dan
lebih relevan dengan kondisi saat ini
Mujtahid bertugas untuk mempertimbangkan dan
menyeleksi dalil-dalil dan argumentasi-
argumentasi dari setiap pendapat itu, kemudian
memberikan preferensinya terhadap pendapat
yang dianggap kuat dan dapat diterima
Proses pemilihan pendapat tidak dibatasi oleh
ulama-ulama tertentu, dan penentuan kekuatan
dalil (rajih) tetap memperhatikan kondisi saat ini
dan semangat maqashid syariah (tujuan hukum
Islam)
9
Contoh dalam Kasus Thalaq (perceraian):
1. Mayoritas ulama fiqh terdahulu menyatakan
bahwa thalaq dinyatakan sah apabila dilakukan
secara sadar dan atas kehendak sendiri
dihadapan istrinya, tanpa ada saksi
2. Ada ulama lain menyatakan bahwa sahnya
perceraian apabila ada saksi
3. Di Indonesia, UU Perkawinan Tahun 1974
menyatakan bahwa perceraian sah dilakukan
didepan sidang Pengadilan Agama
10
Ijtihad Insyai adalah usaha untuk menetapkan
kesimpulan hukum mengenai peristiwa-peristiwa baru
yang belum diselesaikan oleh para ahli fikih terdahulu
Dalam ijtihad ini harus dipahami betul permasalahan
yang akan dibahas, da harus mendapatkan masukan
dari berbagai kelompok ilmu yang terkait, sehingga
proses ijtihad harus dilakukan secara kolektif (jamai).
Tanpa ini maka sulit untuk mendapatkan kesimpulan
yang benar terkait hukum terhadap masalah tersebut
Dalam ijtihad ini dapat dilakukan metode qiyas,
ishtihsan, maslahat mursalah, dan saddu al-zariat. Proses
ijitihad ini harus tetap didasarkan pada semangat
maqashid al-syariah (tujuan hukum Islam)

11
Contoh pada kasus pencangkokan jaringan atau
organ tubuh manusia
Sebelum diputuskan hukumnya, harus dilakukan
kesplorasi dan elaborasi mengenai pencangkokan
jaringan atau organ tubuh dari multi perspektif,
terutama kedokteran. Kemudian berdasar fakta itu
dikaji bagaimana dalam ajaran Islam dan
bagaimana dalam tinjauan tujuan hukum Islam
Setelah dikaji secara mendalam maka dapat
diambil kesimpulan terkait hukum masalah
tersebut
12
1. Mencari definisi yang tepat terhadap masalah
yang akan dibahas
2. Melakukan penelusuran mengenai
kemdharatan dan kemaslahatan yang akan
ditimbulkan dari masalah yang dibahas
3. Melakukan ijtihad, baik tarjihi maupun insyaI

dengan berbagai metode yang pilih


4. Menyimpulkan hasil ijtihad

13
Memahami al-Quran dan As-
Sunnah
Menguasai ilmu fiqh dan ushul fiqh

Memahami benar terhadap


masalah yang dibahas
Memiliki integritas pribadi muslim
yang baik, pemahaman dan
praktik/amalan
14
Qiyas (analogi) -- menyamakan hukum
suatu peristiwa yang tidak ada nash mengenai
hukumnya, dengan suatu peristiwa yang ada
nash hukumnya, karena ada persamaan illat-
nya
Rukun Qiyas ---- Pokok/al-Ashl (masalah
yang sudah ada nashnya), Cabang/al-Faru
(masalah baru yang belum ada nashnya),
Hukum Ashl (hukum yang ada berdasar nash),
dan Illat (illat hukum) yaitu sesuatu yang ada pada
ashl dan atasnyalah hukum berlaku (sebab hukum)

15
Istihsan --- secara bahasa mengikuti yang
lebih baik karena lebih tepat atau menganggap
baik terhadap sesuatu
Secara istilah, berpindah dari suatu hukum
kepada hukum lain karena adanya dalil syara
yang lebih tepat yang menghendaki demikian
Contoh: bolehnya diperlihatkan bagian tubuh
perempuan pada seorang dokter laki-laki
karena alasan pengobatan

16
Istishlah --- secara bahasa mecari kemaslahatan,
sering disebut maslahah mursalah
Secara istilah, menetapkan hukum suatu masalah
yang tidak ada nash dan ijmanya, yang dibangun
dengan dasar untuk menjaga kemaslahatan semata
Syarat kemaslahatan:
1. Kemaslahatannya bersifat hakiki
2. Kemaslahatannya bersifat umum
3. Kemaslahatannya tidak bertentangan dengan nash
atau ijma ulama
Adanya keharusan pencatatan nikah oleh negara
di Indonesia
17
Mengerahkan segala
kemampuan akal dalam
menggali sumber ajaran Islam
untuk mendapatkan kepastian
hukumnya berdasarkan wahyu
dengan metode dan pendekatan
tertentu (HPT Muhammadiyah)
Posisi ijtihad bukan sebagai sumber
hukum melainkan sebagai metode
penetapan hukum, sedangkan
fungsi ijtihad adalah sebagai metode
untuk merumuskan ketetapan-
ketetapan hukum yang belum
terumuskan dalam Al-Quran dan
Al-Sunnah
Masalah-masalah yang
terdapat dalam dalil-dalil
dhanni.
Masalah-masalah yang secara
eksplisit tidak terdapat dalam
Al-quran dan Al-Sunnah
Bayani (semantik) yaitu metode yang
menggunakan pendekatan kebahasaan
Talili (rasionalistik) yaitu metode penetapan
hukum yang menggunakanpendekatan
penalaran
Istislahi (filosofis) yaitu metode penetapan
hukum yang menggunakan pendekatan
kemaslahatan
Al-Tafsir al-ijtimai al-maasir
(hermeneutik)
Al-Tarikhiyyah (historis)

Al-Susiulujiyah (sosiologis)

Al-Antrufulujiyah (antropologis)
Ijmak

Qiyas

Mashalih Mursalah
Urf
TaarudhAl-Adillah
adalah pertentangan
beberapa dalil yang
masing-masing
menunjukkan ketentuan
hukum yang berbeda
Jika terjadi taarudh diselesaikan dengan
urutan cara-cara sebagai berikut :
Al-Jamu wa al-taufiq, yakni sikap menerima semua
dalil yang walaupun dhahirnya taarudh. Sedangkan
pada dataran pelaksanaan diberi kebebasan untuk
memilihnya (tahyir).
Al-Tarjih, yakni memilih dalil yang lebih kuat untuk
diamalkan dan meninggalkan dalil yang lebih
lemah.
Al-Naskh, yakni mengamalkan
dalil yang munculnya lebih
akhir
Al-Tawaqquf, yakni
menghentikan penelitian
terhadap dalil yang dipakai
dengan cara mencari dalil baru
( al umuuru
bimaqooshidihaa); segala sesuatu
tergantung pada niatnya
( al yaqiinu la yuzalu
bisysyaki); sesuatu yang sudah yakin
tidak dapat dihilangkan dengan adanya
sesuatu yang syak (meragukan)
( adh-dhararu yuzalu);
kemadharatan itu harus dihilangkan)
27
( al-masyaqqotu
tajlibu taisyir): Kesukaran itu
mendatangkan (menarik) adanya
kemudahan
( al-adatu
muhakkamatun); adat kebiasaan
dapat ditetapkan sebagai hukum
28