Anda di halaman 1dari 40

Ekstraksi

Pelarut
Muji Harsini
Departemen Kimia FST
Universitas Airlangga

CCP_Muji Harsini_Unair 1
Ektraksi Pelarut
Merupakan satu teknik pemisahan yang sangat penting.
Banyak digunakan dalam laboratorium lingkungan, klinik dan
industri.

Dapat digunakan peralatan sederhana seperti corong pemisah

Pemisahan tingkat makro maupun mikro

CCP_Muji Harsini_Unair 2
Digunakan untuk maksud: preparatif, pemurnian,
memperkaya, pemisahan serta analisis pada semua
skala kerja

Pada ekstraksi pelarut sederhana, solut terdistribusi


dalam dua fasa (cair-cair) yang tidak saling larut.

Pada umumnya, salah satu fasa adalah air, sedangkan


fasa lainnya adalah pelarut organik seperti dietil eter,
petroleum eter, kloroform, dan sebagainya.

Karena kedua fasa tersebut tidak saling larut, maka


akan terbentuk dua lapisan. Fasa yang mempunyai
densitas lebih berat ada di bawah.

Zat terlarut mula-mula ada dalam satu fasa, tetapi


setelah diekstraksi, zat tersebut akan berada pada fasa
lainnya.
CCP_Muji Harsini_Unair 3
Hukum Distribusi Nernst (1891) dan
Perbandingan Distribusi
Jika solut (X) mula-mula ada dalam fasa air dan
diekstraksi ke dalam fasa organik (org):


X air X org

Koefisien distribusinya adalah:

[ X ] org
KD = (11)
[ X ] air

CCP_Muji Harsini_Unair 4
Koefisien distribusi (KD) hanya menyinggung spesies
tunggal dan tidak meliputi kemungkinan hasil reaksi
samping (asosiasi, disosiasi, pembentukan kompleks,
dsb). Jadi solut hanya larut saja dalam pelarutnya.

Ketika solut mengalami reaksi samping harus juga


diperhitungkan total konsentrasi solut pada masing-
masing fasa, yang didefinisikan sebagai perbandingan
distribusi (D):

[ X ] org.tot
D=
[ X ] air.tot
Konsentrasi total solut pada fasa organik
=
Konsentrasi total solut pada fasa air

CCP_Muji Harsini_Unair 5
Contoh:
Ekstraksi asam benzoat (HB) dalam eter
Untuk menekan disosiasi asam benzoat, maka larutan dibuat
suasana asam dengan menambahkan HCl

eter HB
[ HB] eter
KD = (1)
[ HB] air air HB

Jika air tidak diasamkan, maka asam benzoat akan terdisosiasi


dalam pelarut air


H+ +B-
HB

eter HB

H

+


B

-


Ka = (2) H+ + B-
[ HB] air HB

CCP_Muji Harsini_Unair 6
Jika digunakan ekstraktan benzena sebagai pengganti
eter, maka asam benzoat akan mengalami dimerisasi


HB.HB
2HB

K Dm =
[ HB.HB] (3)
benzena HB 1/2 HB.HB

[ HB]
2
air HB H+ + B -

Konsentrasi total asam benzoat dalamfasa organik


D=
Konsentrasi total asam benzoat dalamfasa air
atau
[ HB] org +2[ HB.HB] org
D= (4)
[ HB] air +

B -

air

CCP_Muji Harsini_Unair 7
Dari Persamaan (2)

-

[
B = Ka +
HB]
(5)
H

Dari Persamaan (3)

[ HB.HB] = K Dm [ HB]
2
(6)

CCP_Muji Harsini_Unair 8
Substitusi Persamaan (5) dan (6) ke dalam
Persamaan (4) didapatkan:

[ HB] org + 2 K Dm [ HB] org


2

D=
[ HB]
[ ] air a +
HB + K

H

[ HB] org ( 1 + 2 K Dm [ HB] org )
=
K
[ HB] air
1 + +a

H


=
(
K D 1+2K Dm [ HB] org ) (7)
K

1+ +a

H

CCP_Muji Harsini_Unair 9
Ektraksi berulang
Jika D sangat besar (>1000), ekstraksi sekali telah
memungkinkan hampir semua senyawa terlarut telah
terekstraksi

Namun demikian, ekstraksi akan lebih efektif jika dilakukan


berulang

Contoh:
Wo gram zat terlarut dalam V mL
air diekstraksi dengan S mL eter. Jika W1
gram zat tertinggal dalam fasa air setelah
satu kali ekstraksi, maka kadarnya dalam
air menjadi (W1/V g/mL) dan dalam fasa
organik (Wo-W1)/S.

CCP_Muji Harsini_Unair 10
Perbandingan distribusi adalah:

D=
( Wo -W1 ) /S
W1 / V
atau
V
W1 = Wo (8)
DS + V

Setelah dua kali ekstraksi, zat terlarut yang masih tertinggal


dalam fasa air adalah:

V V V
W2 = W1 = W
o DS + V DS + V
DS + V
sehingga
2
V
W2 = Wo (9)
DS + V

CCP_Muji Harsini_Unair 11
Untuk n kali ekstraksi akan didapatkan

n
V
Wn = Wo (10)
DS+
V
Ekstraksi akan sempurna jika S kecil dan n besar
Hasil yang baik diperoleh dengan jumlah ekstraksi yang relatif
besar dan jumlah pelarut kecil.

Efisiensi ekstraksi (Qair) adalah:

n
Wn V
Qair = =
Wo DS+
V

CCP_Muji Harsini_Unair 12
Contoh soal:

Sebanyak 75 mL larutan zat terlarut X 0,1 M dalam air akan


diekstraksi ke dalam fasa organik (benzena). Koefisien distribusi zat
X adalah 8. Diinginkan agar setelah dilakukan ekstraksi, konsentrasi
X di dalam air tinggal 10-3 M, atau lebih kecil. Berapakah volume
benzena yang diperlukan untuk ekstaksi tersebut apabila
ekstraksinya dilakukan (beberapa kali) dengan a) 25 mL dan b) 50
mL benzena
Jawab:
Zat X 0,1 dalam 75 mL air, KD=8
Setelah kesetimbangan , X dalam air 10-3 M atau lebih kecil

CCP_Muji Harsini_Unair 13
a. 25 mL benzena

n
V
Wn = Wo
K
D S+ V
n
75
10-3 = 0,1
8 x 25 + 75

log 10-2 = n log 0,2727
n=3,54
4x

Jadi, ekstraksi dengan menggunakan benzena 25 mL (untuk


tiap kali ekstraksi, sehingga konsentrasi akhir < 10- 3)
dibutuhkan benzena sebanyak 4x25 mL = 100 mL

CCP_Muji Harsini_Unair 14
b. 50 mL benzena

n
V
Wn = Wo
K
D S+ V
n
75
10-3 = 0,1
8 x 50 + 75

log 10-2 = n log 0,1579
n = 2,5
3x ekstraksi

Jadi, ekstraksi dengan menggunakan benzena 50 mL


(untuk tiap kali ekstraksi, sehingga konsentrasi akhir < 10 -
3
) dibutuhkan benzena sebanyak 3x50 mL = 150 mL

CCP_Muji Harsini_Unair 15
Ektraksi Pelarut yang Melibatkan Kesetimbangan
Asam-Basa

HA
organik
KD
air
Ka
HA + H2O H3O+ + A-

[ HA] org
KD = (11)
[ HA] air
[ HA] org ,tot [ HA] org
D= = (12)
[ ] air ,tot [ HA] air +
HA A-

air

Ka [ HA ] air
+ -

H
O
A
3 air -
Ka = air

A = (13)
[ HA] air air
H 3O +

air

CCP_Muji Harsini_Unair 16
Substitusi ke dalam Persamaan (12)
[ HA] org
D=
[ HA] air + Ka [ HA] air /
3
H O +

air

[ HA] org
D=
[ HA] air { 1 + ( Ka /
3
H O +
)}

KD
D=
(
1 + Ka /
3
H O +
)
+
KD
3
H O
D= +
air
( 14 )

H3O + Ka
air

KD
D= +
1 + (Ka /
3
H O ) air

CCP_Muji Harsini_Unair 17
Ektraksi Pelarut yang Melibatkan Khelator Logam
Satu yang sangat penting pada penerapan ekstraksi selektif
ion logam adalah menggunakan agen pengkompleks. Akan
tetapi, banyak agen khelat memiliki kelarutan sangat
terbatas dalam air.
Agen pengkhelat ditambahkan pada pelarut organik
Agen pengkhelat diektraksi ke dalam fasa air, dimana ion
logam dapat bereaksi membentuk kompleks ligan-logam
Selanjutnya kompleks ligan-logam diekstraksi ke dalam
fasa organik

CCP_Muji Harsini_Unair 18
Skema ekstraksi pelarut ion logam oleh khelator logam

HL MLn
organik
KD,HL
air
HL
+ KD, c
H2 O
Ka

n L +M - n+ MLn
+
H3O+

K D,c K anCLn
D= n
(15)
K n
D,L

H3O
+ K C
+ n
a
n
L Buktikan!
air

CCP_Muji Harsini_Unair 19
Pemilihan pelarut organik untuk ekstraksi

Dapat melarutkan senyawa yang akan dipisahkan


Tidak mudah larut dalam air
Mempunyai titik didih yang rendah sehingga mudah
dihilangkan dengan penguapan atau destilasi
Memiliki densitas yang berbeda dengan air

CCP_Muji Harsini_Unair 20
Contoh pelarut yang tidak larut dalam air dengan
titik didih rendah

CCP_Muji Harsini_Unair 21
Berikut ini pelarut yang memiliki titik didih
rendah, namun tidak digunakan dalam
ekstraksi dari pelarut air karena mudah larut
dalam air

CCP_Muji Harsini_Unair 22
Pemetaan
daya campur
pelarut

CCP_Muji Harsini_Unair 23
Pemisahan campuran dengan ekstraksi
Pemisahan senyawa tunggal dari satu pelarut ke pelarut
lainnya merupakan hal yang mudah

Kegunaan yang besar dari ekstraksi adalah kemungkinan


pemisahan dua senyawa atau lebih berdasarkan atas
perbedaan koefisien distribusinya

Jika satu senyawa terlarut memiliki KD > 1 dan senyawa


lainnya memiliki KD <1 dengan 1x pemisahan hasilnya
hampir sempurna

Jika diinginkan pemisahan yang cukup memadai, proses


harus diulang beberapa kali

Lyman Craig telah mengembangkan suatu alat


ekstraksi semiotomatis alat Craig untuk memahami
teori kromatografi
CCP_Muji Harsini_Unair 24
Ekstraksi berulang dengan metoda Craig
Alat Craig:
Terdiri dari satu seri bejana pemisah yang dihubungkan
sedemikian rupa sehingga lubang keluar bejana yang satu
berhubungan dengan lubang masuk bejana berikutnya.
Setiap bejana terdiri dari dua tabung yang berhubungan satu
dengan lainnya

CCP_Muji Harsini_Unair 25
CCP_Muji Harsini_Unair 26
Cara kerja alat Craig
Sejumlah pelarut yang mempunyai densitas lebih berat
dimasukkan melalui lubang A, sehingga akan mengisi
tabung B setengahnya.

Cuplikan yang dipisahkan dimasukkan sebagai larutan dalam


pelarut yang lebih ringan ke dalam tabung B dari bejana
pertama.

Bejana-bejana ini digoyangkan ke muka dan ke belakang


dengan sudut sekitar 35 terhadap poros ~ setimbang dan
pelarut terpisah dalam dua lapisan

Alat diputar 90 sesuai dengan arah jarum jam.Pelarut yang


ringan mengalir melalui pipa penghubung C ke dalam
tabung D. Sedangkan pelarut yang berat tinggal di tabung B

Ketika alat ini diputar kembali pada kedudukan semula,


pelarut yang ringan di D mengalir melalui jalan keluar E ke
dalam tabung B tingkat berikutnya.

CCP_Muji Harsini_Unair 27
Beratus-ratus tabung tersusun dapat digunakan dan
semuanya digoyangkan dan diputar bersama-sama dengan
menggunakan motor penggerak

Alat Craig sangat berguna terutama dalam bidang biokimia


untuk pemisahan yang sangat sukar dari senyawa yang
memiliki sifat kimia yang hampir sama

Misalnya pada pemisahan campuran asam amino, asam


lemak, pilipeptida, nukleotida, amina aromatik dan
antibiotik telah dapat dipisahkan dengan proses ini.

CCP_Muji Harsini_Unair 28
Skematik peralatan proses Craig

Pelarut M

Pelarut S

0 1 2 3

CCP_Muji Harsini_Unair 29
Distribusi senyawa terlarut pada proses Craig,
Misal KD=1, VM=VS
Nomor tabung
1 2 3 4 5 6
Distribusi asli 1/2
1/2

Setelah 1/4 1/4


pemindahan I 1/4 1/4

1/8 1/4 1/8


Setelah
1/8 1/4 1/8
pemindahan II
1/16 3/16 3/16 1/16
1/16 3/16 3/16 1/16
Setelah
pemindahan III 1/32 1/8 3/16 1/8 1/32
Setelah 1/32 1/8 3/16 1/8 1/32
pemindahan IV CCP_Muji Harsini_Unair 30
Cara kerja
Cuplikan dengan pelarut yang lebih ringan M dimasukkan
ke dalam tabung 0. Setelah tercapai kesetimbangan,
setengah jumlah senyawa terlarut dalam fasa atas M dan
setengah lainnya dalam fasa bawah S.

Lapisan atas M dipindahkan ke tabung 1 dan satu bagian


pelarut S segar ditambahkan ke tabung 0. Setelah
kesetimbangan tercapai, seperempat jumlah senyawa
terlarut terdapat pada setiap fasa dalam tabung 0 dan
tabung 1

Kemudian pelarut M dalam tabung 0 dan 1 berturut-turut


dipindahkan ke tabung 1 dan 2, tambahkan pelarut segar S
ke dalam tabung 0.

Dst.

CCP_Muji Harsini_Unair 31
Distribusi senyawa terlarut pada proses Craig:
Fraksi pada setiap tabung KD=1, VM=VS
No. Nomor tabung (r)
Pemindahan
(n)
0 1 2 3 4 5 6 7
0 1 X20
1 1 1 X2-1
2 1 2 1 X2-2
3 1 3 3 1 X2-3
4 1 4 6 4 1 X2-4
5 1 5 10 10 5 1 X2-5
6 1 6 15 20 15 6 1 X2-6
7 1 7 21 35 35 21 7 1 X2-7
CCP_Muji Harsini_Unair 32
Angka pada setiap garis merupakan koefisien binomial (p+q) n

n(n-1) n-2 2 n(n-1)(n-2) n-3 3


( p+q)
n
=pn +npn-1q+ p q + p q +....+qn (16)
2! 3!

p = fraksi jumlah senyawa terlarut dalam fasa S dari suatu tabung


q = fraksi jumlah senyawa terlarut dalam fasa M dari tabung yang sama
n = nomor pemindahan
Di sini koefisien distribusi didefinisikan sebagai

CS (lapisan bawah, fasa diam)


KD = (17)
CM ( lapisan atas, fasa gerak )

CCP_Muji Harsini_Unair 33
Kemudian

CS VS K D VS
p= = (18)
CS VS +CM VM K D VS +VM
dan
CM VM VM
q= = (19)
CS VS +CM VM K D VS +VM

Jika n besar, maka perhitungan dengan rumus binomial terlalu


panjang. Untuk n kurang dari 50, untukmenghitung fraksi jumlah
dalam tabung nomor r dapat digunakan persamaan:

n!
fn ,r= pr qn-r (20)
r!(n-r)!

CCP_Muji Harsini_Unair 34
Dengan melakukan substitusi p dan q dengan
persamaan 18 dan 19
n
n! r n-r 1 r
fn ,r = pq x x K D (21)
r!(n-r)! K D +1

Pada umumnya VSVM dan KD 1, kombinasi Persamaan (16)


dan (19) menghasilkan

K D VS VM
( p+q) =
n
+ (22)
K D VS +VM K D VS +VM

CCP_Muji Harsini_Unair 35
Distribusi Gauss

Distribusi binomial lebih semakin rumit dengan


jumlah n >50 digunakan distribusi Gauss

nK D rmaks jumlah tabung yang


rmaks =
KD + 1 mengandung kuantitas zat
terlarut
1
f maks = fmaks=fraksi zat terlarut dalam
2p nK D tabung ke-n
( 1 + KD )
2

-
2
2p nK D / ( 1+ K D )
x2 /
f x = f maks x e fx = fraksi zat terlarut dalam
suatu tabung yang berjarak x
tabung dari rmaks

CCP_Muji Harsini_Unair 36
Untuk cuplikan yang mengandung 2 senyawa
dengan Kd berbeda, misal KD,A = dan KD,B = 1
Fraksi senyawa terlarut dalam

Pemindahan 8x Pemindahan 200x


setiap tabung

Nomor tabung

Faktor pemisahan Dengan a = 2, dibutuhkan 200x


pemindahan agar kedua senyawa
K D, A terpisah (hampir) sempurnakurang
a= praktis kromatografi
K D ,B
CCP_Muji Harsini_Unair 37
100
Penerapan dalam kimia analitik

Untuk pemisahan
Pengukuran / analisis kuantitatif

Untuk analisis dibutuhkan pengkhelat (ligan) sebagai ekstraktan


yang menghasilkan senyawa berwarna yang langsung dapat
diukur.

Misal ekstraksi fotometri untuk penentuan uranium, besi,


serium ataupun tembaga dengan 2-thenoyltrifluoroaseton

Contoh ligan lainnya adalah cupferon, azonaftol, ditizon,


ditiokarbamat, dsb

CCP_Muji Harsini_Unair 38
Soal Tugas Terstruktur
Suatu sistem ekstraksi mempunyai perbandingan
distribusi 10. jika 300 mg zat dilarutkan pada 100mL
pelarut A, hitung jumlah zat yang terekstraksi jika
dilakukan dengan 100 mL pelarut B dan dua kali
ekstraksi masing-masing dengan 50 mL pelarut B. Mr
zat terlarut 71,0

Koefisien distribusi dari asam HB antara pelarut organik


dan air = 11,5. Pada pH 5,0 separoh dari jumlah asam
tersebut terekstraksi ke dalam fasa organik. Hitunglah
tetapan ionisasi (Ka) dari asam tersebut.

Hitung perbandingan distribusi (D) jika besi(III)


diekstraksi dari asam hidrokloridanya dengan tributil
fosfat jika volume fasa organik 10 mL, volume fasa air
25 mL, dan ion besi telah terekstraksi 99,8%

CCP_Muji Harsini_Unair 39
Koefisien distribusi untuk zat terlarut A dari air ke dalam
pelarut organik adalah 10. Sebanyak 1,00 g zat terlarut
dilarutkan dalam air dan ditaruh dalam tabung 0 dari suatu
alat ekstraksi Craig dan diekstraksi dengan pelarut
organiknya. Fraksi organik itu dipindahkan dari tabung 0 ke
tabung 1, dst.

(a) Hitunglah fraksi A yang tetap ada pada tabung 0


setelah 5 kali transfer.
(b) Hitunglah fraksi A dalam tabung 1,2,3,4 dan 5

CCP_Muji Harsini_Unair 40