Anda di halaman 1dari 42

Laporan Kasus Bedah

RSU Dr. Haryoto


Presentan :
dr. Farah Sonya Anastasya

Pembimbing :
dr. Hendra Setiawan, Sp.B
dr. Dasit Riyadi
dr. Guntur Sugiharto, MM.Kes
Identitas Pasien
Nama Pasien : Tn. M
Usia : 18 tahun
Alamat : Ranuyoso
No. RM : 270821
Pekerjaan : Petani
Tanggal MRS : 24 Januari 2017
Anamnesis
Keluhan utama : tidak bisa membuka mulut,
seluruh tubuh terasa kaku
Riwayat penyakit sekarang:
2 hari SMRS pasien tidak bisa buka mulut
sehingga sulit makan dan leher kaku. Badan dan
perut terasa keras. Tangan dan kaki masih bisa
digerakkan
7 hari SMRS, punggung pasien terkena ujung kayu
saat bekerja dan tidak diobati.
Pasien menyangkal adanya panas tubuh, penurunan
kesadaran, lemah sebelah tubuh, digigit binatang, dan
sakit gigi

Riwayat Pengobatan:
Pasien belum pernah berobat sejak punggung terkena
kayu

Riwayat kesehatan/Penyakit:
Penyakit hipertensi, DM, penyakit jantung, penyakit
paru disangkal oleh pasien
Riwayat pekerjaan:
Petani
Lingkungan erja sawah dan kebun

Riwayat imunisasi :
Tidak ingat apakah pernah diimunisasi
Pemeriksaan Fisik
Kesadaran : kompos mentis ; GCS 456
Keadaan Umum : tampak sakit sedang
Nadi : 90 x/menit,teratur, kuat,
penuh
Tekanan darah : 120/80 mmHg
Suhu : 37.4C
Pernapasan : 20 x/menit
Status Nutrisi : dalam batas normal
Kepala : normocephali, tidak ada deformitas,
trismus (+) 1.5
cm, risus sardonicus (+)
Mata : mata tidak cekung, konjungtiva merah,
sklera putih
Mulut : tidak pucat dan tidak sianosis, mukosa
mulut dan
bibir basah
Leher : tidak teraba pembesaran kelenjar getah
bening,
kaku kuduk (+)
Jantung
Auskultasi : bunyi jantung S1/S2 reguler, murmur (-) gallop (-)
Paru
Inspeksi : simetris statis dan dinamis
Perkusi : Sonor/sonor
Auskultasi : bunyi napas vesikuler (+/+),ronkhi (-/-) wheezing -/-
Abdomen
Inspeksi : datar, tidak ada deformitas
Palpasi : keras, hepar dan lien tidak teraba, nyeri tekan (-), turgor kulit
abdomen baik
Perkusi : timpani
Auskultasi : bising usus (+) 10 x/menit
Ekstremitas : bergerak aktif, tidak ada
rigiditas, akral
hangat, CRT < 2 detik, tidak ada
sianosis,
tidak ada edema
Laboratorium (25/1/2017)
Hematologi Faal Hati
Hemoglobin : 13.4 mg/dl SGOT : 50 mU/ml
Lekosit : 11.690 /cmm SGPT : 32 mU/ml
Eritrosit : 4.72 juta/cmm Elektrolite SE
LED : 48 /jam Kalium serum : 4.2
Hematocrit : 39% Natrium serum : 142
Trombosit : 231.000 Clorida serum : 107
Diff count : 0/0/0/85/5/10 Faal Ginjal
BUN : 29.14
Serum Creatinin : 1.12
Assessment

Tetanus
Planning
Farmakologis :
Infus RL 1500 cc/24 jam
Metronidazole 3x500 mg IV
Ranitidine 2x1 amp IV
Antrain 3x1 amp IV
Tetagam 3000 unit IM
Drip valium 2 amp dalam 500 cc PZ bila kejang
Bersihkan luka
Nonfarmakologis :
Edukasi keluarga pasien mengenai penyakit yang
diderita pasien dan penyebabnya
Edukasi keluarga pasien mengenai tatalaksana
pengobatan yang diberikan dan pencegahannya
TINJAUAN PUSTAKA
Definisi
Toksemia akut yang disebabkan oleh
neurotoksin yang dihasilkan oleh
Clostridium tetani ditandai dengan spasme
otot, tanpa disertai gangguan kesadaran
Etiologi
Clostridium tetani
Gram positif, anaerob, dapat membentuk spora
dan berbentuk drumstick
Spora sangat resisten terhadap panas dan
antiseptic
Menghasilkan 2 eksotoksin, yaitu tetanolisin dan
tetanospasmin
Clostridium tetani banyak ditemukan di tanah,
kotoran hewan peliharaan dan di daerah
petanian
Epidemiologi
Tersebar di seluruh dunia, terutama di daerah
yang cakupan imunisasi DPT rendah
Usia >60 tahun : usia yang rentan
Reservoir utama : tanah yang mengandung
kotoran ternak sehingga risiko penyakit ini di
daerah perternakan sangat tinggi
Port of entry :
luka tusuk, gigitan binatang,
luka bakar, luka operasi yang tidak dirawat dan
dibersihkan dengan baik,
karies gigi,
pemotongan tali pusat yang tidak steril, dan
penjahitan luka robek yang tidak steril
20% tidak ada luka
Patogenesis
Clostridium tetani dalam Spasme,
bentuk spora rigiditas,
Manifestasi klinis
tetanus
Masuk melalui
luka Keada
an Cegah pelepasan
anaer neurotrasmiter inhibisi
Tumbuh menjadi bentuk
ob (GABA , glisin)
vegetatif

Rantai ringan :
Tetanolisin : Tetanospasmin
membelah VAMP-2
merusak (toksin tetanus)
(Synaptobrevin)
jaringan terdiri dari Rantai
yang sekitar Berat dan Rantai Rantai berat
Ringan Ujung C : terikat pada
membrane saraf
Ujung Amino : toksin masuk
Manifestasi Klinis
Masa inkubasi : 3-21 hari
Trias tetanus :
Rigiditas otot
Spasme
Disfungsi otonomik
Manifestasi klinis tetanus
Trismus, sulit menelan
Risus sardonicus
Opitotonus
Abdominal rigidity
Severe generalized reflex spasm
Disfungsi otonom
3 tipe tetanus
Localited tetanus
Rigiditas/spasme otot di daerah luka
Prognosis baik
Cephalic tetanus
Luka di daerah kepala. Mengenai saraf kranial
Prognosis buruk
Generalized tetanus
Paling sering
Derajat penyakit tetanus (Abletts)
Derajat I (ringan)
Trismus ringan sampai sedang, kekakuan umum,
spasme tidak ada, disfagia tidak ada atau ringan,
tidak ada gangguan respirasi

Derajat II (sedang)
Trismus sedang dan kekakuan jelas, spasme hanya
sebentar, takipneu (RR>30) dan disfagia ringan
Derajat III (berat)
Trismus berat, otot spastis, spasme spontan, takipneu
(RR>40), apneic spell, disfagia berat, takikardi, dan
peningkatan aktivitas sistem otonom

Derajat IV (sangat berat)


Derajat III disertai gangguan otonomik yang berat
meliputi sistem kardiovaskuler yakni hipertensi berat
dan takikardi atau hipotensi dan bradikardi, hipertensi
berat atau hipotensi berat
Diagnosis
Berdasarkan pemeriksaan fisik : manifestasi klinis
Anamnesis:
Riwayat luka terkontaminasi
Riwayat tidak diimunisasi atau imunisasi tidak lengkap
Pada tetanus neonaturum, keluhan awal berupa tidak
bisa menetek
Kejang umum episodik dicetuskan dengan rangsangan
minimal maupun spontan dan kesadaran tetap baik
Temuan laboratorium :
Leukositosis ringan
Enzim otot serum meningkit
Kultur : Clostridium tetani
Kreatin fosfokinase dapat meningkat karena
aktivitas kejang
Komplikasi
Pneumonia
Sepsis
Fraktur vertebrae
Gagal nafas
Tatalaksana
Terapi suportif awal,
Debridement luka untuk mengeradikasi spora
dan perubahan bentuk menjadi vegetative,
Menghentikan produksi toksin dalam luka,
Menetralisir toksin yang tidak terikat,
Mengkontrol manifestasi klinis penyakit, dan
Menatalaksana komplikasi.
Terapi suportif awal dan perawatan
luka
Ruangan khusus di area yang tenang dan
terproteksi dari stimulasi audiotori dan taktil
Prosedur tindakan yang tidak perlu :
dihindarkan
Menjaga patensi airway yang adekuat :
trakeostomi
Luka dieksplorasi, dibersihkan, dan dilakukan
debridement jaringan nekrotik
Terapi farmakologi
Eliminasi produksi toksin
Metronidazole 500 mg IV setiap 6 jam (7-10 hari)
Alternatif : Penicillin G (100.000-200.000
IU/kg/hari IV, dibagi menjadi 2-4 dosis)
Tetracycline, macrolides, clindamycin,
cephalosporin, dan chloramphenicol
Netralisir toksin yang tidak terikat.
Human tetanus immune globin (TIG) : 3.000 6.000 unit
IM
WHO: 500 unit (IM atau IV, tergantung sediaan)
Anti tetanus serum (ATS) : 100.000-200.000 unit
Hari pertama : 50.000 unit IM dan 50.000 unit IV
Hari kedua : 60.000 unit IM
Hari ketiga : 40.000 unit IM
Vaksin tetanus toksoid 0.5 cc IM ditempat berbeda
Dosis kedua : 1 bulan setelahnya
Dosis ketiga : 6-12 bulan setelah dosis kedua
Mengontrol manifestasi klinis penyakit
Benzodiazepin : pilihan pertama mengontrol
spasme otot
Diazepam 10-40 mg setiap 8 jam. Dinaikan tiap 5
mg sampai spasme terkontrol. Dosis tinggi sampai
600 mg/hari.
Untuk anak-anak, dimulai dari dosis 0.1-0.2 mg/kg
setiap 2-6 jam
Alternatif : Lorazepam. Dititrasi naik 2 mg sampai
spasme terkontrol
Baclofen, Dantrolene (1-2 mg/kg IV atau po setiap
4 jam)
Barbiturate, short-acting (100-150 mg setiap 1-4
jam pada orang dewasa, 6-10 mg/kg pada anak-
anak)
Chlorpromazine (50-150 mg IM setiap 4-8 jam
pada orang dewasa; 4-12 mg IM setiap 4-8 jam
pada anak-anak)
Tatalaksana komplikasi untuk disfungsi
otonomik
Magnesium sulfat , morfin
Magnesium sulfate : loading dose 5 gram IV (atau
75 mg/kg), didrip infus dengan kecepatan 2-3
g/jam sampai kontrol spasme tercapai.
Beta blocker seperti propranolol : tidak
direkomendasikan
Hanya Esmolol
Adekuat cairan dan nutrisi
Pencegahan
Vaksin DPT atau DPaT
usia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, 12-18 bulan, dan 4-
6 tahun
Usia 7 tahun yang belum pernah vaksin DPT :
Dosis pertama : vaksin Tdap
Dosis kedua : vaksin Td 4 minggu selanjutnya
Dosis ketiga : vaksin Td 6-12 bulan selanjutnya
Prognosis
Phillips score
< 9 severitas ringan
9-18 severitas sedang
>18 severitas berat
Dakar score
0-1 : severitas ringan dengan mortalitas 10%
2-3 : severitas sedang dengan mortalitas 10-20%
4 : severitas berat dengan mortalitas 20-40%
5-6 : severitas sangat berat dengan mortalitas >50%.
Phillips score
Dakars score
TERIMA KASIH