Anda di halaman 1dari 29

INVAGINASI

Rahmatul Dwi Hutriawan


Rauzia Azalia

Pembimbing:
Dr. Muntadhar, Sp. B., Sp. BA.
PENDAHULUAN

Invaginasi (intususepsi) adalah masuknya segmen usus proksimal ke


dalam lumen usus segmen distal

Paling sering pada segmen ileum distal masuk ke cecum dan


kemudian ke colon (prevelensi 50 %).

Umumnya terjadi pada anak-anak, dan jarang pada dewasa.70%


terjadi pada usia < 1 tahun, tersering pada usia 4 9 bulan. Laki-laki
> perempuan.
DEFINISI

Invaginasi adalah keadaan masuknya segmen usus


proksimal (intesusceptum) kerongga lumen usus
yang lebih distal (intussucipient) yang akan
menimbulkan gejala obstruksi berlanjut strangulasi
usus.
EPIDEMIOLOGI

Angka kejadian invaginasi pada dewasa sangat


jarang.

Pada anak ditemukan 70% kasus invaginasi


terjadi pada usia < 1 tahun.

Insiden tertinggi terjadi pada usia 4-9 bulan.


Laki-laki > perempuan, yaitu 2:1.
ETIOLOGI

90-95% penyebabnya idiopatik.


5-10% terdapat kelainan anatomis (pada usia >
2 tahun : tumor seperti limfoma, polyp,
hemangioma dan divertikulum meckel).
Faktor lain akibat terjadinya perubahan diet
makanan dan enteritis akut
PATOFISIOLOGI
DIAGNOSIS

Penemuan klinis tergantung dari lamanya invaginasi terjadi:


Bayi tiba-tiba Beberapa jam
Umumnya bayi menangis seperti kemudian bayi
dalam keadaan menahan sakit untuk defekasi
sehat, gizi baik. beberapa saat, disertai darah
Beberapa hari kemudian diam,
sebelumnya segar dan
main-main atau
mungkin tidur kembali.
lendir.
menderita Sering disertai Selanjutnya
radang saluran muntah berupa defekasi hanya
nafas atau minuman/makanan darah dan
diare. yang masuk. lendir.
TRIAS INVAGINASI

Nyeri perut bersifat kolik

-Teraba masa pada abdomen (sausage sign) atau


-Muntah

Feses bercampur lendir darah (currant jelly stool).


Palpasi :
teraba sausage shape, dances sign
Perkusi :
timpani
Auskultasi :
bising usus terdengar meninggi selama serangan kolik,
normal kembali diluar serangan.
RT :
teraba ujung invaginat, seperti pada portio (pseudoportio)
bila invaginasi sudah mencapai recto-sigmoid. Sarung
tangan terdapat darah dan lendir.
Foto polos abdomen 3 posisi :
Tanda obstruksi dengan gambaran air fluid
level. Distribusi udara dalam usus tidak merata.
Barium Enema, berfungsi sebagai:
a. Diagnosis : cupping sign/ coil spring appearance
b. Terapi :
reposisi dengan tekanan tinggi, bila belum ada
tanda-tanda obstruksi, tidak ada tanda-tanda
peritonitis dan kejadian <24 jam. Reposisi
dianggap berhasil bila setelah rectal tube ditarik
dari anus barium keluar bersama feses dan udara.
TERAPI

Perbaikan keadaan umum.

Pemasangan sonde lambung (NGT)


untuk dekompresi dan mencegah
aspirasi.

Rehidrasi.
Antibiotik
Obat sedative/muscle relaxon/analgetika.
TINDAKAN REPOSISI USUS

Dapat dengan enema barium bila tanda-tanda obstruksi /


peritonitis (-).
Operatif, yaitu dengan laparotomi:
Tergantung penemuan intra operasi reposisi manual
dengan cara milking reseksi usus bila perforasi dan ganggren.
Kemudian dilakukan anastomose (bila memungkinkan), jika
tidak dilakukan exteorisasi atau ileostomi.
PROGNOSIS

Recurrent
intususeption
Laporan kasus
IDENTITAS PASIEN

Nama : Isranul Badiri


Jenis Kelamin : Laki-laki
Usia : 4 bulan
No. CM : 1-13-24-50
Alamat : Bireuen
Agama : Islam
Tgl Masuk : 16/06/2017
Tgl Pemeriksaan : 21/06/2017
ANAMNESIS

Keluhan Utama :
Perut kembung dan muntah

Riwayat Penyakit Sekarang :


Pasien rujukan dari RS bireun dengan keluhan nyeri perut dan BAB
berlendir disertai darah. Nyeri perut 1 hari SMRS. Ketika nyeri
perut os menjadi rewel dan kemudian tenang kembali. Riwayat
muntah (+), warna muntah kekuningan. Selama ini pasien minum
ASI dan susu formula.
Riwayat Penyakit Dahulu :
Disangkal
Riwayat Penyakit Keluarga :
Pasien anak ketiga dari tiga bersaudara, anak pertama atau
keluarga pasien tidak pernah mengalami keluhan yang sama
dengan pasien.
Riwayat Kebiasaan Sosial :
Pasien lahir secio sesaria dengan ANC teratur.
Riwayat Pengobatan :
Ketika mengalami keluhan pasien sudah berobat di
bidan desa, tetapi ibu pasien lupa nama obat. Kemudia pasien
dibawa ke RS bireun dan sudah berobat namun tidak ada
perbaikan dan dirujuk ke RSUDZA untuk dilakukan operasi.
VITAL SIGN

GCS : E4M6V5
Kesadaran : Compos Mentis
HR : 100 x/i
RR : 26 x/i
T : 36 C
BB : 6,7 kg
Pemeriksaan Fisik Kulit : Turgor baik, anemis (-),
ikterik (-), sianosis (-)
Mata : CA (-/-), SI (-/-), reflex
Leher :JVP meningkat (-), pupil (+/+), isokor 3 mm/3
trakea terdorong kekanan (- mm
), pembesaran KGB leher (-) Kepala : Normocephali,
rambut terdistribusi merata,
sukar dicabut
THT : DBN ; Mulut : DBN
Paru :
I: Normal,
Pa: Sf ka> Sfki Jantung :
Pe: sonor I: IC tak tampak
A: Vesikular (+/ +), Rh (-/-), Pa: IC teraba di ICS V
Wh (-/-) Midclavicula
A: BJ1>BJ2, Bising(-)

Abdomen :
Ekstremitas : I: Distensi (+), darm contour (+)
Edema : -/- -/- Sianosis : -/- -/- Darm stefung (+)
akral hangat: +/+ +/+ A: BU (+) kesan meningkat
Pembesaran KGB: axilla -/- Pe: Timpani (+)
inguinal -/- Pa: teraba massa, nyeri tekan
(+) Hepatomegali(-)
Splenomegali (-)
Pemeriksaan Penunjang
Jenis Pemriksaan Hasil Nilai Rujukan Satuan

Hematologi
Hemoglobin 12,6 10,5-12,9 g/dl

Hematokrit 36* 53-63 %

Eritrosit 4,8 4,4-5,8 106 /mm3


Leukosit 11,3 5,0-19,5 103/mm3
Trombosit 158 150-450 103/mm3
Hitung Jenis
Eosinofil 2 0-6 %
Basofil 0 0-2 %
Netrofil Batang 1* 2-6 %
Netrofil Segmen 46* 50-70 %
Limfosit 40* 20-40 %
Monosit 11* 2-8 %
Jenis Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan Satuan

Kimia Klinik

Hati & Empedu

Protein Total 3,60* 6,4-8,3 g/dl

Elektrolit-Serum

Natrium (Na) 130 129-143 mmol/L

Kalium (K) 2,4** 3,6-5,8 mmol/L

Klorida (Cl) 112 93-112 mmol/L


DIAGNOSIS KERJA

Invaginasi
TATA LAKSANA

IVFD 4 : 1 670 cc/ 24 jam


KCL 15 cc/ 24 jam
Inj Ceftriaxon 335 mg/ 12 jam (POD 1-3)
Inj. Metamizole sodium 70 mg/8 jam (POD 1-3)
Drip metronidazole 50 mg/8 jam (POD 1-3)
Diet ASI ad libitum
Prognosis
Quo ad vitam : Dubia at bonam
Qua ad functionam : Dubia at bonam
Qua ad Sanationam : Dubia at bonam
Pembahasan
Kasus Hal ini sesuai dengan kriteria diagnosis
invaginasi yaitu nyeri abdomen, muntah ,
dan BAB berlendir darah red current
jelly. Pada kasus ini diderita oleh pasien
Pasien laki-laki ,usia 1 bulan
laki-laki, hal ini sejalan dengan
datang dengan keluhan nyeri
epidemiologi yang dikemukan oleh Lam
perut dan BAB berlendir
dalam buku Pediatric Surgery bahwa laki-laki
disertai darah. Nyeri perut
lebih dominan menderita invaginasi
1 hari SMRS. Ketika nyeri
dengan perbandingan 3:2. Usia juga
perut os menjadi rewel dan
mempengaruhi angka kejadian invaginasi,
kemudian tenang kembali.
neonatus dan infant lebih rentan
Riwayat muntah (+), warna
mengalami invaginasi dengan perodeumur
muntah kekuningan. Selama
yang dominan yakni 4-9 bulan , hal ini
Ramadhan pasien minum ASI
dipengaruhi oleh perubahan musim
dan susu formula.
ataupun perubahan pola makanan. Pada
kasus ini , os berusia 1 bulan diberikan
susu formula selama bulan Ramadhan.

26
Teori
Kasus

Pemeriksaan fisik Alexdra C.Maki dalam Halcomb menyebutkan


abdomen bahwa pada pemeriksaan fisik kasus invaginasi
I: Distensi (+), darm akan dijumpai pasien biasanya dalam keadaan
contour (+) normal ,namun saat serangan os akan terlihat
rewel. Pada pemeriksaan fisik kadang dijumpai
Darm stefung (+) adanya darm stefung dan darm kontour pada
A: BU (+) kesan meningkat tahapan awal invaginasi, namun saat abdomen
Pe: Timpani (+) mengalami distensi maksimal darm stefung dan
Pa: teraba massa, nyeri darm contour sulit dinilai. Saat palpasi akan
tekan (+) Hepatomegali(-) teraba masa (sausage shape) atau pun teraba
Splenomegali (-) bagain kuadran bawah abdomen yang teraba
kosong (dancing sign) dan nyeri tekan .
Auskultasi akan terdengar peristaltik usus yang
sedikit meningkat
Teori
Holcomb, George W, Patrick J Murphy, Daniel J Ostlie.2014.Ascrafts Pediatric Surgery. London.Elsevier
27 Jay L, James A. ONeill Jr, Arnold G Coran. 2006.Pediatric Surgery, London.Elsevier
Grosfel,
Kasus
Hal ini sesuai dengan prinsip
Pasien dilakukan reseksi
tatalaksana pada pasien
ileosecal+ileo transversostomy. invaginasi berupa
Obat yang diberikan kepada - Langkah awal perbaiki KU
pasien tsbt (POD3) pasien berupa resusitasi
IVFD 4 : 1 670 cc/ 24 jam cairan, koreksi elektrolit,
pemberian antibiotik
KCL 15 cc/ 24 jam profilaksis,dan pemasangan
Inj Ceftriaxon 335 mg/ 12 jam ngt untuk dekompresi.
(POD 1-3)
- Tindakan untyuk mereduksi
Inj. Metamizole sodium 70 bagian usus baik secara non
mg/8 jam (POD 1-3)
operatif (barium enema) atau
Drip metronidazole 50 mg/8 operatif
jam (POD 1-3)
Diet ASI ad libitum.l
.
Teori
28 Perm,puri,Michael horwath.2009.Pediatric surgery diagnosis and
management.New York:Springer
TERIMA KASIH