Anda di halaman 1dari 32

EFEK NEFROPROTEKTIF DAUN ANGSANA (Pterocarpus indicus

Willd.) DITINJAU DARI KADAR UREA DAN KREATININ


PLASMA PADA TIKUS PUTIH JANTAN YANG DIINDUKSI
GENTAMISIN
EFEK NEFROPROTEKTIF DAUN ANGSANA
(Pterocarpus indicus Willd.) Ditinjau DARI KADAR
UREA DAN KREATININ PLASMA PADA TIKUS
PUTIH JANTAN YANG DIINDUKSI GENTAMISIN

Fikry Dwi Anjani


1206211083

Pembimbing I
Dr. Fadlina Chany Saputri, M.Si.,Apt.

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS INDONESIA
JUNI 2016
PENDAHULUAN
Latar Belakang

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar Tahun


2013 menunjukan bahwa penderita gagal ginjal
kronis sebesar 0,2 % dan penderita batu ginjal
sebesar 0,6 %.

Menurut data 7th annual report of Indonesian Renal


Registry pada tahun 2014, penyebab pasien hemodialisis
adalah gagal ginjal terminal sebesar 84%, gagal ginjal akut
sebesar 9 % dan gagal ginjal kronik 7 %.

(Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI, 2013 ;PERNEFRI,2014)
PENDAHULUAN
Latar Belakang

Penyakit hipertensi, adanya


Ditandai dengan peningkatan kadar sumbatan pada saluran
urea, kreatinin plasma kemih, kelainan autoimun,
infeksi saluran kemih, dan
diabetes melitus

Gangguan
fungsi ginjal Induksi obat ; golongan antibiotik
aminoglikosida, tenofovir,
amfoterisin B, cisplatin,
carboplatin, siklosporin, NSAID.

Sebagian besar masyarakat menggunakan tanaman angsana untuk


mengobati penyakit ginjal
PENDAHULUAN
Latar Belakang

Epikatekin dalam daun


angsana

Epikatekin Menurunkan
stress oksidatif pada
gangguan ginjal yang
diakibatkan kerusakan sel
epitel tubulus

Efek Nefroprotektif Daun


Angsana Ditinjau dari Kadar
Urea dan Kreatinin Plasma
Mekanisme Penginduksian

Mekanisme dan jalur signaling pathway efek sitotoksik gentamisin

Lopez-Novoa, J.M., Quiros, Y., Vicente, L., Morales, A.I., & Lopez-Hernandez, F.J. (2011). New insights into the mechanism of aminoglycoside nephrotoxicity : an integrative point
PENDAHULUAN
Rumusan Masalah

Ada tidaknya efek nefroprotektif rebusan daun angsana


ditinjau dari kadar urea dan kreatinin plasma pada tikus
putih jantan yang diinduksi oleh gentamisin.

Tujuan Penelitian

Mengetahui efektivitas nefroprotektif rebusan daun


angsana pada tikus putih jantan yang diinduksi oleh
gentamisin dilihat dari kadar urea dan kreatinin plasma.
PENDAHULUAN
Hipotesis

Pemberian rebusan daun angsana dapat menurunkan kadar


urea dan kreatinin plasma pada tikus putih jantan yang
diinduksi gentamisin
METODE PENELITIAN
Prosedur Penelitian

Tempat
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Farmakologi Fakultas,
Laboratorium Fitokimia Fakultas Farmasi Universitas Indonesia,
dan Laboratorium Pengembangan Obat (Drug Development
Laboratory) Rumpun Ilmu Kesehatan Universitas Indonesia.

Waktu
Penelitian berlangsung dari bulan Februari-Mei 2016.
METODE PENELITIAN
Prosedur Penelitian

Alat
Sonde lambung, kandang tikus, spuit (Terumo, US), timbangan
analitik (Ohaus, US), sentrifugator (Hettich Mikro 120, UK),
mikropipet (Socorex, Swiss), mikrohematokrit, mikrotube,
spektrofotometri double beam (Thermo Spetronic Genesys 20, US),
vortex mixer, inkubator (Friocell, UK), spektrofotometri single beam
(Thermo Scientific, US), alat-alat gelas (Pyrex, US).

Bahan Uji
Daun angsana yang ditemukan dan dikumpulkan yang berasal dari
daerah Majalengka, Jawa Barat. Daun angsana yang digunakan adalah
daun muda angsana yang berwarna hijau yang terdapat pada dahan
ke-2 dari pucuk sampai dahan ke-7 dari pucuk.
METODE PENELITIAN
Prosedur Penelitian

Bahan Kimia
Heparin sodium (Inviclot, Indonesia), kit urea (Human, Jerman), kit
kreatinin (Human, Jerman), gentamisin injeksi (PT. Indofarma, Indonesia),
aqua pro injeksi, alkohol 70 % dan aquadest.

Hewan Uji
Hewan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tikus putih jantan galur
Sprague-Dawley. Tikus yang digunakan sebanyak 30 ekor masing masing
berusia 2 bulan dengan berat badan sekitar 150-200 gram
Tikus diberi makan dan minum seragam, dan dilakukan pengamatan
terhadap keadaan umum tikus secara rutin seperti kondisi mata yang jernih
dan memiliki bulu yang bersih
METODE PENELITIAN
Prosedur Penelitian

Jumlah minimal tikus yang


digunakan tiap kelompok perlakuan
dihitung berdasarkan rumus Federer
Jumlah minimum tikus yang
(Federer,1963) , yaitu
digunakan dalam penelitian adalah 5
(t-1)(n-1)15, maka ekor tikus untuk tiap kelompok
(5-1)(n-1) 15 perlakuan namun dilebihkan 1 ekor
sehingga total tikus yang digunakan
4n-415 30 ekor tikus dan dibagi secara acak
4n19 menjadi 5 kelompok masing-masing
6 ekor tikus
n5

Keterangan t ; jumlah kelompok perlakuan, dan n ; jumlah ulangan


tikus
Jumlah kelompok perlakuan (t) adalah 5, maka
METODE PENELITIAN
Prosedur Penelitian

.
METODE PENELITIAN
Prosedur Penelitian

1 2 3

5
4
HASIL DAN PEMBAHASAN
1 Pembuatan Rebusan Daun Angsana

Pengamatan Organoleptis : bentuk berupa larutan,


berwarna kuning jernih dan berbau spesifik.
HASIL DAN PEMBAHASAN
2 Skrining Fitokimia

Senyawa Hasil Keterangan

Alkaloid Negatif Tidak terbentuk endapan


Saponin Negatif Tidak terbentuk buih
Tanin Positif Berwarna hijau kecokelatan

Zn-HCl : terbentuk warna merah


Flavonoid Positif
Mg-HCl : terbentuk warna jingga

Terpenoid Negatif Tidak terbentuk cincin coklat


Glikosida Negatif Tidak terbentuk cincin ungu
HASIL DAN PEMBAHASAN
3 Uji Pendahuluan

Kelompok Jumlah tikus Hari ke-


1-7 8
Kontrol 3 Diberikan aqua.p.i
Normal intraperitonial
Induksi 3 Diberikan gentamisin
intraperitonial
Pengambilan sampel darah untuk pengukuran kadar kreatinin
plasma
HASIL DAN PEMBAHASAN
3 Uji Pendahuluan
Tabel 4.2. Hasil pengukuran kadar kreatinin plasma uji pendahuluan dosis
gentamisin

Kelompok Rata-rata SEM


Kontrol Normal 0,303 0,007
Induksi 1,225 0,060

Gentamisin dalam jangka waktu dan dosis tersebut telah


menimbulkan kerusakan ginjal ditandai dengan peningkatan
kadar kreatinin plasma.
HASIL DAN PEMBAHASAN
3 Uji Pendahuluan
Uji Pendahuluan Dosis dan Lamanya Pemberian Rebusan
Jumlah tikus yang digunakan 12 ekor tikus terbagi menjadi empat
kelompok perlakuan. Sampel uji yang digunakan yaitu 11,52 mg/200 gr
bb tikus
HASIL DAN PEMBAHASAN
3 Uji Pendahuluan

Tabel 4.3. Hasil pengukuran kreatinin plasma uji pendahuluan dosis dan
lamanya pemberian rebusan.

Lamanya pemberian Kelompok Rata-rata SEM


14 Hari Kontrol normal 0,497 0,028
Induksi 1,5550,126
Sampel uji 0,991 0,111*
21 Hari Sampel uji 0,4280,047*

#) Tidak terdapat perbedaan bermakna terhadap kelompok induksi (p>0,05)


*) Terdapat perbedaan bermakna terhadap kelompok induksi (p<0,05)
HASIL DAN PEMBAHASAN
3 Penelitian Utama

Berdasarkan hasil uji pendahuluan, didapatkan


HASIL DAN PEMBAHASAN
3 Penelitian Utama
Kelompok Jumlah tikus Perlakuan
Kontrol Normal 6 Diberikan aquades peroral selama 21 hari dan
aqua pro injeksi secara intraperitonial dari hari
ke 15-21
Induksi 6 Diberikan aquades peroral selama 21 hari dan
diberikan gentamisin secara intraperitonial pada
hari ke 15-21
Dosis I 6 Diberikan sampel uji dosis 1 selama 21 hari dan
diberikan gentamisin secara intraperitonial pada
hari ke 15-21
Dosis II 6 Diberikan sampel uji dosis II selama 21 hari
dan diberikan gentamisin secara intraperitonial
pada hari ke 15-21
Dosis III 6 Diberikan sampel uji dosis III selama 21 hari
dan diberikan gentamisin secara intraperitonial
pada hari ke 15-21
HASIL DAN PEMBAHASAN
3 Penelitian Utama

Pengambilan Plasma Darah


1. Pengambilan darah dilakukan menggunakan hematokrit melalui sinus
orbital mata tikus dibius dengan eter.
2. Darah yang keluar dikumpulkan dalam mikrotube yang telah diberi
heparin.
3. Kemudian disentrifugasi kecepatan 7000 rpm selama 5 menit.
4. Bagian supernatan yang jernih diambil dalam mikrotube kosong.
5. Jika pengukuran tidak dilakukan di hari yang sama, plasma dapat
disimpan pada suhu -200 C
HASIL DAN PEMBAHASAN
3 Penelitian Utama

Pengukuran Kadar Urea

[Sumber : Human, 2014, telah diolah kembali]


HASIL DAN PEMBAHASAN
3 Penelitian Utama

Tabel 4.4. Hasil pengukuran kadar urea plasma

Kelompok Rata-rata SEM


Kontrol Normal 42,756 4,901
Induksi 153,810 14,795
Dosis I 141,115 10,426 #
Dosis II 116,678 16,977#
Dosis III 93,977 13,244 *
(#) Tidak terdapat perbedaan bermakna terhadap kelompok induksi (p>0,05)
(*) Terdapat perbedaan bermakna terhadap kelompok induksi (p<0,05)

Keterangan : Dosis I diberikan rebusan daun angsana 5,76 mg/200gr bb, Dosis II
diberikan rebusan daun angsana 11,52 mg/200gr bb. Dosis III diberikan rebusan daun
angsana 23,04 mg/200gr bb
HASIL DAN PEMBAHASAN
3 Penelitian Utama

Keterangan : Dosis I diberikan rebusan daun angsana 5,76 mg/200gr bb, Dosis II diberikan
rebusan daun angsana 11,52 mg/200gr bb. Dosis III diberikan rebusan daun angsana 23,04
mg/200gr bb
HASIL DAN PEMBAHASAN
3 Penelitian Utama

Pengukuran Kadar Kreatinin

[Sumber : Human, 2010, telah diolah kembali]


HASIL DAN PEMBAHASAN
3 Penelitian Utama

Tabel 4.4. Hasil Pengukuran kadar kreatinin plasma

Kelompok Rata-rata SEM


Kontrol Normal 0,510 0,076
Induksi 1,854 0,314
Dosis I 1,339 0,272#
Dosis II 1,130 0,256#
Dosis III 0,844 0,102*
(#) Tidak terdapat perbedaan bermakna terhadap kelompok induksi (p>0,05)
(*) Terdapat perbedaan bermakna terhadap kelompok induksi (p<0,05)

Keterangan : Dosis I diberikan rebusan daun angsana 5,76 mg/200gr bb, Dosis II
diberikan rebusan daun angsana 11,52 mg/200gr bb. Dosis III diberikan rebusan daun
angsana 23,04 mg/200gr bb
HASIL DAN PEMBAHASAN
3 Penelitian Utama

Keterangan : Dosis I diberikan rebusan daun angsana 5,76 mg/200gr bb, Dosis II diberikan rebusan
daun angsana 11,52 mg/200gr bb. Dosis III diberikan rebusan daun angsana 23,04 mg/200gr bb
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan

Dosis yang memiliki efek paling baik yaitu dosis 115,2


mg/kg bb yang memiliki efektivitas nefroprotektif
sebesar 53,88 % terhadap kadar urea dan 75,15%
terhadap kadar kreatinin plasma
KESIMPULAN DAN SARAN
Saran

Perlu dilakukan penelitian terkait senyawa yang


terkandung dalam daun angsana serta kadarnya

Perlu dilakukan perpanjangan durasi pemberian dan


peningkatan dosis agar efek nefroprotektifnya lebih
optimum.
TERIMA KASIH