Anda di halaman 1dari 55

ANEMIA DEFISIENSI BESI

Bella I. Putri

1610211025

Anemia adalah penurunan jumlah eritrosit, kuantitas hemoglobin, atau volume packed red cells dalam darah di bawah normal.

Definisi

Anemia yang timbul akibat berkurangnya penyediaan besi untuk eritropoiesis, karena cadangan besi kosong (depleted iron store) yang pada akhirnya mengakibatkan pembentukan hemoglobin berkurang

Nilai cut off Anemia di Indonesia (Permenkes RI 736 a/ menkes/ XI/ 1989)

Anak pra sekolah Anak sekolah Ibu hamil Ibu 3 bln post partum Wanita dewasa Pria dewasa

11 g/dL 12 g/dL 11 g/dL 12 g/dL 12 g/dL 13 g/dL

Klasifikasi anemia

1)

Berdasarkan morfologi eritrosit

Anemia makrositik : [volume RBC > 100 fL] Anemia normositik normokrom : [volume RBC

80 -100

fL] Anemia mikrositik hipokrom : [volume RBC < 80 fL]

2) Berdasarkan etiologi

  • - Kehilangan darah (Anemia perdarahan):

Perdarahan akut Perdarahan kronik

  • - Eritropoisis menurun :

Anemia nutrisi Kegagalan sumsum tulang

  • - Peningkatan Destruksi eritrosit :

Kelainan herediter Kelainan didapat

- Anemia perdarahan kronik.

Sebagai estimasi : 1 mL darah mengandung 0.5 mg Fe. Kehilangan darah 3-4 mL/hari (1.5-2mg Fe) mengganggu keseimbangan Fe.

- Perdarahan gastrointestinal :

ulkus duodenum, ulkus peptikum, obat, parasit (cacing tambang), divertikula kolon, Ca- (kolon, rektum), hemorroid, dsb.

Perdarahan saluran kemih/genital :

Parameter untuk menetapkan jenis anemia

Jumlah eritrosit (juta/uL).

Nilai kadar hemoglobin (g/dL).

Nilai normal :

Laki

13-16,

Perempuan

12-14

dipengaruhi : umur,

altitude,

variasi diurnal,

 

perokok

Nilai hematokrit (Ht)(%): volume pack red cell dalam

darah. Nilai normal

Laki-laki Perempuan :

:

40 - 52 36 -48

Nilai eritrosit rata-rata

Untuk menetapkan jenis anemia, harus dibantu dengan :

Pemeriksaan mikroskopik apusan darah.

  • Mean Corpuscular Volume (Volume Eritrosit Rata-rata) =

(Ht/E) x 10 fL . Normal MCV (VER) :

80 – 98 fL

Mean Corpuscular Hemoglobin (Nilai Hb Rata-rata ) :

(Hb/E) x 10 pg.

Normal MCH (NER) : 27 – 31 pg

Mean Corpuscular Hb Concentration (Kadar Hb Eritrosit Rata-rata = (Hb/Ht) x 100 g/dL

Normal (MCHC/KHER) = 31 – 36

Anemia mikrositik hipokrom

Anemia yang ditandai ukuran volume eritrosit

MCV MCH < MCHC

<

80 fL 27 pg, < 31 g/dL.

φ RBC ( sediaan apus darah) < inti limfosit kecil.

Penyebab anemia mikrositik hipokrom

besi (Fe)

Penyebab anemia mikrositik hipokrom besi (Fe) Defisiensi Fe Penyakit kronik Penyakit keganasan protoporfirin anemia sideroblastik heme

Defisiensi Fe Penyakit kronik Penyakit keganasan

Penyebab anemia mikrositik hipokrom besi (Fe) Defisiensi Fe Penyakit kronik Penyakit keganasan protoporfirin anemia sideroblastik heme

protoporfirin

anemia sideroblastik

heme

+

globin

Penyebab anemia mikrositik hipokrom besi (Fe) Defisiensi Fe Penyakit kronik Penyakit keganasan protoporfirin anemia sideroblastik heme

Hbpati (thalassemia Hb varian)

Anemia defisiensi besi

Keadaan dimana kadar / kandungan besi tubuh kurang dari normal

Etiologi Anemia Defisiensi Besi :

Perdarahan menahun (chronic blood loss), Intake besi kurang, Malabsorpsi besi,(gasterectomi, achlordidria, dsb)

Pengalihan

Fe dari eritropoisis fetal dan

infant dalam kehamilan Hemolisis intravaskuler ( hemoglobinopati )

Pada kehamilan

perpindahan Fe ke eritropoisis fetus, perdarahan waktu partus ( rata-rata kehilangan besi 150 – 200 mg), laktasi ( sekitar 30 mg besi /bln)

Waktu mulai hamil cadangan besi sudah kurang

  • anemia defisiensi besi pada kehamilan.

Kelainan distribusi besi : atransferinemia, copper deficiency)

Derajat kekurangan besi

  • Iron depletion, dimana simpanan besi tubuh kurang , ferritin plasma <, transferin >

  • Iron deficiency without anemia, ditandai simpanan besi tubuh kurang/ tidak ada, serum besi rendah, saturasi transferin < 15%, sideroblas di SSTL <, tanpa tanda anemia.

  • Iron deficiency anemia, tanda diatas ditambah hemoglobin rendah

kadar

derajat anemia defisiensi besi

derajat anemia defisiensi besi

Kebutuhan Fe tubuh

  • 2/3 Fe tubuh tersimpan di Hb dalam RBC ,

1/3

disimpan sebagai ferritin, hemosiderin, mioglobin, dsb.

  • Umur RBC

120 hari,

tiap hari rata 2

1.0 % (0.5 –

1.5 %) eritrosit mati dan diganti eritrosit baru (retikulosit).

  • dalam tubuh :

5 L darah 2.5 g Fe ( 2500 mg),

sebagai cadangan 1000 mg.

  • tiap hari 20 mg Fe untuk sintesis

Hb dan

5 mg

untuk keperluan lain (mioglobin, enzim, dll).

  • Absorpsi besi dari diet hanya 1-2 mg/ hari untuk mengganti yang hilang.

Kebutuhan besi tubuh (lanjutan)

Kebutuhan besi tubuh (lanjutan)

Absopsi kebutuhan besi

Absopsi kebutuhan besi

Absorpsi Fe di usus.

terjadi melalui

3 mekanisme, tetapi yang utama

melalui bentuk ferro (Fe 2+ ), bukan dalam bentuk ferri

( Fe 3+ )

Hal-hal yang memudahkan penyerapan besi

Fe dalam bentuk ferro

Suasana asam

asam

( vit C)

di lambung

Kekurangan besi (Fe) Eritropoisis meningkat

&

ada

zat

bersifat

Metabolisme Fe tubuh

Metabolisme Fe tubuh

Fe plasma dari diet diserap di duodenum, dan Fe di makrofag (Fe recycle dari RBC tua yg mati) dikirim ke sumsum tulang & RES untuk proses eritropoisis.

Liver mensekresi hepcidin untuk mengatur absorbsi dan release Fe dari makrofag. Sekresi Hepcidin sendiri diatur oleh HIP (Hypoxia Inducible Factors)

Hepcidin >

absorpsi Fe di usus

<

release Fe dari makrofag <

Metabolisme besi (Fe)

Fe dari diet diserap sebagai bentuk ferro [ Fe 2+ ].

Enzim Ferric reduktase di mukosa usus

mereduksi ferri [Fe 3+ ] jadi [Fe 2+ ] Protein divalent metal transporter 1 [DMT1], membawa Fe melintasi membran sel dan masuk ke dalam sel. Di sel, Fe dapat disimpan sebagai ferritin, (komplek garam ferri dan protein, apo ferritin ), atau masuk ke sirkulasi darah ( sebagai

transferin)

dengan bantuan

+ Fe 3 DMT1 Fe 2 + Fe 2 + ferroportin Fe 2 + + Fe
+
Fe 3
DMT1
Fe 2 +
Fe 2 +
ferroportin
Fe 2 +
+
Fe 2
+
ferritin
Fe 3
heme oksigenase
heme
+
heme
Fe 3
transferrin

Transport besi di sel usus

Transport besi di sel usus

Bila liver dan RES telah jenuh dengan Fe,

Fe

disimpan dalam sel di samping ferritin sebagai

hemosiderin.

Hemosiderin terdiri dari timbunan kristal FeOOH yang tidak larut

Fe di hemosiderin tidak dapat digunakan segera bila diperlukan.

hepatic iron regulatory protein (hepcidin) berfungsi menghambat presentasi satu atau lebih alat angkut Fe (e.g. DMT1 and Ireg1) di membran intestinal.

Bila Fe dalam diet banyak, hepcidin meningkat, menghambat absorpsi Fe, sebaliknya bila Fe diperlukan hepcidin berkurang DMT1 menstimulasi absorpsi Fe

Sebagian besar Fe di plasma diikat oleh transferin, yang mampu mengikat 330 ug/dL (TIBC) [ rata-rata Fe yang terikat pada transferin (SI) hanya 110 ug/dL atau 1/3 nya ]. Sebagian kecil Fe terikat pada ferritin (100 ug/L pada laki & 50 ug/L pada wanita). Saturasi transferin = [SI /TIBC] x 100 ,

Manifestasi klinik

Keluhan : lekas lelah, berdebar-debar, konjungtiva pucat, mengantuk, sesak nafas

Umumnya penderita ke dokter bila gejala anemia sudah nampak (Hb 7-8 g/dL)

Kelainan jaringan epitel mukosa lidah (papilla filiformis atropi), hipofaring (mengeluh disfagia), epitel lambung (achlorhidria), epitel kuku (koilonichia),

koilonychia

koilonychia • Koilonychia : kelainan kuku jari akibat kekurangan zat besi , dimana kuku berubah bentuk
koilonychia • Koilonychia : kelainan kuku jari akibat kekurangan zat besi , dimana kuku berubah bentuk

Koilonychia : kelainan kuku jari akibat kekurangan zat besi , dimana kuku berubah bentuk menjadi cekung di bagian tengah seperti bentuk sendok. Kuku biasanya tipis dan rapuh.

koilonychia • Koilonychia : kelainan kuku jari akibat kekurangan zat besi , dimana kuku berubah bentuk

Laboratorium

darah tepi

:

nilai

<

normal :

serum/plasma

  • SI <

  • Hb

  • TIBC > normal

  • Ht

  • [ 80 – 100 fL]

MCV

MCH

  • [27 – 31 pg]

  • MCHC [

31 – 36 g/dL]

  • Saturasi transferin < 10 %

  • transferin

  • Ferritin < 10 ug/mL

Laboratorium (lanjutan)

Sediaan apus darah tepi Eritrosit

  • mikrositik hipokrom,

  • anisopoikilositosis,

  • sel pensil (hallmark)

  • sel target sedikit

Sumsum tulang

  • Eritroid

hiperlasia

  • Jumlah metarubrisit >

  • sel pensil,

  • sel target sedikit

  • Cadangan besi sumsum tulang

<<

Darah tepi

Sumsum tulang

Darah tepi Sumsum tulang
Darah tepi Sumsum tulang
Darah tepi Sumsum tulang
Darah tepi Sumsum tulang

Sumsum tulang

Cadangan besi sumsum tulang (Hemosiderin) (pewarnaan

biru Prusia)

berkurang

( 0 – 1

) Metarubrisit meningkat.

Sumsum tulang • Cadangan besi sumsum tulang (Hemosiderin) (pewarnaan biru Prusia) berkurang ( 0 – 1

derajat anemia defisiensi besi

derajat anemia defisiensi besi

Diagnosa Banding anemia defisiensi besi

  • Anemia pada penyakit kronik :

infeksi : tuberkulosis, abses pulmonum, dsb non infeksi : artritis reumatoid, SLE, gagal ginjal kronik. dsb keganasan : carsinoma, limfoma, sarkoma

  • Thalassemia / Hb varian

  • Anemia sideroblastik

Diagnosa banding anemia mikrositik hipokrom

 

Def. Fe

Peny.kronik

Hbpati

sideroblastik

MCV,MCH

rendah

sedikit rendah

rendah

rendah, N / meningkat

RBC

rendah

rendah

meningkat

rendah

Besi serum

rendah

berkurang

Normal/

meningkat

 

meningkat

TIBC

Meningkat

berkurang

normal

Normal/

   

berkurang

Saturasi

<

15%

N

N tinggi

N tinngi

transferin

transferin

meningkat

normal /

N tinggi

normal

receptor

rendah

Ferritin

< 12 ug/L

N

N

tinggi

tinggi

Cadangan besi

tidak ada

ada

ada

ringed

 

sideroblasts

Elekrof. Hb

normal

normal

HbA2 /

normal

 

HbF

Ringed sideroblasts (ciri anemia sideroblastik)

Ringed sideroblasts (ciri anemia sideroblastik)
Ringed sideroblasts (ciri anemia sideroblastik)
Ringed sideroblasts (ciri anemia sideroblastik)
Ringed sideroblasts (ciri anemia sideroblastik)

terapi

Anemia defisiensi merupakan gejala (simptom) dan bukan penyakit, pengobatan ditujukan kepada penyakit primernya, baru kemudian terhadap defisiensi besinya.

Dosis dewasa :

150 – 200 mg Fe / hari, bisa dibagi

dalam beberapa dosis. (Fe sulfat, Fe glukonat, Fe

fumarat)

Efek samping : gangguan pencernaan, konstipasi / diare.

Prognosis baik.

Etiologi

1)

Kehilangan besi sebagai akibat perdarahan menahun

2)

Faktor nutrisi

3)

Kebutuhan besi meningkat

4)

Gangguan absorbsi besi

Epidemiologi

Sering dijumpai, terutama di negara-negara tropik atau negara dunia ketiga, oleh karena sangat berkaitan erat dengan taraf sosial ekonomi. Sering ditemukan di negara berkembang.

Epidemiologi Sering dijumpai, terutama di negara-negara tropik atau negara dunia ketiga, oleh karena sangat berkaitan erat

Kompartemen besi dalam tubuh

Besi terdapat dalam berbagai jaringan dalam tubuh, berupa :

1)

Senyawa besi fungsional

2)

Besi cadangan

3)

Besi transport

Besi dalam tubuh tidak pernah terdapat dalam bentuk logam bebas (free iron), tetapi selalu berikatan dengan protein tertentu

Dalam keadaan normal, seorang laki-laki dewasa mempunyai kandungan besi 50 mg/kgBB. Sedangkan perempuan dewasa 35 mg/kgBB

Dalam keadaan normal, seorang laki-laki dewasa mempunyai kandungan besi 50 mg/kgBB. Sedangkan perempuan dewasa 35 mg/kgBB

Absorpsi besi

Absorpsi besi paling banyak terjadi pada bagian proksimal duodenum.

Dibagi menjadi 3 fase :

1) Fase luminal : besi dalam makanan diolah dalam lambung kemudian siap diserap di duodenum

2) Fase mukosal : proses penyerapan dalam mukosa usus yang merupakan suatu proses aktif

3) Fase korporeal : meliputi proses transportasi besi dalam sirkulasi, utilisasi besi oleh sel-sel yang memerlukan, dan penyimpanan besi (storage) oleh tubuh.

4)

Fase

luminal

bentuk, yaitu

:

Besi

dalam

makanan terdapat dalam 2

Besi

heme

:

terdapat dalam daging dan ikan, tingkat

absorbsi tinggi, tidak dihambat oleh bahan penghambat sehingga bioavailabilitasnya tinggi.

Besi non-heme : berasal dari tumbuh-tumbuhan, tingkat absorbsinya rendah, dipengaruhi oleh bahan pemacu atau penghambat sehingga bioavailabilitasnya rendah.

5) Fase Mukosal : penyerapan besi terjadi terutama melalui mukosa duodenum dan jejunum proksimal

Mekanisme regulasi absorbsi besi

1)

Regulator dietetik

2)

Regulator simpanan

3)

Regulator eritropoietik

Siklus besi dalam tubuh

Siklus besi dalam tubuh

Klasifikasi derajat defisiensi besi

Ada 3 tingkatan :

1)

Deplesi besi (iron depleted state)

2)

Eritropoiesis defisiensi besi (iron deficient

3)

erythropoiesis) Anemia defisiensi besi

Gejala anemia defisiensi besi

Gejala umum anemia :

Badan lemah, lesu, cepat lelah, mata berkunang-kunang, serta telinga mendenging

Gejala khas defisiensi besi :

  • - Koilonychia

  • - Atrofi papil lidah

  • - Stomatitis angularis

  • - Distagia

  • - Atrofi mukosa gaster

  • - Pica

Pemeriksaan laboratorium :

  • - Kadar hemoglobin dan indeks eritrosit : MCV dan MCH menurun

  • - Konsentrasi besi serum menurun

  • - TIBC meningkat

  • - Ferritin serum merupakan indikator cadangan besi yang sangat baik, kecuali pada keadaan inflamasi dan keganasan tertentu.

Diagnosis

anamnesis, px. Fisik, px. Laboratorium. 3 tahap diagnosi ADB :

1)

Menentukan adanya anemia dengan mengukur kadar

hemoglobin atau hematokrit 2) Memastikan adanya defisiensi besi 3) Menentukan penyebab dari defisiensi besi yang terjadi

Tata laksana

  • - Terapi kausal

  • - Terapi besi oral

  • - Terapi besi parenteral