Anda di halaman 1dari 21

Tinjauan Pustaka DIARE

ahmadYani
Pengertian Diare

Diare adalah suatu keadaan bertambahnya kekerapan dan


keenceran buang air besar.
Kekerapan yang dianggap masih normal adalah sekitar 13 kali dan
banyaknya 200250 gr sehari.
Beberapa penderita mengalami peningkatan kekerapan dan
keenceran buang air besar walaupun jumlahnya <250gr dalam
kurun waktu sehari.
Jenis Diare

Diare Akut
Diare yang berlangsung kurang dari 14 hari (umumnya kurang dari 7
hari). Gejala dan tanda sudah berlangsung <2 minggu sebelum
dating berobat. Akibat diare akut adalah dehidrasi, sedangkan
dehidrasi merupakan penyebab utama kematian bagi penderita
diare.
Diare Kronik
Diare yang gejala dan tanda sudah berlangsung >2 minggu sebelum
dating berobat atau sifatnya berulang.
Jenis Diare (cont.)

Disentri
Diare yang disertai darah dalam tinjanya. Akibat dari disentri
adalah anoreksia, penurunan berat badan dengan cepat,
kemungkinan terjadi komplikasi pada mukosa.
Diare Persisten
Diare yang berlangsung lebih dari 14 hari secara terus menerus.
Akibat dari diare persisten adalah penurunan berat badan dan
gangguan metabolisme.
Penyebab Diare Faktor Infeksi

a).Infeksi internal yaitu infeksi saluran pencernaan yang merupakan


penyebab utama diare pada anak:
Infeksi Bakteri: Vibrio, Escherechia coli, Salmonella, Shigella, Yersina,
Infeksi Virus: Enterovirus,
Infeksi Parasit: Cacing (Ascaris, Tricuris, Oxyuris, Strongiloides),
Infeksi Protozoa: Entamoeba histolytica, Giardia lambia, Thricomonas
hominis,
Infeksi Jamur: Candida albicans.
Penyebab Diare Faktor Infeksi (cont.)

b). Infeksi Parenterial yaitu infeksi dibagian tubuh lain di luar alat pencernaan seperti
tonsilo faringitis.
Keadaan ini terutama terdapat pada bayi atau anak dibawah tiga tahun. Makanan dan
minuman yang terkontaminasi melalui tangan yang kotor, lalat, dan alat-alat makan
yang terkontaminasi juga dapat menyebabkan seseorang tertular penyakit diare
tersebut (Azrul Azwar, 1989).
Adapun sumber-sumber penularan penyakit dapat terjadi melalui: air, makanan,
minuman, tanah, tangan dan alat yang digunakan secara pribadi. Bila seseorang
penderita disentri amoeba sembuh dari penyakitnya, maka amoeba akan bertukar
bentuk menjadi bentuk kista. Kista ini akan keluar bersama faeces dan dapat hidup
terus karena tahan terhadap segala pengaruh dari luar. Buang air besar sembarang
anak menjadikan sarang lalat, apabila lalat tersebut hinggap pada makanan, maka
akan terjadi kontaminasi (Depkes RI, 1991).
Penyebab Diare Faktor Malabsorpsi

Malabsorbsi karbohidrat: disakarida (intolerans laktosa, maltosa,


sukrosa), monosakarida (intoleransi glukosa, fruktosa dan
galaktosa). Pada bayi dan anak yang terserang ialah intoleransi
laktosa,
Malabsorbsi lemak,
Malabsorbsi protein,
Penyebab Diare dan Lain-lain

Faktor makanan basi, beracun, alergi terhadap makanan,


Faktor psikologis: rasa takut dan cemas, walaupun jarang tetapi
menimbulkan diare terutama pada anak yang lebih besar.
Patofisiologi Diare

1. Diare Osmotik:
Substansi hipertonik nonabsorbsi menyebabkan peningkatan tekanan osmotic
intralumen usus sehingga cairan masuk ke dalam lumen. Diare osmotic terjadi
karena:
Pasien memakan substansi nonabsorbsi antara lain laksan magnesium sulfat
atau antacid mengandung magnesium.
Pasien mengalami malabsorbsi generalisata sehingga cairan tinggi konsentrasi
seperti glukosa tetap berada di lumen usus.
Pasien dengan defek absorbtif, misalnya defisiensi disakaride atau malasorbsi
glukosa-galaktosa.
Patofisiologi Diare (cont.)

2. Diare Sekretorik:
Peningkatan sekresi cairan elektrolit dari usus secara aktif dan penurunan
absorbsi/diare dengan volume tinja sangat banyak.
Malasorbsi asam empedu dan asam lemak:
Pada diare ini terjadi pembentukan micelle empedu.
Defek sistem pertukaran anion/transport elektrolit aktif di enterosit:
Terjadi penghentian mekanisme transport ion aktif pada Na-K-ATP-ase di enterosit
dan gangguan absorbsi Na dan air.
Gangguan motilitas dan waktu transit usus
Hipermotilitas usus tidak sempat diabsorbsi diare.
Gangguan permeabilitas usus:
Patofisiologi Diare (cont.)

3). Diare Inflamatorik:


Kerusakan sel mukosa usus eksudasi cairan, elektrolit dan mucus yang berlebihan diare dengan
darah dalam tinja.
4). Diare pada infeksi:
Virus
Bakteri
- Penempelan di mukosa.
- Toxin yang menyebabkan sekresi.
- Invasi mukosa.
Protozoa
Penempelan mukosa (Giardia lamblia dan Cryptosporidium) menempel pada epitel usus halus
dan menyebabkan pemendekan phili yang kemungkinan menyebabkan diare.
Akibat Diare

Kehilangan air (dehidrasi)


Dehidrasi terjadi karena kehilangan air lebih banyak dari pemasukan air
Gangguan keseimbangan asam basa
Terjadi karena kehilangan natrium bikarbonat bersama tinja,
metabolism lemak tidak sempurna sehingga kotoran tertimbun dalam
tubuh, terjadi penimbunan asam laktat karena adanya anoreksia jaringan.
Produk metabolism yang bersifat asam meningkat karena dapat
dikeluarkan oleh ginjal dan terjadinya pemindahan ion natrium dari
cairan ekstraselular ke dalam cairan intraselular.
Akibat Diare (cont.)

Gangguan sirkulasi
Dapat terjadi shock hipovolemik akibat persuasi jaringan
berkurang dan terjadi Hipoksia Asidosis yang bertambah berat dapat
mengakibatkan perdarahan pada otak, kesadaran menurun dan jika
tidak segera diatasi dapat menyebabkan kematian.
Manifestasi Klinis Diare

Badan letih atau lemah


Muntah
Panas
Tidak nafsu makan
Darah dan lender dalam faeces
Penegakkan Diagnosis

Anamnesis dan Pemfis


Awalnya anak menjadi cengeng, gelisah, suhu badan meningkat,
nafsu makan berkurang atau tidak ada, kemudian timbul diare.
Tinja makin cair, mungkin mengandung darah atau lender, warna
tinja berubah menjadi kehijau-hijauan karena tercampur empedu.
Anus dan sekitarnya lecet karena tinja menjadi asam. Gejala
muntah dapat terjadi sebelum dan/atau sesudah diare. Bila telah
banyak kehilangan air dan elektrolit terjadilah gejala dehidrasi.
Berat badan turun. Pada bayi, ubun-ubun besar cekung. Tonus dan
turgor kulit berkurang. Selaput lender mulut dan bibir kering.
Penegakkan Diagnosis

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan tinja: makroskopis dan mikroskopis, pH dan kadar gula jika
diduga ada intoleransi gula, biakan kuman untuk mencari kuman penyebab
dan uji resistensi terhadap berbagai antibiotika (pada diare persisten).
Pemeriksaan darah: darah tepi lengkap, analisis gas darah dan elektrolit
(terutama Na, K, Ca, dan P serum pada diare yang disertai kejang).
Pemeriksaan kadar ureum dan kreatinin darah untuk mengetahui faal ginjal.
Duodenal intubation, untuk mengetahui kuman penyebab secara kuantitatif
dan kualitatif pada diare kronik.
Penatalaksanaan

Diare cair membutuhkan penggantian cairan dan elektrolit tanpa melihat


etiologinya. Tujuan terapi rehidrasi untuk mengoreksi kekurangan cairan
dan elektrolit secara cepat (terapi rehidrasi) kemudian mengganti cairan
yang hilang sampai diarenya berhenti (terapi rumatan). Jumlah cairan yang
diberi harus sama dengan jumlah cairan yang telah hilang melalui diare
dan/atau muntah (previous water losses=PWL); ditambah dengan banyaknya
cairan yang hilang melalui keringat, urin dan pernapasan (normal water
losses=NWL); dan ditambah dengan banyaknya cairan yang hilang melalui
tinja dan muntah yang masih terus berlangsung (concomitant water
losses=CWL). Jumlah ini tergantung pada derajat dehidrasi. Jumlah ini
tergantung juga pada berat badan masing-masing anak dan golongan umur.
Penatalaksanaan

Makanan harus diteruskan bahkan ditingkatkan selama diare untuk


menghindarkan efek buruk pada status gizi.
Antibiotic dan antiparasit tidak boleh digunakan secara rutin, tidak ada
manfaatnya bagi kebanyakan kasus, termasuk pada diare berat, kecuali pada:
Disentri, bila tidak berespon pikirkan kemungkinan amoebiasis
Suspek kolera dengan dehidrasi berat
Diare oersisten
Obat-obatan antidiare meliputi antimotilitas (misal loperamid, difenoksilat,
kodein, opium), adsorben (misal norit, kaolin, attapulgit). Antimuntah
termasuk prometazin dan klorpromazin.
Prognosis dan Komplikasi

Prognosis baik. Komplikasi tergantung pada mikroba penyebab


diare. Salmonella sp dapat menyebabkan kejang, HUS, perforasi dan
RS. Rotavirus dapat menyebabkan dehidrasi isotonic, dan intoleransi
karbohidrat. Giardia sp daoat menyebabkan malabsorpsi lemak
kronik. Entamoeba sp dapat menyebabkan perforasi kolon dan abses
liver. Kematian dapat terjadi pada kasus-kasus dengan dehidrasi dan
malnutrisi sekunder dari sumber yang berkelanjutan tak teratasi.
Dehidrasi berat harus diatasi dengan cairan parenteral. Ketika
malnutrisi sekunder terjadi, prognosis menjadi suram, kecuali
pasien dirawat inap dan suplementasi parenteral dimulai.
Pencegahan Diare

Menggunakan air yang bersih


Mencuci tangan sebelum dan sesudah makan
Menggunakan jamban untuk buang air besar
Terapi untuk penyakit diare, dan mencegah timbulnya kekurangan
cairan bila terjadi dehidrasi